DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 142



Devan pov.


Aku menelan ludah dengan susah payah. Anye bilang ayah Surya adalah ayah yang terbaik penuh kasih sayang, tapi kenapa aku merasa sangat takut saat hanya berdua dengannya sekarang? Rasanya tempat ini berubah suasananya menjadi menyeramkan, layaknya medan perang dengan banyak korban bertebaran. Aku takut, seperti ada ribuan anak panah yang siap di lesatkan saat menangkap pandangan tajam ayah Surya.


"Duduk!" suara baritonnya terdengar menakutkan di antara sepinya ruang kerja penuh dengan buku-buku tebal ini. Sesekali aku memberikan diri menatap ayah. Matanya persis seperti mata Anye.


Aku mendekat dan duduk di hadapannya. Mana keberanian yang sudah aku kumpulkan selama ini. Payah!!


Ayah membuka laci meja kerjanya. Mengeluarkan sesuatu dari sana berupa lembaran-lembaran, mungkin itu adalah kertas berharga. Membacanya tanpa suara.


Detik demi detik rasanya sangat lama sekali bagiku. Dadaku berdetak lebih cepat, menunggu apa yang akan ayah bicarakan menjadi hal yang menakutkan dan mendebarkan. Bagaimana tanggapan ayah terhadapku? Akankah ayah menerima aku yang pernah melukai perasaan putrinya?


Selesai dengan kertas di tangannya. Ayah mengeluarkan sebuah kotak berwarma putih hitam. Kotak catur?


"Bisa main catur?" tanya ayah. Aku mengangguk sembari menjawab iya dengan terbata, takut.


Kami mempersiapkan pion milik kami masing-masing. Setelah semua pion terpasang pada tempatnya, ayah maju terlebih dahulu. Rasanya mendebarkan, aku hanya sekedar bisa bermain catur, tidak ahli.


Beberapa menit bermain dan aku kalah, kehilangan beberapa pion andalan. Ah memalukan! Harusnya dulu aku bersungguh-sungguh dalam permainan ini bersama Seno. Setidaknya aku harusnya belajar dalam melakukan setiap strategi. Seno maafkan aku yang selalu mengejekmu dan tidak pernah serius dalam permainan ini.


"Aku tahu maksud kalian datang kesini!"


Tak. Satu pion prajurit maju, siap untuk melahap pion kuda milikku.


"Maafkan jika kedatangan kami mendadak, ayah."


"Tuan! Panggil aku seperti yang lainnya, Tuan besar!" ucapnya dingin.


Rasanya aku ini seperti balon helium yang sudah terbang beberapa hari, lalu kemudian kempes dan perlahan turun ke tanah.


"Iya, tuan! Maafkan jika kedatangan kami mendadak tanpa pemberitahuan!" ucapku, keringat dingin keluar dari pori-pori kulitku. Ku gerakkan pion kuda itu menjauh, jangan sampai aku kehilangan lagi pion berharga yang hanya tinggal beberapa.


"Anye itu harta yang paling berharga buatku! Kamu pernah menyakitinya, aku tidak bisa menyerahkan dia lagi sama kamu!" ayah menggerakkan pion lainnya.


Aku menghela nafas panjang, memberanikan diriku sendiri, seraya menggerakkan pion ku hingga mengancam keberadaan menterinya. "Maaf tuan. Tapi Anye masih istriku. Sudah menjadi kewajibanku untuk membawanya kembali ke sisiku!" ucapku mantap.


Ayah menggerakkan benteng hingga menghalangi jalanku.


"Tapi kau tidak bisa melindunginya dengan benar."


Rasanya aku ingin sekali bicara bahwa aku yang menghalangi peluru untuk putrinya, tapi aku urung melakukannya.


"Maafkan aku tuan. Semua sudah di luar kuasa ku. Semenjak aku kehilangan semuanya, aku tidak berdaya. Itu semua kesalahanku dari awal!" sesalku.


Ayah menggerakkan lagi bidak catur lainnya.


"Kau tahu tidak berdaya, dan ingin dia kembali?" Rasanya perkataan itu menusuk dadaku hingga ke jantung.


Jleb.


"Dan kau berharap juga untuk membawa serta cucuku?"


Jleb.


Jleb.


"Bagaimana jika kau tidak bisa menjaga keduanya sama seperti beberapa waktu yang lalu?" tanya ayah, nada suaranya kini membekukan diriku. Ribuan anak panah tak terlihat menusuk jantungku berulang kali.


"Skakmat!" ucapan ayah membuatku tersadar. Aku kalah. Bukan hanya kalah dalam permainan catur, tapi aku juga sudah di kalahkan dalam kehidupan ini!


Ayah berdiri dan melangkah ke arah jendela yang terbuka. Kedua tangannya bertautan di belakang tubuhnya yang tinggi berwibawa.


"Fikirkanlah kembali apa yang ingin kamu lakukan!" ucap ayah. Aku tahu arti dari ucapan ayah ini. Aku berdiri dan pamit pada ayah, lalu berjalan ke arah pintu.


Devan pov end.