DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 156



"Maaf, Bu. saya ingin meminta izin pada Ibu. Saya suka dengan Tiara. Sekiranya Ibu bisa izinkan saya menjalin hubungan dengan Tiara. Saya tak pernah main-main mengenai perasaan ini. Tolong dukung kami dan beri kami restu."


Ibu menatap tajam pada Gio dengan rasa penuh tak percaya. Ibu tersenyum lalu mengangguk dengan cepat.


"Ibu restui, Nak. Ibu merestui kalian!" seru ibu dengan binar bahagia di wajahnya. Ibu tersenyum dengan sangat bahagia. Akhirnya doa ibu selama ini untuk Tiara tersampaikan juga. Ibu memang sudah merasa senang dengan Gio sedari pertama mereka bertemu saat Gio dan Tiara akan melakukan perjalanan mereka ke Bali.


"Terimakasih, Bu. Terimakasih atas izin dan restu Ibu. Kalau begitu, saya pamit untuk pulang. Ah ya. Tiara belum makan malam, saya tak tega membangunkan Tiara tadi di jalan. Tolong ibu jaga Tiara dengan baik sebelum saya bisa menjaganya dengan segenap hati dan hidup saya." ucap Gio. Ibu tersenyum seraya menganggukan kepalanya. Pemuda ini manis sekali. Semoga saja perlakuannya juga manis, tak hanya di bibir saja.


Gio kemudian pamit untuk pulang setelah mencium punggung tangan ibu dengan khidmat. Ibu mengantarkan kepergian Gio sampai ke teras rumah dan menunggu hingga mobilnya menghilang di ujung jalan.


Ibu kembali ke dalam kamar Tiara. di lihatnya mata Tiara yang sembab. Anak ini tak pernah menangis hingga matanya bengkak seperti ini, kecuali saat dulu saat sang ayah meninggal dunia. Apa gerangan yang terjadi padanya sampai dia menangis?


Ibu menarik sellimut labih ke atas lagi, mencium kening putri cantiknya ini dengan penuh sayang.


...***...


Gio kembali ke rumah kediaman Aditama. Mama terus saja menelponnya dan menyuruhnya untuk pulang ke rumah utama. Mobil Gio baru saja masuk pelataran dan kemudian berhenti di garasi mobil. Gio turun, terlihat Mama Anye sedang berdiri dengan gelisah di dekat pilar yang berdiri dengan gagahnya. Mama terlihat khawatir.


"Bagaimana? Apa Tiara sudah ketemu?" Anye mendekat ke arah Gio dan bertanya. Gio mengerutkan keningnya. Lalu dia berdecak sebal. Ini pasti ulah Heru! Pria kaku satu itu tak pernah bisa menutup mulutnya. Selalu saja ember dan membuat mama khawatir! Awas saja dia. Push up seribu kali!


"Sudah, Ma. Sudah ketemu dan sudah aku antarkan pulang ke rumahnya." Jawab Gio. Anye menghela nafasnya dengan lega mendengar jawaban Gio.


"Syukur lah. Mama sudah khawatir tadi." mama mengelus dadanya dengan wajah yang terlihat lega.


"Tapi dia tidak apa-apa, kan? Apa yang terjadi hingga Tiara ada di tempat itu?" tanya Mama.


"Tidak ada apa-apa. Tiara hanya ingin jalan-jalan untuk menenangkan diri. Mama jangan khawatir."


"Apa kalian ada masalah?" tanya mama. Gio menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada Ma. Tiara hanya sedang memikikan sesuatu saja. Dia butuh ketenangan. Selain itu tidak ada masalah yang terjadi diantara kami."


"Ya Sudah. Kamu istirahat saja dulu. Pasti capek kan? Mama akan minta maid untuk antarkan makanan ke kamar." ucap Anye. Gio tersenyum seraya mengangguk, lalu pergi ke dalam rumah bersama dengan sang mama.


Gio melihat seorang pria yang menyebalkan baru saja datang dari arah depan hendak ke belakang. Gio menarik jas yang tersampir di pundaknya seraya berlari. "Heruuuu...!" Berseru hingga suaranya terdengar ke seluruh ruangan.


Beberapa maid dan juga Daniel yang ada di dekatnya menoleh ke arah mereka. Sedangkan si kecil Nath yang belum juga tidur meloncat senang seraya bertepuk tangan melihat dua orang pria dewasa bermain kejar-kejaran.


Anye tertawa melihat tingkah putra dan bodyguardnya ini. Memang mereka terkadang tak bisa diprediksi tingkahnya. Dua pria beku yang terkadang bertingkah konyol membuat yang melihat sakit kepala.


"Kurang ajar kau. Kenapa lagi-lagi kau mengadu pada Mama. Aku kan sudah bilang berapa kali padamu untuk selalu menutup mulut dengan apa yang terjadi!" Gio memukuli Heru yang memasang sikap bertahan, sesekali pria itu membalas perlawanan Gio. Mereka saling menunjukkan kepalan tangannya di depan dada. Sesekali tendangan dan juga tinjuan saling dilayangkan oleh keduanya.


"Lalu aku harus jawab apa saat mama mengancam? Jangan salah kan aku. Salahkan dirimu sendiri yang selalu menutupi segala kejadian. Aku tak mau menutupi apa yang terjadi dan membuat Mama dan Papa mengirimku kembali ke asrama!"


"Dasar kau mulut ember. Akan aku jahit mulutmu lain kali supaya kau tak mengadu dan membuat mama khawatir!"


"Lakukan saja. Dan kau akan mendapat murka dari mama!"


Gio kesal, dia melompat dan melayangkan kakinya ke arah Heru. Heru yang tahu akan gerakan yang Gio layangkan padanya mundur satu langkah meghindari tendangan dari pria itu.


Gio melayangkan tinju dan sesekali menendang. Tanpa ada perlawanan dari Heru membuat dia merasa kesal.


Anye mengurut pangkal keningnya yang terasa berdenyut. Bukan sekali atau dua kali anak-anak itu berlaku seperti itu. Tidak Axel, Gio, atau Heru. Mereka bertiga adalah kawan bertarung. Apalagi jika ada Axel, banyak barang yang akan pecah dia lempar atau tertendang, jika ketiganya sudah seru bergelut seraya berlatih. Padahal dia sudah menyediakan ruangan yang cukup luas untuk mereka jika ingin latihan di belakang rumah.


Keduanya sampai bergulat, berguling-guling di lantai sambil terus mencerca satu sama lain. Jas milik Gio sudah entah dimana akibat Heru yang membuangnya sembarangan. Gio berada di atas tubuh Heru, dengan kesal dia meninju pria itu dua kali. Tak ingin hanya diam Heru membalikkan keadaan, hingga kini Gio lah yang ada di bawah tubuhnya. Heru balas memukul Gio dengan sama brutalnya.


Devan dan Daniel menonton kejadian itu sekilas. Mereka tak peduli dengan apa yang terjadi dengan dua orang itu. Sedagkan Anye memilih membawa Nath ke kamar Daniel. Tak baik bagi anak kcil seperti dirinya menonton kejadian kekerasan itu dengan mata polosnya. Si kecil Nath sempat melirik dan tertawa senang melihat dua pria dewasa itu masih bergumul di lantai. Dia memiringkan tubuhnya dari gendongan sang nenek yang membawanya ke lantai atas, pandangannya masih menatap duel dua orang pria dewasa yang masih berlangsung.


"Berminat untuk melerai mereka?" Devan bertanya pada sang putra. Daniel hanya mengangkat bahunya tanda tak peduli.


"Barkan saja. Aku ingin melihat siapa yang menang kali ini."


Itu bukan kejadian aneh yang baru kali ini mereka lihat.


Sedikit cerita tentang Heru. Heru adalah anak asisten Devan yang sudah sejak lama ikut dengannya. Seorang janda yang di tinggal mati suaminya, Heru dititipkan pada mertuanya karena ibunya harus bekerja di rumah Devan. Tapi setelah sang nenek meninggal, akhirnya Heru remaja di bawa ke ibu kota untuk membantu di kediaman Aditama.


Devan memutuskan untuk memasukkan Heru ke pusat pelatihan beladiri dan menunjuknya sebagai ajudan Gio hingga saat ini meski Gio protes karena dirinya merasa tak perlu dijaga oleh orang lain. Tetap saja Devan khawatir karena semua orang sudah tahu perihal Gio yang sudah menjadi anggota keluarga mereka.


Semakin tinggi pohon yang tumbuh semakin besar pula angin yang menerpa. Peribahasa itu sangat cocok sekali dengan keadaan keluarga mereka. Banyak hal yang sudah terjadi dan Devan tak ingin sesuatu menimpa anak-anaknya. Apalagi setelah kejadian beberapa tahun yang lalu, yang membuat Gio memiliki bekas luka di dadanya.