DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 192



Tahun-tahun berlalu. Daniel sudah menjadi remaja yang tampan, dia berada di kelas sepuluh sekarang. Sejak lulus dari SD, Daniel meminta untuk kembali ke Prancis untuk tinggal bersama ayah. Daniel bilang dia ingin menemani kakeknya disana.


Aku sangat kangen dengan anak itu, bisa di bilang kami hanya bertemu beberapa bulan sekali. Terkadang dia yang datang kesini, atau kami yang kesana. Itupun jika kondisi Axel baik, atau terkadang juga aku sendiri atau Devan yang berangkat menjenguk Daniel dan ayah.


Aku bingung dengan anak itu. Jika kebanyakan anak ingin tinggal bersama dengan orang tuanya tapi kenapa dia lebih memilih tinggal dengan kakeknya? Apa karena ayah hanya sendirian disana?!


Sedangkan Axel, dia berada di kelas tiga SD. Meski fisiknya lemah, tapi tidak dengan otaknya.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat sampai aku tak sadar seraya kedua putraku tumbuh besar, aku juga sudah semakin tua.....😭😭😭 Bagaimana dengan para readers 😭😭😭?


Ya, sebagai seorang wanita aku ingin tetap muda! Hehe....😁✌


Mengenai program ingin anak perempuan waktu itu, kami sudah pasrah. Jika di izinkan untuk kembali mengandung, anak laki-laki maupun anak perempuan kami akan terima! Tapi ternyata setelah sekian lama, tak ada tanda-tanda kalau aku mengandung.


Padahal bisa di bilang kehamilan pertama hanya membutuhkan waktu satu malam, dan kehamilan kedua waktu itu hanya setelah satu bulan bersama. Tapi sekarang, setelah bertahun-tahun kami bersama tak ada tanda-tanda kalau aku akan kembali berbadan dua! Ya sudahlah!


Oke, aku akan ceritakan sedikit kisah lain.


Samuel, dengan Nanda, hidup bahagia. Akhirnya Nanda bisa mencintai suaminya dengan sepenuh hati. Mereka punya anak kembar yang baru berusia lima tahun. Keduanya perempuan. Lucu sekali, cantik seperti ibunya, tapi hidung dan mata seperti ayahnya!


Sofia dan Hanson, setelah perjuangan keras karena sempat di tolak keluarga Hanson, tapi mereka memutuskan untuk tetap menikah, dengan atau tanpa restu mereka. Hanson adalah anak seorang bangsawan keturunan Swiss, aku tidak terlalu faham bagaimana awal ceritanya Hanson bisa ikut bersama dengan ayah. Tapi saat dia membawa Sofia menemui keluarganya, Sofia ditolak mentah-mentah. Katanya, alasan tak setara dengan keluarga mereka. Padahal di negeri ini perusahaan Narendra milik ayah Sofia termasuk besar dalam jajaran top ten. Sofia juga punya anak laki-laki baru berusia tiga tahun.


Nayara, dia putus dengan pria yang di jodohkan dengannya, akibat wanita lain yang di miliki kekasihnya. Dia kemudian memilih untuk meneruskan kariernya sebagai model di luar negeri. Kami sering berkirim kabar dengan dia, dia bilang sedang dekat dengan seseorang disana.


Oh ya. Dan bang Ed. Hampir saja lupa. Bang Ed dan Nila, kalau cerita mereka cukup mulus. Kenalan, jalan bareng, pacaran, lalu tak lama mereka menikah. Mereka belum di karuniai anak. Dokter bilang karena kecelakaan yang pernah di alami Nila, Nila jadi agak susah untuk punya keturunan. Tapi bang Ed tak masalah, mereka mengadopsi bayi dari panti asuhan, sekarang bayi itu sudah besar, berusia empat tahun.


Semua hidup bahagia bukan?


Hari ini aku menjemput Axel dari sekolahnya. Dia sedang tidak enak badan, tapi masih saja ingin berangkat ke sekolah.


Keadaan Axel akhir-akhir ini sedikit memburuk, badannya sedikit lemah tidak seperti biasanya. Dokter bilang kalau saja ada jantung yang cocok untuk Axel lebih baik dilakukan saja transplantasi. Itu akan membuat Axel pulih dan bisa hidup dengan normal seperti lainnya. Aku selalu berharap dan berdoa, agar Axel bisa segera mendapatkan donor jantung. Aku juga ingin Axel pulih dan tidak lagi merasa kesakitan.


Tapi aku juga merasa kalau diri ini jahat. Bukankah menginginkan seseorang mendonorkan jantungnya sama saja dengan aku meminta kematian untuk orang lain?


Selain aku dan Devan, ayah juga membantu, Samuel, dan Edgar juga, tapi dari sekian banyak orang yang membantu masih belum ada pendonor yang jantungnya cocok untuk Axel.


Aku dan Axel sedang berada di dalam mobil. Kami baru saja keluar dari area sekolah. Axel bilang ingin makan salad buah. Lucu kan dimana anak seusianya inginkan pizza atau ayam KFC, dia malah suka salad buah! Kami pun pergi ke tempat dimana kami biasa membeli makanan itu.


"Mama, stop! Itu temanku, ma! Tolong dia!" Tunjuk Axel ke luar jendela. Kami baru berada dua blok dari sekolah Axel tadi. Axel memukuli jendela itu seakan dia ingin mendobraknya dan melompat dari dalam mobil.


Aku melihat ke arah dimana tempat yang Axel tunjuk. Seorang pria dewasa sedang memukuli seorang anak laki-laki sebaya dengan Axel. Apa yang dia lakukan? Anak itu terus memohon tapi dia terus di pukuli dengan kayu oleh pria itu. Tak ada orang yang lewat disana yang bisa membantu anak itu.


"Mama tolong bantu dia ma! Dia selalu bantu aku di sekolah!" Axel menjerit keras masih memukuli kaca jendela. Lalu berusaha untuk membuka pintu mobil yang terkunci.


"Leon, stop. Bantu anak itu!" titahku pada sopir sekaligus salah satu bodyguard kami.


"Siap ma'am!"


Mobil berhenti di tepi jalan, lalu Leon keluar dari dalam mobil dan berusaha menyeberang.


"Gio!!" Axel berteriak lantang. "Gio, tenang. Om Leon akan bantu kamu!" Axel menangis. Begitu besarnya kepedulian Axel pada anak itu sampai dia menangis untuk orang selain anggota keluarganya!


Axel memegangi dadanya, dia terlihat kesulitan bernafas, tapi tetap berusaha untuk sadar, berusaha untuk memanggil anak bernama Gio itu. "Gio!" lirihnya.


"Axel sudah, tenang, jangan panik! Gio tidak akan apa-apa. Leon sudah datang ke sana." ucapku khawatir. Axel terlihat lemas, dia tetap bertahan di posisinya.


Aku menatap kejadian itu dari tempatku, dan tanpa aku duga...


Ku tarik Axel ke dalam pelukanku supaya dia tidak melihat kejadian selanjutnya. Axel terdiam dengan memegangi dadanya sendiri. Terlihat kebingungan di wajahnya.


Leon belum sampai disana, tapi kejadian itu membuat beberapa pengendara berhenti. Anak bernama Gio itu... Dia tadi mengambil batu bata dan memukulkannya ke kepala pria dewasa itu hingga pria itu tergeletak di jalanan. Anak itu di cekal oleh beberapa orang lalu di seret menjauh. Dia berontak, tapi tak ada niat untuk di lepaskan.


"Ada apa, ma?" tanya Axel.


"Tidak ada! Sebentar!" Ku ambil hp dan menelfon Leon, menyuruhnya untuk mengikuti kemana anak itu di bawa.


"Tidak ada. Kita pulang dulu ya? Salad buah kita buat saja di rumah. Oke?."


"Tapi Gio?" menatap ke arah luar. Untungnya mereka sudah tidak ada disana.


"Om Leon sedang mengurus Gio. Kita pulang dulu dan mama nanti akan lihat keadaan Gio."


"Aku juga mau ikut!"


Kalau saja keadaannya tidak seperti itu aku bisa saja membawa Axel.


"Tidak Axel. Kamu pulang. Ini urusan orang dewasa!" Axel menatap nanar padaku.


"Kamu peduli sama Gio?" dia mengangguk.


"Dia selalu bantu aku di sekolah. Dia selalu menjauhkan aku dari anak-anak yang nakal sama aku! Mereka bilang aku si lemah karena tidak pernah ikut olah raga, dan Gio selalu bela dan bantu aku, ma." Apa Axel menjadi korban bully di sekolahnya?


"Gio kuat ma, tidak seperti aku. Bahkan dia punya luka di badannya tapi tidak pernah menangis! Ayahnya jahat, sering pukul dia! Gio sudah tiga hari tidak masuk sekolah."


Apa yang sudah terjadi dengan anak itu, apa dia mengalami kekerasan?


"Kalau begitu, kamu pulang dan tunggu saja mama di rumah. Mama akan bawa Gio pulang!"


"Janji?" menyodorkan jari kelingkingnya.


"Janji" ku lakukan hal yang sama. Axel tersenyum senang seraya mengangguk.


Aku membawa Axel pulang ke rumah. Ku suruh seseorang untuk mengurus keperluan Axel. Setelah itu kembali menghubungi Leon dan menanyakan tentang Gio.


Gio di bawa ke kantor polisi terdekat, tak jauh dari tempat mereka tadi. Segera aku lajukan mobilku kesana.


Sampai di kantor polisi, Leon menyambutku di luar ruangan. Kami berjalan beriringan menuju ruangan dimana anak itu berada. Dia sedang duduk ketakutan di lantai, memeluk lututnya sendiri.


Setelah berbicara dengan pak polisi akhirnya Gio di bebaskan karena dia juga masih di bawah umur. Melihat kondisi dia, dan juga apa yang aku lihat tadi. Tidak salah lagi, dia memang korban kekerasan!


"Gio, ya?" Aku berjongkok di depannya. Dia hanya melirik ku takut, tapi segera menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya. "Jangan takut, saya mama Axel!" setelah mendengar ku bicara barulah dia mengangkat kepalanya dan menatapku.


"Dengar nak, apa kamu masih punya ibu?" dia diam sorot matanya penuh ketakutan.


"Axel meminta saya untuk bantu kamu. Tolong kamu. Apa kamu masih punya ibu?" dia menggelengkan kepala.


"Apa tadi ayah kamu?" tanyaku lagi, tapi tak ku sangka anak ini kemudian berteriak.


"Saya gak mau pulang sama bapak! Saya gak mau pulang sama bapak!" Lalu dia menangis. "Bapak pasti akan bunuh saya!" ku dengar dengan lirih. Begitu besar ketakutan dia pada ayahnya.


"Tenang, nak. Tenang ya. Malam ini mau kamu ikut sama saya pulang ke rumah Axel? Gak akan ada yang sakiti kamu. Saya janji!" dia menatapku. Sudut bibirnya luka, keningnya juga. Terlihat sangat menyedihkan.


Akhirnya dengan segala bujukan anak ini mau ikut juga. Aku melaporkan pada polisi tentang pemukulan anak ini, dan meminta mereka untuk mengusut dan menghukum pria kejam itu.


Selama dalam perjalanan dia hanya diam, pandangan matanya kosong menatap ke depan. Kami sampai di rumah. Gio menatap takjub ke arah tempat tinggal kami.


"Gioooo!" Axel berlari dari dalam rumah, dia berlari dengan sangat cepat ke arah kami. Lalu memeluk Gio. Axel anak yang suka kebersihan, tapi dia tidak peduli dengan keadaan Gio yang kotor dan kumal. Apakah sebesar itu kepedulian Axel pada Gio?


Axel memegang dadanya sendiri. Dia pasti terlalu shock hari ini. Tubuhnya mendadak lemas dan lalu merosot ke bawah. Segera Gio menahan tubuh Axel yang lebih kecil darinya. Aku panik, menarik Axel karena Gio terlihat kepayahan. Lalu Leon datang dan mengambil alih Axel ke dalam pelukannya. Membawa Axel ke dalam.


"Ayo ke dalam!" ku ajak dia masuk. Dia menurut.


"Axel tidak apa-apa kan, tante?" tanya Gio seraya mengiringi langkahku, ada kekhawatiran dari nada bicaranya.


"Semoga saja!" ucapku sama khawatirnya.


Axel di baringkan di kamarnya, dia terlihat sulit bernafas. Dia mengangkat tangannya dan memanggil Gio. Ku suruh Gio mendekat kesana. Bisa aku lihat dari sini senyuman Axel yang bahagia. Axel memang tidak punya banyak teman, mungkin karena itu juga dia menganggap Gio adalah temannya, mungkin lebih!


Dokter datang setelah aku menelfonnya. Dia bilang Axel hanya shock, tapi jika bisa jangan membuat dia panik atau ketakutan yang membuat dia berfikir keras, dan lalu membuat kinerja jantungnya menjadi berlebihan. Kembali mengingatkan kalau-kalau ada donor untuk Axel agar segera di lakukan. Pihak rumah sakit juga akan mengabari kalau ada donor jantung yang cocok.