DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 198



Operasi berjalan dengan lancar selama lima jam. Axel sudah di pindahkan ke ruang ICU untuk sementara hingga dia sadar nantinya. Aku dan Devan masih belum bisa menjenguknya, hanya bisa memantaunya dari luar sini. Hanya dokter yang bisa menjenguk Axel ke dalam. Rasanya aku ingin jadi dokter saja agar bisa selalu ada di samping Axel.


Hari sudah semakin sore. Devan pergi ke luar sebentar, tinggal aku disini sendirian. Nanda dan Samuel sedang pulang ke hotel untuk mandi dan mengganti baju, setelah itu mereka akan kembali kesini. Sekalian saja aku meminta mereka membawakan baju untuk aku ganti. Nanti aku akan mandi di kamar yang sudah aku siapkan untuk Axel!


Devan datang dan membawakan makanan untukku. Karena menunggu operasi tadi siang sampai-sampai aku lupa kalau kami juga bahkan belum makan sedari pagi.


Jujur saja aku lapar, dengan keadaan Axel yang sudah melewati masa kritisnya aku bisa makan, sedikitnya makan dengan tenang!


...*...


Ini sudah lebih dari sepuluh jam, Axel belum sadar juga. Berapa lama waktu untuk Axel sadar?


Dokter terus memantau keadaan Axel dengan baik. Hampir setiap jam Axel di pantau, bagaimana detak jantungnya, apakah berfungsi dengan baik atau tidak. Aku terus menunggu dengan tak sabar. Ingin rasanya aku memeluk Axel dengan erat.


Dokter masih memeriksa Axel. Tapi kemudian keluar dari ruangan itu dengan ekspresi wajah datar.


"Bagaimana dokter?" tanyaku.


"Masih belum ada tanda-tanda sadar. Tapi jantungnya bisa diterima dengan baik oleh tubuh Axel!" ucap dokter Frans.


"Tapi Axel pasti akan sadar kan?" tanyaku lagi. Devan memegang tanganku erat. Mencoba memberi ketenangan.


"Kita lihat keadaannya empat puluh delapan jam ke depan. Sejauh ini, Axel merespon rasa sakit dengan baik!"


Aku terus menunggunya dan menunggunya. Detik demi detik hingga berganti menit, lalu menit berganti jam. Bukan hanya satu jam, tapi aku sudah menunggu Axel lima jam, dan dia masih belum bangun juga!


Kapan kamu akan bangun, Xel? Mama masih menunggu disini!


Lelah yang mendera, tak bisa lagi menahan mataku untuk tetap terjaga.


...*...


Ku rasakan usapan lembut di pipiku.


Dev, jangan ganggu aku! Aku masih mengantuk!


Ku tahan tangannya, kecil dan hangat.


Dev...


"Ma..." suaranya sangat lirih. Bukan suara Devan!


"Mama..." memanggil ku lagi hingga aku dengan susah payah membuka mata.


"Axel?!" aku hampir meloncat dari tempatku, kegirangan melihat Axel yang sudah membuka mata.


Axel... Akhirnya...


Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Axel sadar. Bisa aku lihat senyum di bibirnya mengembang. Axel masih terlihat lemas, tapi dia dengan jelas memanggil ku 'mama'! Ah anakku! Setelah beberapa hari tidak mendengar mu memanggil ku mama! Akhirnya...!


Aku naik ke atas brankarnya dan memeluk Axel erat. Menangis haru penuh rasa bahagia. Rasa tak tenang selama ini sirna sudah. Axel akan tumbuh seperti anak normal lainnya, tak ada lagi kesakitan, tak ada lagi ketakutan, dan tak akan ada lagi bully-an yang akan menderanya. Aku senang! Mataku terasa panas!


"Jangan nangis, mama. Aku gak suka!" lirihnya. Nafasnya berat karena selang oksigen masih menempel di bawah hidungnya.


"Mama gak nangis, hanya bahagia!" elakku. Menarik diriku dan menyusut air mataku.


"Mana papa? Gio?" dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Papa sedang bicara sama dokter, dan Gio tidak ikut kesini, dia harus sekolah!" terangku.


"Iya. Pasti. Setelah pulih nanti, pasti kamu akan kembali ke sekolah!" ucapku.


Pintu terbuka lebar, aku dan Axel menoleh bersamaan. Tak ku sangka melihat siapa yang berjalan mendekat ke arah kami. Seorang pemuda tanggung yang terlihat tampan dan gagah, dan juga sang kakek yang sudah tua namun masih terlihat bugar, tak kalah tampannya!


"Kakak!" Axel tersenyum sangat lebar, dia terlihat sangat bahagia saat melihat Daniel datang bersama dengan ayah.


"Daniel!" aku bangun dan mendekat ke arah putra sulungku. Rasanya kangen sekali dengan anak nakal ini. Nakal karena dia akhir-akhir ini sulit untuk aku hubungi!


Daniel balas memelukku erat. Ku tangkupkan telapak tanganku di pipinya dan menciumnya beberapa kali. Dia mengelak, seperti biasa 😒.


"Jangan cium aku. Aku sudah besar, ma!" protesnya.


"Ah kau ini Niel, dulu saat kecil kau bilang sudah besar, dan sekarang kau sudah besar kenapa tidak bilang kau sudah tua?" ucapku dalam bahasa Prancis.


Axel tergelak namun tetap lirih, kalau saja dia sedang dalam keadaan sehat dia pasti akan tertawa sangat keras! Sedari kecil aku juga membiasakan Axel dengan bahasa Prancis, maka tak heran kalau dia mengerti apa yang kami bicarakan.


"Axel, tutup mulut kamu! Ingat kau ini baru saja selesai operasi!" Daniel berkata dengan kesalnya. Dia lalu mendekat ke arah Axel. Mereka saling berpelukan melepas rindu yang menggunung. Lalu seperti saudara laki-laki lainnya, aku tak mengerti dengan candaan mereka! Saling memukul lengan, dan juga saling menampar pelan. Ah Entahlah!


"Ayah! Aku kira ayah gak akan datang!" ku peluk ayah. Sosok orangtua yang sangat aku rindukan. Ayah mengusap kepalaku pelan.


"Tentu saja ayah datang. Bagaimana ayah gak datang setelah mendengar kabar bahagia ini?!" ucap ayah, lalu berbisik pelan padaku. "Daniel yang terus bicara supaya ayah segera pulang dari kantor dan langsung terbang kemari!"


"Benarkah?" tanyaku balik berbisik. Ayah mengangguk dengan senyum.


Aku senang, walaupun Daniel terlihat cuek, tapi dia sangat peduli pada kami. Ku lihat mereka masih saling berbicara ringan berdua. Sudah sangat lama sekali aku tidak melihat Axel dan Daniel berdua seperti itu.


"Siapa yang donorkan jantung untuk Axel? Ayah akan kasih keluarganya hadiah yang besar!" ucap ayah.


"Aku tidak tahu, ayah." aku menggeleng pelan.


"Bagaimana tidak tahu?" tanya ayah bingung.


"Devan sedang mencari tahu identitas anak itu, tapi tidak ketemu! Sepertinya keluarga yang membawanya memakai nama palsu."


Ayah menyeretku keluar dari ruangan. Kami meninggalkan Daniel dan Axel yang masih betah berbicara di dalam sana.


"Palsu? Apa sebelumnya pihak rumah sakit tidak menyelidiki?"


"Aku tidak tahu! Tapi dokter bilang saat anak itu meninggal dan dioperasi untuk membedah jantungnya, orang yang membawanya ke rumah sakit lalu menghilang!"


"Bagaimana bisa?! Bukankah ada data tentang mereka?" tanya ayah.


"Semua palsu! Aku kira nama anak itu juga di palsukan! Devan dan anak buahnya sudah berusaha untuk mencari alamatnya, untuk mengucapkan kata terimakasih, tapi alamat itu salah! Tidak ada yang mengenali dan tidak yang tahu dengan mereka."


Ayah terdiam mendengar penjelasan ku. Hanya terdengar lirih kata, 'bagaimana bisa?' lagi, dari mulutnya.


Ayah hendak membuka mulutnya lagi, namun terdiam saat Daniel terlihat membuka pintu.


"Mama, kakek. Aku akan keluar sebentar mencari makanan. Tolong kalian jaga Axel!" ucapnya.


"Mau mama temani keluar?" tanyaku. Daniel hanya melambaikan tangannya dan berjalan terus menjauhi kami. Anak itu... padahal kalau hanya makanan, bisa minta seseorang untuk belikan!


"Sekarang mana Devan?" tanya Ayah lagi.


"Sedang bertemu dengan dokter Frans." jawabku.


Ayah dan aku memutuskan untuk menyelesaikan sesi tanya jawab, dan kemudian masuk ke dalam untuk menemani Axel.