DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 81



Cobaan apa lagi ini Tuhan?!


Tidak cukupkah hanya memasak saja? Dan menjadi asisten pribadi? Sekarang harus menjadi alarm juga?


Ampuni aku Tuhan kalau aku mendoakan dia hal-hal yang jahat! Dia yang menjahati aku duluan. Batin Tiara.


Gio tak peduli dengan raut wajah Tiara yang cemberut. Salah siapa dia lebih galak darinya.


Gio memakan makanannya sambil tersenyum geli.


...***...


Axel menghubungi Gio saat pria itu belum selesai dengan makanannya.


Dengan terpaksa Gio menyudahi acara sarapan kesiangannya. Dia segera pergi ke ruangan Axel.


"Ada apa?" tanya Gio sesaat setelah dirinya masuk ke dalam sana.


"Besok tolong urus proyek di kota D. Kalian pergilah. Aku tidak bisa!" ucap Axel.


Kalian?


"Maksudnya aku dan Tiara?" tunjuk Gio pada dirinya sendiri.


Axel mengangguk mantap.


"Besok aku tidak bisa. Aku harus pergi. Ada urusan!"


"Urusan apa sampai meninggalkan hal penting?" tanya Gio. Dia memikirkan pasti ini ada hubungannya dengan Renata.


"Nhatnat kecelakaan!" ucap Axel menyebut nama si kecil Nathalie, keponakan lucunya.


"What?! Kecelakaan? Bagimana bisa?" tanya Gio memekik dengan penuh rasa khawatir. Dia takut jika hal yang dulu terulang lagi. Nathalie pernah di culik dan hampir celaka, jika saja pengawal telat menyelamatkannya barang sedetik saja.


"Dia di rumah sakit. Dia bertengkar dengan temannya dan mereka berkelahi hingga Nhatnat jatuh dari tangga." terang Axel.


Gio yang mendengarnya merasa emosi.


"Bagaimana bisa dia celaka? Apa tidak ada pihak keamanan di sekolah?" tanya Gio dengan perasaan kesal.


...***...


"Sudah sana. Pergi saja. Tunggu apa lagi?" Renata mendorong pungung Axel yang berat meninggalkannya.


"Tapi aku akan lama disana, sayang." Axel merajuk bak anak kecil. Kalau bisa dia ingin membawa Renata ikut serta. Tapi mama tidak mengizinkannya. Takut jika terjadi sesuatu pada kandungan Renata.


"Axel!!" Mama berseru kesal melhat Axel yang enggan melangkah. Kalau bisa pun dia akan membawa Renata ke Paris, sekalian berlibur. Kasihan selama ini Renata hanya tinggal di rumah. Namun, dokter tidak mengizinkan Renata bepergian apalagi dengan jarak jauh yang membutuhkan lebih dari dua belas jam perjalanan.


"Kita hanya akan pergi tiga hari Axel. Bukan satu tahun!" seru mama. Ingin rasanya dia menarik telinga Axel, anak itu semakin hari semakin aneh.


"Ma, bawa Renata serta ya?" Mohon Axel.


"Kalau dokter mengizinkan tentu mama akan ajak Renata. Tidak usah kamu minta!" ucap mama.


"Axel sudah pergi saja. Nanti kamu ketinggalan pesawat!" ucap Renata.


"Pesawat tidak akan pergi kalau si empunya tidak datang!" ucap Axel.


"Ya. Ya. Memang benar. Tapi mama akan marah kalau kamu tidak segera berangkat!" Renata kesal. Dia sudah tidak aneh lagi dengan semua ini. Pesawat memang tidak akan berangkat jika si empunya tidak datang memang benar, tapi dia tidak mau di salahkan jika mereka tidak jadi berangkat. Setidaknya itu pemikiran dia.


Axel merengut di wjahnya.


"Apa aku harus melotot dulu, Xel?" Axel tersenyum geli. Renata suda bisa mengancam persis seperti mama.


"Axel!!!" Suara seruan mama kini terdengar lebih keras dan lebih tajam dari yang tadi.


"iya". Akhirnya. Jika sampai mama juga mengancam kan bisa gawat!


"Aku pergi, ya." Renata mengangguk. Axel mendekat dan mengambil Renata ke alam pelukannya. Mencium pucuk kepala Renata dengan sayang.


"Sebenarnya aku gk mau ninggalin kamu." ucap Axel.


"Cuma tiga hari aku akan tunggu." Renata tersenyum.


Axel pergi denga mama Anyelir. Renata mengelengkan kepalanya. Axel si CEO penuh wibawa, nyatanya berubah seratus delapan puluh derajat saat dia di rumah.