
Ini sudah hampir jam dua malam, tapi Heru tidak bisa memejamkan matanya. Bertahun-tahun tidak bertemu dengan wanita itu kini kembali dia melihatnya bersama dengan seorang anak kecil.
Heru memilih bangkit dan pergi ke balkon kamarnya. Dia memantik api pada rokoknya yang ia jepit di tangan. Perlahan asap dari rokok keluar dari mulutnya, membentuk bulatan lalu menghilang bersamaan dengan angin yang berhembus cepat.
Kau tahu, Her. Aku tidak akan seperti ini jika bukan karena mu! Kau itu pria pengecut! Kau pria yang tidak punya perasaan!
Terngiang ucapan itu di dalam pikiran Heru. Heru menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Satu batang rokok telah habis, disambung dengan satu batang rokok yang lain. Pandangannya tertuju pada bulan yang kini bersinar sangat dekat sekali dengan permukaan laut. Cahaya yang terang membuat air laut sangat jelas sekali, bulan pun dapat bercermin di airnya yang jernih. Titik-titik bintang bergantian berkelap kelip di kejauhan sana. Seperti mudah untuk di raih, tapi nyatanya sangat jauh dan tidak mungkin untuk dia ambil.
Pikirannya menerawang jauh pada keadaan dimana dirinya merasakan bahagia yang teramat sangat. Bukan berarti dirinya kini tidak bahagia, tapi setiap jalan itu berbeda, dan dia sedang berusaha untuk meraih kebahagiaan yang lebih daripada itu. Berusaha untuk tidak menoleh kembali pada keadaan yang membuatnya ....
Heru menghela nafasnya dengan perlahan, dia mematikan rokok dan membuang puntungnya masih setengah.
Maafkan aku, Ayu.
...***...
Gio terbangun karena kecupan lembut bibir Tiara.
"Morning!" senyum yang manis itu kini menjadi pelengkap di setiap paginya. Gio balas tersenyum sambil meligkarkan satu tangannya dan menarik Tiara hingga kini wanita itu ada di atasnya.
"Morning juga." Gio balas tersenyum lalu menciumi wajah Tiara banyak-banyak hingga Tiara menahan kepala pria itu untuk menjauh.
"G, geli. Kau belum cukuran ya?" Tiara mulai kesal jika pria itu sudah menggelitiknya dengan dagunya. Gio tidak menghentian perbuatannya, justru malah senang menggoda istinya itu dengan semakin gemas.
Setelah candaan yang malah membuat Tiara merengut sebal. Gio akhirnya melepaskan istrinya, warna merah tercetak di perutnya yang kotak-kotak.
"Sakit ...." keluhnya sambil mengelus perutnya.
"Rasakan. Aku kan dari tadi minta dilepaskan, Aku ini gak tahan geli, Gio!" kesal Tiara pada suaminya.
"Ayo cepat bangun. Aku ingin sarapan di tepi pantai." titah Tiara seraya menarik tangan Gio untuk bangun.
"Tidak bisakah kita sarapan di kamar saja?" tanya Gio malas, Gio menahan dirinya, tidak ingin bangkit dari tempat ternyamannya.
"Tidak. Aku ingin sarapan di tepi pantai. Kapan lagi kita bisa sarapan di pantai kalau tidak sedang kesini? Di kota nanti mana bisa sarapan di pantai ya kan?" tanya Tiara tak ingin di bantah.
"Aku malas, Ara. Kita sarapan disini saja ya. Kita sarapan romantis berdua aku yang akan buatkan."
Tiara terdiam, Gio yang akan membuat sarapan? Apakah dia akan membakar dapur lagi seperti dulu saat di apartemennya?
"Aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu. Aku gak akan bakar dapur. Percaya saja padaku." Gio menepuk kening Tiara dengan menggunakan telapak tangannya, hingga kepala Tiara terjengkit ke belakang.
"Aku tidak percaya." desis Tiara menatap Gio.
"Gio, apa tidak bisa kau menutupi tubuhmu," teriak Tiara sambil menutupi wajahnya. Malu sekali melihat pria itu yang kini berjalan ke arah kamar mandi tanpa sehelai benang pun.
"Halaaah, sekarang kau suruh aku tutupi, kau tidak ingat semalam siapa yang melucuti pakaianku?" tanya Gio dengan senyum seringai jahilnya.
Tiara malu sekali mendengar Gio berkata seperti itu, itu seperti dirinya yang agresif bukan? Eh ... memang iya! 🙈🙈
"Gio jangan berkata seperti itu, memalukan!" Seru Tiara.
Gio terkekeh melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan. Ingin rasanya dia kembali mengerjakan lahan yang kini menganggur dan pastinya masih fresh karena masih pagi. Upssss ...
Gio kini ada di pantry, sedang berkutat dengan masakan yang dia buat untuk Tiara. Bukan makanan yang mewah, hanya dua lembar roti tawar dengan telur ceplok beserta selada. Sarapan ala bule. Bagaimana ada benda itu disana? tentu jawabannya adalah Heru. Buat apa pria itu ikut kesini kalau hanya menganggur? haha...
Presiden suit room ini memang berukuran besar. Khusus untuk anggota keluarga Aditama yang ingin menginap disini. Di lantai paling atas tersebut ada beberapa kamar khusus lainnya. Semua failitas lengkap ada di dalam kamar itu.
Sarapan pagi telah selesai. Gio mengantarkan langsung pada Tiara yang kini masih berbaring di ranjang. Memang Gio tidak mengizinkan wanita itu untuk bangkit. Jadilah Tiara bak ratu yang kini sarapan pun di atas tempat tidur.
Tiara menyimpan hpnya dii atas nakas. Dengan senyum mengembang sempurna dia menyambut sarapan pagi yang suaminya buatkan untuk dirinya. Saus tomat berbentuk hati terlihat di atas permukaan roti tawar itu. Jus jeruk serta lilin membuat sarapan kali ini sungguh romantis.
"Untuk apa lilin, G. Ini sudah terang, tidak perlu pakai lilin segala."
Buyar sudah perasan Gio yang kini serasa di robek pada ulu hatinya. Niat romantis malah sama sekali tidak dihargai Tiara. Sedih bukan? 🤧
"Kau tidak menghargai usahaku untuk bisa romantis!" kesal Gio dengaan memberengut.. Tiara tersenyum.
Dia menarik Gio hingga dekat dengannya. Dilingkarkan kedua tanganya di leher pria itu.
"Aku gak suka kau yang romantis." Gio mengerutkan keningnya. Semua wanita pasti suka dengan hal yang romantis, bahkan dia juga mendadak bertanya pada si Mbah Google cara membuat arapan romantis seperti ini. Mudah, praktis, cepat.
"Aku lebih suka kau romantis dengan tindakan nyata."
"Seperti apa?" tanya Gio binggung. Membuat sarapan juga sudah tindakan nyata, bukan?
"Cium aku!" pinta tiara.
Gio terenyum dan mendekat ke arah Tiara. Dan jadilah merka sarapan bibir bersama hingga ...
Selimut kembali tertutup di atas tubuh keduanya. Sarapan pun terabaikan hingga menjadi dingin dan mungkin tidak akan seenak saat masih hangat.
Mereka benar-benar sangat menikmati waktu bulan madu mereka dengan sebaik-baiknya.
Aku gak akan biarkan kamu memikirkan wanita itu, G. batin Tiara disela suara-suara merdunya.