
"Kalau kamu yang jadi istriku saja, bagaimana?"
Tiara menatap Gio dengan terkejut.
Apa ini lamaran?
Dadanya sudah bergemuruh, entah apa yang dia rasakan saat ini. Senang? Terkejut? tak menyangka? Eh, sepertinya terkejut dan tak menyangka adalah hal yang sama.
Gio tiba-tiba saja tertawa terbahak melihat ekspresi Tiara yang entahlah, bingung, terkejut, dan melongo seperti itu.
"Ha. Ha. Lihat muka kamu! Lucu. Merah!" tunjuk Gio tepat di depan wajah Tiara. Dia masih tertawa dengan kerasnya.
Tiara memalingkan wajahnya dari Gio. Dia malu. Salah mengira kalau Gio baru saja melamarnya. Mana mungkin!
Sadar, Tiara! Pria ini tidak mungkin melamar seorang asisten!
Tiara mengepalkan tangannya dan meninju lengan Gio dengan keras beberapa kali.
"Aw. sakit! kamu ini kasar sekali! Aku ini sedang sakit!" protes Gio.
"cih, sakit dari mana? Buktinya sudah meledek, berarti sudah sembuh lah! Lagipula yang sakit kan perut!" cerca Tiara. Dia kesal dan berdoa dalam hati, semoga saja bosnya ini suati saat tersiksa karna cinta!
"Aku ini masih sakit! Tidak percaya?" Gio mengambil tangan Tiara dan menempelkannya di perut.
"Tuh. Rasakan. Aku masih sakit, kan?" ucap Gio.
"Mana aku tahu! Yang merasakan sakit kan Bapak sendiri! Nih kalau ini aku yakin pasti sakit!" Tiara mencubit perut kotak Gio dan memutarnya dengan gemas hingga pria itu menggelinjang kesakitan meminta ampun.
"Akh. akh. Sakit! Ampun! Sakit!" teriak Gio.
"Nah kalau yang itu aku percaya kalau bapak sakit." Tiara puas melihat wajah Gio yang merah. Dalam hati dia tertawa dengan jahatnya.
"Keterlaluan!" Gio mengusap perutnya setelah Tiara menjauhkan tangannya dari sana.
"Rasakan! Makanya jangan suka baperin anak orang. Terima karmanya kan!" Tiara gemas.
"Hehe. Aku kan cuma bercanda! Gitu aja kok marah, jadi kamu baper nih?!" lirik Gio.
"Dih. Baper sama bapak? Gk lah! Bercanda itu ada tempat dan waktunya. Sedangkan Bapak, gak pernah lihat situasi sama sekali!"
"Memangnya harus seperti apa situasinya?" Gio berkata dengan cuek. Dia membelokkan mobilnya ke gang besar menuju rumah Tiara.
"Pokonya Bapak itu payah! Menyebalkan!" ucap Tiara. Mobil sudah sampai di depan rumahnya. Tiara keluar dari dalam sana tanpa mengucapkan terimakasih. Bahkan dia menutup kasar pintu mobil Gio.
Gio melihat gadis itu masuk ke dalam rumah. Dia tertawa kecil. Rasanya sangat menyenangkan mengganggu asistennya ini. Dia kembali melajukan mobilnya ke jalanan besar.
"Bisa datang kemari?"
Gio bersandar, sambil menutup matanya, selang beberapa menit seseorang mengetuk kaca mobil Gio. Gio membuka mata dan membukakan pintu untuk orang yang tadi dia panggil. Dia beralih pada kursi di sebelahnya.
"Anda baik-baik saja Tuan?" tanya pengawalnya setelah masuk ke dalam mobil. Melihat Gio yang hanya menutup mata membuatnya khawatir.
"Bawa aku ke rumah sakit!" ucap Gio. Pengawal itu kemudian membawa Gio ke rumah sakit. Di belakangnya mengikuti sebuah mobil hitam.
Devan memang mempunyai beberapa bawahan untuk menjaga anggota keluarganya, termasuk Gio.
...***...
"Sudah pulang, Ra?" Ibu masih saja berkutat di dapur. Dia sedang membuat kue basah untuk di jual besok.
"Belum tidur, Bu?" Tiara masuk ke dalam dapur.
"Belum. Ini sedikit lagi. Bagaimana meetingnya? Lancar?" Tiara mengangguk. Lagi-lagi berbohong.
"Ya sudah, kamu tidur saja. Ibu selesaikan ini sebentar lagi." ucap Ibu.
Tiara melepas jaketnya dan menyimpannya di atas kursi.
"Aku akan bantu ibu saja." ucap Tiara.
...***...
Dokter mendengus kesal saat lagi-lagi melihat pasien ini. Bandel! Sudah di peringkatkan berulang kali masih saja abai dengan kesehatannya.
"Malam ini jangan pulang! Lambungmu terkena radang. Biar aku kasih obat untuk menyembuhkannya." ucap dokter yang tak lain adalah Ken teman Gio dan juga Axel.
"Cih, cuma seperti ini harus tinggal? Tidak mau!" ucap Gio. Dia bangkit dari brankar, ingin pulang. Merasa perutnya tidak sesakit tadi.
Ken menarik paksa tangan Gio. "Tinggal atau aku suntik obat bius?" ancam Ken dengan menunjuk tepat di depan hidung Gio. Gio menepis kasar tangan Ken, dia menjatuhkan dirinya di atas brankar dan menarik selimut hingga ke kepala.
"Kalau sudah jangan lupa tutup pintu!"
Ken menggelengkan kepalanya.
"Harusnya waktu kamu merasakan sakit datang kesini. Jangan diam saja di rumah." Ken tahu pasti dengan sifat pria beku ini. Dia tidak akan mudah datang ke rumah sakit jika masih bisa menahannya.
"Hemmm!"