
Alea menjemput Tiara ke acara reuni. Di hotel tempat acara di laksanakan sangat ramai, bahkan area di belakang hotel itu sudah di sulap sedemikian rupa dengan berbagai macam pernak pernik khas party anak muda. Beberapa orang yang Tiara tahu sedang mengobrol lalu menyapa mereka saat mereka datang. Alea cukup populer di kalangan teman-temannya, maka tak heran jika dia lebih banyak di kenal daripada Tiara.
Entah mereka pura-pura lupa atau bagaimana.
Di siapa sih? Oooh, Tiara?
Anak beasiswa itu?
Yang dulu suka di kuncir culun gitu?
Anak tukang gorengan itu?
Ini lah yang dia tak suka jika datang ke tempat seperti ini. Terlalu banyak bibir yang membicarakan keburukannya.
"Al. Gue pualng aja ya!" Bisik Tiara menarik tangan Alea pelan.
"Ih kita ini kan baru datang. Eh, aku kenalin kamu deh. Dia itu kakak kelas kita tau! Masih jomblo, kali aja kalian cocok! Elo terlalu kelamaan jomblo kan?!" Alea menarik tangan Tiara ke salah satu tempat dimana para pemuda bergerombol sedang berkumpul bersama.
Canggung, malu, Tiara menuruti ajakan sahabatnya. Dia tak suka dengan acara jodoh-jodohan seperti ini. Tapi terlambat untuk menghindar karena Alea sudah menariknya kesana tanpa bertanya padanya.
"Kak Delon!" sapa Alea pada seorang pria yang kemudian menoleh setelah namanya di panggil.
'Lea ya?" tanya pemuda itu. Alea mengangguk lalu mendekatkan dirinya untuk cipika-cipiki dengan pria itu.
Tiara terkejut dengan sikap Alea, anak ini sudah berubah meski hanya beberapa. Dia yang dulu pemalu kini sudah entah kemana rasa malunya itu. bahkan dia berani bersentuhan dengan pria yang baru dia temui lagi kali ini.
"Siapa ini?" tanya Delon.
"Ini Tiara. Sahabat aku. Kenalin deh!" Alea melirik dan menyenggol lengan Tiara. Tiara tersenyum canggung.
"Hai Tiara. Salam kenal." Delon menguluran tangannya ke arah Tiara. Dia tersenyum dengan sangat manis. Bahkan sampai lesung pipinya terlihat menambah kadar manisnya berkali-kali lipat.
Tiara menyambut uluran tangan Delon dengan canggung. Dia tak biasa bersentuhan dengan laki-laki. Kalau Gio jangan tanyakan itu. Mungki dengan Gio dia sering bersentuhan karena mereka hampir setiap hari bertemu.
"Ha.. Halo." ucap Tiara Lirih. Suara dentuman musik terdengar memekakan telinga. Ada yang menari, ada yang mengobrol, ada juga yang... entah sedang apa mereka ada di balik pepohonan di dekat tembok! Akh... jangan hiraukan mereka. Sudah pasti mereka sedag melakukan hal-hal lain.
"Kamu satu kelas sama Lea?" teriak Delon mengimbangi suara musik yang terdengar keras.
"Iya kak."
"Hah? Gak kedengeran!" teriak Delon, dia mendekatkan dirinya pada Tiara untuk bisa mendengarnya dengan jelas.
"Aku satu kelas dengan Alea!" ucap Tiara sedikit berteriak.
"Ohh... kok kayaknya aku gak pernah lihat kamu ya. Maaf!" Delon tertawa lirih meminta maaf. Tiara membalasnya dengan hanya tersenyum.
Dirinya memang banyak di lupakan oleh teman masa SMA nya ini. Bagi mereka dulu, murid beasiswa adalah hal aneh yang ada di antara mereka. Bukan hal yang patut di banggakan. Padahal murid beasiswa lebih memiliki otak pintar daripada mereka yang hanya memiliki kedudukan di masyarakat. Siapa yang punya kedudukan? Orang tuanya lah, sedangkan mereka... haya numpang tenar!
"Tidak apa-apa. Sudah biasa!" teriak Tiara lagi.
Dia merasa risih saat Delon memindainya dari atas hingga ke bawah dan juga sebaliknya. Tiara menarik roknya semakin ke bawah. Padahal itu tidak pendek sama sekali. Dia memang hanya tak terbiasa. Dia juga menutupi dadanya yang juga sebenarnya tak banyak terekspose.
"Le. Aku pulang aja ya." bisik Tiara pada Alea.
"Iya Ra, paling enggak satu jam lagi deh! Belum datang semua kan ya, kak?" tanya Alea pada Delon.
"Iya tunggulah satu jam lagi,. lagi pula ini juga belum jam delapan malam! Nanti kalian pulang aku antar, deh!" tawar Delon pada Tiara dan Alea.
"Eh aku bawa mobil, Kak."
"Yaaahh, kalau Tiara?" tanya Delon.
"Dia berangkat sama aku! Kamu mau pulamg sama aku apa di antar kak Delon?" tanya Alea pada Tiara.
"Aku pulang..."
"Sama aku saja, aku antarkan kamu pulang nanti. Ya tunggu saja satu jam lagi. Setelah itu aku akan antar kamu pulag!" bujuk Delon pada Tiara.
Terpaksa Tiara mengiyakan. Dia merasa tak enak hati saja pada Alea, jarang-jarang dia ada disini.
"Ra, Kak Delon, aku permisi ya. Pengin ke toilet!" pamit Alea. Entah dia hanya beralasan atau memang bicara yang sebenarnya. Alea langsung saja pergi meninggalkan Tiara bersama Delon.
"Kamu cantik sekali malam ini Ra. Kalau saja dari dulu kamu secantik ini aku pasti bisa kenalin kamu dan kita bisa dekat dari dulu!" Ucap Delon dengan wajah yang lumayan dekat dengan Tiara, bahkan hangat nafasnya terasa mendesis di telinga Tiara.
Tiara menjauhkan dirinya dari Delon. Dia sungguh sangat tak nyaman berada di dekat lelaki ini. Dia hanya bisa tersenyum mengangguk sebagai jawabannya.
"Kamu gak ambil minum? Mau aku ambilkan?" tanya Delon menawarkan diri. Tiara menggelengkan kepalanya. Dia tahu pasti apa yang ada di dalam gelas itu. Bukan air biasa! Apalagi warna- warna mereka terlihat cantik. Enak bagi yang suka. Tapi bagi yang tidak...?
"Tidak perlu, kak. Aku gak minum yang seperti itu!" tolak Tiara.
"Gak pernah minu seperti ini? Kamu itu anak zaman mana? teman-teman kita sudah banyak yang merasakan suka setelah mencobanya. kamu coba deh!" Delon menyodorkan pada Tiara minuman miliknya. Tiara mendorong kembali minuman itu dengan telapak tangannya.
"Trimakasih deh kak. Lain kali saja aku coba sendiri di rumah." Ucap Tiara. Delon mengangguk tak mau lagi memaksa.
Alea sudah kembali dari toilet, dia sempat lama karena ada seseorang yang menyapanya.
"Maaf aku lama, tadi ada yang lain yang ajak aku ngobrol." ucap Alea meminta maaf pada Tiara dan Delon.
" Gak apa-apa kok. Kami juga sudah mengobrol banyak berkat kamu yang sudah tinggalkan kami." ucap Tiara, dengan nada menyindir.
"Hehe... maaf-maaf. Eh aku lupa." Alea menepuk jidatnya. Tiara dan Delon menatap Alea tak mengerti.
"Aku lupa gak bawa minum! Aku kesana dulu ya!" lagi-lagi datang seenaknya, pergi juga seenaknya. Alea kembali meninggalkan Tiara dan Delon kembali berdua.
Alea datang dengan membawa dua buah minuman, satu miliknya yang ada di dalam gelas, sedangkan satu lagi ada di botol plastik kemasan.
"Ini Ra. Air biasa." Alea menyodorkan botol itu pada Tiara. Tiara menatapnya sedikt ragu.
Cuma air minum biasa! Non alkohol!" Dia meyakinkan. Akhirnya karena haus Tiara menyambut minuman itu dan menenggaknya dengan perlahan. Meski dia selalu cuek dengan sifatnya yang sembarangan tapi kali ini dia harus menjaga imajenya di hadapan Delon. Untuk menjaga nama baik Alea.
Tiara tertegun saat merasakan rasa lain pada minuman ini, seperti agak pahit dan kasar di tenggorokannya. tapi dia tak menaruh curiga apa-apa. Mungkin karena ini merk yang biasanya tak pernah ia minum sebelumnya.
Delon menatap jauh pada seseorang di dekat meja prasmanan, dia mengangkat gelasnya seraya tersenyum menyeringai