DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Part 120



Mobil sudah sampai di area perusahaan. Alex memarkirkan mobilku di tempat khusus milikku sendiri.


"Ini kunci mobilnya nona, aku kembalikan!" Alex menyerahkan kunci mobilku.


"Trimakasih Pak Alex sudah antar saya kembali ke kantor. Tapi bagaimana pak Alex pulang?" tanyaku.


"Saya akan panggil taksi. Menyenangkan bisa menjadi sopir nona cantik." ucapnya dengan senyuman penuh di bibirnya. Dia mengambil tanganku dan menciumnya. Aku tertegun dengan sikapnya yang tidak biasa ini. Segera aku menarik tanganku.


"Sudahlah sana kalau mau pulang, aku masih ada urusan!" usirku. "Terimakasih sudah antar." ucapku lalu bergegas pergi, tapi tertahan karena Alex memegangi pergelangan tanganku. "Apa lagi?"


"Antar tidak gratis loh ya!"


"Terus?" tanyaku kesal. Ternyata laki-laki baik karena ada maunya!


"Makan malam besok jam tujuh. Aku jemput di hotel!" ucapnya lalu tanpa menunggu jawabanku dia pergi dengan senyum kemenangan. Aku melongo di tempatku berdiri. Bertemu dengan satu lagi pria tukang paksa di dalam hidupku.


Aku dan Alex memang semakin akrab. Kami terkadang pakai bahasa santai atau baku, tergantung dimana tempat kami berada.


Aku berbalik, terkejut karena tak jauh dari sana melihat dia sedang berdiri dengan seikat bunga mawar merah di tangannya. Terdiam menatap ke arahku. Baru aku sadar, Alex melakukan itu tadi, apa karena dia melihat Devan disana? Kenapa waktunya kebetulan pas sekali?!


Aku berjalan ke arahnya, dia pun sama. Kami saling mendekat, dan berhenti dengan jarak tiga langkah.


"Jadi kamu gak mau pulang sama aku karena sudah bertemu dengan laki-laki lain?" Tanya Devan. Aku hanya mengangkat kedua bahuku.


"Tidak ada urusannya sama kamu Dev, aku mau dekat sama siapa itu terserah aku!"


"Tapi kamu masih istriku Anye!"


"Lalu? Kamu mau kita selesai supaya kamu gak ungkit siapa istri kamu?" tanyaku.


"Anye selama ini aku gak pernah berfikiran jauh, tapi sepertinya sekarang kamu sudah berubah. Kamu sudah gak cinta sama aku lagi?" tanya Devan lirih.


"Aku berubah? Kita berdua yang sudah berubah, Devan! Bukan cuma aku!" ucapku. Aku bergegas pergi dari hadapannya. Melewati Devan yang hanya berdiri dengan diam disana.


Baru saja beberapa langkah aku berjalan sepasang tangan memelukku dari belakang, di salah satu tangannya buket bunga mawar itu menjadi berjatuhan kelopaknya.


"Aku minta maaf, selama ini aku gak tahu kamu pergi kemana, tapi aku percaya kamu gak mungkin seperti yang Melati dan mama bilang. Kamu wanita baik-baik yang bisa menjaga diri kamu. Kamu tetap Anye yang aku kenal. Meski kamu sekarang nolak aku, tapi aku akan tetap terus berusaha untuk dapatkan maaf dari kamu. Kamu satu-satunya wanita yang aku cinta, Anyelir." Kata-katanya terasa hangat meresap ke dalam hatiku.


"Maaf kalau selama lima tahun ini aku gak bisa berhasil nemuin kamu. Aku benar-benar payah!" dia tertawa kecil.


"Waktu itu aku dapat info kalau kamu ada di Amerika, aku cari kesana tapi aku gak nemuin jejak kamu. Samuel kan yang bawa kamu pergi waktu itu? Kamu dimana sebenarnya selama ini? Lalu kenapa kamu bisa ada di perusahaan ini? Kenapa kamu ganti nama kamu menjadi Laura? Dan kamu bersama tuan Fabian?" tanya Devan beruntun.


Aku melepaskan tangan Devan dari tubuhku. Devan hanya pasrah. Aku berbalik ke arahnya dan mundur satu langkah.


"Kamu bilang tidak percaya dengan Mama dan Kak Melati, tapi kamu sendiri tanya hubungan aku sama Tuan Fabian? Bukankah itu sama saja?!" decihku. Dia terdiam.


"Kalau benar aku punya hubungan dengan tuan Fabian, bagaimana?" Tanyaku lagi, aku mendekat ke arahnya, mengusap debu yang ada di permukaan jasnya. Aku menatapnya dengan tajam.


"Semua itu sudah bukan urusan kamu, Dev. Kalau kamu merasa tidak terima, aku akan selesaikan secepatnya. Kamu juga sedang menjalin hubungan dengan Riana, bukan?" Dia mencengkeram lenganku yang mengusap jasnya, berkata dengan nada dingin yang sangat jarang sekali aku dengar.


"Coba saja kamu lakukan! Aku gak akan nyerah Anyelir! Aku pastikan kamu gak akan berani lakuin ini!" ucapnya, cengkeraman tangannya semakin erat menyakiti tanganku. Aku menariknya, tapi Devan tidak mau melepaskannya. Kami saling bertatapan, mata Devan memerah dan urat-urat membiru terlihat jelas di sisi wajahnya.


"Siapa bilang aku gak akan berani?" tanyaku tanpa takut. "Kamu tahu kan dari dulu aku bagaimana?!" tanyaku santai lalu dengan tangan yang satunya mencoba melepaskan jari-jari tangan Devan dari tanganku.


Devan meluluh, dia melepaskan tanganku, pandangan matanya beralih ke lantai basemen. "Tidak bisakah kamu beri aku kesempatan? Lima tahun kamu siksa aku, apa kamu tidak kasihan? Fikirkan anak kita."


Aku tertawa kecil. "Percaya atau tidak, dia anak yang kuat, dia terlalu sayang sama aku sampai dia bilang supaya aku mencari pasangan hidup. Dia sudah gak peduli dengan ayahnya!" tuturku.


"Ya sudah. Aku sudah buang-buang waktu disini. Masih banyak urusan yang harus aku selesaikan!" Aku berbalik dan pergi meninggalkan Devan disana. Aku sampai lupa kalau kak Mel mungkin masih menunggu di ruanganku.


Beberapa langkah menuju lift khusus, aku terdiam karena mendengar Devan berteriak dari tempatnya.


"Aku gak akan nyerah, Anye! Aku akan dapatkan maaf dari kamu cepat atau lambat! Meski kamu tolak aku, aku gak akan peduli!" teriaknya dari sana dengan keras.


Aku berbalik mengangkat bahuku dengan cuek. "Coba saja. Tapi aku gak akan tanggung jawab kalau kamu patah hati!" ucapku. Devan tersenyum dari tempatnya, senyum yang sudah sangat lama sekali aku tidak lihat. Aku kembali berjalan menuju lift. Tidak peduli lagi dengan dia.


Aku bohong! Tidak peduli? Nyatanya dalam hati aku masih sangat inginkan dia!


Di dalam lift. Rasanya kakiku lemas. Aku tahu yang aku ucapkan tadi hanyalah karena emosiku. Karena sebenarnya aku juga tidak pernah berfikiran untuk berpisah dengan Devan. Kalau aku punya pemikiran seperti itu, aku sudah sedari dulu pergi untuk membereskan hubunganku dengan dia. OMG. Ada apa aku ini? Aku rasa otakku sedang tidak sehat!