
Hari sudah semakin sore, hampir jam enam kami baru keluar dari bioskop. Devan mengajakku makan di lantai yang sama.
Begitu manis perhatiannya hingga dia menarik kursi untukku duduk. Lalu dengan segera memanggil Seno. Menyebutkan pesanan yang ingin kami makan.
"Dev, aku mau kamu yang pesankan!" ucapku. Devan mendengus kesal menatap antrian yang lumayan panjang.
"Kenapa? Kamu gak mau?" tanyaku kesal.
"Sayang, bukannya aku gak mau pesankan, tapi aku cuma gak mau sedetik pun mengalihkan pandangan dari kamu, aku takut saat aku kembali kamu gak ada..." dasar lebay banyak alasan!
"Aku lebih suka kamu yang pesankan. Itu lebih romantis!" ucapku dan mengelus rahangnya, membuat wajah kesalnya seketika berganti cerah. Seno yang sudah ada di dekat kami di usirnya, dan kembali ke tempatnya bersama Samuel.
Devan berdiri. "Dev. Jangan lupa kalau sudah sampai disana kamu harus lambaikan tangan kamu." Devan mengkerutkan dahinya, bingung!
Oh ya ampun, wajahnya... Lucu!
"Kenapa?" tanyanya heran.
"Karena aku mau!" jawabku.
"Oke!" Lalu kemudian Devan pergi.
Seperti yang aku minta saat dia baru saja sampai di antrian paling belakang, dia melambaikan tangannya dari sana, aku balas melambai dengan di sertai senyuman. Bukan. Tapi tawa geli!
Ah, kapan lagi aku bisa mengerjainya, haha. Biar saja, inilah balasan karena dia membuatku terkekang dengan aturannya akhir-akhir ini! Dan untuk balasan yang tadi karena membuat aku malu saat berdebat untuk menyewa satu bioskop, padahal sudah jelas yang menonton cukup banyak, dan harus pesan dari jauh hari. Dan akhirnya satu keputusan, meskipun dia memberengut, Devan menyewa satu deret bangku. Pemborosan!
Devan menoleh ke arahku, seperti takut kalau aku menghilang dari sini. Dia kembali melambaikan tangannya. Ah benar-benar lucu! Hitung-hitung hiburan gratis kan menjahili Devan. Hehe. Ini tidak seberapa. Lain kali aku akan buat yang lebih dari ini! 😏😏😈😈
Aku berdiri, ingin ke toilet.
"Anda mau kemana nona?" Samuel sudah mendekat.
"Toilet!" ucapku singkat lalu mulai melangkah. Samuel mengikutiku.
"Kemana kamu?" tanyaku sengit.
"Mengikuti nona." Ah ya ampun, orang ini benar-benar... Ish..!!!
"Gak usah di antar. Aku bisa sendiri!"
"Maaf nona, tapi anda tanggung jawab saya." Lagi, dia terus saja bilang seperti itu!
"Terserah lah!" aku menyerah. Dasar kepala batu! Sama menyebalkan seperti tuannya!
Aku segera berjalan ke toilet, berusaha tidak mempedulikan pria yang terus mengikutiku ini.
"Apa kamu juga akan masuk ke dalam?" tanyaku jengkel saat dia mengikutiku sampai di depan pintu toilet.
"Kalau anda mengizinkan!" ucapnya santai. Aku semakin kesal!
"Pergilah jauh-jauh." usirku dengan jengah, dia hanya beralih berdiri di samping pintu dan tepat di bawah tulisan 'toilet wanita'. Aku harus minta Devan agar tidak di ikuti sampai ke depan toilet! Memalukan!
Selesai dari menuntaskan urusanku, aku keluar dari toilet, mencuci tanganku di wastafel dan membasuh wajahku. Mengelapnya dengan tisu kering yang selalu aku bawa di saku baju atau celana.
"Eh, Mel. Itu Anye, adik kamu kan?" Sayup-sayup ku dengar namaku di sebut. Kak Mel bersama dua temannya semasa kuliah. Aku tahu karena pernah beberapa kali bertemu dengan salah satu di antaranya.
"Kak Mel?" lirihku, terpaku melihat kak Melati dengan senyum miring di wajahnya. Tidak ada lagi tatapan yang hangat jika menatapku. Yang ada aura tajam seperti pedang yang siap menusukku.
"Bukan!" Kak Mel melipat kedua tangannya di depan dada. "Dia hanya anak pungut yang pernah menjadi adikku! Dan wanita yang tidak tahu diri, dan tidak tahu berterima kasih, karena sudah merebut tunangan kakaknya. Dan bahkan..." Ucapannya sengaja di gantung. Tangan kanannya menunjuk ke arah perutku. "Dia sudah menggoda dan menyerahkan tubuhnya agar tunangan ku meninggalkan aku! Dan dia berhasil karena sedang hamil. Hahh.. aku tidak tahu sebenarnya apakah memang benar dia anak Devan atau... anak orang lain?!!"
DAARRRRR!!!!
Rasanya seperti ada petir di siang hari yang menyambarku.
Sakit! Hatiku sakit mendengar kata-kata kak Mel. Mataku seketika panas. Dadaku sesak. Bagaimana bisa kak Mel bicara seperti ini? Kak Mel yang lembut dan penyayang... Kemana perginya dia?
"Masa sih?" satu orang yang lain bertanya dengan nada sinis. "Gak nyangka kamu punya adik seperti itu Mel!"
"Kak Mel, bukan seperti itu ceritanya...Aku mohon maafkan Anye, kak."
"Kalau begitu ceritakan!"
"Tidak bisa disini." lirihku pasrah.
"Kenapa?" Nada kak Mel naik satu oktaf. Aku masih diam. Tidak mungkin aku cerita dengan adanya dua teman kak Mel disini. "Tidak mau cerita, kan? Jangan banyak alasan Nye, jangan banyak drama, karena semua tentang kamu udah gak penting sekarang! Pantas saja kamu tahu semua yang Devan suka. Karena kalian punya hubungan di belakangku! Dasar penghianat!"
"Maafin Anye kak. Aku kangen kakak, aku sayang kakak. Aku mohon maafkan aku. Akan aku lakukan apapun agar kakak dan papa mau maafkan kesalahan Anye. Aku sungguh sangat minta maaf..."
"Maaf?" tanya kak Mel tak percaya. "Maaf kamu bilang?! Setelah selama ini kalian main di belakang aku dengan mudahnya kamu minta maaf?!!" bentak Kak Mel. "Sakit Anye!" kak Mel memegang dadanya. Air matanya hampir jatuh.
"Maaf." lirihku, hanya itu yang bisa aku ucapkan.
"Kamu gak tahu bagaimana sakitnya aku Nye! Kamu gak tahu bagaimana aku nagisin kamu yang udah berhianat!" teriaknya lagi.
"Dasar b**ch!" makinya. Aku terkejut karena kak Mel bisa mengeluarkan kata-kata itu dari bibir cantiknya. Kak Mel yang biasanya terlihat seperti malaikat, tapi kali ini dia seperti iblis dengan mata merahnya.
"Maaf kak! Aku akan lakukan apapun, tapi kakak harus maafin aku!" isakku pelan.
"Apapun?" tanya kak melati, aku mengangguk dengan air mata bercucuran.
"Sungguh?" mengangguk lagi.
"Kalian sebentar lagi akan menikah bukan? Setelah anak kalian lahir kamu dan anakmu harus pergi dari Devan. Apa kamu bisa? Anak kamu hanya butuh status kan?! Fikirkan!" ucap Kak Mel lalu pergi dengan menubruk bahuku.
Aku menangis di dalam sana sendirian. Rasanya lututku lemas. Aku berjongkok agar tidak oleng. Kalau saja dia orang lain mungkin aku akan memakinya balik. Sakit rasanya saat kakak yang aku sayangi membenciku seperti ini. Kemana kak Mel yang penyayang? yang periang? Dan semua itu akulah penyebabnya! Ya, aku yang membuat jarak antara Aku dan kak Mel, dan juga papa.
Apa yang harus aku lakukan? Meninggalkan Devan? Ada sedikit rasa tidak rela jika itu sampai terjadi, tapi aku juga ingin hubunganku dengan papa dan kak Mel membaik. Apa yag harus aku lakukan?
Suara telfon berdering dari dalam saku celanaku. Devan. Segera ku hapus air mataku.
"Ya?" mencoba bersuara sedatar mungkin.
"...."
"Sebentar lagi aku keluar." ucapku lalu telfon ku matikan.
Ku basuh wajahku, dan membuang ingusku. Sedikit membubuhkan bedak di wajah menyamarkan hidung ku yang merah.
Keluar dari toilet, Devan dengan wajah khawatir terlihat di depanku.
"Kamu gak pa-pa Nye?!" tanya Devan. "Kamu nangis?"
"Aku sudah muntah barusan Dev, jadi ada air matanya." berbohong lebih baik untuk sekarang. Tidak mungkin aku bilang bertemu dengan kak Mel di dalam sana.
"Kamu sakit? Ayo ke dokter!" Devan sudah menarik tangan ku saja.
"Itu kan biasa Dev, gak perlu ke dokter. Sudah pesan makanannya?" tanyaku lembut.
"Sudah." ucapnya sambil mengikuti ku dari belakang.
Lagi Devan menarik kursiku untukku duduk. Makanan di depanku memang menggiurkan ayam berbalut tepung kesukaanku. Tapi karena ucapan kak Mel tadi aku jadi tidak selera makan.
"Makan sayang." Devan menyodorkan satu suapan miliknya ke arahku. Karena aku hanya diam menatap makanan ku dengan tak berselera.
"kenapa? Kamu sakit? Capek?" tanya Devan lagi. Aku menggelengkan kepala.
"Aku ingin rujak Dev!" ucapku spontan. Padahal aku sedang tidak ingin makan dan hanya ingin pulang dan istirahat.
"Kamu sudah mulai ngidam?" tanya Devan wajahnya berbinar bahagia. Karena selama ini dia ingin di repotkan dengan ngidamku, dan aku tidak pernah ingin apapun sampai detik ini.
"Mungkin." ucapku.
Maaf Dev, aku tidak mungkin cerita tentang yang di bicarakan kak Mel tadi.