DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 60



Semenjak pembicaraan malam itu sikap Devan jadi berubah dingin padaku. Aku rindu Devan yang dulu. Devan yang sekarang lebih percaya pada apa yang di katakan mamanya. Mana Devan yang selalu membujuk ku ketika aku marah?


Aku terisak, entah kenapa tidak bisa tidur meski mata ini sudah aku coba untuk di pejamkan padahal ini sudah hampir jam satu malam.


Kasur terasa bergerak di belakangku.


"Honey, ada apa?" air mataku semakin deras mengalir. Sudah empat hari ini aku tidak mendengar Devan memanggilku begitu. "Hei. Apa kamu sakit?" Devan mengguncang bahuku.


"Hon?" aku diam. Walaupun rasanya aku ingin berbalik dan memeluknya. Tapi aku merasa marah karena Devan tidak percaya padaku.


"Anye. Maafkan aku!" Devan memelukku dari belakang. Dia melabuhkan dagunya di atas lenganku.


"Kamu masih marah soal pembicaraan kita yang terakhir?" tanya Devan menarik tubuhku jadi terlentang, tapi wajahku masih ku palingkan ke dinding.


"Maaf sayang. Maafkan aku. Kamu mau kita pindah ke apartemen? Oke kita akan kesana besok. Tapi kamu jangan marah lagi ya?" aku memutar kepalaku, menatap Devan yang wajahnya tepat berada di atasku.


"Benar besok kita pindah?" tanyaku tak percaya. Devan hanya mengangguk dengan senyuman. Aku senang, refleks mengalungkan kedua tanganku di lehernya dan memeluknya erat.


"Anye...Aku tercekik!!" suara Devan tersendat sambil menepuk lenganku.


"Maaf-maaf. Aku terlalu senang." ucapku sambil merenggangkan pelukanku.


"Kamu senang?"


"Iya tentu aku senang."


"Tapi aku punya satu permintaan."


"Apa?" tanyaku


"Kita kembali ke apartemen, tapi kalau aku harus pergi keluar kota kamu harus mau aku titip ke mama. Oke?"


Berfikir sejenak. Itu lebih baik daripada aku harus seharian mendengar mama yang berlidah tajam.


"Tapi kalau aku mau ke rumah oma, boleh tidak?" mencoba menawar.


"Boleh, tapi kamu harus jadi anak baik besok dari pagi sampai sore kamu harus patuh sama mama. Kita akan pindah setelah aku pulang dari kantor." aku senang, tapi malah terisak membuat Devan khawatir.


"Ada apa lagi? Apa ada yang sakit?" Devan terkesiap dan duduk.


"Aku kangen kamu...hikss...kamu jahat... kamu sudah empat hari enggak ajak aku bicara, enggak ajak anak kita bicara, enggak peluk aku, enggak panggil aku honey,...hwaaa...." air mataku tidak mau berhenti, tapi sesak di dadaku selama beberapa hari ini menguap begitu saja entah kemana. Aku lega mengatakannya.


Devan hanya terkekeh.


"Maafkan aku!" Devan mengambilku ke dalam pelukannya. Aku kangen, sangat Dev.


"Aku juga kangen kamu, apa aku sakitin perasaan kamu?" aku mengangguk. Membaui tubuh Devan yang sangat aku rindukan beberapa hari ini.


"Maaf, untuk malam itu. Aku gak maksud bentak kamu. Aku cuma ingin kamu gak manja Nye."


"Jadi kamu fikir aku selama ini manja?" mendorong dada Devan, tidak terima dia menyebutku manja.


"Memangnya selama ini yang membuat aku manja siapa, hah? Kamu gak bolehin aku kerjain apa-apa di apartemen, yang selalu masak kamu, yang selalu beres-beres kamu, yang cuci baju kamu, aku bangun tidur semua sudah kamu lakukan! Jadi siapa yang harus di salahkan kalau aku jadi manja? KAMU!!!" Teriak ku di akhir kalimat. Dadaku naik turun, emosi. Devan hanya menggaruk belakang telinganya dengan raut wajah aneh.


"Apa!!!" tanyaku sarkas saat dia mendekat.


"Hehe. Aku cuma...mau..."


"Mau apa?!!" Devan sedikit menjauh mengacak rambutnya dan malah membuat dia semakin tampan. Raut wajahnya di buat memelas.


"Aku salah!" cicitnya.


"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu gak marah?" tanyanya, matanya mengerjap-ngerjap di buat selucu mungkin.


"Honey, aku benar-benar minta maaf kalau selama ini malah aku yang buat kamu jadi manja. Aku gak sadar, aku hanya ingin kamu gak capek, aku hanya ingin kamu fokus saja dengan anak kita, aku gak mau kalau kamu capek dan terjadi apa-apa dengan anak kita..."


"Jadi yang kamu khawatirkan cuma anak ini? Aku enggak?" menyedihkan, aku tak ada yang menginginkan.


Devan menggaruk belakang kepalanya. Terdiam menatapku.


"Hei, bukan begitu!" Kali ini menarikku ke dalam pelukannya. "I Love you. Untuk apa setiap hari aku bilang begitu?"


"Kemarin tidak!" ucapku jengkel.


"Haha, iya maaf. Empat hari kan?"


"I LOVE YOU."


"I LOVE YOU."


"I LOVE YOU."


"I LOVE YOU."


"Empat kan?"


"Itu tidak cukup!" ucapku semakin jengkel.


"Mana bisa di samakan dengan sikap kamu selama ini!"


"Lalu aku harus bagaimana?" Devan menggesekkan ujung hidungnya di leherku. Geli!


Kruyukkk. Kruyukkk.


Perut ku berbunyi.


"Bisa kamu masak spageti buat aku? Aku lapar!" cicitku.


"Baiklah! Asal kamu mau maafkan aku, aku akan buatkan." Devan lalu beranjak melepaskanku. Mengambil kaos dari dalam lemari dan memakainya. Semua itu tak lepas dari pandanganku. Dia keren!


"Ikut." cicitku manja sambil mengulurkan tangan ku.


Devan sudah mengerti, dia menggendongku ala bridal dan membawaku turun ke lantai bawah menuju dapur.


"Dasar anak manja!" aku menyerukkan kepalaku di lehernya.


Nyatanya aku tidak bisa terus marah sama Devan!


Devan sedang sibuk memotong, mengiris, dan sesekali mengaduk mie pasta di dalam panci. Aku duduk di meja pantry, hanya memperhatikan dia dengan lincah berpundah tempat. Tak lama spageti yang aku minta sudah jadi.


"Ini, ayo di makan!"


"Suapin!" ucapku dengan nada manja.


"Ya ampun, kapan kamu gak akan manja, he?" tanyanya. Aku hanya mengangkat kedua bahuku.


"Ayo cepat suapi. Ini anakmu yang minta loh!" Devan terkekeh tapi juga mengangkat lembaran spageti dengan garpu dan meniupnya hingga dingin.


*


*


*