DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 180



Pintu nomor delapan belas. Ahh, apakah tidak ada tempat yang lebih baik daripada ini. Disini bau! Aroma tak sedap dari kamar mandi, berseliweran mengganggu indera penciumanku! Mereka jorok, apa disini kekurangan air?


Ku ketuk pintu dengan nomor delapan belas itu hingga tiga kali banyaknya, dan baru lah suara anak kunci terdengar berputar dari dalam. Seorang gadis dengan mata bengkak, terlihat sekali gurat lelah di wajahnya. Bahkan saat membuka pintu matanya masih setengah tertutup.


Hei. Bukankah bahaya kalau dia membuka pintu dengan keadaan seperti itu? Bagaimana kalau ada orang asing yang datang?


Matanya terbelalak saat melihat kedatanganku, dia langsung menutup pintunya, dan menguncinya lagi dari dalam. Apa aku seperti hantu baginya?


"Tolong buka pintunya, Nan. Mari kita bicara!" ku gedor pintu itu. Beberapa orang termasuk ibu-ibu tadi menatapku heran. Aku tidak peduli!


"Nanda ayo kita bicara!" panggil ku lagi.


"Tidak mau! Pergi!" teriaknya dari dalam.


"Aku mohon Nanda. Tolong buat semua ini mudah untuk kita Nan, untuk masa depan kita!" teriakku lagi. Mencoba menarik handle pintu ke bawah, tapi memang tidak bisa membuka pintu itu karena di kunci!


"Pergi Samuel! Aku gak mau ketemu kamu lagi!" bahkan dia tidak lagi menyematkan embel-embel 'kak' di depan namaku.


"Nanda aku mohon! Please biarkan aku bertang..."


"Heh, mas!" panggilan seseorang menghentikan aksiku. Seorang pria dengan wajah lelah khas mengantuk menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Dia lalu keluar dengan hanya menggunakan celana bokser tanpa mengenakan baju. Rambutnya acak-acakan. Keterlaluan! Ini tempat umum dan dia hanya memakai bokser? Bagaimana kalau Nanda-ku melihat dia, matanya akan ternoda oleh tubuh yang bahkan tak seksi seperti tubuhku!


Eh, rasanya ada yang salah dengan perkataanku, tapi yang mana?!


"Ngapain lo teriak-teriak di mari? Berisik mas. Heh, cewek yang di dalam!" menggedor kaca kontrakan milik Nanda.


"Kalau kalian punya masalah bicarain baik-baik dong! Jangan berisik, ganggu orang tidur! Saya baru pulang kerja nih. Ngantuk pengen istirahat! Neng, keluar deh. Nih pacarnya ganggu orang teriak-teriak. Berisik!"


Bagus, teruskan saja biar Nanda keluar!


"Dia bukan pacar saya bang. Tolong usir aja dia keluar, dia cuma mau ganggu saya saja!" teriak Nanda dari dalam.


Pria itu menatapku tajam.


"Bohong bang, saya calon suaminya!" ucapku, meski aku yang berbohong tapi aku yakin Nanda akan bisa memaafkan ku dan membiarkan aku bertanggung jawab padanya!


Pria itu menggaruk kepalanya terlihat frustasi.


"Heh udah deh, mau pacarnya, mau bukan, atau calon suami atau apalah. Yang penting keluar deh, urusin ni orang jangan sampai berisik disini. Atau mau saya laporin ke juragan kalau kalian mengganggu kenyamanan yang lain?! Denger gak neng?" ucapnya lagi menggedor kaca sekali lagi.


Dia mau melapor untuk usir Nanda?! Seenaknya saja pria ini bicara. Aku akan beli kontrakan ini dan usir mereka semua supaya tidak ada yang mengganggu wanitaku! Eh...???


"Heh bang, berani kalau kamu lapor..."


Ceklek!


Pintu terbuka dan tiba-tiba saja aku di tarik ke dalam. Nanda menyembulkan kepalanya keluar.


"Hei neng, kalau mau ***-*** jangan berisik ya!" teriak pria itu dari luar.


Apa maksudnya dia? Apa dia kira aku kesini untuk melakukan hal yang tak senonoh pada Nanda?!


"Sudah jangan di ladenin, dia mau tidur!" Nanda menahan tanganku yang akan membuka pintu.


"Sekarang bilang sama aku apa mau kamu datang kesini?"


Kamu? Dia bilang padaku, 'Kamu'?


Hatiku rasanya sakit. Mana Nanda yang selalu memanggilku kakak? Tiba-tiba saja aku kangen Nanda yang dulu. Kangen? Hahahaaa lucu! Sejak kapan aku kangen pada Nanda?!


"Aku mau tanggung jawab sama kamu!" ucapku to the point.


Nanda memijit pangkal hidungnya lalu mengusap wajahnya kasar.


"Dari mana kamu tau aku disini?" dia bertanya lagi.


"Aku ke rumah kamu."


"Tapi gak ada yang tahu aku pindah kesini!"


"Aku tahu bahkan kalau kamu ke lubang semut sekalipun!"


"Hahh..." terdengar senyum mengejek. "Maaf, kak..." akhirnya, 'kakak'!


"Lebih baik lupakan! Lupakan saja! Anggap saja semalam tidak terjadi apa-apa dengan kita!"


What? Semudah itu dia bicara seperti itu?!


"Jangan gila kamu, Nanda! Jangan buat aku jadi pria yang berengsek karena sudah manfaatkan kamu!" teriakku frustasi.


Aku bingung dengan wanita ini. Wanita lain jelas-jelas saling berlomba mengejarku dan mencari perhatianku, tapi wanita ini... hahh... ckckck... Apa yang ada di dalam fikiran dia! Harusnya dia senang aku bilang ingin bertanggung jawab, bukan?! Tapi dia bilang lupakan?!


"Aku gak tahu apa yang ada di dalam otak kamu, Nan. Sudah jelas aku ingin bertanggung jawab dan kamu bilang lupakan? Bagaimana bisa aku melupakan yang semalam terjadi?!" ku pegang pergelangan tangannya, dia menghempaskan tanganku. Tapi aku terlalu kuat untuk bisa terlepas dari makhluk lemah ini.


"Aku bilang lupakan, ya lupakan!" jeritnya.


"Tidak bisa!" aku juga berteriak, entah kenapa.


"Kenapa tidak bis... hempppptthh" ku sambar bibirnya, seketika suara teriakan teredam oleh bibirku. Ku lihat matanya membola, mata yang sipit itu mendadak bulat! Terlihat sangat cantik. Sangat!


Dia memukuli dadaku dengan tangannya yang terkepal, keras, sakit, tapi aku tidak mau mendengar penolakan darinya lagi! Mulai saat ini kamu harus jadi milikku! Harus!