DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 91



Perutku sakit.


Dari beberapa jam yang lalu terasa linu di area bawah perutku. Tapi sakitnya kadang-kadang. Kadang terasa lalu menghilang, tak lama sakit lagi. Begitu berulang kali. Aku hanya bisa menahan rasa sakitku ini sendirian. Aku tidak bisa tidur sedari tadi. Pinggang ku terasa panas.


Meraih hp di atas nakas. Aku cari nomor ayah. Ah aku pasti jahat sekali menelfon ayah di jam segini, jam dua malam. Tapi aku rasa mungkin aku akan melahirkan.


Suara panggilan yang tertunda. Belum di angkat oleh ayah. Ayah pasti sangat lelah, mengingat baru saja ayah kembali dari Australia.


Aku mengganti panggilan, Samuel. Di panggilan ketiga akhirnya suara Sam terdengar sedikit kesal disana. Dia pasti juga lelah, karena menggantikan ayah selama ayah pergi.


"Sam..." panggilku lirih. Rasanya sedikit lemas karena perutku kembali linu, sakit, tidak ada tenaga, aku mencengkeram gorden dengan keras, sembari menggigir bibir bawahku.


"Bisakah, bawa aku... ke rumah ...sakit?" Tanyaku. Tiba-tiba panggilan terputus. Oh ya ampun, apa dia marah karena aku mengganggu? Aku sendirian sekarang. Bahkan Sam juga memutuskan untuk kembali tidur.


Ya sudah lah!


Ah ya ampun, semakin sakit.


Brakkk!!


Pintu kamarku terbuka, untung saja aku tidak menguncinya tadi saat aku merasa mulai sakit di perut. Samuel terlihat terengah, penampilannya berantakan! Dia hanya pakai celana pendek, tidak menggunakan kaos sama sekali hingga terlihat otot perutnya yang menawan. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya terlihat khawatir. Keningnya basah oleh keringat, apa dia berlari menaiki tangga tadi?


"Anye!" panggil Sam lalu berlari ke arahku. Aku kira tadi dia tidur lagi! "Apa kamu mau melahirkan?" tanya Sam saat sudah memegangi tanganku.


"Tidak tahu, tapi perutku sakit dari tadi, gejalanya sih seperti yang mau lahiran, kadang terasa, kadang tidak." terangku.


"Sekarang bagaimana?" tanya Sam, dia sedikit menarikku untuk duduk ke atas tempat tidur.


"Sudah reda." ucapku, sambil mengelus perutku yang sekarang membaik.


"Bukannya jadwal lahiran kamu masih delapan hari lagi? Kok bisa akan keluar sekarang?" Tanya Sam.


"Ya mana ku tahu, kalau anak ini ingin keluar sekarang apa aku bisa melarangnya?" ucapku mulai kesal, dasar laki-laki, kenapa dia banyak sekali bertanya di saat-saat seperti ini?


"Dimana tasnya?" tanya Sam, maksudnya adalah tas persiapan untuk baby saat aku akan melahirkan. Aku sudah menyiapkannya jauh-jauh hari.


"Di lemari sana!" tunjukku ke arah walk in closet.


Sam segera berlari ke dalam sana, tapi baru saja ia melangkah ke pintu dia berhenti karena aku memanggilnya lagi.


"Sam. Sakit!" lirih ku, aku menggenggam sprei dengan erat. Sam kembali berbalik ke arahku.


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" Sam bingung, Padahal biasanya dia yang paling sigap jika menghadapi sesuatu. Ya ampun pria ini apa dia lupa poin utama yang terpenting untuk saat ini? Dia malah berjalan mondar-mandir di depanku sambil mengacak rambutnya.


"Bawa aku ke rumah sakit, Sam!!" Teriak ku.


"Oh iya. Kenapa aku jadi mendadak bodoh!" Sam merutuki kebodohannya sendiri dengan menepuk jidatnya.


"Sam cepat!" teriakku lagi. "Ini sakit Sam!"


"Iya aku... segera...Aaakkhhh!!!" Sam berteriak keras saat aku menjambak rambutnya yang mulai panjang. Aku menarik kepalanya ke kanan dan ke kiri. Perutku benar-benar sakit! Aku sungguh tidak sadar dengan wajah Sam yang kesakitan. Ini benar-benar... akhh perutku rasanya sakit! Sakit sekali!


"Anye lepas! Ini sakit!" Sam meronta minta aku melepaskan tanganku dari rambutnya.


"Lebih sakit aku Sam! Kalian para pria hanya tahu membuat bayi, TAPI TIDAK TAHU KAN RASANYA WANITA YANG AKAN MELAHIRKAN?!" teriakku lagi. Sakiiiittt!!!!


Tiba-tiba saja ayah dan beberapa orang datang setengah berlari di belakangnya. Mungkin ada yang mendengar kegaduhan yang kami buat tadi.


Ayah mendekat, wajahnya terlihat khawatir.


"Anye, ada apa? Apa kamu sakit? Apa kamu akan melahirkan?" tanya ayah yang berjongkok di depanku.


"Ayah tolong aku!" Sam dengan nada memelas, wajahnya tampak sangat kacau akibat perbuatan ku. Beberapa helai rambutnya rontok di tanganku.


"Ini sakit ayah!" keluhku. Tanpa banyak bicara ayah segera menggendongku di depan tubuhnya, dan berlari membawa ku ke arah lift, tidak menghiraukan keadaan Sam yang mengenaskan akibat ulahku. Setelah pintu lift terbuka, ayah kembali berlari ke pintu utama. Di saat seperti ini rasanya pintu utama terlihat jauh sekali. Ah salah siapa membuat rumah seluas ini? Seperti lapangan sepak bola!


Ayah terus berlari, pintu semakin terlihat jelas. Aku semakin mengeratkan pelukanku pada leher ayah. Sudah ada dua orang yang siap disana untuk membukakan pintu. Keluar dari rumah, sudah ada beberapa mobil di luar. Aku menatap wajah ayah, di bawah sinar bulan, ayah terlihat KEREN! Ish di saat-saat begini aku masih bisa memuji ayah!!


Ayah memasukkan ku dengan hati-hati ke dalam mobil, di depan sudah ada supir yang siap untuk menancap gas.


"Ayah sakit!" lirihku memegang tangan ayah erat, sangat erat.


"Yang kuat sayang. Sebentar lagi kita sampai. Kamu pasti bisa, tahan sedikit ya!" Bujuk ayah.


"Sekarang tarik nafas." Ayah memberikan instruksi seperti apa yang di ajarkan instruktur senamku. Selama disini aku rajin mengikuti senam hamil. Ayah juga sama dia menarik nafasnya, mengajakku untuk mengikutinya. Untunglah, setidaknya ada seseorang yang menemaniku "Tarik lagi. Sedot, tarik lagi, sed..." ayah menarik dan membuang nafasnya. Sedangkan aku, saking gugupnya malah mengikuti instruksi ayah.


"Ayah! Tarik dan buang!" teriakku meralat ucapan ayah, sambil memukuli kursi. Ada rasa kesal tapi juga ingin tertawa. Di balik sikap ayah yang tenang tadi ternyata ayah gugup juga! Tapi rasa sakit di perutku tidak bisa membuat aku lantas bisa tertawa.


"Sakit ya?" tanya ayah. Aku mengangguk sambil terus menarik dan membuang nafasku perlahan, bersikap tenang adalah jalan satu-satunya untuk bisa melewati rasa sakitku ini sekarang.


Ayah terus berteriak pada sopir, mungkin sedang menyuruh melajukan mobilnya dengan lebih cepat, karena setelah ayah berteriak mobil bertambah kecepatannya. Untung nya jalanan lengang, mungkin karena ini dini hari.


"Ayah tenang lah. Aku kira bisa menahan anak ini supaya tidak melahirkan dalam mobil." Aku mencoba menenangkan ayah.


"Tapi kenapa ayah tidak membawaku terbang dengan helikopter?" tanyaku. Pakai helikopter pasti lebih cepat sampai!


Ayah menatapku, wajahnya terlihat lucu. Ekspresi anak balita yang sedang kebingungan.


"Ayah lupa! Kalau begitu ayah akan panggil helikopter!" Ayah mencari sesuatu di baju tidur berbentuk kimono-nya.


"Ayah lupa gk bawa hp." ujar ayah kembali bingung.


Ya sudah lah.


"Apa rumah sakit masih jauh?" tanyaku.


Ayah bicara dengan sopir, lalu beralih padaku.


"Dua puluh menit lagi. Bisa kah kamu tahan?" tanya ayah, ada rasa bersalah yang terlihat dari wajahnya.


"Aku akan usahakan. Ayah bisa usap perutku? Mungkin akan membuat rasa sakitnya mereda." pintaku. Ayah menuruti mauku. Mengelus perutku. Rasanya sangat nyaman, tapi rasa sakit ini kadang muncul lagi semakin sering.


"Jangan mengejan nak! Tahan sebentar lagi!" seru ayah, nada suaranya terdengar frustasi.


Aku lupa! Rasa sakit ini membuatku tak sadar mengejan.


"Jangan disini, ayah tidak tahu menahu soal wanita melahirkan!" ayah terlihat takut.


Samuel sudah ada disana, dia sudah memakai pakaian lengkapnya, tak lupa jaket tebal dan juga kacamata hitam. Beberapa pengawal berdiri di belakangnya. Dia sudah sampai terlebih dahulu!


Mereka membawa ku ke sebuah ruang pemeriksaan. Dokter yang pertama kali dulu memeriksaku menjadi dokter ku selama ini termasuk saat waktunya melahirkan.


Dokter memintaku untuk menekuk kakiku dan membukanya lebar-lebar. Memakai sarung tangan tipis, dia memasukkan satu jarinya ke dalam area pribadiku. Perih, lebih baik jika tidak menggunakan sarung tangan, dokter. Jika saja aku bisa bicarakan itu! Aku malu, terlebih ada ayah di dekatku. Dokter berkata sesuatu pada ayah.


"Dokter bilang kamu sudah siap. Pembukaan kamu termasuk cepat, sayang." ucap ayah menggenggam tanganku. "Kamu pasti bisa, sayang." Aku mengangguk, ya aku pasti harus bisa!


"Tentu ayah, jangan khawatir. Aku ini wanita yang kuat." Wanita, aku bukan gadis lagi!


Sekarang dokter sedang membawaku ke sebuah ruangan.


"Sam temani Anyelir di dalam." titah Ayah pada Sam yang berjalan di belakangnya. Wajah Sam mendadak pucat.


"Baik, ayah." Sam pasrah. Aku yakin sebenarnya dia tidak mau. Terlihat dari tangannya yang tidak mau diam. Dia gugup atau takut?


"Atau kamu mau ayah yang temani?" tanya ayah lagi padaku.


"Tidak usah yah. Aku sendiri saja."


Terlihat ada kelegaan di wajah Samuel.


"Kamu yakin?" tanya ayah lagi.


"Iya. Aku rasa Sam lebih gugup daripada aku! Ayah lihat saja! Apa yang dia bisa lakukan nanti di dalam, teriak lebih keras dariku?"


cibirku pada Sam. Dia hanya mendecih tak suka. Aku hanya ingat bagaimana dia tadi paniknya saat masih di kamarku.


"Pengertian juga kamu!" ucapnya lagi.


"Tidak, kamu harus ada yang temani. Kalau ayah jujur, ayah tidak bisa!" ucap ayah.


"Kenapa?" aku dan Sam serempak bertanya.


"Ayah hanya takut akan pingsan sama seperti dulu!" nada suara ayah terdengar menahan malu.


Sampai di ruang bersalin, Sam sudah mengganti jaketnya dengan baju khusus.


"Kamu gugup?" tanya Sam padaku.


"Tentu saja, ini pengalaman pertamaku!" seruku. Dasar Samuel. Bertanya hal yang seperti itu! Tentu saja setiap wanita yang akan melahirkan pasti gugup. Kurasa!


Setelah beberapa persiapan, dan perutku semakin sakit. Rasanya sesuatu mendesak meminta di keluarkan. Anakku, apakah dia tidak sabar sudah ingin keluar?


"Sam, sakit!" lirihku. "Dev!" tak menyangka aku akan memanggil Devan.


Sam terlihat bingung menggenggam tanganku seperti instruksi dokter.


"Sabar, kalau saja rasa sakitnya bisa di pindahkan ke orang lain, pindahkan saja pada Devan!" Tiba-tiba Sam terdengar sedikit kesal.


"Kalau begitu panggilkan dia sekarang, aku akan siksa dia karena sudah buat aku hamil!" teriakku.


"Mana sempat. Meski pakai pesawat jet super cepat juga dia akan melewatkan persalinan kamu. Diam dan konsentrasi... Aaakkkhhhh!!!!!!" Sam berteriak karena lagi-lagi aku menjambak rambutnya saat aku merasakan kontraksi di perut.


"Maaf Sam." ucapku di sela tarikan nafasku. Aku melepaskan tanganku dari rambutnya. Dokter memerintahkan aku untuk berhenti sebentar. Dia bicara dengan bahasa inggris, aku sedikit mengerti lah kalau bahasa inggris. Stop And Go, dia bilang.


"Devan harus membayar semua rasa sakit ku ini. Enak saja dia yang buat aku yang sakit!" Sam meracau dengan kesal.


"Hei aku juga sakit! Apa kamu lupa siapa yang melahirkan disini?" tanyaku garang.


"Tapi aku juga sakit! Bagaimana kalau rambutku lepas semua?" tanyanya lagi.


Perutku terasa kontraksi lagi. Aku menarik nafas lalu membuangnya sembari berteriak dan mengejan.


"Akhhh!!!!" Sam juga sama berteriak karena tanpa sadar aku menggigit lengannya. Masih belum juga keluar? Tenagaku sudah mulai terkuras.


"Rambut lelaki lebih cepat tumbuh. Lagi pula...hahh ... hahh...sekali-kali botak tidak masalah... kan?" nafasku terengah.


"Huhh enak saja! Rencananya aku akan memanjangkan rambutku!" Sam mengusap lengannya yang memerah.


Perutku sakit lagi. Aku menarik nafas yang banyak dan kuat. Dokter berbicara sesuatu.


"Pusatkan tenaga di bawah perut, lalu dorong dengan kuat." Aku hanya mengangguk, mengikuti perkataannya.


Menarik nafas lagi dan mulai mengejan.


Dokter bicara...


"Kepalanya sudah mulai terlihat." Sam memberi tahu apa yang di katakan dokter. "Dorong yang kuat kali ini pasti bisa."


"Aku capek Sam. Gak kuat!" lirihku. Serius, ini capek sekali. Keringat sudah membanjiri kening dan leherku.


"Sabar, kamu pasti kuat! Sedikit lagi!"


Entah berapa lama aku di ruangan ini, rasanya aku lelah sekali. Ingin tidur. Semalam aku hanya tidur dua jam.


"Ayo lakukan lagi, kamu pasti bisa!" ujar Sam mantap. Matanya merah. Apa dia menangis? "Meskipun aku tidak ikut membantu saat membuatnya, tapi lahirkan keponakan yang tampan buatku!" Dasar Sam, kanapa dia berkata yang ambigu seperti itu?


Aku menarik nafas panjang, lalu mengejan sekali lagi. Aku harus kuat. Ibu. Trimakasih sudah kuat saat melahirkanku. Ayah, aku senang bertemu lagi dengan ayah. Dev, aku cinta kamu, tapi aku juga benci kamu!


"Aaakhhhhh...!!!!!! Devaaaannn!!!!" teriakan terakhirku. Rasa sakit tak terhingga hingga rasanya entahlah, sesuatu keluar dari area pribadiku. Lalu di susul dengan yang lainnya, seperti air seni yang tak bisa aku tahan.


Suara tangisan bayi mungil terdengar menggema di ruangan ini. Sangat kencang. Seketika rasa sakit yang ku rasakan tadi menghilang. Aku bisa melaluinya tanpa menangis! Wow.


Berganti dengan rasa haru saat dokter memberikan bayi merah mungil itu ke atas dadaku, lalu dokter dan perawat melakukan sesuatu yang lain di bawah sana. Mungkin mengeluarkan ari-ari dan membersihkan serta mengobatiku.


Aku menatap wajah putraku. Mirip dengan papanya! Lendir putih dan darah di kepalanya sedikit mengganggu pemandangan, tapi aku yakin dia bayi yang sangat tampan jika sudah di bersihkan.


Aku beralih menatap Samuel yang berdiri di samping kepalaku. Dia tertegun, menatap putraku. Mulutnya terbuka. Dia tidak bicara apa-apa, hanya diam.


"Sam. Apa kamu tidak mau ucapkan selamat datang pada ponakan ganteng mu?" tanyaku. Tiba-tiba saja Sam berlari keluar dengan menutupi mulutnya. Ada apa dengan dia?


"Selamat datang ke dunia ini, anakku. Meski tidak ada papa, mama akan menjaga kamu!" lirihku lalu mengecup kepalanya.