DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 110



Kabar yang baik, dalam waktu satu bulan ini toko yang aku dirikan di pusat perbelanjaan itu sukses menarik minat pembeli dari kalangan atas. Toko perhiasan dengan kualitas yang terbaik, bahkan telah menarik para pelanggan milik mama Mauren. Tidak sia-sia juga aku mempekerjakan seorang ahli dalam bidang ini untuk mendesain berbagai perhiasan cantik.


Aku juga menerima laporan kalau mama Mauren pernah datang ke toko dan meminta bertemu dengan ku. Apa dia mau protes?


Mengenai saham yang aku mau, Alex tidak melepaskannya, meskipun sudah di bujuk dengan tiga kali lipat harga yang aku tawarkan. Biarkan saja dulu. Aku masih punya saham yang cukup untuk sekedar membuat perusahaan Devan kalang kabut. Lain kali aku akan turun tangan sendiri. Beberapa orang yang aku suruh tidak bisa di andalkan!


"Pak Chandra. Bisa ke ruanganku sekarang?!" bukan bertanya, tapi perintah aku menutup telfon ku


Pintu di ketuk dari luar. Aku mempersilahkan orang itu untuk masuk.


"Ada apa nona?" dia bertanya dengan sangat sopan. Aku mengeluarkan file yang sudah aku siapkan sebelumnya. Dia menerima file itu dan membukanya, seketika dia membelalakan matanya.


"Nona yakin?" dia bertanya. Aku hanya mengangguk. "Kalau begitu saya akan undur diri dan segera melaksanakan perintah nona!"


Aku bangkit dari kursiku. Hari ini aku akan menemui seseorang. Aku berjalan mensejajari langkah pak Chandra.


"Pak Chandra. Tolong urusi perusahaan, hari ini aku ada urusan di luar." ucapku.


"Baik nona."


Di temani dua bodyguard aku menuju pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Pegawai ku bilang mama ingin bertemu dengan pemilik toko untuk protes. Dia bilang harusnya aku tidak membuka toko perhiasan di lantai yang sama. Bahkan dengan jarak kurang dari dua puluh meter dari toko miliknya. Memangnya kenapa? Tidak aturan untuk itu kan?


Kami telah sampai di mall. Aku katakan pada pegawaiku kalau aku menunggu mama Mauren di restoran di lantai bawah.


Menunggu sepuluh menit, akhirnya ada suara yang bertanya padaku. Mama Mauren, di belakangnya ada pelayan yang menunjukkan meja yang aku pesan kepada mama.


"Nona, yang anda tunggu sudah datang!" ucap pelayan itu setengah membungkuk. Aku hanya mengangguk, kemudian dia pamit pergi.


"Selamat siang!" sapanya ketus. Aku menurunkan buku menu yang aku baca hingga menutupi wajahku. Mama terkejut, matanya membulat, mulutnya ternganga tidak bisa berkata apa-apa, saat aku membuka kacamata lebarku.


"A...Anye?" mama terkejut terbata. Aku hanya tersenyum.


"Ke...kenapa kamu bisa ada disini?"


"Bukankah nyonya Mauren yang ingin bertemu dengan saya untuk berbicara? Silahkan duduk, nyonya. Maaf membuat anda terkejut!" aku menunjuk kursi di depanku. Tapi mama masih tetap berdiri.


"Apa anda tidak mau duduk dulu mama? Biarkan menantu mu ini menyambut kedatangan mertuanya, kita bisa sekalian makan siang!" ucapku.


"Menantu? Sejak kapan kamu jadi menantu ku?" dia mendecih sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Wanita yang meninggalkan suaminya dengan pria lain, tidak pantas menjadi menantu keluarga Aditama!" beberapa orang mulai terganggu dengan nada bicara mama. Mereka menatap ke arah kami berdua.


Aku tertawa kecil. "Memang aku sedari dulu tidak pernah mama anggap sebagai menantu bukan? Hanya orang-orang tertentu yang akan mama anggap menantu. Hanya mereka dari kalangan atas yang akan mama anggap menantu kalian. Memang apa salahnya? Apa aku terlalu hina? Jangan berfikiran kolot, mama. Bukan mama yang berhak memutuskan takdir kami!" ucapku sambil mengambil minuman jus jeruk yang aku pesan tadi, lau meminumnya dengan santai.


"Bagaimana sekarang? Aku sudah memiliki toko perhiasan yang setara dengan toko milik mama. Bahkan aku yakin sudah melampaui dari yang mama kira, kan? Apa mama akan menerimaku kembali?" Wajahnya berubah memerah. Dia menurunkan tangannya yang mengepal, lalu tertawa.


"Hahh dasar, j*lang!" dia menggebrak meja. "Kamu merayu pria untuk memberikan yang kamu mau dan ingin menjatuhkan kami, begitu? Bagaimana mungkin kamu bisa punya toko seperti itu dengan kemampuan kamu sendiri selain menjual body? Lagi pula, hanya sebuah toko kecil, tidak bisa di bandingkan dengan perusahaan yang kami miliki. Bahkan aku bisa membeli toko milik kamu sekarang juga!"


Benar-benar keterlaluan! Dia bilang aku jual body?


"Ah rupanya begitu ya pemikiran mama. Terserah mama, mau membeli toko ku sekarang juga, silahkan! Tapi apa mama mau membeli toko ku di mall milikku?" Aku berdiri.


"Tidak mungkin!" ucap mama tidak percaya. Aku tertawa kecil melihat ekspresi mama.


"Tidak percaya?" tanyaku sambil mendekat ke arahnya. "Silahkan tanyakan saja. Mama tahu kan dimana kantor manajernya?"


Mama menatapku tidak percaya. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Ya sudah. Kalau mama tidak mau makan siang, aku harus pergi mengurus yang lainnya. Oh ya, jangan lupa. Beritahu Devan aku ada disini!"


"Mimpi kamu!" teriak mama Mauren. "Devan tidak akan cari kamu. Dia sudah ada yang lain yang setara dan jauh lebih baik dari kamu!" jeritnya lagi.


Aku hanya menganggukan kepalaku dengan santai.


"Oh, tidak apa-apa kalau begitu. Kapan kalian akan mengadakan acaranya? Aku akan datang untuk mengucapkan selamat pada suamiku. Selamat karena mendapatkan yang lebih baik dari aku." Aku melangkah, lalu berhenti dan kembali mundur satu langkah.


"Ah ya mama, ada seseorang yang menitipkan salam buat mama, kalau aku tidak salah ingat namanya Lita Inggit....siapa ya?" aku berpura-pura berfikir. Mama membulatkan matanya dengan terkejut, "Ah maaf mama, aku lupa Lita Inggit siapa ya, kenapa aku jadi pelupa begini? Tapi dia bilang teman baik mama katanya. Ya sudah hanya itu yang mau aku sampaikan. Dah mama, senang bertemu lagi!" sebelum mama bisa berkata-kata aku melangkah pergi meninggalkan mama yang kemudian terduduk di kursi.


Ya, selain aku telah membuat mama rugi berkali-kali dalam investasi maupun berbisnis aku juga sudah memegang rahasia masa lalu mama. Siapa itu Lita Inggit? Pasti penasaran kan? Aku takin akan menang dan membuat dia menyesal!