DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 124



Udara pagi terasa dingin, padahal ini sudah hampir jam tujuh. Oh aku lupa, aku menyalakan AC semalam dengan suhu sedikit lebih rendah. Tubuhku terasa panas akibat pelukan Devan semalam. Memalukan! Hanya di peluk saja aku merasa seperti cacing kepanasan! Tubuhku panas, fikiranku jalan-jalan entah kemana. Bahkan dalam mimpi pun aku, dan dia.... kami...


Ah, sudahlah!


Aku memang memalukan!


Aku bangun dari tempat tidur, masih dengan menggunakan bathrobe ku semalam. Terlalu mengantuk hingga saat aku pindah ke kamar Samuel, aku langsung merebahkan diri dan tidur dengan lelap.


Semoga saja Devan sudah pergi dari kamarku!


Ku buka pintu kamarku. Masih gelap seperti semalam saat aku akan meninggalkan kamar ini. Devan tidak terbiasa tidur dengn lampu menyala.


Ku nyalakan lampu utama hingga kamar menjadi terang benderang. Pria itu masih tidur di tempatnya. Dia juga tidak bergerak, masih dengan posisi seperti semalam. Bahkan sepatu hitam mengkilatnya masih terpasang di kakinya.


Aku pergi ke dalam kamar mandi. Jam sembilan nanti aku ada meeting dengan perusahaan lain.


Selesai mandi. Devan masih saja tertidur. Dasar kebo! Ups aku mengumpat!


Aku tinggalkan saja dia. Biarkan saja. Aku tidak mau ganggu dia.


...***...


Devan pov.


Ku kerjapkan mata ini beberapa kali. Untuk pertama kalinya selama lima tahun, tidurku sangat lelap. Tidak lagi terbangun seperti biasanya dan akhirnya begadang. Hanya bisa menatap ke luar jendela dengan memikirkan si dia. Istriku tercinta.


Kemana Anye ku? Ku lihat jam di pergelangan tanganku. Oh sialan! Aku tidak pernah bangun sesuatu ini!


Ah, pastilah dia sudah berangkat ke kantor! Gagal caper deh. Aku tersenyum. Ingat akan dia yang tak berdaya saat aku mengancamnya semalam.


Aku berguling ke kanan dan ke kiri. Rasanya tidak ingin meninggalkan tempat ini. Tapi aku harus pergi ke kantor. Anye sudah mengalahkanku. Bahkan dia pemegang saham terbesar di perusahaanku sekarang. Kalau dia ingin mengambilnya sekarang aku siap untuk memberikannya, yang penting dia maafkan aku. Tapi sekarang aku hanya harus menjalankannya seperti biasa sebelum hal itu terjadi.


Tapi bagaimana Anye bisa ada di perusahaan ini? Itu masih tanda tanya untukku. Benarkah yang mama dan Melati bilang kalau Anye jadi sugar baby seseorang? Tuan Fabian? Ah entahlah. Keberadaan Anye disini.... aku... masih bingung! Dan Samuel... Bagaimana hubungan mereka?


Aku takut salah mengira lagi. Tapi...


Apa mungkin ini dari keluarga Anye? Tapi ku rasa tidak mungkin! Mendengar cerita darinya saat itu, keluarganya sangat benci pada ibunya. Tidak mungkin jika Anye mendapatkan... Ah entahlah! Lain kali aku akan tanyakan padanya saja


Aku terdiam beberapa saat, memikirkan cara untuk meminta maaf pada wanitaku. Dia tipe wanita yang keras, tidak mudah memaafkan. Apalagi dengan kesalahan yang aku perbuat dulu.


Tunggu saja Anye, aku akan dapatkan maaf dari kamu. Cepat atau lambat seperti masa lalu!


Aku bergegas mandi, memakai pakaianku yang kemarin. Di kantor nanti akan aku ganti. Memakai mobilku, ku lajukan kuda besiku ke sebuah toko bunga. MAWAR MERAH UNTUK ANYELIR. Judul yang bagus bukan? Aku akan minta Author ganti saja judul ini. Ada yang setuju? Hehe...


Kembali aku menginjak gas. Tujuanku sekarang adalah perusahaan dimana Anyelir berada. Walaupun aku tidak tahu dia akan menerima atau menolak bunga ini, tapi aku tidak peduli! Yang penting aku sudah berusaha bukan!


Anye tidak ada. Sekretarisnya bilang dia sedang ada meeting di luar. Ah, ya sudahlah. Aku titip saja.


"Boleh aku minta nomor Anyelir?" tanyaku pada sekretarisnya.


"Anyelir?" Dahinya mengerut bingung.


"Maksudku bos mu! Nona Laura!" Ralatku. Aku kupa kalau istriku sudah ganti nama. Jelek sekali. Lebih bagus Anyelir, kan?!


"Maaf, tuan. Tapi tanpa sepersetujuan nona saya tidak berani."


"Oh ayolah mbak. Mbak gak tahu gitu aku siapa?"


"Pemilik Aditama corp." ucapnya polos.


"Ya benar. Tapi selain itu, apa mbak tahu aku siapanya dia?" tanyaku lagi.


"Rival?" OMG! Apakah dia tidak pernah bilang pada wanita ini kalau aku suaminya?


Aku menepuk dahiku.


"Kenapa tertawa?" tanyaku garang. Dia mulai menyebalkan!


"Maaf, ya pak Devan. Jangan bercanda! Nona Laura tidak pernah berkata apa-apa! Mohon tunggu saja Kalau nona mengizinkan saya akan menghubungi sekretaris anda." ucapnya. Dia benar-benar menjengkelkan! Sama seperti bosnya, yang sayangnya dia itu istriku.


"Ada apa anda kesini pak Devan?" suara seseorang terdengar jelas di belakangku. Alex. Oh laki-laki ini menyebalkan! Dia berani mencium istriku kemarin.


"Aku disini apa hubungannya dengan kamu?" tanyaku sinis, rasa tak suka saat melihatnya muncul begitu saja. Masih ingat dengan bayangan kemarin.


"Hei, jangan sinis begitu. Aku cuma tanya saja sama Anda. Kalau Anda mau bertemu dengan nona Laura saat ini sepertinya Anda sia-sia datang kemari. Karena aku akan pergi makan siang sama dia!" bisiknya di akhir kalimat.


"Jangan harap!" ucapku. Dia tertawa menatapku dengan pandangan mengejek.


"Tidak percaya? Terserah!" ucapnya lalu berjalan ke arah pintu kantor Anyelir, dia menyenggol bahuku kasar. Ada rasa marah dalam diriku. Apa hubungannya dia dengan Alex. Tidak kah dia sadar status nya sekarang masih istriku?


Aku berniat menyusulnya, tapi berhenti karena mendengar suara seseorang memanggilku.


Malaikat yang di tunggu sudah datang.


"Kamu ngapain disini?" tanya Anye dia menatapku lembut.


"Aku...antarkan bunga ini buat kamu!" ku rebut kembali bunga dari sekretarisnya dan menyerahkan bunga itu pada istriku.


"Oh." ucapnya datar.


"Mba Ana, apa Alex sudah datang?" tanya Anye pada sekretarisnya. What?!! Dia hanya bilang Alex? Seakrab itukah dia dengan orang itu?


"Baru saja nona. Pak Alex menunggu di dalam ruangan!"


"Oke! Maaf Dev, aku sibuk dan masih banyak urusan. Trimakasih bunganya!"


Kraakkk.


Hatiku rasanya retak saat dia mengatakan hal itu. Aku di abaikan! Hanya bisa melihat punggungnya yang kemudian menghilang di balik pintu ruangannya.


Menunggu beberapa saat lamanya, mereka tidak kunjung juga keluar. Apa yang mereka lakukan di dalam? Dua orang berbeda jenis di dalam ruangan yang sama. Oh fikiran kotorku menari-nari disana. Aku ketakutan! Aku takut kalau mereka...


"Anye!" aku berteriak sambil merangsek masuk ke dalam ruangan. Oh Syukurlah! Mereka sedang duduk berseberangan di sofa dengan map di tangan Anye. Aman! Fikiran dalam otakku berlarian dan kemudian menghilang. Dasar otak gak ada akhlak!


"Ada apa tuan Devan?" Tanya Alex penuh selidik.


Aku canggung, tidak mungkin kalau aku bilang curiga dan takut mereka melakukan hal-hal yang terlanjur 'positif'.


"Tidak apa-apa. Aku cuma mau pamit pada Nona Laura!" cicitku. Anye terlihat menahan senyumnya, dia memalingkan wajahnya ke samping, tapi bola matanya melirik ke arah ku.


"Silahkan tuan Devan. Lagipula kita tidak punya urusan." ucapnya.


"Oh, apa tuan Devan ingin ikut makan siang bersama kita barangkali? Maaf nona Laura, tadi di luar aku bertemu dengan tuan Devan dan bilang kalau kita akan makan siang bersama." Dasar semprul!


"Tentu kalau Tuan Devan mau, kita bisa makan siang bersama. Tentunya kalau tuan Alex selaku orang yang ingin mentraktir tidak keberatan." jawab Anye dia tersenyum sangat manis pada Alex, tapi kenapa padaku dia selalu sinis?


"Ya meskipun tidak jadi kencan berdua, tapi tidak apa-apa kalau nona juga tidak keberatan!" Aku melotot menatap Alex, bisa-bisanya dia bilang kencan dengan istriku? Tidak bisa!


...***...


Yeeyyy Author kembali.


Maaf ya kalau di buat seperti ini.


Maafkan kalau author jarang update dan mengecewakan readers yang setia sama DEVANYE ini.


Author juga punya kesibukan lain sekarang. Jadi baru bisa ngetik kalau lagi santai. Gak jarang author melek sampe tengah malem, tapi ya gitu kalau badan capek, nyatanya mau berfikir pun rasanya susah 😅.


Harap maklum. Kehidupan real tak semulus halu yang author buat seperti dalam cerita, membuat Author harus terima kenyataan yang ada 😊 🙏🏻🙏🏻🙏🏻.