
Mental Daniel sempat drop setelah penculikan itu, apalagi dia selalu merasa Devan seperti ini karena dirinya. Dengan bantuan psikiater anak akhirnya sedikit demi sedikit Daniel bisa kembali lagi ceria meskipun belum pulih sepenuhnya seperti dulu.
Perutku semakin besar, sudah mulai nampak menonjol. Daniel juga sudah ku beritahu walaupun dalam hati aku sempat takut waktu itu, tapi syukurlah, anak itu bisa menerimanya dengan baik. Dia senang, ternyata keceriaannya bertambah dua kali lipat. Bahkan dia sangat antusias ingin membeli perlengkapan bayi saat itu juga. Mencari-cari seputar info kehamilan di internet, makanan apa yang diinginkan ibu hamil, apa yang boleh dan tidak. Dia menjadi overprotektif. Bahkan sempat membuang makanan yang dia rasa tidak baik untuk kami, terutama pedas!
Devan belum juga bangun, ayah memutuskan untuk merawat Devan di rumah, supaya aku tidak lelah pulang pergi ke rumah sakit katanya, aku juga harus memperhatikan kandunganku dan juga supaya Daniel lebih banyak menghabiskan waktu dengan papanya. Dengan satu perawat khusus untuk ikut mengurus Devan. Alat-alat penunjang kehidupan masih setia menemani suamiku.
Luka Devan sudah berangsur membaik. Jika saja Devan sadar, dia pasti sudah menjalani terapi untuk pemulihan.
Aku sedang mengelap tubuh Devan sambil ku lap tubuhnya, ku ajak dia bicara, sesekali aku berikan lelucon garing yang ku rasa juga tidak lucu sama sekali. Yang penting aku sudah berusaha!
"Dev, aku sudah belajar masak loh! Tapi tetap saja rasanya masih jauh kalah dari masakan kamu. Aku kangen rasa masakan kamu. Meskipun Lynn jago masak, tapi rasanya tetap beda...."
Aku bercerita bagaimana hebohnya semua orang melarang saat aku turun ke area dapur. Bagaimana aku menjatuhkan tepung dan beberapa telur ke lantai, menjatuhkan alat masak, bahkan aku juga menggosongkan makananku. Ada juga di saat aku tidak membuatnya berwarna hitam, tapi rasanya, hambar. Terkadang asin, terlalu pedas, atau masih kurang kematangannya. Beruntung aku tidak menghanguskan dapur!
"Papaa...!" Daniel berteriak berlari memasuki ruangan. Dia baru saja pulang dari sekolah, berlari lalu naik ke atas ranjang, mencium kening Devan lalu mencium pipiku, tak lupa dia juga mencium adiknya yang masih berada di dalam perut.
"Daniel, jangan berlari di dalam ruangan!" aku mengingatkan, Daniel hanya tersenyum meringis memperlihatkan giginya yang ompong.
"Aku bawa ini!" Mengangkat sebuah kertas tinggi-tinggi. Disana ada beberapa gambar orang, dua orang dewasa, satu anak.kecil dan juga satu bayi dalam gendongan ibunya, dengan pemandangan rumah besar di belakangnya.
"Siapa mereka?" tanyaku.
"Tentu kita semua! Papa, aku, mama, dan adik!" jawab Daniel sambil menujuk satu persatu gambar disana. Daniel mendekat dan berbisik ke arah Devan. Beberapa detik kemudian dia menarik dirinya, menyimpan lukisan itu di pelukan Devan.
"Apa yang kau bisikkan Niel?" tanyaku.
"Apa yang dia bisikkan sama kamu Dev? Kalian para lelaki sudah main rahasia rupanya! Kejam!" Aku menepuk tangannya pelan. Tanda protes.
"Dev, tebak jenis kelamin anak kita. Aku sudah USG tadi siang!" aku diam. Dia juga diam. Dulu sewaktu mengandung Daniel, Devan sangat percaya kalau anak kami laki-laki dan ini terbukti.
"Aku gak akan kasih tahu kamu. Biar kamu tebak sendiri. Apakah anak kedua kita perempuan, atau laki-laki!"
"Tadinya aku gak akan lakukan USG, tapi aku penasaran! Hehe..."
Mengelap wajah Devan dengan kain setengah basah.
"Ingat tidak bagaimana dulu kamu bujuk aku supaya minum vitamin?" tanyaku.
"Sekarang yang melakukan itu Daniel. Bahkan dia melarang aku makan pedas walau sedikit. Menyebalkan bukan? Kalau kamu dulu masih kasih aku toleransi. Aku kangen ayam bakar pak Mud. Masih ada atau tidak ya?" tanyaku. Tapi bukan, bukan itu yang aku inginkan, melainkan aku ingin Devan menjawab semua ucapanku!
"Kamu tahu Dev, setiap malam aku selalu merindukan usapan kamu di perutku seperti dulu. Biasanya sebelum tidur kamu selalu ajak Daniel bicara. Kamu tidak kasihan apa sama anak ini. Dia bahkan belum pernah mendengar suara ayahnya." Mataku mulai panas. Tapi aku tidak boleh menyerah. Aku tidak boleh sedih, selain untuk menjaga kandunganku, juga untuk menjaga perasaan Devan.
Perawat masuk ke dalam ruangan, membantu ku membereskan sisa bekas mengelap tubuh Devan.
"Sudah tiga bulan kamu terus tidur, gak capek apa? Mau sampai kapan? Janji sama aku ya. Sebelum anak kita lahir kamu harus sudah bangun. Kasihan juga Daniel. Dia sangat ingin sekali di antar sekolah sama kamu." ucapku.
Sampai kapan dia akan terus begini? Apa aku akan kuat dengan diamnya dia? Bahkan aku sudah pernah jauh dari dia selama lima tahun!