DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 3



"Kenapa kamu gak mau pegang perusahaan?" tanya Axel pada Tiana yang sedari tadi diam menikmati waktu perjalanannya. Tiana hanya mengangkat kedua bahunya.


"Gak apa-apa sih! Hanya saja aku takut gak bisa pegang perusahaan seperti mama dan papa!" ucapnya sendu. Ada ketakutan di dalam sorot matanya, dan juga kesedihan yang tak bisa Axel artikan dalam pandangan gadis itu.


"Kalau belajar kan tentu bisa!" ucap Axel lagi.


"Huhhh, Axel... Kita ini berbeda, kamu laki-laki dan aku perempuan. Tentu pemikiran kita berdua berbeda! Kalaupun aku harus menjadi seorang wanita karier bukan berarti juga aku memegang perusahaan!" cibir Tiana.


"Lalu? Jadi apa? Artis? Model?" tanya Axel asal menebak.


"Hehe....tuh udah tahu!" Tiana tersenyum dengan lebar. Axel menolehkan pandangannya ke arah Tiana. Dia hanya menggelengkan kepalanya melihat Tiana yang tersenyum.


"Lalu bagainama dengan ibu Melati, dan ayah Alex? Mereka mengizinkan?" Tanya Axel. Tiana membuang pandangannya ke arah lain. Dari perilaku Tiana sepertinya Axel sudah tahu jawabannya!


Perjalanan mereka habis kan dengan saling diam hingga mereka sampai di perusahaan.


Axel turun dari dalam mobil, dia dan Tiana berjalan menuju ke dalam gedung perusahaan. Semua mata tertuju pada mereka berdua. Setiap hari mereka selalu menunggu sang bos tampan datang, hitung-hitung sebagai obat penyemangat mereka sebelum mereka mulai bekerja.


Namun kali ini rupanya Axel telah membuat hati mereka patah, sakit tak berdarah karena tak menyangka bos mereka datang dengan di temani seorang gadis muda cantik nan anggun.


Axel tersenyum saat melewati karyawannya. Baginya hanya senyum tak ada salahnya, toh itu gratis. Dan selama ini terbukti dengan dirinya ramah pada karyawan mereka juga selalu menghormati dirinya.


Mereka mengangguk hormat saat Axel dan Tiana melewati mereka. Axel membalasnya dengan tersenyum, lalu saat si bos dan gadis itu sudah menjauh, mereka saling mendekat satu sama lain.


"Bos sama cewek, siapa tuh?" bisik salah satu karyawan.


"Gak tahu. Pacarnya kali!"


"Hwaaa... Aku patah hati kalau itu bener pacarnya!" seorang yang lain berekspresi ingin menangis.


"Tapi belum tentu juga kan, biasanya seperti yang di film-film kan kalau bos sama pacarnya suka di gandeng. Ini kan enggak!"


Dan masih banyak lagi bisikan pelan yang terdengar hingga ke telinga seorang pemuda.


"Ekhem!!" semua menoleh pada pemilik suara tersebut. "Apa yang kalian lakukan disini? Bergosip?" suara berat milik Gio terdengar.


"Eh, Pak Gio! Bukan gosip sih pak, cuma lagi penasaran aja!" ucap seseorang.


"Penasaran?"


"Iya pak, sebagai asisten Pak Axel yang paling baik, tampan, berwibawa, dan juga bak malaikat, boleh dong pak kalau bagi info sama kami!" di sebutkan hal yang baik tentu senang, bukan?


"Info apa?" berusaha berbicara dengan setenang mungkin menutupi rasa bahagia atas pujian mereka.


"Pak Axel, pak. Bawa cewek ke kantor!"


"Bapak bisa tolong kami gak? Pak Gio yang baik, dan ganteng!" Hehhh... Memuji tapi ada maunya! Tapi Gio tak tahan jika di sebutkan seperti itu.


"Tolong apa?"


"Tolong cari tahu, itu cewek, siapanya pak Axel! Pacarnya apa bukan! Kalau pacarnya kami kan patah hati pak, gak semangat kerja deh kalau pak Axel sudah punya pacar!" ucap seorang yang lain dengan nada lesu.


"Memangnya kenapa kalau bos punya pacar? Masih ada saya kan yang jomblo?! Ganteng, baik, gagah lagi!" menunjuk pada diri sendiri dengan bangga lalu merapikan ikatan dasinya.


"Yeee... Kalau sama pak Gio mah beda lagi pak urusannya. Mau ada pak Gio atau enggak buat kita gak ngaruh! Lagian nih pak ya, kalaupun body pak Gio lebih seksi daripada bos, tapi pak Gio gak punya aura seperti pak Axel! Jauh!" cibir salah satu lalu mereka dengan serempak meninggalkan Gio yang protes dengan sikap mereka padanya.


Gio terbengong sendiri di tempat ia berdiri.


"Apa bedanya aku sama si bos? Perasaan ganteng dan s*ksian aku!" lirihnya lalu dia beranjak pergi setelah ingat pertanyaan para karyawan tentang gadis itu. Gio memasuki lift karyawan, dia menekan angka 12. Kotak besi itu segera membawanya ke lantai yang di tuju.


"Tumben Axel bawa cewek, siapa ya? Jadi penasaran!" gumamnya pelan. Setelah pintu lift terbuka Axel segera berjalan menuju ruangan Axel.


Sekretaris Axel seketika bangkit saat melihat asisten bosnya berjalan mendekat ke arahnya.


"Selamat pagi, pak Gio!" sapaan sehari-hari dari sang sekretaris seksi namun sama sekali tak pernah di lirik Axel meski dia berdandan cantik menawan dengan body aduhai bak gitar spanyol, untuk menggoda bosnya. Gadis itu tersenyum sambil bergerak manja mencoba menggoda sang asisten bos.


"Pagi cantik!" Gio mendekat, mencondongkan dirinya ke arah sekretaris itu dengan kedua tangan bertumpu pada tepian meja.


"Apa aku ganteng hari ini?" tanya Gio.


Sekretaris itu tersenyum, dia memberanikan diri mendekat ke arah Gio dan menarik dasinya. Dadanya yang besar hampir tumpah keluar, dia goyangkan pelan ke kanan dan ke kiri.


"Sangat... Ganteng!" ucap sekretaris itu seraya menggigit bibirnya sensual.


Gio tersenyum senang, dia mengangkat satu tangannya dan mengelus pipi wanita itu dengan punggung tangannya. "Trimakasih sayang!" ucap Gio dia balas tersenyum. Mendengar kata sayang dari lelaki di depannya membuat wanita itu menjadi senang luar biasa.


"Hari ini..." Gio mendekat.


"Iya?" dadanya berdebar kencang. Menatap iris coklat gelap di bola mata Gio.


"Maukah..." semakin mendekat seraya menjepit dagu wanita itu.


"Apahhh?" merasa senang, karena sepertinya Gio termakan rayuannya.


"Kamu... Dan aku... Siang ini..."


Mengangguk, tersenyum dengan perasaan senang. 'Apa dia mau ajak aku makan siang?' batinnya senang, dia semakin mendekatkan dirinya pada Gio.


"Siang ini datang dan bawa surat pengunduran diri kamu ke ruang HRD! Dan aku akan menunggu untuk itu!" gadis itu melotot saat Gio mengatakan hal itu seraya mundur menjauh.


"A- apa pak? Maksudnya saya di pecat?" tanya gadis itu tak percaya.


"Tidak di pecat, hanya saja aku meminta kamu menguruskan surat pengunduran diri kamu. Kalau sampai tengah hari nanti kamu belum melakukannya, maka aku sendiri yang akan melempar kamu dari lantai dua belas ini!"


Glekk.. menelan salivanya dengan susah payah. Seketika si pria tampan di depannya ini berubah menjadi iblis kejam tak berperasaan.


"Tapi... Tapi pak, salah saya apa?" tanya wanita itu tak mengerti.


Gio mengeluarkan hpnya dan memperlihatkan sebuah tayangan video di hpnya. Berisikan rekaman. saat sekretaris ini sedang membuatkan minuman dan memberikan sesuatu di dalam minuman tersebut. Dan dia membawakannya ke ruangan Axel.


"Bapak salah. Itu bukan saya! Bukan saya!" elaknya seraya melambaikan kedua tangannya.


"Bukan kamu?" menyimpan kembali hpnya ke dalam saku jasnya. Wanita itu mengangguk.


"Lalu siapa?" tanya Gio, dia berjalan memutari meja, mendekat ke arah tubuh wanita itu yang bergetar hebat.


"Bukti sudah ada, masih mau mengelak?!" tanya Gio. Wanita itu terdiam menunduk seraya mer*mas rok span hitam pendeknya yang sebatas paha.


"Oke, kalau kamu mau aku lemparkan dari sini itu tidak buruk juga!" Gio menarik tangan wanita itu lalu menyeretnya ke arah jendela.


Dia memegangi wanita itu dan menekan kepalanya ke jendela. Wanita itu takut luar biasa, apalagi menatap jalanan dan mobil-mobil yang terlihat kecil dari atas sini, bahkan orang-otrang seperti semut di bawah sana.


Kabar yang beredar di luaran sana ternyata benar! Siapapun yang berurusan dengan Axel maka Gio yang akan maju menghadapinya! Gio bukan pria sembarangan. Meskipun hanya seorang asisten tapi dia cukup di segani oleh pesaingnya.


Tak ia sangka perbuatannya dua hari yang lalu bisa di ketahui oleh asisten tampan namun berhati iblis ini! Padahal dia sudah merasa aman, melakukan hal itu di saat pria keji ini tidak ada!


"Ampun! Ampun, pak! Maafkan saya! Maafkan! Lain kali. Saya janji tidak akan melakukan hal ini lagi! Janji!" ucapnya sambil menangis memohon dengan penuh rasa takut.


"Lain kali? Tentu saja!" Melepaskan wanita itu, hingga dia merasa lega luar biasa.


"Tidak ada lain kali!" ucap Gio kembali menarik wanita itu dan kembali menempelkan wajahnya lagi ke jendela kaca. Kali ini lebih menekan wajahnya dengan lebih keras dari yang tadi, hingga terlihat bekas bedak bercampur keringat, dan air mata menempel disana.


"Ampun pak! Mohon ampun! Saya akan membuat surat pengunduran diri sekarang juga!" ucap wanita itu. Gio melepaskan wanita itu meski rasanya enggan. Di masih menikmati setiap detik raut wajah ketakutan wanita di depannya ini.


"Segera lakukan!" ucap Gio.


"Baik, pak. Baik!" ucapnya takut, lalu wanita ini pergi setengah berlarinke arah meja kerjanya dan segera menyalakan laptopnya.


Gio tersenyum tipis lalu pergi ke dalam kantor Axel.