DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 67



Tiara memberanikan diri membuka pintu pertama. Beberapa orang menoleh kepadanya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada Gio maupun Axel disana! Sambil tersenyum malu, Tiara meminta maaf pada penghuni disana, lalu kemudian menutup pintunya kembali.


Hal yang sama ia lakukan di pintu kedua dan ketiga. Naasnya di pintu yang keempat dia kena tegur! Ruangan itu tidak boleh sembarangan di buka oleh orang lain. Tiara merasa bodoh sendiri. Tidak membaca apa yang tertera tulisan di atas pintu. Staff only!


Sudahlah! Dia istirahat saja. Toh kalau Gio tak melihat dia ada di dekatnya juga pasti akan dicari! Iya kalau di cari! Pedenya keterlaluan Tiara!


Tiara duduk di kursi tunggu, dia memijat kakinya pelan. Pegal. Perih. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Apa dia salah lihat? Tapi tadi mereka lari ke kanan!


Lanjut memijat kakinya yang sakit sambil terus bertanya-tanya dalam hati siapa gerangan yang sakit? Tangannya tak berhenti bergerak di betisnya. Sepatunya hanya teronggok begitu saja di lantai.


*


Gio keluar dari ruangan itu. Tiara tidak terlihat juga di luar sana.


'Ya ampun! Apa anak itu nyasar!' batinnya kesal. Dia pamit pada mama Anye dan segera mencari Tiara.


Di kejauhan sana Gio melihat Tiara yang sedang duduk dan memijat kakinya pelan. Sepatu yang ia belikan beberapa hari yang lalu pun hanya teronggok di sampingnya.


Gio mendekat, terlihat kaki Tiara memerah bekas sepatu. Dia berjongkok dan memeriksa kakinya.


"Ah, Pak?!" Tiara terkejut saat Gio tiba-tiba muncul dan mengangkat kakinya, melihat luka lecetnya.


"Kenapa kaki kamu?" Hei Gio lu udah tahu kenapa masih tanya?!


"Cuma sedikit lecet, Pak." ucap Tiara. Seorang perawat lewat di depan mereka dan Gio menghentikannya untuk meminta obat atau salep untuk Tiara.


Tak lama perawat kembali lagi membawakan apa yang Gio minta tadi.


"Trimakasih suster!" Ucap Gio.


"Saya bantu, Pak?" tanya suster ramah.


"Tidak usah. Saya bisa sendiri." perawat itu pamit untuk kembali mengecek pasien.


"Trimakasih suster!" kali ini Tiara yang berucap.


"Sini, Pak. Saya saja!" Tiara meraih kotak obat di tangan Gio, namun Gio segera menjauhkannya dari jangkauan Tiara. Dia ambil sebelah kaki Tiara dan memangkunya.


"Eh, apa yang bapak lakukan? Turunkan, Pak. Turunkan!" kata Tiara terkejut. Dia menarik kakinya. Namun, Gio menahannya.


"Bisa diam tidak!" bentak Gio. Suaranya keras membuat beberapa orang yang melintas menatap mereka.


Tiara hanya menurut, membantah orang ini sama saja dengan membuat gaduh di tempat umum.


"Ssshhh akh. Aww!" pekik Tiara saat rasa perih dari alkohol terasa disana.


"Tahan sedikit! Jangan cengeng!" ujar Gio kesal. Harusnya kalau dia kesakitan menggunakan sepatu ini tidak usah di pakai saja!


"Perih lah Pak!" Tutur Tiara.


"Lain kali jangan di paksakan kalau sepatu itu tidak nyaman." ucap Gio lagi.


"Ya, aku kan takut kalau bapak marah. Kemarin saja bapak marah karena aku gak pakai baju yang Bapak belikan waktu itu." ucap Tiara.


"Itu kan baju, Tiara! Pakai baju gak akan sesakit pakai sepatu, yang bikin lecet seperti ini!" Gio meniupi luka Tiara karena gadis itu kembali kesakitan. Tiara tertegun dengan perlakuan bosnya ini, sangat lembut dan sangat berbeda dengan perilakunya yang biasa.


"Ya kan aku cuma takut, bapak menyangka aku gak menghargai pemberian bapak. Dan lagi, kita kan ada meeting penting, aku gak mau buat bapak malu dengan sepatu butut itu!"


Gio yang selesai menempelkan plester di area kaki yang lecet, menepuk dahinya sedikit keras. Karena urusan Axel ini, dia sampai lupa dengan meeting penting yang akan ia lakukan di jam dua siang ini.


"Aku bilang barusan! Tadi kan gak ketemu bapak!" bukan berkilah! tapi memang bicara apa adanya!


Gio melihat jam di tangannya. Sudah hampir jam dua siang.


"Telepon Mr. Mark dan katakan kita akan terlambat!"


"Saya gak bawa hp, Pak!"


"Kenapa tidak bawa?" tanya Gio mendelik ke arah Tiara.


"Kita kan tidak kembali ke ruangan, hp saya di tas!" tutur Tiara kesal.


"Kamu ini!" Gio menggeram dengan giginya.


"Aww!" Tiara memekik kesakitan saat kakinya Gio hempaskan ke lantai. Gio langsung berdiri dan mengeluarkan hpnya, menghubungi Mr. Mark.


Tiara mendelik kesal ke arah punggung Gio.


Gak jadi!!!! Aku gak jadi terpesona sama kamu! Dasar beruang kutub!!


Tiara ingin memaki, ingin melayangkan ujung heels itu pada kepala Gio. biar saja kalau kepalanya sampai bocor! Bisa langsung di tangani oleh suster! Ah.... tapi lagi-lagi urung dilakukan saat Gio sudah membalikkan badannya. Tiara berpura-pura mengambil sepatunya dan memakainya.


"Kalau lecet gak usah di pakai!" titah Gio.


"Lalu aku mau pakai apa? Masa ketemu klien mau telanjang kaki?" ujar Tiara kesal.


"Nyeker saja. Nanti kalau sudah sampai di tempat kamu pakai! Ayo!" Gio berjalan mendahilui Tiara.


"Eh, Pak. Tidak pamit dulu sama Pak Axel?" tanya Tiara. Sebenarnya dia penasaran ....


"Gak usah! Kalau kamu penasaran bilang saja. Ingin tahu siapa yang sakit. Jangan banyak alasan!" ucap Gio.


"Tapi ...."


"Cepat, atau kamu aku tinggal!!" teriak Gio.


"Iya!" Tiara berlari kecil mencoba mensejajari langkah lebar Gio sambil menenteng sepatunya.


"Memang yang sakit itu siapa sih, Pak?" tanya Tiara akhirnya. Tidak bertemu dengan si pasien setidaknya dia tahu siapa yang sakit.


"Jangan kepo!" ujar Gio tak suka.


"Yeee ya wajar dong kepo! Kan Bapak yang ngajak aku kesini."


Gio mendelik. "Siapa yang ajak kamu kesini?" tanya Gio.


"Ih. kan tadi bapak kasih isyarat saya buat ikut kan?" tanya Tiara bingung.


"Tidak! Awww!" Gio meringis saat sepatu milik Tiara mendarat di punggung cukup keras dan membuat panas.


"Kalau tidak mengajak saya kenapa juga bapak suruh saya masuk mobil tadi, hah?!"


Anye terdiam dan tersenyum simpul melihat apa yang dia lakukan Gio tadi pada gadis itu. Dan lihatlah dia sekarang! Gio tidak pernah banyak bicara, tapi dengan gadis itu Gio bisa bicara panjang lebar.


Anye terus memperhatikan putranya yang lain sampai pada saat dokter berlari ke dalam ruangan Renata dan Anye pun mengikuti mereka.