DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 108



Semua persyaratan menikah sudah selesai. Axel dan Renata akan menikah tiga hari lagi. Terhitung dari saat pembicaraan malam itu, waktu sepuluh hari terasa sangat lama olehnya.


Sebenarnya Axel tak ingin selama itu, tapi dia menurut saja dengan apa yang mama dan Renata katakan, setidaknya mama ingin Renata tampil tak biasa di hari bersejarahnya itu, mama dan Ibu Melati tengah mempersiapkan gaun yang di buat khusus untuk Renata, untuk ibu hamil supaya dia nyaman dengan pakaian itu. Dia harus menunggu dengan sabar. Lagi...


Dia juga harus mengerti dengan mood ibu hamil yang up n down. Tak bisa diprediksi. Tapi tak apa, demi kebahagiaan yang sebentar lagi mereka raih.


Hari ini Axel bersiap untuk ke kantor, rencana ingin membawa Renata ke toko perhiasan untuk membeli cincin, terpaksa harus ia batalkan. Pertemuan penting dengan klien tak bisa ia alihkan pada Gio seorang.


Mereka sedang sarapan bersama, tanpa papa dan Gio. Papa sedang sibuk di luar kota sedangkan Gio dia ada di apartemennya.


"Hari ini tolong mama temani Renata. Carikan cincin untuk Renata ya, Ma. Aku ada pertemuan penting, gak tahu akan selesai di jam berapa. Harus meninjau pabrik lain juga. Maaf, ya Re." sesal Axel pada calon istrinya.


Kecewa memang, tapi mau bagaimana lagi. Dia harus tahu dengan posisi Axel yang penting. Memegang tampuk kekuasaan dan memimpin beribu-ribu karyawan, tak mudah untuk Axel seorang, meski ada Gio yang membantunya. Dia tak boleh egois.


"Tidak apa-apa, kan?" tanya Axel pada Renata saat gadis itu hanya diam tak menjawab.


"Iya. Tidak apa-apa. Aku dengan Mama saja." pasrah dengan keadaan. Dia memasukkan sandwich ke dalam mulutnya dengan tak berselera.


Axel merasa bersalah melihat perubahan di raut wajah calon istrinya. Tapi mau bagaimana lagi, ini pertemuan penting yang sudah ia rencanakan jauh-jauh hari sebelumnya.


Axel pergi ke kantor sedang kan mama dan Renata kembali pada aktifitasnya masing-masing. Apalagi aktifitas Renata? Dia hanya duduk, berbaring di kamar, menemani mama berkebun, menonton tv. Membosankan!


Dia merasa badannya sakit karena sekarang tak banyak bekerja dan bergerak seperti dulu. Semua orang melarang dia memegang pekerjaan apapun itu. Bahkan untuk sekedar membuat kopi atau teh dia tak bisa. Ada maid yang selalu siap ada untuk melayaninya.


Renata sedang berjemur di bawah sinar matahari pagi. Hanya ini aktifitas yang tak bisa di larang oleh yang lain. Dan hanya ini yang bisa membuatnya berkeringat setiap pagi.


Mama datang dan mendekat ke arah Renata, sudah siap dengan baju kasualnya lengkap dengan tas tangan yang di bawanya. Rambutnya tergerai indah sebatas bahu. Di usianya yang sudah hampir memasuki setengah abad, mama masih terlihat cantik, bahkan tak akan ada yang mengira kalau dia sudah mempunyai cucu.


"Re. Mama ada perlu keluar sebentar. Kamu tidak apa-apa kan mama tinggal?" tanya Mama.


"Mau kemana, Ma?" tanya Renata, dia bangkit dari bangku panjang dan beralih ke tempat teduh. Sudah hampir satu jam dia berjemur, sudah cukup lah untuk membuat dia berkeringat.


"Mama ada perlu dengan Ibu Melati. Nanti siang juga Mama pulang." terang mama. Renata mengangguk mengiyakan.


"Jangan lupa makan dan vitaminnya juga ya. Mama akan tahu kalau vitamin penambah darah tidak kamu minum!" tunjuk mama di depan hidung Renata. Anak bandel. Berkali-kali terpergok sedang menyembunyikan vitamin itu di bawah bantalnya. Benda kecil berwarna merah itu membuatnya mual setiap kali memakannya.


Renata tertawa dengan malu. "Iya, Ma. Aku akan makan obatnya semua. Mama bisa tanya nanti sama maid." janjinya.


"Ya sudah, mama pergi sekarang ya." pamit mama. Renata mengangguk dan mengantar kepergian mama ke arah pintu depan.


Setelah mama pergi bersama sopir, Renata masuk kedalam kamarnya untuk mandi beristirahat sebentar. Menurunkan suhu tubuhnya sebelum dia terkena guyuran air dingin.


Dia membuka pesan di hpnya. Hanya ada beberapa pesan dari orang yang sama. Siapa lagi kalau bukan Axel?


Renata membaca pesan itu. Dia tersenyum membaca deretan huruf-huruf yang ada disana serta emoji hati dan juga cium jarak jauh.


Ya ampun... kangen? Baru juga bertemu dua jam yang lalu. Renata tertawa lalu membaca pesan selanjutnya, dan membalas pesan Axel. Ya.. Begitulah keseharian Renata kini.


Renata selesai dengan acara mandinya. Dia keluar dari rumah, berjalan-jalan sebentar melemaskan otot kaki jangan sampai hidup enak disini, membuat dirinya malas bergerak.


"Mbak Renata mau kemana?" tanya maid yang sedang menyirami tanaman di taman depan rumah.


Renata menatap ke arah luar, ada seorang kakek penjual rujak tumbuk sedang melayani pembeli. Dia dengan cekatan menumbuk buah-buahan, dua orang wanita sedang menunggu pesanan mereka di buatkan oleh si kakek.


Renata berdecap saat melihat si kakek sedang menaruh hasil buatannya ke dalam sebuah gelas plastik. Warna warni buah yang telah hancur begitu cantik terlihat disana. Air liur Renata seketika hampir mengalir keluar seandainya dia tidak segera menelannya.


Renata bangkit dan berjalan ke arah pintu gerbang. tangannya sudah siap membuka pintu kecil di samping pos penjagaan.


"Anda mau kemana, Nona?" tanya penjaga yang datang menghampirinya.


"Mau keluar sebentar. Beli itu." tunjuk Renata ke arah tempat si kakek.


"Sebaiknya jangan. Kita tidak tahu apa yang di buat kakek itu!" penjaga melarang keinginan Renata.


"Itu cuma rujak tumbuk, aku mau!" Renata mulai kesal. Cukup dirinya di awasi selama dia ada didalam rumah ini, masa ingin rujak saja tidak boleh.


"Iya tapi kita tidak tahu apakah itu higienis atau tidak, dan sepertinya itu jauh dari kata higienis." ucapnya lagi melirik ke arah tempat tumbukan yang terdapat sisa buah-buah yang hancur. "Dia tidak mencucinya setelah membuatnya, dan lagi banyak debu jalanan. Kotor!"


Renata ingin marah, orang ini tidak pernah hidup dalam kesusahan sepertinya hingga mungkin saja setiap makanan yang terkena debu bisa membuatnya sakit perut. Dia mendengkus kesal. Jika sudah seperti ini dia sudah pasti tidak akan mendapatkan apa yang dia mau. Hanya ada stu jalan...


"Apa kamu tidak kasihan dengan anakku? Dia yang mau bukan aku. Bagaimana kalau setelah anak ini lahir dia ileran. Siapa yang akan disalahkan? Kamu?" tanya Renata dengan nada sedihnya. Penjaga itu memutar bola mata malas, bukan cuma kali ini nonanya melakukan trik memelas semacam ini, membawa anaknya yang masih ada di dalam kandungannya pula. Apalagi itu.... Wajah yang di buat sedih dan semerana mungkin.


Haiss.... Semenjak mengandung nonanya ini jadi tukang mengadu. Bukan tidak mungkin kalau nanti sore atau malam nanti dia akan dipangil oleh tuan mudanya yang kini berubah bawel semenjak kehadiran gadis ini.


"Oke. Biar saya belikan!" akhirnya pria bertubuh jangkung gede itu menawarkan diri. Mengalah lebih baik daripada mendengar drama dari seorang ibu hamil yang tak pernah mau kalah.


"Tidak mau. Aku kan keluar dan beli sendiri."


Mendebat lagi? Tidak. Lebih baik ikuti saja apa maunya dia. Dia hanya bawahan, mendukung salah, mendebat juga salah. Jika dia mendukung nona muda, dia pasti hanya akan di omeli tuan muda karena mengizinkannya jajan sembarangan, tapi kalau mendebat... dia salah pada semuanya, di marahi nona muda dan di omeli tuan muda karena tidak menuruti permintaannya. So pilihannya... izinkan saja lah. Toh ada cara lain untuk bisa membuat makanan itu higienis. Dia bisa meminta si kakek mencucinya terlebih dahulu.


Hemm... begitu saja!


Pria itu mengangguk, "Akan saya temani!" Renata menghembuskan nafasnya dengan kasar, pasrah. Masuk di keluarga ini membuatnya seperti tahanan yang harus dijaga. Mungkin juga karena apa yang sudah pernah ia alami beberapa bulan lalu.


"Oke." ucap Renata pada akhirnya. Terserahlah, yang penting rujak!


Dia tersenyum dengan senang.


Renata dan dua penjaga keluar dari dalam sana. Satu orang menahan laju mobil untuk mereka melintas, sedangkan seorang lagi berjalan di belakang Renata.


Beberapa orang menatap mereka heran, pasalnya seorang gadis dikawal oleh dua orang pria berbadan tinggi gede. Bertanya-tanya siapakah gadis ini? Anak menteri kah? Jika anak presiden tentu mreka tahu karena sering melihatnya di tv.


Si kakek melihat dengan takut ke arah tiga orang yang baru saja datang mendekat ke arahnya. Dia takut jika kehadirannya membuat yang lain terganggu dan akhirnya diusir seperti kejadian yang sering ia alami.


Si kakek ketakutan segera membereskan dagangannya. Bodyguard yang tahu akan ketakutan kakek meminta Renata dan satu pengawal lain untuk menunggu. Dia segera berlari dengan cepat kesana, berbicara pada kakek entah apa sehingga kakek kemudian mengangguk dan ikut dengan dia.


Renata tersenyum senang dengan kedatangan dua orang itu.


DOR!!!


"AAkkhhh!!!"