
"Asal kamu tahu, Nan. Samuel sudah sangat tersiksa saat kamu menghilang. Tolong. Tolong fikirkan lagi tawaran Sam, jangan sampai kamu menyesal nantinya. Kita ini wanita, dengan keadaan kita yang sudah tidak utuh ini apakah ada pria yang bisa menerima kita?"
"Aku tahu, Nye. Kamu memang benar. Pasti akan sulit mengingat pria zaman sekarang seperti itu. Tapi aku haya ingin menenangkan diri sebentar lagi. Please! Setelah aku tenang. Aku akan kasih jawabannya."
"Sampai kapan?" tanyaku. Dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Belum tahu?" dia terdiam.
Haaahhh sudahlah! Wanita keras kepala!!!
"Ikut kami pulang ke Jakarta!" dia menoleh padaku. Tatapannya seperti protes.
"Apa? Kamu tidak mau?" tanyaku.
"Kamu boleh menenangkan diri. Tapi setidaknya pulang, dan tinggal lagi dengan ayah kamu. Kasihan bapak sendirian, meski ada yang menemani tapi yang dia butuhkan itu putrinya!" ucapku. Kali ini Nanda mengangguk.
"Aku akan siapkan semuanya untuk kepulangan kamu!"
"Trimakasih!"
"Apa kalian sudah bicara berdua?" tanyaku.
"Belum! Aku masih belum mau bertemu dengan dia!"
"Jangan egois! Kalian harus bicara berdua." ucapku lagi.
"Oke, tapi keputusan tetap ada padaku!"
"Terserah. Hanya saja aku ingatkan sekali lagi. Jangan sampai kamu menyesal!" geramnya aku. Rasanya aku ingin meminjam pisau bedah dokter dan mengeluarkan otaknya, ku ganti dengan otak yang lain supaya dia tidak keras kepala seperti ini!
"Mana anak-anak? Apa mereka ikut?"
"Tidak. Daniel harus tetap.sekolah, dan Axel, aku tidak berani membawa dia jauh-jauh."
"Aku kangen sama mereka berdua!"
"Makanya, ayo pulang. Jangan lagi kabur dan buat orang lain susah!" omelku.
"Kamu ini mentang-mentang sudah jadi emak-emak omongannya makin pedes. Sadis!" sindirnya. Aku hanya melotot melihat dia yang tertawa dengan ekspresiku.
Aku memang begini, mau bagaimana lagi?!
"Sore nanti aku harus pulang. Kasihan anak-anak kalau di tinggal lama-lama."
"Terus aku pulang sama siapa?" tunjuknya pada dirinya sendiri.
"Ya sama siapa lagi? Calon suami lah!" aku tertawa seraya menutup mulutku.
"Maaf Nan, kalau saja hari ini kamu bisa pulang, aku akan bawa kamu sekalian. Tapi melihat kondisi kamu sepertinya aku gak bisa bawa kamu hari ini. Jadi, mau tibak mau kamu harus pulang dengan Samuel!"
"Menyebalkan!" ucapnya sambil membuang muka ke arah lain.
"Ya mau bagaimana lagi. Aku juga punya urusan penting di rumah."
"Sok sibuk!" decihnya.
Obrolan kami terhenti saat Devan menelfonku, dia bilang Sam sangat ingin bertemu dengan Nanda.
"Jangan tinggalkan aku!" menahan tanganku.
"Kalian harus bicara berdua. Aku juga mau cari makanan sama Devan, belum sarapan!" dustaku. Dia merengut, tidak rela melepaskan tanganku.
Aku keluar dari kamar Nanda. Terlihat Sam dan juga Devan disana berdiri saat melihatku.
"Bagaimana?" tanya Sam.
"Kalian harus bicara berdua. Sana! Tapi jangan buat dia emosi! Pelan-pelan saja!" ku ingat kan dia. Sam mengangguk lalu masuk ke dalam sana. Bisa ku lihat tangannya yang bergetar saat memegang handle pintu. Semoga saja setelah mereka berdua bicara, Nanda akan mau menerima Sam.
"Cari makanan yuk, aku lapar!" ucapku. Devan mengangguk. Kami bergandengan tangan keluar dari area rumah sakit.
Dadaku rasanya linu, tidak menyusui Axel selama aku disini membuat dadaku sedikit membesar. Sakit. Apalagi kalau tersenggol, rasanya aku ingin menangis. Aku lupa tidak membawa pompa ASI.
"Kenapa?" Devan bertanya saat melihatku mengigit bibirku.
"Sakit!" ku elus area dadaku pelan. Sudah sedikit basah disana. Pastilah sedang mengucur sedikit demi sedikit.
Devan menarikku ke dalam pelukannya, dia hendak membuka satu kancing bajuku, tapi ku tepis tangannya.
"Dev, ini masih di mobil!" ucapku.
"Memangnya kenapa?"
"Pak sopir, apa kamu lihat apa yang kami lakukan?" seru Devan.
"Tidak, pak!" terdengar jawaban dari depan lalu dia menutup kaca spion di depannya.
"Dia tidak melihat!" ucapnya lagi lalu membuka dua kancing bajuku dan mendorongku hingga aku berada di bawahnya.
Happ..
Aaahhh...
Dasar mesum!
"Jangan ke tempat lain!" bisikku saat tangannya mulai menaikkan rok ku. Dia hanya tertawa kecil lalu meneruskan aktifitasnya menyusu seperti bayi. Beralih dari satu tempat ke tempat lain. Rasanya nyaman sekali. Tidak lagi sakit seperti tadi.
Ahh... jangan...
Dadaku sudah tidak sakit lagi, ku dorong kepala Devan supaya menghentikan aktifitasnya. Tapi dia tidak mau melepaskan aku. Malah semakin beringas dengan kelakuannya, keluar dari jalur awal tujuan kami. Semua kancing baju ku sudah terlepas, mulutnya mulai merambah ke perutku dan menjilat pusarku. Geli. Panas. Tidak! Dan tangannya...
Akhh... jangan... Faster!
Ku rasakan nikmat di area pribadiku. Masuk dan keluar. Aku benci kalau dia melakukannya pelan-pelan seperti itu! Lebih cepat!
Devan gila! Dia selalu bisa membuatku kepanasan! Sudah payah aku menahan suaraku. Ada orang lain disini!
Tidak ingat dengan tempat dimana kami sekarang. Devan masih terus saja menggodaku. Kurasakan mobil berhenti di sebuah area parkir. Sopir keluar dari dalam mobil. Ini pasti di basemen hotel!
"Dev. Kita... lanjut di... kamar!" aku sudah tidak tahan, tapi Devan tidak melepaskan aku.
Dia membalikanku, dan menaikan rokku.