DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 107



"Aku senang Re, akhirnya sebentar lagi kita akan menikah." tak hentinya aku menciumi bahu Renata yang kini duduk di bersandar di sampingku. Renata menggerakan bahunya, merasa geli dan ingin mengusirku dari sampingnya. Dia ingin beringsut melepaskan diri dariku. Tapi jangan harap, tidak semudah itu dia bisa lari!


"Xel, tolong lepaskan aku, jangan seperti ini. Tidak baik." mohonnya, dia sangat menggemaskan jika sedang memohon seperti itu. Wajahnya memelas dengan mata bulat dan bibir yang mengerucut, manis sekali!


"Tidak baik kenapa?" ku ambil tangannya dan membawanya ke depan bibirku, memainkannya dengan daguku yang kasar belum aku cukur. Dia tertawa geli, ingin menarik tanganya tapi lagi-lagi aku yang menang.


"Jangan seperti ini. Nanti mama marah!" ucapnya. Dia menunjuk mama yang dari kejauhan sudah menatap kami dengan tajam dari arahnya berkebun. Ya kami memang ada di taman belakang untuk menikmati sore di atas ayunan. Angin sore terasa sangat segar apalagi saat wewangian dari aroma bunga mawar dan bunga anggrek yang mama tanam bersemilir menyeruak menggoda indera penciuman.


Aku segera menjauhkan diriku darinya. Dekat dengan Renata membuaku selalu ingin bermanja-manja, tapi tatapan mama yang tajam membuatku ciut juga. Mama selalu mengomel saat aku dekat dengan Renata. Tidak salah sih, dia sedang menjaga jarak kami agar tetap aman. Aku tahu kekhawatirannya, aku lelaki dewasa dan Renata juga wanita yang sama-sama dewasa.


Oh ayolah Ma... Aku bisa menahan diriku! Ingin aku berkata seperti itu pada mama. Terbukti selama ini aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh pada Renata meski kami tinggal dalam satu atap, paling jauh hanya mencium dia. Hehe...


Renata pun tahu dengan batasan, dia akan mengingatkanku jika dia rasa aku keterlaluan.


Renata terdiam, wajahnya terlihat aneh. Mendadak pucat dan berkeringat, seperti sedang menahan sesuatu.


"Kamu kenapa?" tanyaku. Dia hanya menggelengkan kepalanya dan mengangkat tangannya, seperti mengatakan tunggu atau apalah...


Entah kenapa Renata bangkit dan kemudian berlari ke arah dalam. Khawatir, pasti. Aku menyusulnya ke dalam sana. Takut jika dia terjatuh atau semacamnya. Dia berlari sangat cepat untuk ukuran ibu hamil.


Huweekk!!


Suaranya terdengar dari dalam kamar mandi. Renata sedang muntah di dalam sana. Tidak biasanya. Yang aku tahu dia tak pernah muntah-muntah seperti itu.


"Re?!" Panggilku dari luar sambil menggedor pintu kamar mandi. Pintu terkunci dari dalam. Tak ada tanda-tanda Renata akan membuka pintu. Malah terdengar suara dia yang terus muntah dan kamudian terbatuk.


"Ren-ren!" panggilku keras. Mama dan beberapa maid datang. Mungkin karena mendengar ku yang berteriak mmanggil Renata tadi.


"Ada apa, Xel? Apa yang terjadi dengan Renata?" tanya mama dengan nada khawatir.


"Sepertinya Renata muntah, Ma." tuturku sama khawatirnya, aku mencoba membuka pintu kamar mandi yang masih terkunci dari dalam.


"Aku gak apa-apa Ma. Axel jangan lebay deh, aku cuma muntah saja!" di lapnya dagu yang basah dengan punggung tangan.


Dia bilang jangan lebay dan bilang tidak apa-apa, tapi aku khawatir karena selama ini dia tida pernah sampai muntah seperti ini.


"Kamu beneran tidak apa-apa?" tanya Mama maraih tubuh Renata dan memutarnya melihat kanan dan kiri. Renata menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa Ma, hanya muntah saja wajar kan?" entah itu bertanya atau pernyataan.


"Kita ke dokter ya?" pintaku.


"Tidak perlu. aku ini cuma muntah. Gak perlu ke dokter!" nada suaranya mulai meradang, Dia mulai kesal.


"Tapi aku takut..."


"Axel. Jangan paksa Renata. Muntah di saat hamil memang wajar." Mama memotong ucapanku. Tiara mengangguk membenarkan perkataan mama.


"Tidak apa-apa, kamu istirahat saja. Tapi kalau ada sakit atau apa kamu bilang kami ya?" titah mama. Renata mengangguk.


"Antarkan dia ke kamar!" kali ini mama menyuruhku.


Aku mengangguk patuh. Tak lagi berdebat. Mama memang lebih tahu segalaya daripada aku, kapan saatnya harus tenang dan kapan saatnya harus khawatir.


Ku bawa Renata ke dalam kamarnya, menyelimuti dia di atas kasurnya. Bertanya sekali lagi jika saja dia ingin ke dokter. Dia hanya menggelengkan kepalanya.


"Kalau ada apa-apa panggil aku atau mama ya." pintaku, Renata mengangguk, lalu memilih menutup matanya.


Ku pandangi wajah pucatnya. Kasihan sekali dia harus merasakan sakit dan tersiksa karena kehamiln ini. Setelah kami menikah nanti, aku tidak akan memaksanya, jika dia tidak ingin mempunyai anak lagi. Tak tega rasanya mendengar dia tadi muntah, pasti dia sakit dan kesusahan. Biar saja meski anak itu bukan darah dagingku. Yang penting dia anak Renata.