DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 202



"Ra, apa kau mau aku temani?" tanya Cantik saat Tiara turun dari mobil Romi. Cantik melongokkan kepalanya sedikit keluar jendela. Tiara menggelengkan kepalanya. Cantik cukup khawatir dengan keadaan Tiara.


"Tidak perlu, aku baik-baik saja. kau pulang saja dan istirahat. Trimakasih telah meengantarku, Pak!" seru Tiara pada Romi. Romi mengangguk seraya mengucapkan sama-sama.


Tiara melambaikan tangan pada Cantik dan juga Romi. Keduanya membalas lambaian tangan Tiara, Romi dan Cantik berlalu meninggalkan Tiara yang kini berdiri di depan rumahnya.


Tiara masuk ke dalam rumah. Langsung menuju ke arah kamarnya berada. Dia tidak mau bertemu dengan kakaknya, yang malah membuatnya marah.


"Ara!" panggil ibu saat Tiara hendak membuka pintu kamar.


"Ini, dari kakakmu!" Ibu mendekat dan memberikan sesuatu untuk Tiara. Tiara hanya diam menatap tangan ibu yang memegang selembar kertas di tangannya. Dari kakak, jika ibu yang memberikannya berarti pria itu...


Tiara mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tak ada orang lain disana selain dia dan juga ibu.


"Kakakmu sudah pergi!" tutur ibu yang mengerti akan arah pandang putrinya. Tiara mengambil kertas itu dari tangan ibu.


"Aku akan baca di dalam setelah mandi!" ucap Tiara sambil menerima kertas itu dari tangan ibu.


"Jangan membenci kakakmu teralu dalam, Ara. Dia juga tidak mudah menjalani kehidupannya." ucap ibu sendu. Tiara tak membantah atau menyangkal ucapan ibu, wajah ibu sudah muram, tak mungkin akan dia tambah lagi kesuraman itu.


"Aku hanya tidak suka caranya pergi meninggalkan kita!" ucap Tiara. Ibu tersenyum, mengangkat tangannya untuk mengusap pipi Tiara.


"Ibu tahu, kau sangat sayang dengan kakakmu. Ibu akan memasak. Kau mandilah." tutur ibu kemudian ibu pergi ke arah dapur.


Tiara masuk ke dalam kamarnya, menyimpan kertas itu di atas meja riasnya beserta tas yang dia pakai bekerja. Tiara lalu pergi ke arah kamar mandi.


Selesai mandi, Tiara keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia menggosoknya dengan pelan seraya berjalan ke arah tempat tidur. Tiara mengecek hpnya, satu tangan masih menggosok kepalanya. Beberapa notif tertera di layar hpnya yang menyala dengan walpaper bergambar dirinya bersama dengan Gio. Tiara menekan layar kembali menyingkirkan notif dari layar hpnya hingga kini hanya memperlihatkan dengan jelas gambaran dirinya dengan kekasih.... mantan kekasih!


"Kau benar hanya menganggapku mimpi?" Senyum Tiara kecut saat tak pernah sekalipun Gio mengirimkan pesan padanya atau hanya melakukan panggilan tak terjawab. Sekedar mised call mungkin... Ah... Tiara akan senang jika saja itu terjadi. Biar lah dia hanya sekedar iseng untuk mengecek apakah nomor Tiara masih aktif atau tidak.


"Akh... aku salah mengatakan itu hanya mimpi, harusnya aku katakan menjadi sahabatnya saja, jadi kami mungkin masih bisa mengirim kabar." ucap Tiara seraya terkekeh. Tiara menyimpan kembali hpnya di atas kasur, dia menoleh ke arah meja dimana tadi dia menyimpan surat yang diberikan ibu untuknya.


Tiara duduk di kursi di depan meja riasnya, handuk dia simpan pada sandaran kepala ranjang. Perlahan meraih kertas yang tadi dia simpan, dia buka perlahan.


*Untuk adikkku tersayang


Mata Tiara memanas membaca awal paragraf yang tertulis dengan rapi. Rasa sesak yang dia rasakan di dalam hatinya kini kembali terasa.


Dulu aku buta karena cinta. Aku juga tidak peduli dengan kalian karena lebih mementingkan seorang wanita dan melupakan kalian, dua wanita yang sangat berharga di dalam kehidupanku.


"Cihhh.... Berharga? Kalau kami berharga kau tak akan pergi meningggalkan kami!" lirih Tiara, dia biarkan air matanya meluruh melewati pipinya. Nyatanya dia merasa sakit dan marah disaat yang bersamaan.


Aku hanya ingin meminta maaf, meskipun aku tahu adikku yang cantik ini tak akan mudah memaafkan semua perlakuan dan kesalahan besarku di masa lalu.


Sekarang aku sadar. Kalian sangat berharga untukku, tapi untuk saat ini aku tidak bisa menjelaskan keadaanku. Aku hanya ingin kau tahu saja Tiara, aku sangat sayang padamu.


Maafkan karena selama ini aku meninggalkanmu dan juga ibu. Kelak jika semua permasalahanku selesai, aku akan kembali. Itupun jika kau izinkan aku untuk masuk ke dalam rumah, kalau kau tidak izinkan aku masuk aku akan tidur di teras sampai kau izinkan aku masuk ke dalam rumah, hehe...Kalau kau masih juga tidak mengizinkan aku masuk, setidaknya berikan aku bantal dan juga selimut tebal untukku, aku benci jika tidur ku tergangu oleh banyaknya nyamuk.


Aku sangat sayang padamu dan juga ibu.


Tulisan berakhir, kertas itu sudah basah dengan cairan bening yang meluncur dari mata bulat Tiara. Tiara menangis terisak, meremas kertas di tangannya dengan erat. Tiara menunduk dalam membiarkan air mata keluar ari pelupuk matanya, entah berapa banyak air mata yang akan ia keluarkan nanti, tapi dia berharap jika setelah ini rasa sesak yang ada di dalam dadanya juga ikut terbuang dengan air mata kesedihannya.


"Kalau kau punya masalah kenapa kau tidak jujur, Kak? Aku pasti akan membantumu sebisaku! Aku benci kau. Aku ini adikmu. Kenapa kau tidak mau bercerita pada kami... hiks...!"


Tiara lantas bangkit, dia berlari keluar dari kamar dan mencari ibu. Tadi ibu bilang lehidupan kakaknya juga tidak mudah, mungkinkah ibu tahu apa yang sedang terjadi pada kakaknya?


"Hei kamu kenapa, Ra?" tanya ibu saat Tiara tiba2 saja menghambur memeluk ibu dari belakang. Ibu mengangkat kedua tangannya ke atas menghindari wajan panas yang ada di atas kompor.


"Maafkan aku, Bu. Maaf!" ucap Tiara lirih. Tiara terisak masih memeluk ibu malah semakin kencang.


"Kamu itu kenapa?" tanya ibu yang kini bingung, Tiara menarik dirinya. Ibu memutar tubuhnya menghadap ke arah anak gadisnya yang menagis tanpa sebab.


"Apa kakak cerita? Apa dia bilang punya masalah?" tanya Tiara sembari sesegukan. Ibu tersenyum, semarah dan se-benci Tiara pada kakaknya tapi Tiara masih sangat menyayangi Ridwan.


Ibu menggelengkan kepalanya.


"Ridwan tidak cerita apapun, tapi ibu merasa kalau kali ini dia tidak berbohong atau ingin menipu kita. Kali ini, Ibu percaya pada kakakmu. Ibu mohon Ra. Cobalah untuk tidak membenci dia ya?" pinta ibu pada Tiara. Tiara mengangguk, dia merasa... entah lah. Dia ingin tidak percaya, masih membenci kakaknya, tapi dia juga bukan wanita yang kejam yang akan tertawa jika sang kakak sedang dalam kesusahan.