DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 121



Aku berjalan ke arah ruangan kantorku, Ana berdiri menyambut kedatanganku.


"Apa dia masih ada?" tanyaku.


"Bu Melati baru saja pergi dengan buru-buru, sepertinya ada urusan lain! Nona mau saya menghubungi bu Melati?" tanya Ana. Aku menatap Ana tajam.


"Sejak kapan perusahaan kita mengalah pada orang seperti dia?!" tanyaku sambil menggebrak meja. Ana terkejut menunduk sambil meminta maaf padaku. Dia terlihat ketakutan.


"Sudah lah. Aku yakin gak sampai tiga hari dia pasti akan datang lagi kesini!" ucapku lalu masuk ke dalam ruangan ku.


Waktu terus saja berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Hari sudah semakin sore menjelang malam, Ana juga karyawan lainnya sudah pulang satu jam yang lalu.


Aku sangat bosan tinggal di hotel, hanya diam sambil rebahan. Lebih baik disini sambil bekerja jadi tidak banyak waktu untuk melamun.


Pintu terbuka, Samuel masuk ke dalam dengan membawa kantong plastik di tangannya.


"Aah sudah datang!" Aku langsung berdiri dan berlari ke arahnya. Menyambut kantong kresek makanan pesananku. Sam memutar bola matanya malas. Wajahnya kusam, apalagi luka memar bekas gulat kemarin masih terlihat jelas di pipinya.


"Lain kali jangan suruh aku. Punya bodyguard kenapa gak di suruh?" dia berkata sinis. Aku hanya menampilkan senyum di wajahku. Sam semakin kesal dan mencubit pipiku kencang.


"Sakittt!!!" aku berseru sambil melepaskan tangannya dari pipiku.


"Kan kamu yang sudah hapal selera aku!" ucapku membela diri. Sam berjalan ke arah sofa dan duduk disana. Sedangkan aku membuka kantong plastik makanan yang tadi aku pesan.


"Aku dengar Devan tadi datang kesini?" tanya Sam, aku mengangguk sambil memakan kwetiau goreng pedas. "Mau apa dia?" tanya Sam lagi.


"Meminta pengampunan!" jawabku dengan mulut penuh makanan.


"Terus?"


"Ya tidak terus-terus!" jawabku santai.


"Dia bawa bunga?"


"Hem. Kok tahu?"


"Aku lihat ada di kap mobil mu. Tapi sudah aku buang!" ucapnya, aku mendelik ke arahnya. "Apa lihat-lihat?" dia bertanya dengan garang.


"Kejam!" ucapku sebal.


"Dasar! Tidak berperasaan!" ucapku mengejek, Samuel hanya mengangkat bahunya sambil mencebik cuek.


...*...


Hari ini Kak Mel datang ke kantorku, setelah kemarin aku menolak kerjasama yang di bawakan oleh seorang utusan yang di kirim kak Melati.


"Kenapa kamu sombong sekali, bukannya sama saja dia atau aku yang datang untuk persoalan ini?" tanya kak Mel dengan angkuhnya, dia menyimpan berkas yang kemarin di bawakan oleh bawahannya.


"Aku hanya ingin bertemu dengan kakak, apa salah? Bagaimana kabar mama? Hanya itu yang aku ingin tanyakan." tanyaku santai menyandarkan diriku pada kursi kebesaranku.


"Mama sehat, jangan sok perhatian bukannya selama ini kamu sudah meninggalkan mama tanpa kabar?"


"Papa yang paksa aku kak. Kakak juga tahu itu kan!" ucapku. "Bukannya kak Mel senang aku pergi jadi bisa dekati Devan?" tanyaku dengan nada mencibir.


Kak Mel menyodorkan berkas itu ke hadapanku. "Jangan banyak omong, Anye. Sebencinya aku sama kamu, tapi kalau urusannya sama mama, aku gak akan tinggal diam! Sekarang aku minta kamu tanda tangani saja berkas ini. Ini perjanjian kerja sama diantara kita."


Aku tertawa kecil. Tidak menyangka kak Mel sangat ingin aku menyetujui membantu proyek itu.


"Aku tidak mau!" ucapku sambil menatapnya dan mengembalikan berkas itu ke depan kak Mel. Kak Mel melotot tak percaya.


"Aku gak percaya kamu menipu, Nye! Kamu bilang kalau aku yang datang kamu akan setuju kan?!"


"Kenapa kak Mel ingin aku tanda tangan? Apa ada seseorang yang mengancam kek Mel kalau aku gak tanda tangan? Kenapa kak Mel gak fikirin dulu? Disini yang untung bukan kita, kak!" ucapku. "Aku kira kak Mel sudah tahu itu kan?!" tanyaku lagi. Kak Mel hanya terdiam dia terlihat kesal dan menarik kembali berkas itu lalu berdiri.


"Aku gak nyangka, Nye. Kamu berubah! Setelah kamu pergi dari Devan dan bersama orang lain kamu juga ternyata mempengaruhi tuan Fabian untuk kasih perusahaan ini sama kamu! Benar-benar hebat! Kamu berhasil hancurkan kami!" kak Mel berkata dengan nada penuh kekecewaan. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi dia beranjak pergi. Ah kak Mel. Dia bersikeras ingin aku setuju dengan proyek yang tidak menguntungkan sama sekali.


Pintu di ketuk dari luar, Ana masuk setelah aku mengizinkan. Dia masuk dengan membawa sebuket besar bunga mawar merah. Itu pasti dari Devan siapa lagi?


"Saya pamit nona." ucap Ana lalu keluar dari ruanganku.


Aku salah! Itu dari Alex! Dia mengingatkan aku untuk makan malam nanti malam. Oh aku benar-benar lupa! Hari ini terlalu sibuk sampai aku juga lupa belum menelfon putraku.


Sambil menelfon Daniel aku mengusap bunga mawar pemberian Alex, dia pasti melihat Devan kemarin saat membawakanku bunga mawar merah. Aku tersenyum sendiri. Rasanya geli, setelah sekian lamanya aku tidak pernah menerima bunga dari pria.


Suara Daniel membuyarkan lamunanku, dia terdengar kesal karena aku tak kunjung bicara. Aku malah tidak tahu kalau telfon sudah terhubung dengan Daniel. Aku kangen dia.