DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 48



Pantas saja mama tidak mau Sam ikut mengawalku. Rupanya mama hanya ingin menjadikanku babu hari ini.


Ini sudah dua jam berputar-putar di mall, dan kedua tanganku lelah. Sepertinya lebih dari sepuluh tas belanjaan yang aku bawa. Sedangkan mama masih asyik masuk keluar toko dan memilih barang yang ia suka.


Pengawal di belakangku hanya diam, wajah mereka tanpa ekspresi. Mereka tidak berani membantuku karena NYONYA rupanya lebih sayang sama aku. Sayang jika di anggurkan rupanya. Oke, tak apa. Jika mungkin mama akan menyukaiku setelah ini aku terima. Mudah-mudahan saja setelah hari ini puas mengerjaiku, hatinya yang keras akan meleleh!


Kami masuk ke dalam toko parfum. Aku hanya duduk mengamati dari kursi yang di sediakan. Kaki dan tanganku lelah, untung saja aku pakai flatshoes. Mengusap peluh di keningku dengan tisu.


Dua pengawal mama menjaga di depan pintu, sedangkan satu lagi mengawasi tak jauh dari ku. Pandangannya beredar ke seluruh yang ia bisa. Aku masih heran, kenapa harus di jaga ketat oleh bodyguard sih? Sepenting apakah keluarga ini hingga kemana-mana selalu di kawal bodyguard?


Mama melambaikan tangannya ke arah ku. Wajahnya sudah berubah merah. Di sampingnya ada seorang wanita, mungkin usia mereka hampir sama. Aku mendekat ke arah mama ku tinggalkan barang belanjaannya di atas meja tadi.


"Kamu tuli hem? Saya panggil dari tadi tidak dengar?!" bentak mama.


"Maaf."


"Siapa jeng ini?" wanita itu menilik penampilanku dari atas ke bawah.


"Anak pembantu!" ucap mama santai.


OMG.


Hello Nyonya, yang di sebut anak pembantu ini tiga hari lagi akan jadi menantumu!


Aku tersenyum sembari menundukkan kepalaku pada wanita itu, dan di balas senyuman ramah. Kalau mendebat pernyataan mama pastilah dia akan malu di hadapan temannya.


"Cantik sekali. Sekilas tidak percaya kalau ini anak asisten, jeng Mauren." ucap wanita itu lagi.


"Trimakasih tante." ucapku sopan.


"Mana belanjaan saya?! Kenapa kamu tinggalkan?!" bentaknya lagi.


"Maaf nyonya, tapi saya tinggal sebentar tangan saya cape, lagipula ada di dekat bodyguard anda disana." tunjukku.


"Ambil semua kesini. Awas ya kalau ada satu yang hilang kamu harus ganti!" suaranya pelan, tapi sangat menyakitkan.


"Baik nyonya, akan saya ambil." ucapku lalu berbalik arah.


"Jeng jangan di marahin. Dia kan masih kecil. kasihan" ku dengar mereka bicara.


"Biarkan saja, jeng Sinta. Anak itu terlalu sering teledor..."


Ya ampun... untungnya stok sabarku masih banyak.


Kembali mendekat ke arah mama dengan banyaknya belanjaan di tanganku. Berat.


Aku harus mengikuti mama kemanapun dengan belanjaan di tanganku. Kaki dan tanganku sudah pegal, di tambah lagi entah berapa tas belanjaan lagi.


Suara hpku berbunyi. Pasti Devan. Aku berhenti sebentar dan menurunkan semua tas belanjaan di lantai membuat mama meradang.


"Apa-apaan kamu, jangan simpan di lantai. Itu barang mahal!"


Tanpa menjawab mama aku mengeluarkan hpku.


"Iya Dev?" seketika mama diam tak bersuara.


"Ah iya, aku tidak apa-apa."


"...."


"Sebentar lagi. Mama masih sibuk belanja." Mama melotot mendengar ucapanku.


"...."


"Iya, oke honey. Kamu juga hati-hati. Kami masih bersenang-senang."


"...."


"Oke. See you again. Love you too!" sengaja aku bicara sedikit keras agar mama mendengar dengan jelas. Dan berhasil, wajah mama merah dengan rahang mengeras.


Lalu ku tutup telfon dari Devan. Syukurlah dia telfon setidaknya aku bisa sedikit mengistirahatkan tanganku.


"Apa yang kamu bicarakan sama Devan? heh?!"


"Seperti yang tadi mama dengar!" ucapku santai lalu kembali membawakan semua belanjaannya.


"Oke kita mau belanja kemana lagi? tanganku masih muat untuk membawa beberapa tas lagi! Lagipula aku sedang bersemangat sekarang karena Devan akan memberi aku hadiah yang nilainya lebih besar daripada harga belanjaan ini semua." tantangku. Mama mendengus kesal, mendadak wajahnya merah tidak terima.


Tentu saja aku juga tidak hanya asal bicara. Karena yang di bilang hadiah adalah Devan yang akan membuatkanku ayam panggang nanti malam. Bukankah itu hadiah yang tidak ternilai?! Bukan ayam panggangnya, tapi perhatiannya!


Hp mama berbunyi. Seketika wajah merah itu berubah ceria dan berseri.


"Kamu sudah sampai? Oke mama akan kesana sekarang!" telfon di tutup.


"Kamu ikut saya." tunjuknya dengan dagu. Memang dari tadi aku selalu mengikuti dia kan? Kali ini kami naik lift. Untunglah karena aku sudah lelah, benar-benar lelah. Mama tidak membiarkanku istirahat barang sejenak. Dan dia juga keluar masuk toko selama hampir tiga jam ini. Apa dia tidak lelah? Apalagi dengan high heels yang dia pakai.


Masuk ke dalam area restoran di lantai paling atas. Kebetulan sekali aku sedang lapar.


Aku terus berjalan mengikuti langkah mama yang cepat. Mama menghampiri meja dengan seorang wanita berambut pendek disana.


"Hai sudah lama menunggu?" Wanita itu membalikan badan dan berdiri. Kak Mel!


Berbeda sekali. Kak Mel memotong rambut panjangnya? Dia terlihat lebih menawan dan lebih elegan dengan tampilan seperti ini, rambut pendek di atas pundak dengan sedikit di buat ikal di bawahnya. Dan riasan di wajahnya, sejak kapan kak Mel mulai berdandan? Bajunya seksi melekat di tubuhnya yang tinggi, sebagian pahanya terlihat, dan dadanya ya ampun... hampir tumpah! Mana Kak Mel yang aku kenal dulu. Yang berpenampilan sopan dan apa adanya?


"Kak Mel!"


Kak Mel, tertawa kecil melihatku. Ya aku dengan keadaan seperti ini, membawa barang belanjaan mama. Kak Mel tidak berkata apa-apa. Menatapku dari aras ke bawah dan sebaliknya dengan tatapan dan senyuman mengejek, ku rasa!


"Kamu memang pantas seperti itu!" tunjuk kak Mel padaku.


"Mel, Ayolah, mama sudah lapar! kita pesan saja makanan." Mama menarik tangan kak Mel untuk duduk.


"Kamu. Tetap berdiri disitu, jangan sampai duduk. Mengerti! Dan jangan sampai kau jatuhkan satupun belanjaanku!"


Mama dan kak Mel memanggil salah satu pelayan. Lalu berbincang ringan setelah pelayan itu pergi.


Huft, berdiri dengan tegak membuat kakiku terasa lebih pegal. Aku haus.


Tak berapa lama pelayan datang dengan membawa pesanan, mereka mulai menikmati makanannya, sembari tertawa, dan saling cheers tidak mempedulikan aku yang kehausan disini. Keterlaluan!


"Mama sudah pasti tidak akan membiarkan dia dan Devan bahagia. Bagaimanapun juga cuma kamu yang mama inginkan. Lihatlah dia, dia lebih pantas jika seperti ini, tidak ada bedanya dengan babu!" mama tertawa pelan, di iringi kak Mel.


"Ya ma, dia memang lebih pantas seperti itu!" ucap Kak Mel menambahkan dengan nada dingin.


"Lagipula mama tidak tahu apakah benar anak yang ada di kandungannya itu anak Devan atau bukan!" satu lagi yang membuat aku sakit keluar dari mulut mama.


"Aku juga! Tidak menyangka kepolosannya ternyata hanyalah sebuah topeng!"


"Mama lebih suka kamu sayang! Andai saja Devan tidak terbujuk rayuannya..."


Mama mengusap pipi kak Mel dengan penuh cinta kasih sayang. Pandangan matanya berbeda saat melihatku dan melihat kak Melati.


Aku tak ingin lagi mendengarkan ocehan kedua wanita itu, terlalu menyakitkan. Menulikan diri sendiri dengan memikirkan hal-hal yang membuatku bahagia.


Mereka masih mengobrol, membahas ini dan itu.


Pantas saja kalau mama bersikeras melarang Sam ikut karna selain aku jadi babunya, mereka juga bebas menghinaku sekarang!


Entah sudah berapa lama, tapi makanan di piring mereka hampir habis. Kepalaku terasa berat, pandanganku berputar. Apakah aku akan pingsan? Oke! Kalaupun aku pingsan maka bagus lah. Devan tidak akan pernah membiarkanku lepas dari pengawasannya jika aku sampai pingsan! Setidaknya mama tidak akan berbuat semena-mena padaku!


Aku akan tahan sebentar lagi. Tapi setelah aku menunggu beberapa saat, aku tidak juga pingsan. Ya ampun!


Dasar! Di saat aku membutuhkan yang namanya pingsan malah tidak datang!


Hp ku berbunyi, entah dari siapa! Aku mendekat ke arah mama dan kak Mel, menyimpan semua barang belanjaannya di kursi kosong di samping mama. Mama berdiri dengan tatapan tidak suka.


"Apa yang kamu lakukan? Saya sudah bilang kan, kamu harus pegang semua belanjaan saya! Berani kamu..." nada suaranya tinggi.


"Maaf, ma, tapi aku rasa Devan menelfonku. Bagaimana aku bisa mengangkat telfon kalau aku pegang semua belanjaan mama? Dia pasti akan curiga atau berfikir sesuatu yang tidak-tidak kan kalau aku lama mengangkatnya." Aku pergi meninggalkan mama dan kak Mel disana.


Huft untunglah hp ku berbunyi, kaki ku benar-benar sudah pegal!


Masuk ke dalam sebuah toilet. Aku rasa ini tempat yang tepat untuk melepas lelah. Duduk di atas closet yang tertutup sambil memijiti betisku.


"Ya Dev?"


"Kamu sedang apa honey?"


"Aku sedang duduk."


"Apa kamu capek?"


"Lumayan, tapi cukup menyenangkan tadi..." bagi mama! batinku meneruskan.


"Syukurlah. Kamu ada dimana sekarang, apa sama mama? Mama pasti senang kamu temani belanja." Andai kamu tahu apa yang di lakukan mama padaku, tapi kalau aku bilang yang sejujurnya apa kamu mau percaya sama aku?


"Mama sedang bertemu seseorang, masih mengobrol. Aku sedang ada di toilet sekarang." mataku tiba-tiba memanas.


"Aku sedang meluncur kesana, sepuluh menit lagi sampai."


"kamu sudah selesai dengan meetingnya?"


"Iya, baru saja selesai!"


Merasa beruntung, karena Dev akan datang. Yang berarti aku akan terbebas dari ulah mama.


"Honey?"


"Hon?"


"Honey? are you OK? kamu nangis?" Tanya Devan padahal aku berusaha menahan isak tangisku.


"Aku cuma kangen kamu, Dev!" lirihku sambil menyusut sudut mataku yang basah.


Devan tertawa pelan.


"Aku juga sayang, sangat kangen. Tunggu aku disana oke?!"


"Oke! Aku tunggu."


Tutt. Tutt. Telfon di matikan.


Memghela nafas kasar, mencoba menguatkan diriku lagi. Bersiap untuk kembali ke tempatku tadi bersama mama.


"Mengadu hem?!" suara kak Mel saat aku baru keluar dari dalam toilet.


"Kak Mel?"


"Cih, dasar. Menyedihkan!" Kak Melati membersihkan tangannya dengan tisu lalu membuangnya sembarangan.


"Apa maksud kakak?"


"Maksudku?" Kak Mel mendekat hingga jarak kami satu langkah.


"Kehadiran kamu tidak diinginkan oleh mama, lalu kenapa kamu masih sama Devan? Pergi sekarang sebelum terlambat, Nye! Aku berfikir mungkin akan lebih baik kalau kamu pergi dari Devan sekarang, karena jika kamu pergi nanti, kamu akan menyakiti hati banyak orang lebih dalam lagi!"


"Menjauh dari Devan, biarkan aku yang akan menggantikan posisi kamu. Maka aku akan memaafkan kamu, dan tidak akan membenci kamu lagi!" Belum sempat aku membalas kata-katanya kak Mel berjalan melewatiku. Menubruk tubuhku yang terasa semakin lemah karena lelah.


"Apa kakak akan maafkan aku kalau aku pergi?" tanyaku.


Kak Mel berhenti tepat di depan pintu. Sedikit menoleh tanpa membalikan badannya.


"Pasti!" lalu kembali melangkah keluar.