
Tiara memandang wajahnya di cermin. bulir-bulir air yang membasahi wajahnya jatuh ke bawah. Dia setengah membungkuk, menopangkan jedua tangannya pada tepian watafel. Dadanya bergemuruh, rasa tak suka dan rsasa sakit terasa disana di dalam hatinya.
Kenapa aku terlalu pede dia akan mengklaimku? Apa yang aku fikirkan? Tentu dia adalah orang egois yang tidak ingin seseorang mengganggu miliknya. Aku hanyalah asisten. Aku hanyalah bawahan yang bisa ia suruh senak jidat! Kenapa aku bisa berharap sesuatu yang lebih darinya?monolog Tiara dalam hati.
Dia benar-benar harus membentengi dirinya dari perasaaan yang tak jelas. Sekarang saja dirinya sudah mersasa sakit hati, apalagi nanti? Dia siapa bagi Gio. Lancangsekali jika mengira Gio akan memberi perhatian lebih!
Asisten! Ingat Tiara kamu hanya ASISTEN!
Tiara mengeringkan wajahnya dengan tisu. Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar, hingga kedua pipinya menggembung. Dia mempersiapkan diri untuk kemballi lagi ke dalam restoran.
"Sudah selesai?" tanya Ken saat Tiara mendudukkan dirinya kembali di temptnya.
"Sudah." ucap Tiara. Dia melirik Gio yang berwajah datar tanpa ekspresi. Salah, semua salah memangnya dia berharap apa? Gio akan bertanya kenapa dia bisa selama ini?
Ken menangkap arah pandang Tiara. Gadis itu terlihat sedikit berbeda. Terlihat dengan jelas dari sorot matanya kalau gadis itu sedang merasakan hal yang lain.
"Kalau begitu ayo makan, ini sudah lebih dari jam makan siang. Kasihan sekali kamu. Kalau saja aku butuh asisten pasti aku akan minta kamu beralih saja jadi asisten ku. Bos mu ini bagaimana, kasih makan siang asisten sampai telat begini!?" Ken melirik jam di tangannya yang kini menunjukkan angka hampir jam dua.
Gio mendecih sebal, bukannya dia tak mau ajak Tiara makan tepat waktu, tapi gadis itu yang terus bilang nanti dan nanti karena ada ini dan itu kperluan yang belum di beli.
"Em... Mas Ken, sebenarnya dari tadi Pak Gio juga sudah mengajakku makan siang, tapi tadi urusan kami belum selesai. Jadi kami baru sempat makan siang." ucap Tiara.
"Urusan? Kalian sudah bertemu klien? Di hari minggu?" tanya Ken. Sungguh tak biasanya ada pertemuan di akhir pekan. Meski dia hanya seorang dokter tapi rasanya pertemuan dengan klien di hari minggu rasanya tak mungkin!
"Bukan klien, tapi urusan lain." jawab Tiara.
"Urusan apa? Apa kalian berkencan?" tatapan Ken menyelidik, baru sadar dengan pakaian mereka yang terlihat santai.
"Bukan. Ini urusan lain. Bukan klien ataupun pribadi. Hanya kami ada perlu saja berdua." Apa yang mau di katakan lagi? Tiara bingung jika Kenzo sudah mencercanya dengan pertanyaan.
"Urusan apa sih? Aku jadi penasaran!" Ken menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Ya justru itu aku bertanya. Kalian disini berdua, bukan urusan dengan klien, bukan juga berkencan. Hanya ada perlu berdua...." Ken mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah lalu menunjuk mereka berdua bergantian.
"Apa yang sedang kami lakukan bukan urusanmu!" ucp Gio ketus. Rasanya dia sudah kehilangan selera makannya karena si bawel Kenzo.
Tiara yang merasa mulai tak enak dengan keadaan ini, segera melerai pertengkaran keduanya. Dia tahu jelas sifat kedua pria ini. Sama-sama keras kepala. Dia heran, bagaimana bisa mereka bersahabat tapi keduanya bagai kucing dan tikus!
"Sudah, jangan bertengkar terus kalian ini katanya sahabat, tapi bertengkar terus!"
"Dia yang memulai!" tunjuk Gio masih dalam mode duduk santainya.
"Aku?" Ken menunjuk dirinya senidiri. "Perasaan aku bersikap baik, tidak memulai atau memancing pertengkaran. Kau saja Tuan Sensitif yang tak bisa di ajak berbasa basi!"
Brakk!
Tiara bangkit menggebrak meja dengan keras. Beberapa pengunjung yang ada disana menatap ke arah meja mereka dengan heran.
Gio dan Ken mentap heran Tiara, tak biasanya gadis ini bersikap seperti ini.
"Kalian lanjutkan saja. Aku pergi!" ucap Tiara dengan nada dingin. Bahkan Gio sampai tak percaya gadis itu bisa bersikap seperti itu.
Tanpa menunggu Ken dan Gio bertanya, Tiara segera mengambil tasnya dan berjalan menuju keluar.
Gio manghembuskan nafas kasar, begitu juga dengan Ken, dia menyimpan sendoknya. Mereka saling berpandangan tanpa berkata apa-apa.
"Ini salahmu!" ucap Gio.
"Kau juga salah!"