DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 118



Aku tidak tenang! Sedari tadi telfon terus berbunyi, dari sekuriti di bawah. Dia berkata kalau Devan masih menunggu dan tidak mau berteduh. Apa-apaan orang itu. Apa dia tidak tahu arti dari penolakan?!


Dengan perasaan kesal aku membereskan mejaku. Dia bisa saja mati kalau terus kena hujan! Aku berlebihan, dia bisa masuk angin! Devan sangat rewel kalau sedang sakit. Manja, persis seperti Daniel. Umm Daniel yang persis seperti Devan. Lah, apapun itu mereka sama. Mungkin karena ayah dan anak!


Di luar hujan sangat deras, aku bisa melihat kalau Devan sedang duduk di atas kap mobilnya di tengah hujan. Dia gila! Harusnya kalau mau menunggu aku bisa kan kalau di ruang tunggu, atau kalau tidak di tempat yang teduh lah! Atau masuk ke dalam mobilnya.


Devan tersentak dan beranjak saat melihat aku berdiri di luar pintu masuk perusahaan. Wajahnya sumringah, dia setengah berlari mendekat ke arahku. Dan memelukku, hingga aku hampir saja jatuh. Aku terkejut karena perlakuannya. Bajuku basah. Air mengalir dari bajunya membasahi lantai marmer.


"Anye... Maafkan aku." Ujar Devan. Dia memelukku sangat erat, hingga aku merasa sesak.


"Please jangan pergi lagi sayang. Aku menyesal. Selama lima tahun ini aku terus saja cari kamu. Aku nyesel Anye. Maaf. Maaf atas sikap aku dulu. Maaf karena aku gak percaya sama kamu, sayang." Devan berkata dengan lirih, dia terisak. Menciumi pucuk kepalaku.


"Dev, lepas. Aku gak bisa nafas." aku berusaha mendorong Devan. Tapi dia tidak melepaskan ku, hanya melonggarkan pelukannya sedikit.


"Aku gak akan lepas kamu lagi sayang. Please pulang sama aku ya!" ucapnya lagi.


"Dev lepas."


"Gak akan, Anye. Aku takut kamu pergi lagi. Aku gak akan lepasin kamu."


"Devan baju aku basah! Dingin!" teriakku. Devan menatapku dan melepaskan pelukannya. Baju bagian depanku basah. Devan tertawa sambil menggaruk leher belakangnya, dia terlihat bersalah.


"Maaf, aku cuma seneng akhirnya kamu keluar juga. Trimakasih karena kamu mau nemuin aku!" Devan meraih tanganku dan menciumi jari tanganku berulang kali. Aku menariknya dan menyembunyikannya di belakang tubuhku.


"Siapa yang keluar buat nemuin kamu? Aku mau pulang kok!" ucapku sinis.


"Pulang? Yakin?" aku mengangguk.


"Ya tentu saja pulang, ini sudah malam!" jawabku.


"Tidak bawa tas?" tanya Devan lagi, dia menyelidik ke seluruh tubuhku. Benar, aku memang tidak membawa tasku.


"Aku gak bawa tas. Besok juga datang lagi ke kantor." Jawabku enteng. Devan tertawa kecil. Lalu kembali meraihku ke dalam pelukannya.


"Aku senang ketemu sama kamu." aku mendorong tubuh Devan. Aku masih marah, aku tidak boleh luluh begitu saja dengan perlakuan dia.


"Dev, lepas. Aku gak mau kamu peluk!" Aku berontak. Dia tetap tidak mau melepaskan aku. Malah semakin erat memelukku.


"Gak akan Nye. Aku gak akan lepas kamu lagi. Kamu gak boleh pergi lagi, ya!" pintanya. Aku lelah, setelah seharian ini bekerja, dan kini menghadapi Devan. Dia tidak akan mudah melepaskan aku begitu saja.


"Aku tahu, aku memang bajingan, kamu pantas benci aku karena perlakuan aku dulu. Tapi kamu tahu, aku cari kamu selama ini. Aku ingin minta maaf, Anye."


Aku hanya diam, merasakan bahunya yang bergetar. Dia benar-benar cengeng! Memalukan, laki-laki seperti dia menangis di hadapan perempuan.


"Lepaskan Dev, aku gak akan mudah maafin kamu. Kamu hampir saja membuat aku kehilangan nyawa anak aku dulu!" aku mendorongnya dengan kuat. Devan menatapku dengan tatapan penuh penyesalan, mata dan hidungnya merah. Beberapa luka memar dan juga plester di dahinya, bekas dari pergulatan dia dan Samuel kemarin. Bisa juga aku lihat wajahnya yang sangat kurus dan tidak terawat.


"Maaf. Aku..."


"Maaf?" aku menggelengkan kepalaku. "Untungnya anakku selamat, kalau tidak aku juga akan pastikan kalau kamu menyusul anak itu!" ucapku.


"Aku menyesal Anye. Maaf kalau. dulu aku pernah kasar sama kamu. Aku cemburu saat lihat foto-foto kamu sama orang lain! Aku juga marah saat kamu melukai mama, tapi kemudian aku juga tahu saat kamu sudah pergi, Mama yang coba fitnah kamu dengan lukai dirinya sendiri. Kenapa kamu gak bilang sama aku kalau mama dan Melati jahat sama kamu?" tanya Devan lagi, dia mencoba meraih pipiku dengan telapak tangannya. Aku menepisnya dan mundur satu langkah.


"Emang kamu bakal percaya?" tanyaku menatapnya dengan tajam. "Aku sudah sering bilang kan, dan kamu cuma bisa marah-marah, dan tuduh aku fitnah mama." Aku mendecih sebal, ingat saat dulu Devan sampai menamparku saat aku bilang hal itu, mendiamkan aku sampai berhari. "Dan kamu begitu saja percaya dengan foto itu lalu bersikap kasar sama aku. Kamu gak pernah tanya kan kenapa aku bisa seperti itu?"


"Kamu gak pernah percaya sama aku. Apa arti aku buat kamu Dev?" tanyaku. Dia terdiam menunduk dalam.


"Kamu tahu kenapa aku pergi? Karena aku sudah gak tahan kamu perlakukan aku dengan kasar dan kamu hampir membuat anak ku mati Dev!" Devan kembali menatapku.


"Anak kita. Dimana anak kita?" tanya Devan, matanya kembali berkaca-kaca.


"Kamu gak pernah akuin dia. Buat apa kamu tanya? Dia anak aku! Cuma anak aku!" teriakku.


Devan merendahkan dirinya, dan berlutut di hadapanku. Aku mundur lagi satu langkah, tidak menyangka seorang Devan Januar Aditama melakukan hal itu.


"Maaf Anye, aku salah. Harusnya aku percaya sama kamu. Harusnya aku cari tahu dulu kebenarannya. Dimana anak kita? Aku ingin ketemu!" Dia meraih pergelangan tanganku.


"Semenjak kamu gak akuin anak itu, dia cuma anak aku Dev!" Aku menghempaskan tangannya, Devan menatapku tak percaya.


"Maaf Dev, lebih baik kamu pulang! Aku capek!" ucapku lalu pergi dari sana masuk kembali ke dalam kantor, tidak peduli dengan Devan yang terus berteriak mamanggilku.


Jujur aku kangen dia, tapi aku masih merasa marah.


*


*


*