DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 101



Hampir satu tahun Anye pergi. Aku masih belum tahu dimana dia. Banyak upaya yang sudah aku keluarkan untuk mencari dia. Di dalam maupun di luar negeri. Usahaku kacau. Dari peringkat teratas turun dengan drastis, meski masih di peringkat dua puluh lima. Papa dan mama tentu marah karena perusahaan kacau di bawah menejemen ku. Beberapa orang yang mengambil kesempatan saat aku lengah, aku pecat dan ku ambil asetnya, hasil dari korupsi. Aku kacau! Aku kacau!!


Pintu di ketuk dari luar. Seseorang masuk.


"Devan, aku bawakan makan siang!" Aku menoleh. Sherly. Seorang gadis yang di sodorkan mama untuk ku nikahi. Mama gila! Aku saja masih sah menjadi suami Anye, dan dia ingin aku menikah lagi?


Dia menyimpan kotak bekal di atas meja.


"Sherly, sudah aku bilang kan kamu tidak usah kasih aku perhatian lagi."


Dia menunduk dengan wajah sedih. Oh ya Lord, aku benci kalau wanita sudah seperti itu!


"Apa aku salah Dev? Aku cuma ingin kita kenal lebih dekat lagi sebelum kita menikah." cicitnya.


"Duduk Sher." titahku. Dia menurut duduk di kursi tepat di depanku.


"Dengar. Aku ini masih sah menjadi suami orang lain, tidak mungkin aku menikah lagi..."


"Kenapa tidak mungkin?" dia memotong ucapanku. "Poligami tidak masalah. Aku rela menjadi yang kedua!" jeritnya, menatapku dengan mantap. Matanya berkaca-kaca.


Gila! Gadis ini...


"Jangan gila kamu, Sher! Bagaimana pandangan orang lain tentang kamu nanti?"


"Aku gak peduli. Aku cinta sama kamu!" dia mulai menangis menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Lagipula orang-orang tidak tahu kalau kalian sudah menikah, bahkan jika kalian sudah punya anak. Kalian juga belum mengumumkan soal ini kan?!"


"Belum. Tapi akan!"


"Kapan Dev! Dia tidak ada disini. Sadar kamu Dev! Dia sudah ninggalin kamu selama satu tahun ini! Dia sudah tidak peduli sama kamu! Harusnya dia disini dukung kamu apalagi saat kamu sedang seperti sekarang ini. Aku dan ayahku bersedia dukung kamu Dev, apa kurangnya aku?!"


Aku mengusap wajahku kasar. Gadis ini tetap tidak bisa di ajak bicara dari kemarin. "Dia bukan tidak peduli sama aku, tapi dia sedang hukum aku, Sher! Kamu ngerti gak sih apa yang aku bilang dari kemarin? Dia itu sedang hukum aku! Aku pantas buat di perlakukan seperti itu sama dia, karena aku ini orang yang kejam!" aku membentak dia.


"Aku gak peduli, Devan!" jeritnya lagi. Kali ini dia berdiri dan mendekat ke arahku. Dan tak ku sangka dia memutar kursiku, dan duduk di pangkuanku.


"Aku gak peduli Dev!" Dia membuka tiga kancingnya dengan cepat hingga aku tidak sadar jika dia sudah hampir membuka bajunya. "Aku cinta kamu Devan!" Dia menarik tengkuk leherku dan...dan...Dia gila! Meskipun aku suka dengan wanita yang agresif tapi aku tidak suka jika wanita baik-baik seperti dia merendahkan dirinya seperti itu! Bahkan mengambil tanganku untuk menyentuh dadanya.


Aku mendorong dia, hingga hampir terjatuh. Mengelap sudut bibirku yang basah karenanya.


"Pergi!"


"Dev!" Dia kembali mendekat.


Aku berdiri dan menunjuk ke arah pintu.


"Pergi ku bilang!" usirku lagi. Dia menggeleng tidak terima.


"Tidak Dev. Aku mohon, aku sayang sama kamu, apa kamu gak bisa kasih aku kesempatan? Sekali saja!" pintanya, dia menangis menghiba. Dia terlihat sangat kacau. Aku menarik bajunya ke atas, memintanya untuk merapikannya lagi.


"Dev."


"Sudahlah Sher. Aku mohon, kamu juga tahu kan bagaimana perasaanku pada Anye!"


"Apa dia sangat istimewa buat kamu?" tanyanya lagi.


"Aku gak harus jawab. Kamu tahu jawabannya!" Dia terdiam, lalu terduduk di lantai, menangis tersedu menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.


"Kamu tahu Dev. Aku gak pernah cinta sama seorang pria sampai seperti ini. Hanya kamu. Kamu yang buat aku bisa menurunkan harga diriku!" lirihnya.


"Bangun Sher!"


"Dev. Apa kamu gak fikirin nasib perusahaan kamu? Kalau kamu menikah denganku, aku bisa buat kamu lebih baik, hati kamu, hidup kamu, dan juga perusahaan kamu! Kamu pasti akan masuk sepuluh besar lagi Dev, aku janji. Papa gak akan biarin kamu jatuh semakin jauh!"


Hahh, dia bicara seakan aku ini anak kecil yang gampang di bujuk dengan sebuah permen.


"Sayangnya ini tidak mudah Sher. Aku gak bisa sentuh orang lain selain istriku!" Jujur aku pernah coba hal itu dengan wanita lain. Tepatnya ...hampir! Seno sialan, gara-gara dia menjebakku. Dia bilang wanita sewaannya, nyatanya wanita itu untukku! Dia minta di cekik, sayangnya dia seperti kucing bernyawa sembilan!


Ya, malam itu aku sudah hampir gila terus memikirkan Anye. Minuman menjadi teman ku, di temani Seno yang juga menyewa satu wanita. Sialan Seno!!! Tapi untunglah... atau mungkin karma ku. Saat wanita itu melucuti pakaian ku di kamar hotel, aku malah teringat istriku sedang menangis lalu tersenyum, yang membuat aku tersadar kalau mungkin istriku akan membenci ku. Akhirnya aku mengusir wanita itu, hingga tamparan keras mendarat di pipiku, dan predikat bajingan dia lontarkan padaku. Tentu saja dia marah, karena mungkin dia sudah sangat terangsang! Eh kenapa aku ceritakan aibku?


"Tidak masalah Dev, aku bersedia nunggu kamu sampai kamu bisa! Aku bersedia!" Dasar wanita bodoh, atau pura-pura bodoh? Apa dia tidak mengerti dengan penolakan secara halus?


Aku memijit pelipisku, rasanya kepalaku berdenyut. Mama keterlaluan!


Aku memegang kedua lengannya dan mengajaknya bangkit.


"Maaf Sher. Bayak pria yang suka sama kamu. Kamu cantik, menarik dan pintar. Jangan buat diri kamu menjadi wanita yang bodoh dengan terus mengejarku. Aku sudah punya kehidupan ku sendiri!"


"Tapi, Tapi, aku cinta kamu Dev! Aku mohon!" dia merangsek ke dalam pelukanku. Aku mendorong bahunya, tapi dia tetap mempertahankan dirinya agar tak jauh dari tubuhku.


"Please sebentar saja." lirihnya. Aku menurut, hanya bisa mengusap bahunya dengan lembut. Paling tidak menenangkan dia terlebih dahulu.


"Aku harap kamu mengerti Sher. Pernikahan tanpa adanya cinta apa kamu akan bahagia?" Dia diam. Aku harap dia mengerti.


"Dev, tidak bisakah sedikit saja kamu kasih aku kesempatan?" Gadis ini gigih sekali!


"Tidak!"


"Kenapa?!" jeritnya sambil mundur satu langkah, bisa ku lihat air matanya lagi-lagi jatuh. Dasar wanita, menggunakan kelemahan untuk menang. Aku benci!


"Aku hanya takut kamu kecewa. Kamu terlalu baik buat aku."


"Tidak masalah Dev, walaupun kamu penjahat paling brengsek sekalipun aku akan tetap cinta sama kamu!" jeritnya lagi.


Aku harus bagaimana? Dia keras kepala, sama seprti Anye.


"Sherly!! Apa yang harus aku bilang supaya kamu sadar?!! Aku tidak mau dengan kamu. Apa aku harus jelas bilang kalau aku menolak kamu??!!" tidak sadar aku membentak nya, sambil mencengkeram pundaknya. Kesabaranku sudah mulai hilang. Dia semakin menangis hebat, ketakutan.


"Dev, sakit!" lirihnya dengan wajah kesakitan. Aku melepaskan tanganku darinya, lalu berbalik.


"Trimakasih makan siangnya. Aku akan makan di luar saja! Biar nanti itu Seno yang makan!" kataku sambil berjalan keluar. Tidak peduli apakah dia akan mengejarku lagi seperti kemarin-kemarin atau tidak.


"Ya, tolong urusi nona Sherly tanyakan kalau dia butuh sesuatu." aku melangkah lagi.


"Baik." jawabnya patuh terdengar.


Sherly memang gadis yang cantik, bodynya ramping, dia juga wanita yang berkelas, tapi secantik apapun wanita hati dan fikiranku sudah terkunci oleh Anye. Wanita jahat yang sudah berani meninggalkan aku. Dia sudah memporakporandakan hatiku, hidupku. Bahkan dia berani pergi selama ini. Kenapa aku bilang jahat? Karena itulah dia. Dia sudah buat aku gila. Bahkan setiap malam aku selalu menangisi dia, bertanya pada diri sendiri kapankah dia akan pulang? Aku rindu masakannya yang kacau, aku rindu nada suara tingginya, aku rindu saat dia marah. Aku gila!


Sampai di kafe, aku baru saja turun dari mobilku. Walaupun nafsu makan ku sudah lama menghilang tapi aku harus tetap makan. Ingat dengan apa yang dia tulis di suratnya.


Seseorang berjalan cepat dari belakangku, hingga dia menubrukku.


"Eh maaf!" dia menundukan tubuhnya, mengambil hpnya yang baru saja terjatuh.


"Maaf mas, maaf ya tidak sengaja!" ucapnya lagi. Aku tidak peduli melanjutkan langkahku ke dalam kafe.


"Devan?" berhenti melangkah saat dia memanggilku. Aku menoleh, bingung.


"Hei ini aku. Riana!" dia berseru dengan girangnya. Gadis manis berkulit kuning langsat dengan senyum lebar.


Riana...


Riana...


"Dasar pikun!" meninju dadaku. Ah aku ingat dia. Cewek bar-bar semasa SMA.


"Aku ingat."


"Ingat apa?" tanyanya.


"Ingat kalau kamu pernah melempari aku dengan tanah basah!" Dia tertawa, seakan itu hal yang lucu.


"Sedang apa kamu disini?" tanyanya lagi.


"Sedang mau masuk ke kafe dan gak jadi karena kamu tahan tanganku!" ucapku. Dia menatap tangannya yang memegangi lenganku, lalu menarik tangannya sambil tersenyum.


"Upss... maaf!" cicitnya.


"Ya sudah. Aku mau masuk ke dalam ada urusan. Bye!" lalu dia setengah berlari masuk ke dalam.


Aku melanjutkan langkahku mencari meja kosong. Makan dengan perlahan karena tidak ada nafsu sama sekali. Anye, moodbooster ku. Dimana kamu. Berat badan ku sudah banyak menghilang.


"Hei makan kok melamun!" Riana datang dan duduk begitu saja di depanku. Aku hanya diam.


"Dasar sombong! Sudah lama gak ketemu malah cuek gitu!" wajahnya terlihat kesal.


"Aku sedang malas bertemu dengan seseorang!"


"Siapa? Aku?" tanyanya menunjuk dirinya sendiri.


"Ya siapa saja. Aku sedang ingin sendiri." Aku memasukkan makanan ke dalam mulutku, sambil memainkan hp. Berharap dia akan pergi kardna aku abaikan.


"Eh jangan sombong begitu, nanti kalau sombong, jodohnya jauh loh!" dia menyesap minuman yang ia bawa tadi.


"Memang jodohku sedang jauh." Dia tertawa pelan.


"Pantas saja! Kusut. Haha!" dia masih tertawa. Aku mendelik malas ke arahnya. Apa dia sedang balas dendam karena aku dulu sering mengejeknya?


"Heh Dev, lihat diri kamu sekarang. Rambut panjang, brewokan, pipi tirus. Gak pantes! Siapa cewek yang mau lihat penampilan kamu seperti ini? Berantakan!"


Aku terdiam. Urusan pekerjaan yang membuat aku sibuk, dan juga tidak ada yang mengingatkanku untuk mengurusi penampilanku. Aku menyedihkan!


Inilah aku sekarang Devan Januar Aditama yang kehilangan arah. Kehilangan cinta. Kehilangan kasih sayang. Anye dimana kamu?


*


*


*


Devan : Author...!!


Me : Hemm..??


Devan : Udah ah gue gak kuat. please, jangan siksa gue 😭😭😭


Me : masih banyak yang belum puas elu kesiksa.


Devan : tega!! 😭😭


Me : terus maunya apa 😒?


Devan : Anye. Balikin.


Me : tanya dulu, dia mau balik sekarang apa kagak?


Devan : Anye sayang, balik sini ya...


Anye : 🙅🏻


Devan : Thor, dia gak mau ngomong.


Me : DL!


Devan : 😭😭😭😭😭😭


*


*


*