DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Part 13



Malam pertunangan Kek Mel!


Rasanya aku ingin sekali kabur dari sini. Tolong siapa saja, bawa aku pergi!


Acara di adakan dengan sederhana. Tidak ada dekor atau pesta, hanya di hadiri kedua keluarga inti dan kerabat terdekat.


Kak Mel memakai dres warna soft pink, dengan renda di dadanya. Lengan panjang dan bawahan sebatas lutut. Sepatu yang sama dengan warna bajunya. Cantik. Sebenarnya aku yang memberikan rekomendasi dress untuk acara malam ini.


"Kakak, cantik." pujiku pada kak Mel yang masih merias diri. Kuas di sapukan di kedua pipinya hingga sedikit merona. Lalu di lanjutkan dengan mengikat rambutnya.


"Umm kak. Lebih baik rambutnya di biarkan saja, jangan diikat. Kakak lebih cantik kalau rambutnya tergerai." ucapku.


"Benarkah?" Aku mengangguk. Kak Mel kembali melepaskan ikatan rambutnya. Aku membantu kak Mel. Mengambil catokan dan membuat rambut kak Melati sedikit ikal di bawah.


"Perfect. Kak Devan pasti suka!" ucapku. Kak Mel tersenyum senang. Sakit rasanya hati ini seperti di cubit seratus ekor kepiting raksasa. Mungkin lebih!


"Bagus Nye. Kakak juga suka." ucapnya mengomentari penampilannya sendiri di depan cermin.


Pintu di ketuk. Mama masuk ke dalam. Senyumnya mengembang sempurna.


"Sudah siap?" tanya mama. Kak Mel mengangguk senang.


Kami bertiga turun ke bawah. Mama di depan menggandeng kak Mel sedangkan aku di belakang mereka berdua.


Di ruang keluarga sudah ada beberapa orang. Devan dan orang tuanya, nenek dan kakeknya, juga beberapa yang lainnya sedang mengobrol dengan papa. Baru aku tahu ternyata orangtua kami bersahabat!


Semua mata tertuju pada kami. Tepatnya pada Kak Mel, selaku tokoh utama pada acara malam ini. Ah lihatlah. Mata Devan bahkan tidak berkedip menatap calon tunangannya. Aku benci mengatakannya, tapi malam ini Devan terlihat sempurna! Sangat sempurna.


Aku hanya menundukan pandanganku. Sepertinya salah satu kepiting raksasa itu memanggil temannya yang lain hingga kini ada ribuan kepiting yang saling berebut mencubit hatiku!


"Ini calon menantu ku! Cantiknya!" puji mama Devan merangkul kak Mel.


"Trimakasih tante!" ucap kak Mel malu.


"Kok tante?" protes mama Devan. "Mama. Mulai sekarang panggil mama sayang."


"Iya. M-mama." ucap Kak Mel terbata.


"Ini Anyelir ya?" tanya mama Devan padaku. Aku mengangguk dengan senyuman.


"Iya tante."


"Kamu juga cantik. Panggil mama saja!"


"Tapi..."


"No! Mama! Kalian akan jadi anak-anakku juga kan?!" Mama Devan mengelus pipinkami bergantian. Rasanya hangat! Beruntung sekali kak Mel!


Acara inti di mulai. Dan akhirnya mereka bertukar cincin.


Sumpah, rasanya aku ingin memaki. Bukan pada orang lain tapi pada diriku sendiri. Bukankah aku sudah berjanji tidak akan terluka di saat seperti ini? Tapi kenapa ini sakit?


Selama itu aku menundukan pandanganku. Terkadang berharap ada telfon yang mengharuskan aku pergi dari sini!


"Anye!" suara seseorang memanggil suaranya lirih di sampingku.


"Oma?" nenek Devan tersenyum menggenggam jemariku, memberikan kekuatan untukku. Sorot matanya tersirat akan rasa sedih. Usianya masih sekitar enam puluhan tapi tubuhnya masih terlihat segar untuk ukuran usia beliau.


Jelas aku mengenal oma karna sering dulu Devan membawaku ke rumah Oma.


"Aku gak pa-pa. Oma jangan khawatir!" ucapku pada Oma. Opa juga tersenyum dari tempatnya ke arahku. Aku membalas dengan anggukan kepala.


"Dulu oma berharap kamu jodoh Devan. Kamu sudah buat Devan berubah. Trimakasih!"


"Sama-sama oma. Maaf tidak bisa menjadi yang oma harapkan."


"Oma doakan semoga kamu mendapat yang lebih baik, sayang!" Oma mengusap lembut pipiku.


"Trimakasih." ucapku, mata Oma berkaca-kaca. Aku mengusap sudut mata oma yang sudah basah.


"Oma jangan nangis. Kak Mel juga orang yang baik!" Oma mengangguk lalu pamit untuk mendekat kepada Opa.


Aku sendirian, menatap mereka yang sedang berbahagia di depan sana. Harusnya aku bahagia juga kan? Ya aku bahagia, tapi dengan banyak luka!


"Anye, beri selamat pada kak Mel!" mama menyenggol lenganku hingga aku tersentak bangun dari lamunan.


"I-iya ma."


Kak Mel membuka kedua tangannya lebar siap memelukku. Dan Devan... hahh... dia tersenyum bahagia di samping kak Mel. Dasar B*j*ng*n! Dia bilang cinta sama aku tapi tunangan sama kak Mel! Dan semua salahku! Aku yang membuat semua jadi rumit!


"Selamat kak Mel. Kek Devan." ucapku setelah kami saling melepas pelukan. Aku mengulurkan tangan pada Devan, dan di sambutnya dengan hangat. Ingin sekali aku menarik tangannya lalu memutar tubuhnya dan membuatnya kesakitan .akhh... Jiwa barbar ku keluar sudah!


"Trimakasih Anyelir!" ucap Devan akhirnya. Fix ini malam terakhir aku bertemu dengan dia karena setelah ini akan ku pastikan tidak ada lagi Devan dalam fikiranku maupun dalam kehidupan nyataku.


Acara di lanjutkan dengan makan malam.


Semua tamu sudah pulang. Mama dan papa sudah masuk ke dalam kamar. Aku membantu kak Mel di kamarnya.


"Aku senang sekali Nye!" ucap Kak Mel sambil terus menatap jari manisnya. Kak Mel menjatuhkan dirinya di atas kasur. Aku ikut merebahkan diri di sampingnya. Menatap jari dimana cincin tunangan itu berada. Cincin perak dengan hiasan berlian kecil sederhana namun elegan.


"Kak."


"Hem?"


"Dulu...umm... Cerita sama aku. Bagaimana dulu kalian pertama bertemu?" tanyaku penasaran dengan cerita sebenarnya.


"Dulu..."


"Saat itu kakak sedang mencari pekerjaan. Kamu tahukan bagaimana sulitnya cari pekerjaan sekarang?..."


"Tapi kenapa kakak tidak kerja di kantor papa?"


"Kakak mau cerita soal Devan, bukan cerita tentang kantor papa!" ucap kak Mel sedikit kesal.


"Hehe...iya silahkan lanjutkan!"


"Kamu juga tahukan alasan kakak gak kerja di kantor papa!" aku mengangguk.


"Saat itu kakak mencari alamat sebuah kantor untuk memasukan lamaran disana. Kakak sedang menunggu taksi, saat tiba-tiba seorang jambret mengambil tas kakak. Semua barang berharga ada disana. Kakak panik dan teriak minta pertolongan."


Special Melati pov.


"Tolong..." teriakku sambil berlari mengejar jambret itu. Tapi karena mereka memakai motor aku tidak bisa mengejar mereka berdua. Aku tidak biasa berlari.


Aku hanya terduduk lemas di tepi trotoar, mungkin sudah seratus meter aku berlari dari tempatku tadi. Apalagi heels yang aku pakai cukup tinggi. Kakiku sakit. Tanpa terasa air mataku menetes. Semua ada disana termasuk dompet dan hp, hanya map lamaran kerja yang aku pegang sedari tadi, dan itu juga sudah lusuh terkena keringat. Entah ini ada dimana aku juga tidak tahu.


Mungkin satu jam atau lebih aku duduk di tepi trotoar dengan memeluk lututku. Jalanan sepi sedari tadi. Aku juga lapar, ini sudah lebih dari jam makan siang.


Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti tepat di depanku. Seseorang keluar, aku tidak tahu siapa. Dia mendekat dan mengguncang bahuku.


"Ini tas kamu?" dia bertanya. Mataku berbinar saat melihat tas hitam milikku. Karena terlalu senang aku sampai merebut tas itu dari tangannya, memeluknya erat seperti memeluk bayi.


"Trimakasih! trimakasih." ucapku.


"Kamu mau melamar pekerjaan?" tanyanya lagi. Tangannya terulur untuk membantuku berdiri.


"Iya. Aku mau..." sesaat aku tertegun melihat wajahnya. Tampan! "Aku mau melamar pekerjaan." ucapku setelah berhasil menetralkan detak jantungku. Rasanya aku jatuh cinta padanya. Aneh, tidak pernah aku merasa seperti ini. Sangat sulit untukku merasakan jatuh cinta lagi, tapi sekarang... Ah dia tampan seperti malaikat. Aku yakin dia malaikat yang turun dari langit!


"Aditama Corp?" tanyanya saat melihat map di tanganku.


"Aku bisa bantu, kebetulan aku juga kerja disana." Lalu dia menunjukkan kartu tanda pengenal di dadanya. Devan Januar, dan entah apa lagi nama di belakangnya tertutup oleh ibu jarinya.


"Kamu bekerja disana?" Dia mengangguk cepat.


"Iya, kalau kamu mau aku bisa bantu kamu." Aku mengangguk cepat dan senang. Dia mengambil map lusuh di tanganku.


"Eh biar aku ganti, ini sudah lusuh."


"Tidak apa-apa. Yang penting isi di dalamnya, dan di dalam sini." dia menunjuk map dan kemudian menunjuk kepalanya sendiri. Aku terhanyut.


Memang benar yang penting bagi seluruh umat manusia adalah otak. Tapi sayang terkadang benda penting itu jarang di gunakan dengan baik, sama seperti jambret tadi!


"Aku antar pulang?"


"Merepotkan. Tidak usah!"


"Tidak apa-apa." Dia melirik ke arah lain. "Tidak ada taksi yang lewat. Kamu juga pasti capek kan?" Aku mengangguk, dia lalu membuka pintu mobil untukku dan mengantarku sampai ke rumah.


Beberapa hari kemudian aku mendapat telfon, Aditama corp. menerimaku sebagai karyawannya.


Tidak disangka ternyata Devan adalah putra pemilik perusahaan itu. Dia sering mengantarku pulang. Dan sejak saat itu kami dekat.


Melati pov end.


"Dia baik. Meskipun dia anak pemilik perusahaan terkenal itu, tapi dia tidak sombong dan sangat sederhana. Bahkan dia tidak malu makan di pinggiran. Aku suka." ucap Kak Mel mengakhiri ceritanya.


Seandainya kak Mel tahu bagaimana Devan dulu, pria sombong, manja, dan arogan!