DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 6



Axel pulang dari kantornya. Dia terlihat sangat kelelahan. Dia berjalan gontai masuk ke dalam rumah. Di belakangnya terlihat Gio mengikuti.


"Xel, Gio? Kalian baru pulang nak?" Anye menyapa kedua putranya dari ruang keluarga. Axel mendekat, lalu seperti biasanya dia akan berbaring di sofa berbantalkan paha sang ibu. Selalu seperti itu jika dia merasa lelah.


"Dasar anak manja!" decih Gio lalu melanjutkan langkahnya menuju tangga. Axel mencebik mendengar ejekan sahabatnya.


"Gio. Makan dulu sebelum istirahat, nak!" teriak Anye dari tempatnya.


"Oke mam. Aku akan mandi dulu!" jawab Gio sama berteriaknya.


"Aku lelah, ma!" keluh Axel. Anye mengusap kepala sang putra dengan penuh kasih sayang.


"Ma. Bagaimana saat papa mengejar mama dulu?" Axel memutar kepalanya hingga menatap sang mama.


Anye merasa aneh dengan pertanyaan Axel, tidak pernah sekalipun anak ini bertanya soal sejarah dirinya dulu. Mungkinkah Axel sedang...


"Apa kamu sedang jatuh cinta?" tanya Anye pada sang putra.


Axel memalingkan wajahnya ke arah lain. Malu.


"Tidak tahu! Aku cuma ngerasa ingin selalu lihat dia. Cuma ngerasa selalu ingin lihat senyuman dia!" jawab Axel. Anye tertawa lirih.


"Mama kenapa tertawa?"


"Kamu pernah mimpikan dia?" Tanya Anye.


"Beberapa kali. Apa itu bisa di bilang jatuh cinta?" bertanya untuk memastikan.


"Tanyakan sama hati kamu. Yang kamu rasakan itu cinta atau bukan?"


Axel terdiam.


"Tidak tahu! Tapi rasanya ingin mencari perhatian dia, ingin di kenal dia, dan ingin memiliki dia!" tambahnya. Anye tertawa lagi.


"Anakku sudah besar!"


"Bagaimana caranya aku mendekati dia? Masalahnya dia tidak suka dengan orang kaya?"


"Kenapa?"


"Dia trauma karena di campakkan tunangannya. Ummm... dia juga orang biasa. Apa aku boleh mendekati dia?" tanya Axel penuh harap.


"Tentu saja. Kenapa tidak?"


"Benar boleh, ma?"


Anye menganggukan kepalanya.


"Mama gak akan permasalahan dia karena dari kalangan biasa?" tanya Axel lagi.


"Memangnya kenapa? Mau dia dari yang setara dengan kita atau dari kalangan biasa, wanita pada dasarnya sama saja. Yang penting dia setia!" jawab sang mama. Axel bangun dari pangkuan mamanya dan memeluk sang mama. Bahagia, pasti. Tak menyangka kalau ternyata sang mama akan mendukungnya.


"Hei. Hei. Lepaskan istriku!" suara bariton seseorang terdengar dari belakang membuat Axel malah sengaja mempererat pelukannya.


"Axel!!" Axel menoleh pada sang papa yang mendekat. "Jauhkan tanganmu dari istriku. Kalau mau memeluk seseorang segera cari wanita mu sendiri!" dia menarik tangan Anyelir dan memaksa wanitanya untuk bersandar di dadanya.


"Cih, papa menyebalkan! Ingat pa. Papa itu sudah berumur! Sudah punya cucu, aku kan anakmu. Kenapa cemburu?! Lagipula jangan khawatir, sebentar lagi aku juga akan mendapatkan wanitaku!" Decih Axel, sebal.


"Buktikan!"


"Pa, bagaimana cara papa mengejar mama dulu?" kali ini bertanya pada sang papa.


"Haruskah aku ceritakan semuanya?" bisik Devan pada Anye.


Gio menatap kebersamaan ketiga orang itu dari atas sana. Dia tersenyum senang melihat betapa bahagianya keluarga ini. Dalam hati dia berjanji akan selalu membantu menjaga senyuman itu bagaimana caranya. Meski dia bukan bagian dari keluarga Aditama, tapi papa Devan dengan rela menyematkan nama besar itu di belakang namanya. Gio Arian Aditama.


...***...


"Yakin kamu akan berpenampilan seperti ini?" tanya Gio menatap pakaian Axel dari atas ke bawah. seragam merah dengan bertuliskan nama kafe sama seperti yang gadis itu kenakan setiap harinya, serta celana bahan berwarna hitam dan sepatu hitam pentofel mengkilat yang ia punya.


"Memangnya kenapa? Ada yang salah?" tanya Axel balik.


"Apa tidak ada sepatu yang biasa?" Axel menatap sepatunya.


"Apa yang salah dengan sepatu ini?"


Gio menepuk keningnya.


"Kalau ada yang tahu sepatu ini harganya lebih dari lima ratus juta bukankah aneh? Pelayan mana yang memakai sepatu mahal?"


"Aku tidak punya sepatu lain. Masa aku harus pakai sepatu olahraga!" jawab Axel. "Pinjami aku sepatumu!"


"Ambil saja di kamar." jawab Gio.


Axel berjalan ke arah kamar Gio lalu mencari sepatu Gio yang berada di lemari kaca. Dia memperhatikan semua yang ada disana, lalu membuka lemari milik Gio. Memilah baju dan apapun yang ada disana. Baju, jaket, celana dan yang lainnya. Dalam hal pakaian memang Gio lebih bisa bersikap santai tidak seperti dirinya yang hanya punya beberapa kaos dan celana santai.


"Sudah ketemu?" tanya Gio yang baru masuk ke dalam kamarnya. "Kenapa malah membuka lemari bajuku?!"


"Hanya melihat bagaimana isi lemari orang lain. Ternyata aku pria yang kaku!"


"Haha.... Baru sadar?" Gio tertawa keras membuat Axel kesal.


Axel duduk di tepi ranjang dan segera memakai sepatu putih milik Gio.


Setelah selesai memakai sepatunya Axel turun ke bawah. Beberapa maid menatap Axel dengan bingung, tapi tetap mengagumi sosok putra kedua dari majikannya.


"Axel, apa yang kamu pakai?" seru Anye saat melihat sang putra. Dia menatap Axel dari atas sampai bawah. Entah harus merasa senang atau apa. Penampilannya sangat biasa, meskipun tidak mengurangi kadar ketampanan seorang Axel Felix Aditama. Sedangkan Devan hanya terdiam melihat perubahan sang putra.


"Mulai hari ini aku akan menjalankan misi! Doakan aku supaya misiku lancar ma! Jangan lupa, bantu aku mengurusi semua pekerjaanku di kantor, pa. Bye!" Axel mencium pipi sang mama lalu segera keluar dari rumah dengan Gio di belakangnya.


Anye menatap kepergian kedua putranya.


"Anak itu seenaknya saja...!" geram Anye.


"Sudah! Jangan khawatirkan dia." Devan mendekat ke arah sang istri.


"Aku gak khawatir kok sama dia. Tapi aku bingung dengan cara dia. Haruskah dia berpakaian seperti itu dan melakukan semua hal itu untuk mendekati wanita?"


"Dia harus tahu apa arti perjuangan supaya bisa menghargainya nanti saat dia mendapatkannya. Sekarang lebih baik khawatirkan diri kamu sendiri, karena aku akan menagih bayaran!" Devan mulai menarik tangan sang istri.


"Bayaran apa?" beringsut menjauh.


Devan mengerling dengan senyuman nakal di wajahnya. Dia membungkuk dan menggendong istrinya di depan.


"Akhh!! Turunkan aku! Banyak yang melihat disini!" protes Anye., dia menoleh ke kanan dan ke kiri, wajahnya berubah merah karna malu. Devan memang gila, dan semakin gila sekarang! Juga mesum!


Beberapa maid yang ada tak jauh dari mereka hanya menundukan kepalanya, tak berani menatap keindahan yang tersuguh di depan mata mereka padahal ini masih pagi hari dan sang majikan sudah bermesraan di depan mereka. Wajah mereka memanas antara malu dan iri.


"Memangnya kenapa kalau mereka melihat? Kalau mereka mau, toh mereka bisa mencari pasangan sendiri! Sekarang adalah waktunya untuk kamu membayarku!"


"Membayar apa?" tanya Anye lagi, bingung.


"Karena perbuatan anakmu yag meninggalkan urusan kantor, aku harus menangani kantor entah sampai kapan, dan aku menuntut bayarannya darimu!"


Devan mmelangkah membawa sang istri ke arah kamar mereka. Sementara para maid yang tak sengaja melihat keindahan itu hanya bisa menangis meraung-raung di dalam hatinya.