
Axel memutuskan untuk membawa Renata pulang. Gadis itu terlihat sangat tertekan dan juga sangat kacau. Gurat lelah dan juga ketakutan masih terlihat dengan jelas di wajahnya.
Renata menyandarkan dirinya, menatap jalanan dengan pandangan yang kosong. Renata hanya diam saat mobil mereka melaju di jalanan yang padat. Dia merasa tak enak hati dengan Axel. Tadi pagi dia memutuskan untuk melakukannya lagi, memberikan hak Axel yang sempat tertunda di malam pengantin mereka. Tapi Axel menghentikannya saat Renata menangis dalam diam. Renata sangat tahu Axel menunda acara berbuka puasa karena tak ingin dirinya terluka karena bayangan traumatis itu.
Axel mencoba untuk fokus ke jalanan di depannya. Dia pun sama diamnya, tapi bukan marah, hanya saja sedang berpikir bagaimana cara mengobati traumatis yang di derita sang istri. Bukan pula dia tak sabar melakukan malam pertamanya, tapi dia sangat terluka saat melihat Renata yang sedih dan juga ketakutan seperti itu. Renata pasti juga sedang merasa bersalah pada dirinya karena terhalang oleh bayangan itu.
Axel menghela nafasnya yang lelah. Apa dia harus mencari seorang psikiater? Tapi apa Renata akan mau konsultasi dengan psikiater?
Renata yang mendengar helaan nafas kasar dari Axel menoleh ke arah pria itu.
"Maaf, ya xel. Aku sudah membuat kamu kecewa." Renata akhirnya berbicara.
Axel tersenyum, satu tangannya dia lepaskan dari kemudi dan menggenggam tangan Renata, mengusapnya dengan ibu jarinya lalu menariknya untuk di cium.
"Tidak apa-apa. Kita bisa melukannya pelah-pelan. Jangan khawatir soal itu." ucap Axel dengan senyuman di bibirnya. Renata beringsut mendekat dan bersandar pada bahu Axel. Axel mencium puncak kepala Renata dengan sayang.
Renata tak menyangka jika dirinya akan didatangi bayangan mengerikan kala malam itu. Dia tak tahu sama sekali kalau itu ternyata bisa menjadi trauma atas dirinya.
Selama dalam perjalanan hanya keheningan yang membersamai mereka hingga akhirnya mereka sampai di rumah kediaman Aditama.
"Loh... Kalian kenapa pulang?" Mama yang sedang sibuk dengan tanamannya di taman depan rumah berdiri saat keduanya mendekat dan lalu memeluk Mama.
"Bukannya kalian harusnya besok pulang ke rumah?" menatap Axel dengan bingung. Harusnya mereka di hotel sampai besok, dan lusa diteruskan untuk perjalanan bulan madu.
Axel menatap mata sang mama, mama yang mengerti arti pandangan putranya itu yang terlihat sendu segera mengerti kalau ada yang tak beres dengan kepulangan Axel kali ini.
"Ya sudah, kalian sudah makan belum? Ayo kita masuk dan makan bersama, ini hampir jam makan siang." Lebih baik mengalihkan pembicaraan, keduanya juga sepertinya tak berniat untuk membuka mulutnya. Anye membuka sarung tangan karetnya dan menyimpannya di dekat pot bunga. Anye kemudian menarik tangan Renata untuk masuk ke dalam rumah.
"Aku simpan ini dulu ke kamar, deh." Axel kemudian pergi ke lantai atas untuk menyimpan jaket dan juga kunci mobil serta dompet, tak lupa dengan tas yang Renata bawa tadi.
Anye membawa Renata ke meja makan, maid segera mengeluarkan semua makanan yang ada dan menatanya di atas meja makan.
Axel kembali turun dari lantai atas dan bergabung dengan mama dan juga istrinya. Mama melirik ke arah Axel dan juga Renata yang hanya diam memakan makanannya.
Selesai makan siang. Axel dan Renata kembali ke kamar. Renata menatap Axel yang hanya diam di tepi ranjang sambil memainkan hpnya. Renata bingung dengan kediaman Axel, apa pria itu marah karena tak berhasil melakukan malam pertama dengannya?
"Re, kamu istirahat saja, ya. Aku mau ke kantor." suara Axel membangunkan Renata dari pemikirannya.
"Oh, ya!" hanya itu yang Renata katakan, Renata melihat Axel yang berjalan ke walk in closet dan tak lama keluar dari dalam sana dengan setelan kerjanya. Tak bisa di pungkiri kalau Axel terlihat sanga tampan dan gagah dengan pakaian seperti itu.
Axel mendekat ke arah Renata dan mencium puncak kepalanya dengan sayang. "Aku pergi dulu, ya. Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal? Kalau kamu bosan di rumah, minta temani mama untuk pergi jalan-jalan atau belanja. Oke?" ucap Axel. Renata hanya mengagguk. Dia butuh teman sebenarnya sekarang, tapi dia juga tak bisa melarang Axel jika ingin pergi ke kantor. Salahnya yang tak bisa memberikan apa yang harusnya Axel dapatkan.
Axel pergi sedangkan Renata hanya duduk diam mengiringi kepergian Axel yang keluar dari dalam kamar mereka dengan tatapan penuh rasa bersalah.
Anye melihat Axel yang kini sudah berpakaian dengan lengkap turun dari lantai atas. Dia merasa heran dengan putra keduanya itu.
"Kamu mau kemana, Xel?" mama bertanya dari tempatnya duduk.
"Kantor." Hanya itu jawaban Axel seraya membenarkan dasinya yang miring.
"Kantor?" Anye bangkit dan mengekor di belakang Axel.
"Xel, kamu ini kan baru saja menikah kemarin, kok mau ke kantor? Kamu itu harusnya temani Renata di rumah." Anye mencerca putranya dengan pertanyaan.
Axel terus saja berjalan ke arah pintu depan.
"Axel. Kamu denger Mama gak sih?" mama kesal, menarik tangan sang putra yang terus saja berjalan menjauhinya. "Kalian ini ada masalah?" tanya mama dengan nada sedikit tinggi.
Axel menggelengkan kepalanya. "Gak ada Ma. Cuma Axel baiknya pergi ke kantor saja sebelum kepergian kami berbulan madu." ucap Axel.
"Benar hanya itu?" tanya Mama tak percaya. Axel mengangguk.
"Aku pergi dulu, ya Ma!" Axel mengecup pelipis Anye lalu kemudian berjalan setengah berlari masuk ke dalam mobilmya. Anye terdiam melihat raut wajah axel yang tampak tak bahagia seperti pegantin baru lainnya.
Mobil Axel pergi dari sana. Anye bergumam dengan pelan seakan bertaya pada dirinya sendiri. "Apa yang terjadi dengan mereka?"
Tak bisa dibiarkan, memang itu adalah masalah sang putra, tapi rasanya tak bisa dibiarkan juga masalah ini berlarut. Tak wajar bagi seorang pengantin pergi meninggalkan istrinya di saat seharusnya mereka seharian mengurung diri di dalam kamar.
Anye melangkah menuju kamar Axel dimana Renata sedang berdiri di tepi jendela.
Renata membuka pintu setelah mendengar suara ketukan di luar pintu kamarnya.
"Ada apa, Ma?" Renata menatap mama yang kini berwajah khawatir.
"Bisa kita bicara?" Renata berdebar hatinya, sepertinya dia tahu maksud kedatangan mama kesini.
Anye berjalan melewati Renata dan duduk di sofa, di tepuknya tempat di sampingnya supaya Renata duduk disana.
"Mama ingin tanya, apa kalian punya masalah?" mama menatap menantunya. Renata menundukkan kepala.
"Sayang dengar. Mama gak akan menyalahkan salah satu dari kalian, memang dalam pernikahan selalu saja ada masalah, tapi di hari pertama pernikahan.. Apa yang sedang terjadi?" Renata masih diam, dia bingung apa yang harus dia katakan, ini aib bukan?
Anye menatap menantunya yang kini masih menunduk. "Re, Sayang. Apa Axel sakiti kamu?" Anye bertanya, satu tangannya meraih pipi Renata dan menariknya hingga wajah gadis itu kini menghadap ke arahnya tapi tidak dengan matanya. Renata masih menolak untuk menatap mata mama mertuanya.
"Mama akan lakukan tindakan tegas kalau Axel sampai kasar sama kamu. Bilang sama mama kalau Axel kasar atau apapun itu!"
Renata menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Anye menatap Renata dengan lekat, menunggu gadis itu berbicara.
"Kamu gak mau cerita?" tanya Anye. Renata masih diam, namun matanya terasa panas.
"Anye menurunkan tangannya dari pipi Renata dan beralih mengambil tangan gadis itu, mengusapnya dengan ibu jarinya.
"Oke, kalau kamu gak mau cerita gak apa-pa, tapi mama harap kamu jangan pendam kesedihan kamu sendirian ya, mama pasti akan bantu kalau mama bisa. Mama akan usahakan." ucap Anye.
Renata sudah tak tahan perlahan air matanya turun membasahi pipi.
"Aku... Aku tak bisa jadi istri yang baik, Ma... hiks..." Renata mulai terisak, dia mulai menangis dihadapan mama. Menghambur ke pelukan mama yang hangat dan menenangkan. Mama mengusap pundak Renata dengan sayang.
"Sudah lah, kalian ini kan baru sehari menikah, masih banyak waktu untuk menyelesaikan permasalahan kalian, ya. Bicarakan dengan Axel mungkin dia akan mengerti." Anye tak mau memaksa, toh jika Renata ingin bercerita dia pasti akan bicara.
Renata mengangguk dengan ucapan Anyelir.
...***...
Axel melajukan mobilnya ke suatu tempat. hanya butuh waktu empat puluh menit untuk dia sampai disana. Menatap papan nama yang ada di luar sana.
"Benarkah aku harus datang kesini?" bergumam sendiri. Axel berpikir sebentar, masih tetap menatap papan nama itu.
"Ah, jangan. Untuk sementara biarkan saja dulu. Bukankah aku juga harus bertanya terlebih dahulu dengan Renata?" bergumam lagi, lalu tangan Axel bergerak kembali memutar kunci mobilnya hingga mobil kembali menyala. Axel melajukan mobilnya ke jalanan yang padat.