DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 4



Gio masuk dalam kantor Axel, dia berjalan mendekat namun tak melihat seseorang siapa pun selain Axel.


Mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat dan aroma parfum yang ia kenal. Axel hanya meliriknya sebentar, lalu kembali pada pekerjaannya.


"Hai boss!" sapa Gio.


"Hemm?" menjawab dengan malas.


Gio mengedarkan pandangannya ke segala arah, tak ada wanita maupun gadis disini.


"Mencari seseorang?" tanya Axel yang sudah tahu gelagat saudaranya itu.


"Hehe... aku dengar gosip di bawah, bos bawa cewek ke kantor. Siapa?!" bertanya sambil duduk di depan Axel.


"Apa yang kamu lakukan saat bekerja sampai para karyawan punya waktu untuk bergosip?" Axel mengangkat kepalanya menatap Gio tepat ke dalam matanya.


"Hei, karyawan mu ribuan tidak mudah mengatur semua orang itu, apalagi mulut para ibu-ibu fans fanatik bos!! Whussss...." Gio menggerakkan tangannya semirip mungkin dengan mulut Donald bebek yang sedang berbicara. Axel memutar bola mata malas.


Pintar cari alasan! Axel.


Dia mengangkat tangannya menatap jam di pergelangan tangannya.


"Telat tujuh menit, dua puluh tiga detik! Potong gaji!" ucap Axel membuat Gio melongo menatap tak percaya.


Oh, bahkan dua puluh tiga detik pun dia sebutkan?! Gio mendengus kesal.


"Aku sudah datang dari sebelum itu!" protes Gio, tak rela jika gajinya di potong hanya karena terlambat tujuh menit lebih beberapa detik.


"Aku tidak mau tahu! Bukankah sudah jadi peraturan kalau setiap pagi menghadapku terlebih dahulu!" Axel menegaskan, kembali pada berkas di hadapannya


"Oh..., sial! Aku terlambat karena mengurusi sekretarismu yang ganjen itu!" Membela diri. Ingin rasanya Gio menenggelamkan hidung Axel di dalam cangkir kopi hingga dia tersedak karena dedaknya. Axel sudah memotong gajinya beberapa kali dalam bulan ini. Boss kejam!!


"Aku tidak peduli! Jam kerjamu berawal dari saat kamu absen kehadiran saat pagi hari!" Ucap Axel tak mau peduli.


Gio mendengus kesal karena lagi-lagi ia harus merelakan beberapa lembar upah gajinya.


"Sudah dapat calon sekretaris pengganti?"


"Belum! Untuk sementara aku yang akan handle!"


"Bagus! Jika bisa di kerjakan sendiri kenapa aku butuh sekretaris? Toh selain gaji asisten kamu bisa mendapatkan gaji sekretaris juga!"


Gio memutar bola mata malas.


'Pekerjaanku menumpuk! Kalau hanya mengurusi satu perusahaan, sih oke! Ini memegang beberapa dan harus mengurusi hotel juga! ckckck! Hei boss aku ini manusia bukan robot!!'


"Aku tahu apa yang kamu fikirkan! Segera urus berkas untuk pertemuan nanti siang! Jangan sampai isi otakmu terpakai untuk memikirkan hal yang tak berguna!"


"Oke!" Gio berdiri dan hendak berjalan, namun terhenti saat melihat seorang gadis keluar dari dalam kamar mandi ruangan itu.


"Hay seksi!" sapa Gio yang melihat Tiana mendekat dengan senyum lebar padanya.


"Pantas saja, bos di gosipkan. Ternyata ini biang keladinya!" Gio menyambut uluran tangan Tiana dan menerima pelukan darinya.


"Hai, Gio. Apa kabar?" Tanya Tiana, dia menepuk punggung tegak Gio.


"Baik. Sayang! Maaf, aku gak bisa ikut jemput kamu kemarin! Aku fikir siapa gadis yang bos bawa sampai membuat heboh semua karyawan!" mereka saling melepaskan diri.


Tiana tertawa.


"Jangan panggil aku sayang! Aku bukan pacarmu!"


"Well, sudah sarapan?" tanya Gio.


"Ekhem!! Aku suruh kamu buat siapkan berkas kenapa malah mengobrol disini? Mau potong gaji lagi?" Axel menatap Gio kali ini.


"Oke boss! Sayang, aku akan kembali lagi nanti. Jangan pulang sebelum makan siang. Akan ku traktir. Sekarang aku harus pergi sebelum gajiku habis di potong oleh boss." Gio mengerlingkan sebelah matanya.


"Giooo!" panggil Axel tak sabar. Gio mencebik dan segera berlalu dari ruangan itu.


Tiana kembali tertawa melihat Gio yang pergi dengan kesal.


***


"Aku gila. Aku gila. Aku gila!!!" Axel menyugar rambutnya frustasi. Bahkan hanya mengingat senyuman gadis itu membuat dirinya sering berfantasi dengan fikiran liarnya. Om My God!


"Siapa yang gila?" suara Gio terdengar dari arah belakangnya. Axel memutar kursinya dan terlihat lah Gio sedang menyimpan berkas di atas mejanya.


Huffttt...


Setumpuk pekerjaan yang sedari tadi sama sekali tersentuh olehnya.


Gio menghela nafas lelah. Ia bingung, sedari tadi bos nya tidak keluar dari ruangan, tapi apa saja yang dia lakukan? Bahkan tumpukan itu tak berkurang sama sekali.


"Aku akan pulang! Kau. Gantikan aku disini!" tunjuk Axel pada Gio, dia berdiri dan mengambil jasnya dari gantungan baju yang ada di pojok ruangannya.


Sebelum Gio membuka mulutnya untuk protes. Axel sudah bergegas untuk pergi dari ruangan itu.


"Heehhh. Nasib bawahan!" Gio menepuk keningnya keras.


***


Axel melajukan mobilnya di jalanan yang lengang, tentu saja lengang karena ini masih jam dua siang!


Dia membelokkan mobilnya lalu berhenti di suatu tempat. Merenung sebentar, memandang ke arah luar mobilnya. Kafe?


'Kenapa aku bisa ada disini? Aku kan mau pulang!' gumamnya. Dia hendak memutar kunci mobil kembali namun terhenti karena melihat seseorang yang selama satu minggu ini mendominasi fikirannya, membuat fikiran liarnya aktif kemana-mana, bahkan hingga mendaki gunung, dan menyibak hutan rimba. Kemudian masuk ke... Aahh ya sudahlah!


"Anda mau pesan sesuatu pak?" tanya seorang pelayan yang baru saja datang menghampirinya.


"Aku pesan cappuchino saja."


"Baik, pak. Mohon tunggu sebentar!" ucap pelayan itu lalu pergi ke belakang.


Axel terus mencari-cari namun yang di carinya tidak ada. Salah lihat kah dia? Entahlah!


Tapi tak lama senyumnya mengembang saat melihat apa yang di carinya sedang membawa nampan berisi makanan dan minuman pada sebuah meja. Lagi untuk kedua kalinya Axel melihat senyumnya.


Nyeeeesssss....


Kepala yang terasa panas selama beberapa hari ini seakan tersiram oleh air dingin. Segar rasanya.


Axel menyesap kembali kopinya seraya menatap semua pergerakan gadis itu.


Dia tersenyum sendiri, tiba-tiba saja membayangkan kalau mereka ada di atas altar dan bertukar cincin lalu berciu... Haishhh!!!


"Maaf, pak. Apakah bapak mau pesan lagi?" seseorang yang baru saja datang membuat bayangan indah dalam otaknya buyar seketika.


"Eh, ya. Satu lagi cappuchino!" jawab Axel. Tak lama apa yang di pesannya datang.


Sudah dua jam Axel duduk disana memperhatikan kemana saja langkah gadis itu, dan apa saja yang sedang di kerjakannya. Beberapa pelayan menggelengkan kepalanya, ini adalah pengunjung terlama hari ini dengan hanya memesan dua cangkir kopi.


Suara telfon menyadarkan Axel, dia mencari hp di saku celananya.


'Axeeellll!!!' suara seseorang melengking di seberang sana, membuat Axel menjauhkan hp tersebut dari telinganya.


'Kamu kemana saja?! Pergi dari kantor dan sekarang kelayapan di luar?! Pulang kamu!!'


Suara amazing milik sang mama membuat Axel langsung merasakan sakit di telinga.


"Aku sedang ada di luar ma!"


'Sedang apa huhh???!!! Gio bilang kamu sudah pulang sedari tadi, tapi kemana kamu? Pulang!!'


Tutt..Tutt..


Axel mendengus kesal. Lagi-lagi anak itu mengadu! Awas saja!!


Segera Axel bangun dan meninggalkan kafe setelah membayarnya. Dia merasa kesal karena harus meninggalkan hal terindah yang ia lihat hari ini.