
Gio sudah sampai di kediaman Aditama. Dia berjalan dengan tenang ke dalam rumah yang kini terlihat tak menyenangkan seperti sebelumnya. Ucapan mama tadi membuatnya ingin marah, tapi kembali teringat dengan ucapan Tiara.
"Jangan jadi anak durhaka G. Surga memang ada di telapak kaki ibu. Meski Nyonya Anyelir bukan ibu kandungmu tapi kasih sayang dia melebihi ibu kandungmu, kan? carilah surgamu dalam ridhonya. Jika kau tak mendapatkan rido dari nyonya lalu bagaimana hidupmu akan berjaya?"
Bukan kejayaan yang Gio inginkan, dia hanya tak ingin jadi anak durhaka untuk seseorang yang sudah membesarkannya dan memberikan kasih sayangnya dengan suka rela.
"Kau pulang G?" mama menyambut kedatangan Gio dengan senyuman. Kedua tangannya terulur untuk menyambut kedatangan Gio. Gio mendekat dan memeluk mama dengan penuh rasa sayang. Rasa sayang Gio pada mama memang lebih besar dari rasa marahnya.
"Aku pulang, Ma." memeluk mama dengan sangat erat. Mama tersenyum, mengusap punggung Gio dengan pelan.
"Kau baik-baik saja G?" tanya mama. Gio menarik tubuhnya ke belakang dan mengangguk samar, sedikit senyuman di bibirnya untuk mama.
"Kau istirahatlah. Mama tahu kau pasti lelah kan?" Gio kali ini mengangguk. Perhatian mama memang tak pernah di ragukan. Gio harus berteima kasih pada Tuhan karena telah mengirimkan Tiara sebagai bidadari terindah yang pernah Tuhan kirimkan untuknya. Jika mungkin gadis lain akan egois untuk meminta Gio hanya ada untuknya, tapi berbeda dengan Tiara. Dia sama sekali tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Terbukti dengan dia ingin putus saat itu hanya karena tak enak hati dengan Lea. dan saat ini dia meminta Gio menganggap ini mimpi hanya karena permintaan mama.
Gio berbaring di kamarnya. Dia hanya menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Sesekali menatap hp yang ada di tangannya.
Titt...
Satu notif terdengar. Gio melihat si pengirim pesan itu. Heru. Dia mengabarkan jika Tiara sudah sampai di rumah dengan selamat. Gio menghela nafas dengan lega. Dia memang tak ada di dekat gadis itu, tapi setidaknya dia akan mengirim satu atau dua orang untuk memantau keadaan Tiara selama dirinya tak ada nanti.
Tiara tak meminta dirinya menjanjikan hal itu, dan dia akan senang hati menjaga wanitanya meski bukan dengan tangannya sendiri.
...***...
Tiara telah sampai di rumah. Dia segera masuk ke dalam kamarnya. Tubuhnya sangat lelah sekarang. Beruntung ibu masih belum pulang ke rumah jadi dia tak akan membuat ibu khawatir, dia akan beralasan saja jika dirinya sakit badan dan izin pulang dengan cepat.
Ingat dengan apa yang terjadi tadi, tapi tak ingin dia menangis lagi, baiknya jika Tiara mandi saja, mungkin dengan mandi dia akan sedikit rileks dan juga segar pikirannya. Seperti apa yang tadi dia katakan pada Gio, baiknya dia anggap ini hanya mimpi saja dan mimpi itu akan terlupakan saat dia bangun, atau dia akan tidur saja lagi supaya tergantikan dengan mimpi yang lain.
Tiara berjalan ke arah kamar mandi. Satu persatu Tiara melepas bajunya dan dia lemparkan ke dalam keranjang cucian. Masuk ke dalam bathtub yang sudah tadi dia isi air.
Satu kakinya masuk ke dalam bathtub, di susul dengan satu kaki yang lain. Berendam dengan air hangat memang membuatnya sedikit rileks, tapi ini bukan mimpi, dan ini tak akan pernah ia anggap mimpi. Semua yang ada di hadapannya kini real. Rumah ini menjadi bukti jika dia dan Gio tak hanya bisa di anggap sebagai mimpi semata.
Tiara menekuk kakinya, dan menenggelamkan wajahnya ke dalam air. Dia ingin menghapus semuanya. Semua yang pernah ia lakukan, semua yang pernah ia alami, dan semua yang pernah ia dapatkan.... jika baju bisa ia buang tapi bagaimana dengan rumah ini?
"Haaappp... hahh... haah..." Tiara bangkit setelah merasakan nafasnya yang sesak. Keluar dari dalam air. Riak air yang bergerak kini meluber keluar dari dalam bathub.
Cukup dengan mandinya, nyatanya bayangan yang hanya mimpi ini memang tak mudah untuk dia lupakan.
"Tiara!" Suara ibu memanggil dari luar, tepat setelah Tiara memakai bajunya.
"Kamu sudah pulang?" teriak ibu lagi.
Tiara keluar dari kamar sambil menggosokkan handuk di kepalanya.
"Sudah, Bu."
"Tumben sudah pulang ini masih siang. Apa kamu sakit?" tanya ibu dengan khawatir mendekat ke arah putrinya.
"Tadi haya sedikit pusing, Ara izin pulang karena juga tak ada kerjaan yang mendesak di kantor, Bu." ucap Tiara. Ibu menatap Tiara dengan heran. Pusing tapi anak ini bisa mandi dan keramas? Dan lagi mata sembab ini...
"Ya sudah, kamu sudah makan?" tanya ibu. Tiara menggelengkan kepalanya.
"Siang ini aku saja yang masak, ibu tunggu saja dan bersantai ya." Tiara dengan riangnya masuk ke dalam kamar, lalu kembali keluar sambil menjepit rambutnya tinggi-tinggi. Ibu menatap Tiara dengan heran, memperhatikan punggung Tiara yang terus saja berjalan ke arah dapur.
Ibu mengikuti Tiara ke dapur minimalis. Dia masih memperhatikan Tiara dengan bingung. Pulang siang, dan mandi keramas... Pandangannya ia tujukan ke bawah. Tapi dia tak bisa menarik kesimpulan. Tiara berjalan tanpa hambatan. Ibu mengelengkan kepalanya. Untuk apa dia punya pemikiran seperti ini? tak mungkin juga jika Tiara melakukan hal di luar batasan dengan Gio.
"Ibu kenapa berdiri? Duduk saja ibu di sini, dan biarkan aku yang akan memasak siang ini. Aku akan menggoreng ikan dan juga membuat sambal. Selada masih ada di kulkas kan bu?" Tiara bertanya seraya menarik kursi untuk ibu duduk. Ibu merendahkan diri untuk duduk dan mengangguk.
"Masih ada sedikit, tapi ibu lupa gak beli terasi!" ucap ibu mencoba untuk bersikap tenang.
"Yang ada saja, Ara mau makan ikan goreng dan buat sambel kok! Ibu tunggu sebentar ya." Tiara kembali ke depan kompor dan mulai mengolah ikan yang tadi sudah dia ambil dari dalam kulkas.
Daripada memikirkan yang tidak-tidak, Bukankah seharusnya dia melakukan sesuatu hal yang positif saja?
Ibu dan Tiara makan beruda dengan diam, ibu masih Memperhatikan Tiara yang makan dengan lahap, sambal yang di buat Tiara teramat sangat pedas, ibu cukup menyesal mengambil sambal itu cukup banyak, tak akan sanggup untuk dia habiskan. Tapi Tiara... dia makan seperti tak merasakan pedas itu, dia mengambil lagi dan lagi. Porsi makannya berali-kali lipat dari sebelumnya.
"Kamu baik-baik saja kan Ra?" tanya ibu sebelum memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
''Baik kok Bu. Ini enak bu, ayo makan lagi!" Tiara mengalihkan satu ikan goreng lagi ke atas piring ibu. Dia tak ingin bnayak bicara, hanya ingin menikmati hasil masakannya.
"Emhhh, ini enak bu. Pedes!" berseru sambil menyeka keringat di keningnya.
Hati seorang ibu, ini pasti ada yang tak beres dengan putrinya. ***** makan Tara akan bertambah jika dia ada masalah.
...*...
"Ra, bisa kita bicara?" Ibu bertanya saat Tiara sedang meluncur di medsos, dia sudah mulai mencari info lowongan kerja.
Tiara bangkit duduk lalu memangku bantal yang tadi dia pakai.
"Jujur sama ibu, apa yang terjadi?" ibu menatap dengan tajam ke arah putrinya.
"Apa?" Tiara berpura-pura tak mengerti, dia memilih tak bersinggungan tatapan matanya dengan ibu.
"Ra, kau ini anak ibu, tidak bisakah kau cerita sedikit dengan masalah kamu?"
"Aku gak ada masalah. Ibu ini bicara apa?" Tiara tersenyum mencoba tak membuat ibunya semakin khawatir.
"Dua puluh empat tahun! Selama itu ibu hidup dengan kau, Nak. Ibu tahu kalau kamu sedang dalam keadan tidak baik-baik saja. Sini..." ibu mengulurkan kedua tangannya pada Tiara yang hanya terdiam.
"Ibu peluk kamu, Nak. Sini!" mengangguk memberi isyarat untuk mendekat.
Tiara sudah hilang air matanya sedari tadi, tapi uluran tangan ibu dan juga senyuman ibu yang penuh kekhawatiran membuat dirinya kembali di rundung nestapa.
Tiara menahan napasnya yang naik urun kembang kempis.
"Huaaa..... Ibu.... Gio pergi, Bu..." Tiara menghambur ke pelukan ibunya, dia tak peduli lagi dengan segala hal, menganggap Gio hanya mimpi semata itu benar-benar impossible!
"Nyonya...hiks... Nyonya... Nyonya tak merestui hubunganku dengan Gio, dan dia... hikss... hiksss... Gio akan pergi ke Kalimantan, Bu! Huuu.... " Tiara menangis tersedu di pelukan ibunya. Dia sampai sesenggukan karena tak bisa menahan lagi segala rasa kesedihan yang ada di dalam dirinya. Ibu mengusap pundak dan mencium kepala Tiara dengan sayang.
Di tepuknya bahu itu dengan perlahan mencoba memberikan kekuatan dan ketabahan kepada Tiara.
"Aku dipecat, dan aku juga tak direstui, bagaimana ini... Huu..." Tiara tetap menangis. Dia tak bisa menahan diri dan juga menahan tangisnya. Apalagi ingat dengan Gio yang tadi menangis di pelukannya. Rapuhnya pria itu menjadi rapuhnya sekarang.
"Sudah, sudah. Semua akan baik-baik saja. Tenang ya. tenang!" Ibu masih menepuk bahu Tiara.
"Apa salahku, Bu. Hu... aku baru kali ini mendapatkan pria yang baik seperti Gio dan dia juga pengertian, dia juga tampan meski terkadang galak. Tapi aku sayang dengan dia Bu... AKu cinta dengan dia... Nyonya...hiks.. hikss.. Nyonya jahat... haa....!" Meracau dan tak peduli dengan senyum geli di wajah ibu. Jarang sekali putrinya mengatakan seorang pria tampan, tapi sayang sekali,... kalau memang bukan jodoh ya mau bagaimana lagi...
"Sudah tenang ya, kalau kalian gak jodoh ya lantas mau bagaimana? Nanti pasti akan ada ganti terbaik, bahkan seribu kali yang terbaik dari Gio."
"Ibu jahat! bukankah ibu juga senang dengan dia? Ingin dia jadi menantu ibu kan?"
"Lalu ibu harus bagaimana?" Ibu menjauhkan dirinya dan mengambil tisu untuk menyusut hidung Tiara yang basah.
"Aku tak tahu... huu... sakit, bu...sakit!' tiara menekan dadaya yang sesak.
Ibu kembali mengambil Tiara ke dalam pelukannya.
...*...
Tiara sudah tenang dalam dekapan ibu, bahkan gadis itu kini tertidur dengan pulas. Terjawab sudah pertanyaan ibu tadi yang ada di dalam benaknya. Ternyata putrinya tengah patah hati, memang itu bukan keinginan Gio. Pria itu hanya menurut dengan ucapan ibunya.
"Semoga selajutya akan ada kebahagiaan untuk kamu, Nak. Doa ibu selalu menyertai kamu!" Mencium kening Tiara dengan sayang. Tiara tak terusik sama sekali dalam tidurnya, dia teralu lelah hari ini, dan terlalu banyak menangis.
...*...
"Nona Tiara baru saja tidur, Tuan!" lapor Heru yang masih memata-matai Tiara dengan teropong dan juga hp yang menempel di telinganya.
"Kau mematai wanitaku di kamarnya?" Berang Gio di seberang telpon.
"Iya, Tuan!" jawab Heru dia masih memantau kedaadaan di dalam kamar itu. "Nona Tiara tidur dengan ibu, dan beliau baru saja keluar dari dalam kamar nona Tiara." lapornya lagi.
"Sialan kau! Tak perlu sampai mengintip Tiara seperti itu, aku kan hanya ingin kau pastikan dia aman dan juga baik-baik saja! Kenapa kau mengintip dia?" Gio dengan nada kesal ingin menarik mundur Heru yang tengah menikmati pemandangat putri tidur milik gio.
"Maaf, Tuan. Bukankah anda bilang saya harus pantau dimanapun nona berada?" Heru dengan cuek berkata membenarkan apa yang di perintahkan Gio padanya tadi.
"Haisss... Dasar mata keranjang! Jangan kamar juga yang kau intai. Cukup intai dia dari luar rumah dan awasi gerak geriknya ikuti kemana dia pergi!" Gio sangat kesal
"Berarti yang anda kataklan tadi enggak spesifik Tuan. Aku hanya melakukan tugas sesuai dengan perintah Anda."
Gio meremas rambutnya dengan frustasi.
"Pulang kau!" Teriak Gio tak tahan.
"Lalu tugas ini?"
"Kau kan punya anak buah, suruh mereka memantau Tiara, jangan sampai ada apa-apa dengan dia!"
"Untuk hari ini hanya ada bawahan lelaki yang free, apa kau mau ak...'
"Wanita... aku mau bawahan mu yang wanita yang menjadga Tiara, jangan laki-laki!" Teriak Gio. Sunguh dia tak rela wanitanya di pandang dan di jaga oleh pria selain dirinya. 'Wanita lebih baik, apalagi yang bisa berbagai macam beladiri dan juga yang bisa memegang senjata dengan baik."
"Aku akan tanyakan pada seseorsng siapa tahu dia masih punya bawahan wanita yang semacam itu. Sungguh tak banyak wanita yang bisa banyak beladiri seperti itu."
"Jagan banyak bicara, cepat lakukan saja perintahku. Kalau tidak aku akan kirim kekasihmu ke Prancis dan kau tahu siapa yang suka dengan dia kan?!" ancaman Gio sukses membuat Heru brdecak tak suka, Tadinya dia ingin menjaihili Gio dan sudah membayangkan kalau pria itu akan marah besar dan juga uring-uringan tanpa bisa melakukan apa-apa dari kamarnya, tapi kenapa sekarang malah dirinya yang terkena ancaman?
"Kenapa?" tanya seorang gadis yang berdiri di samping Heru
"Kenapa aku puya bos yang gila?" tanya Heru pada gadis seksi di sampingnya.
"Kenapa kau tanya aku?" mengambil teropong lain yang ada di kamar itu dan melihatke arah yang sama dengan Heru.
"Dia cantik juga!" bergmuam dengan sangat jelas. "Tapi lebih cantikan aku, kan?" kali ini menoleh ke rah Heru yang menatapnya karena ucapannya barusan.
Heru memutar bola matanya malas, gadis ini narsis sekali.
"Aku benar kan? Daripada dia jelas cantikan aku lah!" Dia berkata lagi, kini kembali memantau Tiara yang masih terleap.
"Stop untuk memuji dirimu, Cantik!" ujar Heru.
"Trimakasih atas pujiannya, Her!" Dia tersenyum dengan sangat mansianya.
"Aku tidak memujimu, aku memanggil namamu!" Heru berkilah.
"Oh aku kira kau menyebutku cantik, karena aku memang cantk dan namaku juga Cantik!" ucapnya dengan tingkat pede seribu persen. Heru ingin sekali mutah dan mengikatnya lalu dia masukkan ke dalam karung dan juga melemparkannya ke sungai. Kucing kan ya? haisas.. Heru nakal!
"Aku akan pulang, kau jaga dan pantau dia. Selain kau aku juga menempatkan satu penjaga lagi di luar.".
"Oke tapi sebelum kau pergi panggil Ku Cantik, Sebut aku cantik, dan pujia aku cantik!' titah Cantik.
Heru hanya diam, malas meladeni omongan gadis ini.
"Kalau kau tidak mau jangan salahkan akau kalau aku tinggalkan dia untuk shopping nanti!' ucapnya dengan santai dengan seringaian di bibirnya.
"Kau Cantik, dan kau sangat cantik, Dan selamanya kau cantik. PUAS?!" ucap Heru dengan malas. Cantik tertawa senang.
"Hem... Bolehlah, tak buruk juga!" ucapnya dengan senyuma lebar di bibirnya. Heru sampai bergidik ngeri mengatakan hal itu. Ingin muntah!