
Jadi benar ayah punya wanita lain selain ibu? "Ya sudah, tidak apa-apa. Hanya saja aku tidak akan kalah meskipun ibu tiri ku jahat. Maaf-maaf saja Sam, meskipun itu ibu kamu, tapi aku akan melawan dia jika dia berbuat seenaknya padaku! Aku serius!"
Aku Menundukan pandangan ku. Ujung kakiku lebih menarik daripada yang lainnya.
"Aku tidak punya ibu!" ucap Sam sendu. "Ibuku sudah tiada!" Aku menatap Samuel, bingung.
"Aku di temukan ayah saat berusia sembilan tahun. Aku sekarat waktu itu. Luka tusuk oleh seseorang membuat aku hampir mati. Tidak ada yang peduli denganku, bahkan ayah yang menyebabkan aku tertusuk pun malah pergi melarikan diri. Dia terlalu takut tertangkap dan mati di siksa oleh rentenir..." Sam berhenti sebentar, dia menarik nafas dalam dan membuangnya.
Aku merasa bersalah. Apakah aku sudah mengorek luka lama?
"Sam maaf, sudah jangan di teruskan!" pintaku. Sam menggeleng.
"Aku gak keberatan, kalau kamu masih mau mendengar." Tatapan matanya sendu, seakan sedang kembali membayangkan kejadian waktu silam.
"Ibu ku pergi sejak lama, entah dimana. Tapi saat aku sekarat itulah aku tahu kalau ibu ternyata pergi untuk mengakhiri dirinya sendiri. Ayah seorang pemabuk dan penjudi. Hidup yang sulit tidak membuat dia jera. Terus saja mencari masalah dengan orang lain. Meminjam uang berharap mendapat uang yang lebih besar. Tapi nyatanya, tidak! Hutang dimana-mana. Bahkan kami sering kali tidak makan. Hanya belas kasih dari orang atau tetangga, terkadang aku bekerja keras untuk bisa makan."
Ya ampun, sekeras itu masa kecil Sam!
"Malam itu ayah di kejar orang. Jujur aku panik. Selain ayah tidak ada kerabat lain. Aku takut terjadi apa-apa pada ayah. Aku mengikuti dia berlari. Dia di kejar beberapa orang, dipukuli. Aku berlari dari belakang menarik tubuh pria yang jelas lebih besar dariku. Mereka semua sangat kuat. Mereka memukulku berkali-kali. Aku melawan. Meminta belas kasihan supaya mereka melepaskan ayah, biar aku jadi gantinya. Aku rela menjadi budak mereka. Tapi tidak. Mereka tidak mau mendengarkan permohonan ku. Salah satu dari mereka mengeluarkan pisau, aku berlari ingin mendorong ayah, tapi alhasil akulah yang kena!" Sam tertawa, terdengar miris. Kasihan Sam.
"Ayah tahu aku terluka, tapi dia memilih pergi dengan wajah ketakutan. Setelah tahu mereka salah sasaran, mereka pergi begitu saja. Aku kesakitan. Ada beberapa orang yang lewat, tapi mereka tidak peduli denganku. Hanya sekedar lewat, melirik sekilas."
"Aku bangkit mencoba berjalan, sampai tidak kuat lagi. Nyatanya aku ambruk di suatu tempat sampai cahaya dari sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Dan di saat kesadaranku sudah mulai menghilang, aku merasa sedang dalam gendongan seseorang. Satu dari pengawal ayah bilang, kalau ayah sendiri yang menggendongku ke dalam mobil dan membawaku ke rumah sakit. Ayah merawatku, memantau keadaanku hingga membaik." Lalu Sam tersenyum padaku.
"Maaf Sam. Aku buat kamu sedih ya?" Aku benar-benar menyesal.
"Ayah merawatku dengan baik. Malah aku tidak menyangka akan di sekolahkan. Menganggap aku ini seperti putranya sendiri meski jelas aku hanya di ambil dari jalanan. Saat itu aku berjanji pada diriku sendiri. Aku akan mengabdikan seluruh hidupku untuk ayah Surya."
"Dan saat ayah bilang ingin melindungi kamu aku di izinkan untuk pergi. Satu-satunya cara mendekati kamu adalah jadi pengawal. Dengan gampang aku bisa melindungi kamu."
"Tapi bagaimana bisa Sam? Maksudku em..." aku bingung, "...itu...tidak mungkin kebetulan bukan? Dev jelas menyeleksi orang-orag di bawah naungannya."
Sam tertawa, lagi. Sepertinya ada poin yang tidak aku ketahui.
"Jelas tidak mudah jika menurut kamu, tapi menurut kami...?" main teka teki, nih?
"Apa kalian punya bekingan?"
"Tahu dari mana istilah itu?"
"Ya, kalau mafia kan begitu!" ucapku. Eh apa benar ayahku seorang mafia?
"Iya, memang orang-orang ayah ada beberapa di dalam keluarga Devan, tepatnya semenjak kamu berhubungan dengan dia saat SMP dulu." Hebat!
Sam menunjuk keningku, dan menekan kuat disana.
"Beraninya kamu pacaran saat masih SMP! Kamu itu masih di bawah umur!" wajah Sam terlihat serius. Dia sengaja membuat wajahnya menjadi menakutkan!
Aku menepis tangannya. "Sakit!" ucapku dengan nada manja sambil mengelus keningku.