
Masih Devan.
"Ayaaahhh!!"
Oh tidak. Apa yang sudah aku lakukan?
Aku membeku. Apakah aku salah tembak?
Semua pandangan tertuju pada ayah yang melantai di bawah. Satu detik kemudian pria kekar di belakang ayah ambruk. Ayah mengangkat kepalanya. Aku menghela nafas lega. Kalau aku salah tembak, bukan hanya Anyelir yang akan marah padaku, tapi juga Daniel yang akan membenciku! Dan juga Samuel mungkin akan membunuhku di tempat!
Polisi datang. Pria tua itu merebut senjata dari tangan Daniel dan berlari ke arah lain dengan membawa Daniel di dalam dekapannya. Beberapa polisi mengejar mereka.
Samuel mendekat dan memukul belakang kepalaku keras.
"Kalau mau menembak buka matamu!" teriak Samuel kesal.
"Apa?!! Kau menembak dengan menutup mata?! Kau mau membunuh ku!!" teriak ayah yang juga mendekat ke arahku. Raut wajahnya terlihat marah.
"Bagaimana kalau aku tadi tidak menghindar? Kamu mau jadikan anakku yatim piatu?" tanya ayah sama kesalnya. Aku melemparkan pistol itu ke tanah. Tanganku gemetar dengan hebat, melirik takut pada ayah.
"Maafkan aku ayah! A-aku tidak sengaja!" jawabku.
"PAYAH!!" ayah dan Samuel berkata dengan kompak. Mereka lalu berlari mengejar Daniel yang masih dalam sandraan.
Anye mendekat ke arahku dan memapahku.
"Kamu gak pa-pa Dev?" dia bertanya dengan khawatir.
"Seperti yang kau lihat!" Aku tersenyum kecil. "Bantu aku susul Daniel!"
"Aku pernah sekali hampir mati, dan ini hanya tembakan di kaki tidak mungkin akan membunuh ku kali ini!" ucapku. Anye menatapku dengan pandangan yang... Entahlah.
"Please. Seperti kata ayahmu dan Samuel. Aku payah! Tapi aku tidak mau terlihat payah di mata putraku!" mata Anye berkaca-kaca, dia mengangguk lalu memapahku ke arah dimana Daniel kemungkinan berada.
Kami berada di atap. Beberapa polisi bersiap membidikan senjatanya ke arah pria tua itu. Mereka kembali melakukan negosiasi, meminta dia melepaskan Daniel.
Dia berteriak entah apa. Mungkin saja dia tidak ingin melepaskan Daniel sama sekali. Dia mengarahkan pistolnya ke arah kepala Daniel, dan berjalan mundur ke belakang. Bangunan tiga lantai ini lumayan tinggi, jika dia melemparkan Daniel pastilah Daniel akan terluka, atau untuk ukuran tubuh mungilnya bisa saja dia tidak selamat!
Beberapa menit yang menegangkan. Anye menangis menatap Daniel yang hanya pasrah. Wajahnya pucat, ia menutup matanya tidak berani melihat ke arah bawah. Ayah dan beberapa polisi tetap melakukan negosiasi. Berusaha supaya tidak ada lagi korban jiwa di dalam kejadian ini.
Dia berteriak.
"Mundur kalian! Atau kalian akan lihat mayat anak ini di bawah sana!" Dia sudah gila! Dia tertawa keras, mengayunkan tangannya dan melempar Daniel ke bawah. Anye berteriak melepaskanku berlari ke arah dimana penjahat itu berada, tapi langkah wanita itu tidak cukup cepat untuk menahan penjahat itu?
Aku berlari mendahului Anye, melupakan rasa sakit di kakiku. Terjun ke bawah, berharap aku bisa menangkap Daniel.
Mata Daniel terpejam, lalu sedetik kemudian dia membuka matanya saat aku berteriak memanggil namanya. Tangan mungilnya berhasil aku raih. Ku peluk dia dengan erat. Ku balikan tubuhku menjadi tamengnya. Tubuhnya hangat namun gemetar.
"Papa!" Baru kali ini aku mendengar dia memanggilku papa. Rasanya terdengar indah sekali.
Anye dan ayah, terlihat mengulurkan tangannya di atas sana yang pasti tak akan sampai padaku.
Anye, maafkan aku. Jika saja aku tidak pernah berlaku jahat sama kamu. Semua ini pasti tidak akan terjadi. Daniel maafkan papa, karena semua kesalahan papa sama kamu dan mama kamu.
"Devaaaannn!!" teriakan itu tidak terdengar lagi!