DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 13



Kami melanjutkan kesenangan kami, tentunya aku berbohong jika perutku baikan, nyatanya perutku masih terasa linu. Aku hanya tidak mau membuat Renata tak enak hati denganku dan kemudian mengganggu kesenangannya. Tawa dan senyumnya membuat aku rela menahan rasa sakit ini.


Kali ini kami mendekati stand makanan, Renata mengeluh lapar, dan aku juga sama, sangat lapar sekali. Apalagi tadi isi perutku terkuras banyak di pojokan sana.


"Re, haruskah kita beli makanan disini? Lebih baik kita cari makanan yang lain di luar!" bisikku. Aku tidak yakin makanan disini higienis, karena makanan itu di buat di udara terbuka seperti ini. Si penjual sedang membakar bakso yang dia tusuk seperti sate. Beberapa orang berkerumun, ada juga yang baru datang dan membuat tanah kering di bawah kami sedikit naik dan membuat debu berterbangan menggelitik di dalam hidung


"Kalau antreannya banyak biasanya makanan itu enak!" bisik Renata. Dia tak henti menatap bulir-bulir bakso yang ada di atas panggangan dengan penuh minat. Tangannya mengelus perutnya, mungkin saja dia lapar karena sekarang sudah mendekati pukul sepuluh malam. Kami lupa untuk mengisi amunisi karena terlalu senang bermain!


Tiba giliran kami, tak banyak lagi yang antre. Mereka sudah mendapatkan bagiannya dan pergi mencari tempat duduk ataupun menikmatinya sembari berjalan meneruskan kesenangan. Mata Renata semakin berbinar, dia selalu tersenyum melihat lincahnya tangan penjual yang sedang bergerak mengipasi kepulan asap dan membolak-balikkan baso itu. Ah... cantiknya!


Ku keluarkan dompetku untuk membayarnya. Sebagai seorang lelaki aku menolak saat dia akan membayarnya sendiri. Selembar uang berwarna merah ku serahkan pada Pak Penjual, lalu kami menunggu kembalian.


Akh, biasanya aku tidak pernah menunggu kembalian, tapi ingat apa yang di katakan Gio. Kalau mau beramal lebih baik pada pengemis atau anak jalanan, orang yang berjualan sudah punya rezekinya dari hasil penjualan. Bukankah beramal bisa di lakukan pada siapa saja?


Sempat aku bertanya seperti itu, dan jawabannya... Anak jalanan dan pengemis hanya bermodalkan rasa malu yang mereka buang jauh-jauh, tak jarang mereka di cemooh orang lain, padahal jika mereka punya modal, mereka juga tidak mau melakukan hal hina seperti itu, meski pada kenyataannya ada juga segelintir orang yang memang sengaja melemparkan dirinya di jalanan karena malas bekerja. Gio pernah merasakan hidup seperti itu dulu, menekan rasa malu demi sekeping uang receh, dan selembar uang lecek!


Dan malam ini aku tidak boleh memperlihatkan sifatku itu pada Renata.


"Terimakasih!" ucap Renata setelah kami menerima uang kembalian. Renata membungkuk mengambil sesuatu di tanah. Dia menyerahkannya padaku.


"Punya kamu, bukan? Jatuh!" sebuah kertas ku ambil di tangannya. Itu adalah sketsa wajah seorang anak kecil yang tidak aku tahu siapa dia. Tapi sangat sering aku mimpikan semenjak aku menerima donor jantung saat usiaku sepuluh tahun.


"Trimakasih!" Renata terlihat diam setelah itu, seperti dia ingin bertanya sesuatu, tapi dia juga enggan.


Kami mencari tempat duduk, tidak ada bangku kosong di sekitar sini, semua sudah terisi. Kami memutuskan untuk keluar dari area permainan itu dan memilih duduk di lapangan di atas rumput hijau yang sedikit basah karena udara malam.


Ku gelar jaketku untuk kami duduk. Renata terlihat ragu saat aku menepuk tempat di sampingku. Lalu kemudian menurut saat aku menarik tangannya.


"Jaket kamu nanti kotor Xel!"


Ya ampun Re, kamu manis sekali. Padahal kalau kamu mau tahu, di luaran sana banyak yang mengantri untuk berada di posisi kamu sekarang ini!


Dia mengeluarkan beberapa bungkus makanan yang sudah kami beli. Sebenarnya dua macam makanan. Roti kukus yang masih hangat dan juga bakso bakar dengan bumbu mayones untukku, dan untuknya bumbu kacang. Wangi. Tak ku pungkiri kalau memang makanan ini sempat menggoda imanku. Aku lapar, tapi aku merasa tidak yakin untuk memakannya!


"Kamu gak lapar?" dia bertanya, mulutnya sedikit penuh berusaha memakan roti kukus ukuran sedang di tangannya.


"Iya, aku makan!" ragu sebenarnya, tapi aku juga ingat dengan pesan dari Gio, jangan memilih makanan. Aku harus ingat kalau Renata bukan lah wanita yang sering banyak aku jumpai selama ini, dia bukanlah wanita yang mementingkan gengsi dalam hal makanan.


Wanginya enak saat ku hirup di bawah hidungku. Membuka mulutku pelan.


Sekali mengunyah, emmm....Tidak buruk juga. Selainya hangat, lumer di mulutku. Rotinya juga lembut, ku kira meski sedikit berbeda rasa dengan yang biasa aku makan di rumah atau di kantor, tapi nyatanya ini tidak buruk juga! Cukup enak!


Renata sudah menghabiskan rotinya, ia minum satu tegukan. Lalu dia lanjut dengan bakso bakar yang masih mengepul asapnya. Dia meniupnya perlahan. Aku memperhatikan dia, semua yang dia lakukan seksi menurutku. Rasanya aku iri dengan bakso itu, benda itu bisa sangat dekat dengan mulut Renata, dan bahkan sebentar lagi akan merasai mulut Renata yang manis nan seksi.


Asap yang mengepul sudah menghilang, dia memakannya dengan lahap. Tak ku kira, gadis bertubuh kecil seperti dia, makannya rakus juga! Tapi dia tetap cantik saat mengunyah.


Renata tertawa melihatku, membuat aku bingung.


"Kamu itu Xel. Makan kok sampe belepotan!" Renata mengambil tisu dari dalam tasnya, aku mencoba menyusut mulutku dengan ibu jariku, tapi dia menahan tanganku.


"Diam! Aku bantu!" ucapnya, lalu dia mendekat, memiringkan kepalanya, memegang pipi kanan ku dengan tangannya yang hangat, lalu mengelap bibirku dengan tisu.


Aku menahan nafasku, wangi aroma rambutnya terasa di hidungku. Darahku mendesir karena perlakuannya.


"Sebentar. Selai stroberinya belepotan disini!" dengan telaten dia mengelap bibir bawahku. Perlakuannya sangat lembut sekali, hingga membuatku mematung.


Hei! Kenapa sepertinya ada yang aneh disini! 🤔