DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 132



Gio tengah duduk di kursi, dia menatap berkas yang ada di tangannya dengan serius. Ini mengenai kerja sama yang akan mereka lakukan dengan salah satu perusahaan besar di Malaysia. Memang tak sulit jika mereka mengajukan permintaan kerjasama dengan perusahaan besar di Eropa sekalipun, tentunya dengan menggunakan nama besar Rudolf yang tersemat di belakang Aditama. Akan tetapi, Axel ingin membawa nama perusahaan ini atas kerja kerasnya sendiri, bukan hasil dari mendompleng nama besar Kakek Surya ataupun nama Daniel, kakaknya.


"Aku penasaran, sebenarnya kau itu punya perasaan apa dengan asistenmu itu hingga rumahnya kau renovasi segala!" Sebenarnya Axel sudah lama ingin bertanya hal ini, dari minggu lalu, tapi dia menunggu waktu yang tepat untuk bertanya, dia juga terlalu sibuk pulang pergi ke Surabaya untuk sekedar melihat Renata dari kejauhan.


"Perasaan apa?" Gio mengalihan pandangannya dari kertas di tangannya.


"Memang kau kira aku tidak tahu?" Axel menatap Gio yang bermuka... entahlah. Dia pura-pura atau memang tak tahu, atau tak sadar?


"Tahu apa?" kening Gio mengkerut, dua alisnya hampir menyatu.


Axel berdecih sebal. "Sadar atau tidak kalau kamu sudah jatuh cinta dengan asistenmu?" akhirnya Axel bersuara.


"Aku? Dengan dia?" Gio menunjuk dirinya sendiri sambil tertawa geli.


"Hei pria sok tahu, aku dan dia gak ada hubungan apa-apa, hanya sebatas atasan dan asistennya. Sudah lah jangan ngadi-ngadi!" Gio menggerakkan kertas itu di depan wajahnya seakan dia menghalau udara panas yang menerpa tiba-tiba di wajahnya.


"Ngadi-ngadi? Apa itu?" tanya Axel bingung, bahasa mana yang Gio ucapkan?


"Mengada-ada! Ngaco! Paham?" jawab Gio, lalu dia berdiri untuk pergi dari sana. Dia lebih baik pergi daripada Axel mulai berbicara yang aneh-aneh rentang dia dan juga Tiara.


Sok tahu! monolognya dalam hati.


"Aku juga sedang memikirkan caranya. Bantu aku, please!" Axel dengan wajah memelasnya dari tempat dia duduk. Gio memutar bola mata malas, dia terlalu sibuk dengan segudang pekerjaannya, tak mau di tambah dengan kisah percintaan rumit yang kini tersuguh di depan matanya.


"Pikirkan saja sendiri!"


Brak!


Axel mendecih sebal saat yang dia lihat hanyalah pintu yang kini tertutup dengan rapat. Dia serius ingin bertanya apa yang harus dia lakukan, apakah dia harus menunggu beberapa saat lamanya lagi sampai Renata kembali padanya, atau dia harus membawa gadis itu pulang mau atau tidaknya dia?!


"Akh masa iya aku harus bawa karung! Dia bukan anak kucing!" Axel tertawa geli jika dia sampai melakukan hal itu pada Renata, yang ada gadis itu akan marah padanya dan tak ingin bertemu dia lagi seumur hidup!


Gio membuka pintu ruangannya, terlihat Tiara sedang tertidur di meja kerjanya dengan kepala bertopangkan kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Komputer masih menyala hingga membuat rambutnya bersinar.


Dia menggelengkan kepala, baru kali ini dia mendapatkan bawahan yang bekerja dengan seenaknya saja seperti dia ini. Bahkan berani sekali tidur disaat jam kerja.


Ya ampun... Haruskah dia memecatnya? Oh tidak, dia masih punya hutang 7 tahun lagi, memecatnya sekarang tentu akan membuatnya rugi, kan? Bahkan biaya rumah sementara ynag Tiara dan ibunya tempati saja masih belum cukup dengan tiga bulan gajinya!


Gio mendekat dan mengangkat berkas di tangannya tinggi-tinggi. Di hampir saja melayangkan benda itu ke punggung Tiara tapi urung dia lakukan, suara nafas gadis itu terdengar pelan dan sagat teratur.


"Jam berapa dia tidur semalam?" alih-alih membangunkan Tiara Gio memilih untuk kembali saja ke mejanya, dia mengipasi di dirinya dengan berkas yang ada di tangannya. Menghalau kesal yang mendadak hinggap di kepalanya.