
Lagi aku terbangun, tapi kali ini aku melihat seorang dokter wanita muda dan cantik yang tersenyum ketika melihatku bangun. Devan ada di sofa, dia segera beranjak mendekat. Dokter menyingkir memberi kami ruang.
"Maaf, sayang. Maaf aku tidak percaya kamu selama ini. Maaf." Devan mengelus kepalaku menciumi wajahku dan bibirku beberapa kali. Dia tidak sadar atau tidak peduli dokter wanita itu kini bersemu merah dan menundukkan kepalanya.
"Dev, ada dokter!" bisikku. Devan menjauhkan wajahnya.
"Saya pamit. Nona Anyelir lebih baik, nona istirahat. Jangan biarkan nona berfikir terlalu berat. Stress tidak baik untuk ibu hamil." ucap dokter itu sadar akan kehadirannya yang mungkin mengganggu. "Nanti perawat akan antar obat kemari." Lalu dokter itu menundukan kepalanya dan pergi dengan canggung.
"Kamu ih. Lihat situasi dong!" ku pukul lengan berototnya, tapi malah tanganku yang sakit.
"Hehe. Aku khawatir." Dasar!
"Kamu masih kerasa sakit?" tanya Devan mengelus perutku.
"Mama mana?" Devan mendengus kesal, mungkin karena aku tidak menjawab dan malah menanyakan mama. Jujur aku khawatir pada mama. Dia memalingkan wajahnya ke samping. Apa Devan masih marah?
"Dev!" mengusap lengan Devan. Biasanya dia luluh, marahnya hilang kalau aku mengelusnya seperti itu. "Dev!" panggilku lagi. Masih tidak menjawab.
"Ah, kamu masih marah!"
"Jangan bicarakan, mama!" Nadanya tidak suka.
"Aku kan cuma tanya, kamu gak mau jawab. Ya sudah aku mau pulang saja. Buat apa disini. Aku lebih baik pulang ke rumah mama untuk tahu keadaan mama!" menggerutu kesal sambil memegang selang infus. Devan yang melihat seketika menepis tanganku. Aktingku cukup bagus kan?! Aku tidak mungkin sembarangan mencabut infusku. Aku juga takut kalau terjadi apa-apa dengan tanganku.
"Apa yang mau kamu lakuin?" cercanya.
"Dengar kan tadi aku bilang apa. Aku mau pulang buat ketemu mama. Percuma aku disini kalau aku nanya tapi gak di jawab!" gerutuku.
"Sudah diam disini. Mama baik-baik saja! Dia aku suruh pulang tadi!" masih menggeram tidak suka.
"Dia? Kamu bilang dia sama mama kamu sendiri? Tidak sopan!" cerca ku.
"Aku masih marah!" Devan melipat kedua tangannya di depan dada. Uuhh lucu, dia seperti anak tk yang sedang merajuk.
Ku cubit kedua pipinya, menggoyangkan ke kanan dan ke kiri. Devan masih terdiam dengan raut wajah yang tidak berubah. Tapi kedua tangannya menahan tanganku hingga terlepas dari pipinya.
"Kamu lucu!" aku tertawa pelan sambil menepuk pipinya.
"Stop jangan buat aku gemas dan serang kamu disini!" menahan tanganku lagi, menghempaskan tanganku dengan wajah yang sangat menyebalkan.
"Aku gak papa kok kalau kamu mau serang. Mau berapa kali?" tanyaku menantang sambil mendekatkan kepalaku. Wajahnya memerah, dia tidak mau menatapku sama sekali.
"Kamu itu masih sakit, Jangan buat ulah!" cercanya sambil mendorong keningku hingga aku kembali ke atas bantal ku. Aku cemberut, wajahnya tidak berubah malah semakin kesal. Tapi aku tahu dia kesal karena menahan sesuatu. Hehe.
"Dev."
"Hem?"
"Kamu sudah makan?" tanyaku saat melihat ada plastik bungkusan di atas nakas.
"Belum. Aku gak nafsu makan." masih saja dia dingin dan menyebalkan.
Aku menghembuskan nafas kesal. Dia ini... Rasanya ingin memukul kepalanya supaya sifat menyebalkannya itu lenyap.
Ah menghadapi Devan itu tidak mudah, nyatanya terkadang dia tidak bisa di tebak.
"Anakku, jangan sampai kamu seperti papamu kelak Nak."
OMG. Aku lupa. Sibuk menggoda bapaknya sampai aku lupa menanyakan kabar anakku.
"Dev, anak kita bagaimana. Tadi aku ngerasa sakit sekali disini." tunjukku di daerah yang sakit.
Wajah Devan berubah lembut. Mengelus perut buncitku. "Kamu hanya tertekan. Maaf, tidak seharusnya aku emosi seperti tadi. Aku minta maaf ya. Lain kali aku janji gak akan bersikap seperti itu lagi." wajah Devan sendu merasa bersalah.
"Kamu mau makan? Roti kukusnya sudah dingin. Biar aku suruh Seno carikan lagi yang baru."
"Tidak usah, yang itu saja. Menunggu yang baru bisa-bisa aku mati kelaparan!" cicitku, tapi aku merasa sudah tidak lapar, entah mungkin itu pengaruh infus?
Devan membantu aku duduk setengah berbaring. Dia mengambil roti kukus dari atas nakas, mengambilnya sedikit dan mulai menyuapiku. Tersenyum senang karena aku mau makan. Tidak enak juga sih karena sudah dingin, aku kan maunya yang masih panas.
Di atas nakas masih ada satu bungkusan lagi.
"Kamu belum makan kan?" tanyaku setengah menebak.
"Kamu saja dulu. Setelah ini habis aku akan makan." ujarnya sambil menyuapiku lagi.
"Makan sekarang! Kalau itu enak aku juga mau cicipi." Alasan, sebenarnya ya itu, karena Devan tidak akan makan sebelum makananku habis.
Dia menurut, membuka kresek makanannya. Nasi padang!
"Aku makan sendiri. Kamu juga makan, ya!" ku ambil makananku dari tangan Devan dan makan dengan perlahan. Kami makan dengan diam, sesekali Devan menyuapiku nasi padang dan rendang nan enak itu. Tahu enak aku tadi pesan itu saja!
"Kenapa?" tau Devan.
"Tidak." aku menggelengkan kepala.
"Mau lagi?" Devan menggeserkan makanannya ke dekatku. Meski sebenarnya ingin tapi aku tidak boleh egois. Devan bisa tidak makan kalau aku habiskan makanan itu!
"Enggak, terlalu berminyak." lalu aku masukkan roti kukus yang tinggal sedikit ke dalam mulutku.
Suster baru saja pergi setelah mengantar obat untukku.
Aku berbaring, Devan menungguku sampai aku tidur katanya. Menggenggam tanganku dan menciuminya beberapa kali.
"Cepat tidur. Ini sudah malam."
Benar ini sudah hampir jam sebelas malam. Tapi aku belum mengantuk. Mungkin karena hari ini aku sudah dua kali pingsan. Sedangkan mata Devan sudah memerah. Pastilah dia lelah seharian bekerja dan mengurusku juga disini.
"Dev. Kamu pulang saja. Pasti capek, kan."
"Kamu usir aku?"
"Bukan ngusir. Tapi aku minta kamu istirahat saja. Suruh seseorang buat jaga di depan kamar." lirihku, wajahnya malah terlihat kesal.
"Jadi kamu lebih ingin di jaga Samuel daripada suami mu sendiri?!" mulai bernada tinggi. Ya ampun...
"Bukan begitu!" Ku tarik tangannya hingga wajah kami saling berdekatan. Mengelus pipinya dengan pelan.
"Aku cuma takut kamu capek, nanti kalau kamu sakit bagaimana?" tanyaku setengah membujuk.
"Aku gak peduli. Aku cuma gak mau ninggalin kamu sekarang ini." Oohh so sweet....
"Sini, naik. Peluk aku sampai tidur."
Devan membuka dua buah kancing kemejanya, jas kerjanya sudah tergantung di sandaran sofa sedari tadi.
"Tapi nanti sempit." ujar Devan.
"Kamu gak mau?!"
"Oke!" pasrah dia. Devan membuka sepatu dan kaus kaki lalu berbaring di sampingku. Kami saling berhadapan.
"Dev."
"Hem."
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Mama dan aku. Mana yang akan kamu pilih?"
Wajah Devan terlihat tidak suka. Dia tidak menjawab.
"Dev!" panggilku lagi. "Jawab!"
"Tidak ada! Aku tidak suka memilih!"
"Kenapa? Alasannya?"
"Karena kamu, mama, dan oma adalah tiga wanita yang aku cintai. Aku tidak bisa memilih karena aku egois dan ingin memiliki kalian semua!"
"Kenapa kamu bicara seperti ini? Kamu mau ninggalin aku?"
"Enggak. Aku cuma ingin tahu sebanyak apa kamu perlu aku dalam hidup kamu. Sebanyak apa cinta kamu sama aku. Sebanyak apa kamu akan sedih kalau kehilangan aku. Sebahemmbb..." Dasar Devan. Aku tidak bisa mundur, tengkuk leherku di tahan oleh tangannya. Bibir Devan menempel di bibirku. ******* dengan intens, mencecap dan membelit lidahku hingga aku kehabisan nafas.
Ku pukul dadanya, ciumannya melemah, lembut, tidak lagi menggebu penuh nafsu.
"Aku gak suka kamu bicara seperti itu! Kamu gak akan kemana-mana dan kamu tidak aku ijinkan pergi kemana-mana! Mengerti!" dia mengelap sudut bibirku dengan ibu jarinya. Sesaat aku terdiam, terpaku. Entah karena tadi dia mencium ku apa karena kalimat itu. Aku hanya mengangguk patuh.
"Sudah, tidur jangan banyak bicara." titahnya.
Aku menurut lagi.
"Ah ya, tadi Sofia dan Nanda telfon menanyakan kabar kamu. Mereka tadi ikut antar kesini dan menunggu tapi kamu belum sadar, jadi mereka aku suruh pulang di antar Sam. Mereka sangat khawatir. Jangan lakukan itu lagi. Jangan bertindak bodoh!" menunjuk ke arah keningku.
"Aku tidak suka!" tambahnya lagi. Aku memeluk Devan erat, membenamkan wajahku di dadanya. Rasanya menyenangkan, menenangkan.
"Apa kamu khawatir?" aku tahu jawabannya, tapi aku ingin dengar lagi dan lagi.
"Tentu saja aku khawatir. Kalau kamu tidak ada, yang akan perhatian sama aku siapa? Yang akan masakin aku siapa? Yang akan hangatkan ranjangku siapa?"
"Cih dasar. Kenapa jawabannya jadi itu? Kamu seperti butuh aku karena tidak bisa kalau tidak bercinta malam hari!" sungutku sembari memanyunkan bibirku.
"Jangan manyun seperti itu. Mau aku lahap lagi? Dan aku gak yakin kalau aku akan tahan dan tidak akan melakukan hal yang lebih dari sekedar cium kamu!" Ish ancamannya, gak lucu!
"Aku harus istirahat Dev." aku mengingatkan.
"Makanya jangan suka mancing!"
"Aku gak mancing. Cuma tanya kok!" cuek tak mau di salahkan.
"Sudah tidur. Ini sudah malam. Ingat kata dokter kamu harus banyak istirahat." Devan mengelus lembut keningku. Biasanya aku akan cepat tidur jika dia mengelusnya seperti itu. Tapi sungguh aku tidak mengantuk.
"Dev."
"Hem."
"Kamu jangan benci mama, ya!"
Dev hanya diam.
"Aku tahu mama seperti itu karena mama hanya ingin yang terbaik buat kamu."
"Aku tahu. Tapi mama juga gak berhak buat lakuin hal itu sama kamu. Cuma kamu yang aku cinta!"
"Bohong! Kamu bilang, aku, mama, dan oma. Kamu tidak bisa memilih!"
"Ya aku gak bisa milih. Tapi untuk istriku, untuk masa depanku tentu aku memilih kamu! Gak mau yang lain." tuturnya.
Ada kebahagiaan tersendiri di dalam hatiku. Devan sungguh membuat aku bahagia.
"Dev. Sam tidak kamu marahi kan?" Devan menghentikan elusan tangannya di keningku. Wajahnya berubah tidak suka.
"Kenapa jadi bicarakan dia? Kamu bahas dan sebut nama pria lain saat kita sedang bersama!"
"Bukan begitu." Ya ampun, tidak bisakah dia tidak emosi?
"Aku cuma takut kamu marahi dia, itu tadi murni aku yang salah. Sam sedang mengambil mobil. Dia tidak tahu kalau aku lari ke arah mama."
"Sebut lagi namanya!" geram Devan kesal, memutar bola mata malas.
"Dia! aku gak akan sebut lagi. Apa sih gitu aja kok marah! Aku cuma gak mau kamu marahin dia karena kesalahan yang aku buat." aku menghela nafas berat. Menekankan kata 'dia' pada kalimat yang aku ucapkan.
"Enggak...."
"Haahh... Syukurlah!" aku berucap syukur.
"Tapi mulai besok pengawas akan aku tambah dua lagi!" aku melongo, rahangku seketika jatuh ke bawah. Jangan berlebihan Dev. Tapi kalimat itu hanya ada dalam anganku saja, nyatanya tidak bisa aku ucapkan.
"Aku gak mau lagi kecolongan. Kamu itu keras kepala, ceroboh, dan suka seenaknya. Maka aku harus jagain kamu ekstra. Kamu itu lebih merepotkan dari pada bayi!"
"Ih, kok di bandingkan dengan bayi!" protesku tidak terima.
"Iya, kalau bayi itu cukup di gendong dan di beri mainan dia akan diam. Kalau kamu?"
"Iihh Devaaannn!!!! Jahat! Satu saja cukup Dev, aku bukan anak presiden, bukan anak menteri, bukan anggota kerajaan. Aku ini ist..." aku terdiam menatap wajah Devan yang tenang. Baru aku sadar kalau matanya terpejam. Nafasnya mengalun pelan terdengar menenangkan. Dadanya naik turun perlahan.
"Kamu pasti capek!" lirihku mengusap pipinya pelan. Mendekatkan wajahku padanya, mencium singkat bibir Devan yang selalu terasa manis.
"Kali ini aku gak takut lagi Dev. Aku gak akan pergi dari kamu."