
Renata segera di bawa ke rumah sakit terdekat. Tidak memungkinkan bagi mereka membawa Renata ke rumah sakit terbaik di kota. Jaraknya lumayan cukup jauh. Renata sudah tak sadarkan diri sedari tadi. Dokter menemani Renata di belakang terus memantau keadaan Renata.
"Gio cepatlah! Kenapa lambat sekali seperti siput!" teriak Axel yang tak sabar. Dia sangat khawatir pada Renata.
'What?!! Siput dia bilang?!' Gio melirik sebal pada Axel. Ingin dia meneriakkan pada pemuda itu kalau dirinya sudah melebihi batas rata-rata kecepatan berkendara.
'Haruskah aku menarik kepalanya untuk melihat berapa kecepatanku sekarang?' Gio kembali melirik speedometer-nya. Angkanya mendekati seratus empat puluh dan Axel bilang masih seperti siput?!
Gio melirik ke arah belakang melalui spion, bahkan dia bisa melihat kalau dokter wanita itu sedang menggerakkan bibirnya. Mungkin sedang merapalkan doa untuk keselamatannya.
Jalanan yang lengang membuat mereka lebih cepat sampai di rumah sakit. Dokter membawa Renata ke UGD untuk di periksa dan memutuskan untuk dilakukan operasi dengan segera. Renata telah kehilangan banyak darah. Dokter memanggil beberapa rekannya untuk datang dan melakukan operasi darurat.
Dokter merasa lega karena jika Renata menggores lengannya sedikit lebih dalam lagi, akan dipastikan kalau nyawanya tidak akan selamat!
Axel terus bergerak seperti setrikaan di luar ruangan operasi. Dia tak bisa diam membuat Gio kesal dan merasa pusing. Axel yang di kenal punya ketenangan yang luar biasa nyatanya malam ini terlihat gusar. Pastilah, gadis yang dicintainya sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam sana.
Berkali-kali dia menatap ke arah ruang operasi. Lampu masih saja menyala menandakan operasi masih berlangsung.
"Xel. Duduklah. Renata pasti akan selamat!" ucap Gio mencoba menenangkan Axel.
"Aku takut jika terjadi apa-apa dengan Renata." lirih Axel. Gio menarik tangannya dan membuat pria itu duduk di sampingnya.
"Sudahlah. Kita tunggu saja. Percayakan semuanya pada dokter."
Mereka hanya terdiam. Tak ada yang bersuara hingga beberapa saat lamanya.
"Gio. Menurut kamu perasaan ku sama Renata bagaimana?" tanya Axel tiba-tiba. Dia tak mengalihkan pandangannya dari lantai di depannya. Tangannya saling bertautan dengan bertumpu pada lututnya.
"Bagaimana apanya?" Gio masih belum mengerti.
"Maksudku ... Apa perasaanku pada Renata hanya karena adanya jantung ini?" Axel mengusap dadanya yang kini terasa sesak.
Setelah dia tahu kenyataannya dia jadi berfikir mungkin saja dia tidak benar-benar mencintai Renata. Hanya jantung milik kakaknya lah yang mencintai Renata, adiknya. Dan juga karena jantung itulah yang dicintai Renata. Bagaimana kalau Axel hanyalah Axel tanpa jantung kakaknya? Apakah Renata akan menyukainya dan juga mencintainya?
Gio menghela nafas berat. Kini dia mengerti apa yang Axel maksud. "Aku tidak tahu. Masalah itu hanya kamu sendiri yang bisa menjawabnya. Dan juga Renata." ucap Gio. Dia tidak pandai berkata-kata untuk menenangkan sahabatnya ini.
"Aku hanya melihat kamu sangat peduli pada gadis itu. Aku tidak pernah melihat kamu seantusias ini pada seorang wanita."
Axel tertawa lirih. Gio benar!
"Ya, kamu benar. Tapi kenapa rasanya sulit untuk menerima kenyataan yang ada. Apa mungkin bagi Renata menikahi aku yang mempunyai jantung kakaknya? Bukankah itu berarti secara tidak langsung dia menikah dengan jiwa kakaknya?"
Perkataan Axel membuat Gio menolehkan kepalanya, tidak habis fikir dengan pemikiran pria di sampingnya ini. Tidak masuk akal!
"Jangan konyol. Mana ada yang seperti itu!"
"Tapi memang secara tidak langsung seperti itu, kan?" Axel menenggelamkan wajahnya di telapak tangan. Terlihat dia sedikit frustrasi.
"Itu pemikiran mu! Kamu harus tanyakan nanti pada yang bersangkutan. Jangan berfikir aneh-aneh!" ucap Gio menepuk bahu Axel pelan.
Entah kenapa Axel menjadi pria melankolis seperti itu.
Suara derap langkah kaki terdengar mendekat ke arah mereka. Axel dan Gio menoleh bersamaan. Uncle Hanson, ayah Alex, dan juga Tiana datang.
"Axel apa yang terjadi? Apakah kalian baik-baik saja? Ibu Melati mengkhawatirkan kalian." tutur Alex. Dia kemudian mendekat dan memeluk Axel. Pemuda itu nampak terlihat sangat kacau. Begitu juga dengan Tiana. Setelah sang ayah melepas pelukannya, dia menubrukkan tubuhnya pada Axel memeluk pria itu erat.
"Apa kamu baik-baik saja, Xel?" tanya Tiana, dia sangat khawatir saat mendengar Axel menyusul Renata yang kabur bersama dengan pria lain.
"Aku baik-baik saja!" jawab Axel pada keduanya.
"Bagaimana keadaan Renata?" tanya Uncle Hanson.
Axel melirik ke arah pintu ruang operasi. Hanson dan Alex mengerti arti pandangan itu.
"Jangan khawatir, dia pasti akan baik-baik saja!" Ucap Alex mengusap bahu Axel.
Semua orang mengatakan jangan khawatir, tapi nyatanya dirinya tidak bisa seperti itu. Dia sangat takut jika terjadi sesuatu pada Renata.
Gio menangkap arti pandangan Tiana. Sudah lama dia tahu perasaan Tiana. Mungkin orang lain hanya menganggap dia cemburu karena tak di perhatikan oleh Axel selaku sepupunya. Tapi yang Gio lihat berbeda. Pandangan Tiana tidak pernah seperti itu, dia hanya hidup dalam kepura-puraan.
Tak berapa lama, lampu dari ruangan operasi mati, dokter keluar dari ruangan itu. Segera semua orang beranjak bangun dan menanyakan tentang Renata.
Tiana terdiam menatap punggung Axel dengan perasaan hampa. Harusnya ia dulu tidak mengatakan kalau dia jatuh cinta dengan gadis itu. Dan ia mungkin tak akan kehilangan waktunya untuk terus bersama Axel.
Dokter tersenyum dan mengatakan kalau operasinya berjalan dengan lancar dan Renata akan segera dipindahkan ke ruangan lain.
Axel berjalan mengikuti brankar yang membawa tubuh Renata yang masih belum sadar. Hanson dan Alex mengikuti mereka dari belakang, sedangkan Gio dan Tiana masih terdiam di tempatnya.
"Mau pergi kesana atau aku temani kamu ke tempat lain?" tanya Gio.
Tiana memalingkan wajahnya. "Tidak usah. Aku akan kembali ke mobil saja!" Tiana membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan cepat meninggalkan Gio. Gio menarik sudut bibirnya saat melihat Tiana yang terlihat mengusap sesuatu dari wajahnya.
"Dasar bodoh! Kalau cinta kenapa tidak katakan saja? Kalian tahu tidak ada hubungan darah sama sekali. Mencoba menyampaikan perasaanmu apa salahnya, Tiana!" bergumam pada dirinya sendiri.
Saat Gio masuk ke dalam keluarga Aditama. Tiana lah teman perempuan pertamanya. Mereka tumbuh bersama, sekolah bersama, sampai kuliah pun juga di tempat yang sama. Bagi mereka Tiana adalah adik kecil yang harus selalu dijaga.
Tiana gadis yang ceroboh. Dia juga polos, hingga Gio dan Axel kewalahan dengan segala sikap dan juga pertanyaannya. Apalagi saat mereka beranjak remaja, beberapa pria mulai mendekati Tiana yang semakin hari semakin cantik. Sebisa mungkin Tiana jangan sampai termakan rayuan dan hasutan dari orang lain.
"Hiks ... Hiks ... Kenapa .... Kenapa Axel harus suka dengan dia?! Kenapa dia tidak pernah melirik aku sama sekali!" Tiana melemparkan tisu bekas pakainya ke lantai mobil. Entah sudah berapa banyak tisu itu ia habiskan hingga tinggal beberapa lembar tersisa.
"Jahat. Harusnya dia tahu kan kalau selama ini aku juga selalu perhatian padanya. Sesekali dia harusnya menatap aku sebagai orang lain bukan sepupunya!" ratap Tiana.
Dia merasa sebal. Jika saja dia punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada Axel. Tapi pemuda itu selalu mengatakan kalau mereka akan tetap menjadi saudara meski tak ada ikatan darah diantara mereka. Axel tak tahu, Tiana menyukainya sedari dulu.
"Tidak adakah sedikitpun rasa di hati kamu buat aku Xel?"
"Kamu tahu, sudah berapa lama hati ini memendam rasa buat kamu?" lirih Tiana menatap foto Axel dari layar hpnya.
"Dari dulu Xel. Dari dulu!" Tiana kembali menangis.
Selama tiga bulan terakhir ini dia menyerah pada pria itu. Mencoba untuk melupakan Axel dengan segala kesibukan yang ada, tapi hasilnya nihil. Axel tidak pernah mau pergi dari fikirannya meski ia meyakinkan dirinya kalau Axel bisa bahagia dengan Renata.
Tiana menangis di dalam mobilnya tanpa ia tahu seseorang sedang berdiri bersandar pada badan mobil tepat di belakangnya.
Gio melipat kedua tangannya di depan dada. Dia melirik ke arah kaca spion yang memperlihatkan Tiana di dalam sana sedang menyusut wajahnya dengan tisu.
Sudah hampir tiga puluh menit Gio berdiri disana. Tak peduli dengan angin malam yang berhembus membuatnya kedinginan. Dia hanya ingin memastikan Tiana tidak melakukan hal yang konyol meskipun rasanya mustahil bagi gadis penakut itu. Rasa khawatirnya yang berlebihan pada Tiana membuatnya rela menunggu di luar sana.
Tok.. Tok.. Tok..
Kaca pintu mobil di ketuk seseorang dari luar sana. Tiana terkejut, dia memalingkan pandangannya. Terlihat seorang pria menunjuk-nunjukan jari telunjuknya ke bawah, dan menggerakkan mulutnya. Tiana mengerti gerak bibir dan isyarat itu. Dia meminta di bukakan pintu mobil.
"Minggir!" ucap Gio, dia merangsek masuk sebelum Tiana beralih ke kursi di sebelahnya.
"Apa yang kamu lakuin Gio, sempit!" protes Tiana karena Gio dengan seenaknya masuk ke dalam mobilnya. Dengan terpaksa Tiana berpindah tempat duduk.
"Aku sedikit bosan di dalam sana. Ingin jalan-jalan. Temani aku ya!" ucap Gio, lalu menyalakan mobil Tiana tanpa mau mendengar protes gadis itu.
"Nanti ayah cari aku, Gio!"
"Ayah Alex bisa pulang dengan uncle Hanson."
"Tapi ...."
"Aku sudah bilang sama ayah kalau aku akan pergi sama kamu."
Mobil meninggalkan pelataran area rumah sakit dan melaju di jalanan yang sepi.
Suasana di dalam mobil senyap. Tak ada seorangpun dari mereka yang bicara. Gio melarikan kendarannya dengan kecepatan biasa. Dia tak tahu kemana arah tujuan mereka. Dia hanya ingin menikmati malam hari yang sunyi. Dia ingin menemani Tiana agar gadis itu tidak bisa menangis lagi.
Tiana menatap ke arah luar, dia membuka kaca jendela lebar-lebar merasakan angin yang berhembus dari luar. Rambutnya yang panjang sebahu melambai-lambai terkena angin. Sesekali dia menyingkirkan rambut yang menghalangi wajahnya.
Gio tersenyum tipis. Melirik Renata yang kini tak lagi menangis.