DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 144



Axel senang saat semua kluarganya berkumpul, Kakek Surya, Kak Daniel dan si kecil Nathalie, Ibu Nanda dengan Ayah Samuel beserta Kayla dan Kaylee dan tak lupa dengan adik mereka Jonathan. Mama Sofia bersama dengan uncle Hanson dan kedua putra mereka. Mama Nayra dan papa Bule serta putra putrinya. Papi Edgar dan juga Mami Nila dan putra kecilnya yang masih berusia sembilan tahun. Dan tentu saja Ibu Melati dan papa Alex beserta Tiana yang kini entah dimana dia. Tadi Axel sempat melihat Tiana pergi diikuti Axel di belakangnya.


Nenek Linda dan juga kakek Yudhistira juga hadir disana. Kekek Stevan dan nenek Lita juga ada. Semua berkumpul kecuali satu orang, Gusti, sahabatnya yang kini bermukim di Bali tak bisa datang di karenakan tak bisa meninggalkan jadwal operasi yang telah di jadwalkan hari ini.


Axel mendekat ke arah mama bersama dengan Renata. Beberapa orang tadi sempat menanyakan keberdaan papa dan juga mamanya yang entah kemana. Tadi sih kak Daniel bilang mama sedang menidurkan si kecil Nath, dan baru terlihat sekarang ini.


"Mama dari mana saja? Aku cari mama dan papa sedari tadi!" Axel bertanya saat setelah menemukan sang mama yang baru saja kembali ke area pesta.


"Mama... tadi...itu..."


"Mama tadi sedang mengurusi sesuatu hal yang penting sama papa." Papa Devan yang berdiri tepat di samping istrinya menjawab pertanyaan putranya.


"Sesuatu penting apa?" dia bertanya lagi menatap mama dan papanya bergantian.


"Sudah lah Xel. Kau juga akan tahu urusan mama dan papa, kau sendiri juga akan merasakannya!" Sambar Daniel yang berdiri di belakang Anyelir. Dia menggendong Nath di depan. Axel hanya terbengong menatap kedua orangtuanya, sedangkan istrinya hanya menundukan kepalanya, wajahnya semakin merah, mungkin dia mengerti dan malu dengan maksud Daniel tadi.


"Urusan apa sih? Kenapa tidak katakan saja. Jangan muter-muter! Jadi bingung!" Axel menggaruk belakang kepalanya. Gio yang baru saja datang dan mendengar pembicaraan mereka menahan tawa.


Mama dan Axel menatap Gio dengan tajam.


"Gio. Ngomong-ngomong kapan kau akan kenalkan calonmu? Lihat Axel sudah menikah, kamu kapan? Kalian kan dari dulu saling tidak mau kalah, kenapa kali ini kamu malah mau kalah dari dia?" mama menunjuk pada Gio. Mendengar pertanyaan mama, Gio langsung terdiam. Kali ini Axel yang tertawa. Bukan hanya Axel, tapi Devan dan Daniel juga!


"Hehe... " dia tersenyum meringis, salah tingkah.


"Hehh, apa hubungannya denganku? Aku baik-baik saja tidak perlu di temani! Kalau kau tidak mampu mencari perempuan, jangan pakai aku sebagai alasan!" ucap Daniel lalu beranjak dari sana. Dia membawa Nath yang terlihat bosan menuju ke arah luar, arah dimana ada taman kecil dan juga kolam ikan.


Gio meringis melihat tatapan Anye, Devan dan juga sepasang pengantin itu kepadanya. Jika dia di suruh berdebat dengan client sih oke saja, tapi dengan mama dan papa, mending mundur alon-alon saja, deh!


"Ma. Aku juga permisi. Aku... mau kesana! Ada temanku!" tunjuk Gio, lalu dia segera berjalan dengan cepat meninggalkan Anye dan yang lainnya. Keempat orang itu menatap kepergian Gio sambil menghela nafas kesal. Selalu seperti itu jika di tanya tentang pasangan, paling tidak gebetan pun boleh lah, supaya hidupnya lebih berwarna.


"Ma, pa. Kami juga kembali ke tempat kami, ya!" pamit Axel, pada keduanya. Anye dan Devan mengangguk mengiyakan. Axel dan Renata kembali ke singgasana mereka. masih banyak tamu yang harus mereka sambut.


Anye menatap Axel dan istrinya, lalu beralih pada Gio, setelah itu menatap ke arah luar, dimana Daniel dan Nath kecil baru saja sampai disana.


Devan mendekatkan dirinya pada istrinya. "Lihat. Axel terlihat sangat bahagia dengan istrinya. Dan aku juga bahagia memiliki istri sepertimu!" Benar. Anye menatap putra keduanya, Axel terlihat sangat bahagia dengan istrinya. Devan mengambil tangan Anyelir dan mencium punggung tangannya dengan lamat.


"Iya Dev. Tapi kita masih punya dua lagi. Dua pria yang belum bisa meraih kebahagiaannya seperti Axel dan kita!"


"Semoga saja. Semoga mereka bisa secepatnya mendapatkan pasangan!" ucap Devan lirih. Anye mengangguk mengamini ucapan sang suami.


(Maaf ya part di atas sedikit flashback).


...*...


Axel tersenyum menatap Renata yang kini duduk di sampingnya. Dia sangat bahagia sekali akhirnya dia dan juga Renata bisa duduk bersanding di pelaminan. Axel sudah siapkan hadiah untuk Renata. Perjalanan bulan madu yang romantis tentunya, yang tak akan pernah bisa Renata lupakan seumur hidupnya.