
Gio keluar dari kamar. Dia sudah mengganti baju dan celana pendek. Dilihatnya Tiara sedang membereskan dapur yang kacau karena ulahnya.
"Ini!" Gio menyodorkan baju kering untuk Tiara. Dia kasihan juga jika membiarkan gadis itu dengan baju basahnya.
"Sana, pergi ke kamar dan ganti baju kamu!" titah Gio.
"Eh... Tidak usah, biar ini saja. Nanti juga kering." tolaknya, dia menyodorkan kembali baju itu pada Gio.
"Kamu mau masuk angin? Cepat ganti. Aku gak mau kamu sakit setelah pulang dari tempatku!"
Tiara terdiam, Apa dia sedang mengkhawatirkanku?
"Cepat ganti. Aku gak mau asistenku sakit dan tidak bisa membantuku di kantor besok."
Hehhh aku kira dia perhatian dengan aku. Tetep saja dia hanya anggap aku asisten! Apa yang aku fikirkan? Aku ini ngelunjak sekali. Apa aku berfikir untuk dia anggap lebih? Sadar Tiara, dia itu langit dan kamu itu bumi! Tiara bermonolog sendiri.
"Iya!" Tiara mengambil baju dari tangan Gio, dia juga melihat celana pendek yang ada di bawahnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Ini pendek sekali, bahkan sepertinya hanya menutupi sampai di pangka pahanya saja.
"Celana training ku kotor, cuma ada itu." seakan tahu apa yang Tiara fikirkan. Tiara terdiam dan berfikir.
Ya masih mending lah daripada celana basah ini. batin Tiara.
"Apa yang di dalam basah?" Tiara menoleh pada Gio. Ucapan Gio seperti mengandung ambigu baginya.
"Apa maksud Bapak?" tanya Tiara dengan kalimat tak jelas tersebut. Matanya melotot tak suka.
"Dasar mesum!" Desisnya.
"Loh kok mesum?" Gio bingung kenapa dia bisa di bilang mesum? Apa perkatannya salah?
"Aku cuma mau tanya apa dalaman kamu basah? kau basah aku akan suruh seseorang membelikannya dan membawakannya kemari." ucap Gio.
Meski sekarang kelimat nya sudah jelas, tapi Tiara tetap saja tak suka dengan kalimat pertama tadi.
Mesum!
"Tidak perlu! Rasanya tidak basah-basah amat! Makanya lain kali kalau bicara itu yang jelas! Jangan setegah-setengah!" ucap Tiara ketus. Dia melengos melewati Gio meuju ke arah kamar.
"Gio menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Memang kalimatku membingungkan dia gitu?" bergumam pelan lalu kembali melanjutkan pekerjannya, mencuci wadah kotor.
"Masa mau pakai ini?" Tiara bergumam saat menatap dirinya di cermin. Kaos putih milik Gio sangat kebesaran di badannya yang kecil, celana pendek yang ia pakai juga sampai tak terlihat.
'Apa ini tidak terlalu kependekan?' Dia mengangkat bawah baju Gio, melihat celana pendek yang ia pakai, memang hanya sampai pangkal pahanya lebih panjang sedikit.
"Apa tidak apa-apa aku keluar pakai ini?" gumamnya pelan. Dia memutar dirinya ke kanan dan ke kiri, melihat dari cermin.
"Ah biar pendek, tapi kan tertutup baju!"
"Besar sekali tubuh dia, sampai bajunya aku pakai jadi seperti ini. Tenggelam! Hihi..." dia tersenyum sendiri, sambil menarik kedua sisi baju di bagian samping, menggerakkanya seperti sedang mengepakkan sayap.
Tiara memegangi kedua pipinya dengan kedua telapak tangan. Wajahnya memerah mengingat Gio yang tadi dengan coolnya membuka baju di depannya. Uuuummmm.... So sexy...
Ih apa yang kau fikirkan Tiara??!!!
Tiara segera keluar dari dalam kamar Gio, ingat jika masih banyak tugas yang harus dia kerjakan. Dia membuka pintu balkon dan menjemur pakaian basah nya pada gantungan baju yang ada luar. Jika matahari bersinar terik, maka siangpun pastinya baju Tiara sudah kering.
Gio masih sibuk dengan pekerjaannya saat Tiara kembali masuk dan mendekat ke arahnya, dia mengambil alat pel untuk mengeringkan lantai yang masih basah. Jika tak cepat di keringkan, bisa saja akan ada yang terpeleset dan luka.
"Tolong minggir!" pinta Tiara. Gio menggeserkan tubuhnya sedikit ke samping memberikan ruang untuk Tiara yang sedikit membungkuk mengepel lantai.
"Awas!" Ucap Tiara lagi beralih ke sisi bagian lain. Tanpa banyak bicara Gio mengangkat satu kakinya dan bergeser ka arah sebaliknya.
Mencuci wadah kotor sudah selesai.
"Kalau sudah dicuci, dilap pakai serbet!" titah Tiara tanpa menoleh.
"Iya!"
"Wadah yang gosong jangan lupa di sikat pakai kawat. Gak baik kalau wadah gosong gak sampai bersih, bisa menyebabkan kanker!" Tiara masih mengepel di belakang Gio.
"Oke!" jawab Gio, dia mengambil serbet bersih dan mulai mengeringkan wadah. Setelah itu dia juga mengurus wajan yang gosong karena ulahnya. Dia menggosoknya dengan kuat, hanya sedikit noda yang ia bisa singkirkan. Sulit sekali.
"Tiara ini gimana, tidak bis...." Gio berbalik dengan wajan dan penuh sabun di tangannya. Dia terdiam saat melihat punggung Tiara. Tidak, bukan hanya punggung, tapi coba lihat ke arah bawah sana juga. Paha Tiara putih mulus, indah.
Glek....
Sulit menelan saliva. Tak sangka kalau ternyata Tiara.... Ah tubuh rata, kurus, kecil itu... ternyata seksi juga dengan pakaian miliknya.
Tiara menoleh dengan memegang alat pel di tangannya.
"Ada apa?" tanya Tiara.
Gerakan menoleh Tiara serasa slowmotion di mata Gio, poninya bergerak dengan lambat, membuat semua gerakan yang ada pada Tiara menjadi indah.
Ini siang hari, tapi kenapa begitu banyak bintang berterbangan di sekitar Tiara? Bintang dan bunga-bunga bergantian melayang-layang mengitari dirinya, dia juga terlihat bersinar, seperti bulan yang menyinari malam hari yang pekat. Indah sekali...
"Pak.. Pak Gio? Ada apa?" tanya Tiara dia melambaikan telapak tangannya di depan wajah Gio. Gio tersadar. Dia terbangun dari lamunan indahnya. Sial!
"Bapak melamun?" tanyanya lagi.
"Tidak, tidak ada!" jawab Gio. "Aku... aku tidak bisa membersihkan ini. Susah!" Gio menyimpan wajan itu dengan kesal di atas wastafel. Tangannya sudah pegal menggosokya, dan nodanya tak kunjung juga menghilang.
"Nih. Teruskan mengepel! Itu biar aku yang urus!" alat pel seketika berpindah tangan pada Gio. Tiara mengurus wajan yang gosong.
Susah payah dia menggosoknya, dan memang benar saja sulit. Entah bahan apa yang pria itu pakai sampai-sampai wajan ini lengket dan berkerak. Tiara sampai mengeluarkan peluh dari keningnya. Berkali-kali dia mengusap keringatnya,dan hal itu tak lepas dari pandangan Gio.
Gio duduk di kursi, dia menopang dagunya dengan telapak tangan, satu tanga yang lain terlipat di atas meja. Mungkin begini rasanya kalau dia memiliki istri, melihat semua yang dia kerjakan sambil tersenyum-senyum seperti ini. Ahh... Pastinya hari-harinya aka indah dari mulai dia bangun tidur sampai akan tidur lagi. Bahkan mungkin saat tidurpun dia akan bermimipi dengan indah juga.