DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 172



"Astaga... Anak itu kenapa sampai saat ini belum pulang juga?" Gio bergumam dengan kesal, Tiara yang sedang menyeduh teh untuk Gio hanya bisa menatap kekasihnya sambil menggelengkan kepala.


Hampir setiap hari selama sepuluh hari ini Gio terus berguman tak jelas tentang Axel yang tak kunjung juga pulang dari rencana bulan madu yang katanya hanya seminggu. Apa pria itu akan memperpanjang acara honeymoonnya hingga dua minggu? Jangan sampai menjadi tiga minggu atau bahkan satu bulan!


"Memangnya kenapa sih? Biarkan saja mereka berdua. Namanya juga pengantin baru!" Tiara memutar sendok yang ada di dalam cangkir, dia mengaduknya dengan perlahan dan kemudian berjalan ke arah Gio. Menyimpan cangkir tersebut di atas meja di hadapan pria itu.


"Huh, gara-gara dia kan aku jadi terpisah dengan mu!" ucap Gio dengan nada kesal. Gio sangat ingin sekali kembali ke ruangannya dan selalu besama dengan Tiara, menatap wajah Tiara dengan leluasa sebanyak dan selama yang dia mau. Dan bisa jadi mungkin lebih sedikit lah, bisa menggoda gadis itu atau sedikit mencuri ciuman manis di bibirnya.


"Kita ini masih satu gedung, bagaimana nanti kalau kita beda kota atau beda pulau?" ucapan Tiara membuat Gio mengalihkan pandangannya, tak suka dan juga heran dengan ucapan Tiara.


"Memangnya kau mau kemana? Apa kau mau pergi tinggalkan aku?" Gio berkata dengan nada tak suka.


"Hei, kenapa nada suara mu begitu? Aku hanya bilang kalau. Memangnya kau pikir aku mau kemana? Meninggalkan ibu?" Tiara juga sama nadanya, sedikit tinggi seperti Gio tadi. Gio menarik pinggang Tiara dan membawanya duduk di pangkuan. Memeluk Tiara dari samping dengan erat. Melabuhkan kepalanya di pundak Tiara.


"Aku gak mau kau pergi, dan aku tak suka kau bilang seperti itu tadi. Ingat, jangan pernah pergi dariku, karena aku akan selalu menemukan kau meski di lubang semut sekalipun!"


Tiara tertawa geli mendengar ucapan Gio barusan.


"Kenapa tertawa?" Gio menarik kepalanya dari pundak Tiara. Tiara sedang menutupi mulutnya dengan satu tangan.


"Kau tahu apa yang aku pikirkan? Aku di lubang semut? Sebesar apa tubuhku hingga masuk kesana kecuali aku berubah jadi kurcaci dan bersembunyi disana. Kenapa pemikiranmu jadi tak masuk di akal seperti itu?" Tiara masih tertawa membuat Gio mencebik.


"Itu karena kau yang membuatku seperti ini!"


"Aku? Bagaimana bisa?" tanya Tiara menunjuk dirinya sendiri.


Gio mendekat kembali melabuhkan kepalanya di bahu Tiara. Memeluk gadis itu dengan erat. "Karena kau Tiara. Aku tak pernah takut kehilangan semenjak waktu itu, aku tak pernah lagi peduli dengan hidupku, aku tak perah peduli dengan perasaan orang lain selain keluargaku. Tapi bertemu dengan mu membuat semua yang ada di dalam diriku banyak yang berubah. Aku menjadi seorang penakut! Terutama aku takut dengan mu. Kalau kau marah, aku takut. kalau kau sedih, aku juga takut. Apalagi kalau kau jauh, aku sampai takut jika tak bisa bertemu dengan mu lagi!"


Tiara terdiam, tak percaya dengan yang Gio katakan. Bukan arti dari kata-kata pria itu, tapi dia baru kali ini mendengar kalimat sepanjang itu dari seorang Gio, Si Pria Irit Bicara.


"Kamu gak percaya dengan yang aku katakan?" tanya Gio. Tiara menggelengkan kepala, membuat Gio kecewa. Ternyata Tiara tak mudah percaya padanya, padahal dia sungguh-sungguh dengan ucapannya tadi.


"Aku percaya padamu, tapi aku tak percaya baru mendengar mu bicara sepanjang ini, bahkan saat rapat pun lebih banyak aku yang bicara. Bisa di lain waktu kau yang menjelaskan pada peserta rapat? Aku terkadang sakit tenggorokan karena terlalu banyak bicara!" ucapan Tiara membuat Gio melongo. Ingin dia membanting sesuatu sekarang. Harusnya ini jadi momen romantis, bukan? Kenapa jadi pembahasan pekerjaan?


"Kau ini, bisa tidak menjawab hanya dengan pembahasan kita? Aku berusaha romantis kenapa kau hancurkan momen ini?" Gio dengan kesal. Tiara tertawa. Memutar sedikit tubuhnya dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Gio.


"Aku tahu, kau baru saja bersikap romantis barusan. Tapi aku juga kan ingin mengeluarkan apa yang aku pikirkan! Kau ini di depan ku bisa banyak bicara, kenapa di depan orang lain irit sekali, hem?" Mencubit hidung Gio dan menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri, membuat kepala Gio ikut bergerak.


"Karena aku ingin membuatmu nyaman. Meski aku tak yakin kalau kau bisa nyaman dengan ku, tapi aku akan berusaha yang terbaik untukmu!" Gio berkata dengan lirih.


"Kau sedari dulu memberikan ku yang terbaik, Pak. Jauh sebelum ini, baru aku sadari kalau kau memang selalu memberikan aku yang terbaik, bahkan saat aku pertama kali masuk ke sini. Membelikan ku baju. Makan di restoran, lalu membangunkan rumah untuk ku meski aku harus mambayarnya selama tujuh tahun. Apa kau sudah jatuh cinta padaku sedari awal hingga kau lakukan semua itu untukku?" tanya Tiara. Dia pernah berpikir hal seperti itu dan membuat kesimpulan sendiri, meski sepertinya itu mustahil. Antara Gio menyukainya, tapi juga ingin balas dendam karena dia telah menjahili dan mengotori jasnya. Entahlah.


Gio terdiam. Dia ingat waktu itu, tapi tak pernah tahu apa memang dia sudah menyukai Tiara? Yang jelas dia kesal dengan perlakuan jahil gadis itu. Dan hanya ingin membalasanya. Dia rasa sih begitu!


"Jawab! Kenapa malah diam?" Tiara mengambil dagu Gio dan menariknya hingga kepala Gio menengadah.


"Aku tidak tahu!" Gio mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Aku masih penasaran."


Gio mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi.


"Aku juga tidak tahu kenapa! Yang pasti saat itu aku tak mau yang lain yang menjadi asistenku meski mereka lebih pintar."


"Jadi maksudmu aku ini bodoh?" berang Tiara mendengar kalimat Gio barusan. Dia menjauhkan dirinya dari Gio. Wajahnya terlihat kesal.


Gio meringis, merasa salah dengan ucapannya. "Bukan maksudku seperti itu. Maksudku... itu..."


Tiara bangkit dari atas pangkuan Gio dengan perasaan kesal. Apa maksud dia? Tak bisakah Gio tidak mengatakan itu meski memang iya dirinya kurang pintar dan kurang kompeten dari yang lain? Menyebalkan!


"Kalau begitu pecat saja aku, dan gantikan saja aku dengan yang lain, yang lebih pintar, dan lebih baik dan juga lebih cantik! Dasar kau pria kaku menyebalkan!" Cerca Tiara degan nada marah. Tiara meninggalkan Gio yang kini mengusap wajahnya dengan kasar. Dia salah mengatakan hal itu. Harusny dia katakan saja kalau mungkin Tiara lebih membuat dia penasaran. Kenapa juga dia mengatakan kalau ada yang lebih pintar dari dia? Ini kiamat! bagaimana kalau Tiara tak ingin bertemu dengannya lagi, dan lalu akhirnya minta putus!


"Tiara, hei tunggu. Bukan mkasudku bicara seperti itu. Aku tidak bermaksud..."


"Lupakan!" cerca Tiara masih dengan nada yang marah dan kesal. di tak mau bertemu dengan pria itu sementara waktu, urusan pekerjaan biar OB saja yang antarkan pada Gio nanti.


Sampai di pintu. Tiara menggapai handle pintu dengan tangannya. Dia hampir memutarnya...


"Jangan berani keluar dari ruangan ini!" tubuh Tiara tertarik ke belakang karena tangan besar yang menariknya.


"Akh...! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Tiara memekik terkejut, minta di lepaskan. Gio sudah mendorongnya ke dinding di belakang pintu. Dua tangan Tiara di tahan Gio di atas kepala.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya ingin meminta maaf dengan ucapkan tadi. Apa kau marah?" tanya Gio dia menatap mata Tiara yang melotot masih terkejut.


"Ku pikir lah sendiri!"


"Aku sudah berpikir tadi... Dan kau marah!" ucap Gio.


"Baguslah kalau kau mengerti! Dan sekarang jika kau tak ingin aku lebih marah lagi lepaskan aku. Aku masih marah!" Tiara berkata dengan ketus.


"Apa kau tak ingin menerima permintaan maafku?" tanya Gio.


"Heh, Bos. Kau pikir meminta maaf bisa dengan cara seperti ini? Kau gila atau apa? Minta maaflah dengan cara yang benar!" titah Tiara. Dia menatap Gio masih dengan tatapan yang kesal.


Cup.


Satu kecupan mendarat sempurna di bibir Tiara membuat Tiara membulatkan matanya besar-besar.


"Kenapa kau menciumku?" Tiara sedikit berteriak, tak terima jika Gio baru saja mencuri ciuman darinya. Ini tak bisa di benarkan! Dasar pencuri!


"Aku ingin kau memeinta maaf dengan tulus, bukannya mencuri ciuman dariku!" cerca Tiara lagi.


"Lalu aku harus bagaimana? Memang itulah caraku meminta maaf!" Dasar Gio keras kepala!


Tiara memutar bola matanya dengan malas. pria ini benar-benar tak tahu cara meminta maaf atau memang dia sengaja ingin membuatnya marah?


"Lalu... Apa kau juga melakukan cara yang sama pada gadis lain untuk meminta maaf, seperti yang kau lakukan padaku?" Tiara bertanya.


"Tidak, aku lakukan ini hanya padamu. Aku tak kenal dengan gadis lain!" ucap Gio. Tiara tertawa terkekeh.


"Kenapa tertawa? Kau tak percaya?"


Tiara mengangkat bahunya tinggi-tinggi, dia lalu menarik kedua tangannya dari cengkeraman tangan Gio. Gio tak akan melepaskan Tiara begitu saja sebelum gadis itu memaafkannya.


"Kenapa? Aku akan membuktikan diriku kalau aku tak pernah kenal dengan gadis lain. Apa kau mau mencoba dan membuktikan kalau aku masih perjaka atau tidak?"


Tiara membuka mulutnya, menganga. Tak percaya dengan apa yang dikatakan pria ini. Apa dia gila? Atau stress? Perlukah dia bawa pria ini pada Kenzo untuk di periksa otaknya? Ah... Sebelum dibawa ke rumah sakit, izinkan Tiara untuk memukul kepala pria ini dengan hak sepatunya yang lancip!


"Kau gila!"


"Aku gila karena mu! Apa kau belum mengerti juga?" ucap Gio dengan nada dinginnya. Tiara menatap Gio, begitu pula dengan pria ini. Tatapan mereka seperti tak ada yang mau kalah.


"Aku minta maaf, dengan segenap jiwaku." Akhirnya Gio mengalah, dia tak tahan melihat mata jernih Tiara.


"Hanya itu yang bisa aku katakan. Maaf kan aku Tiara. And I love you!" ucapan dan tatapan mata Gio membuat Tiara luluh. Tak pernah Tiara mendengar kata maaf yang keluar dari mulut pria ini semenjak pertama dia bekerja disini.


"Maukah kau maafkan aku, Tiara?" tanya Gio dengan sorot mata yang berubah melemah. Dia menatap Tiara dengan lembutnya. Tak tahan. Tiara balas menatap mata Gio. Warna iris coklat gelapnya selalu saja membuat Tiara tak tahan. Mata yang dulu menakutkan tapi sekarang dia malah suka melihat mata itu. Sungguh sangat membuai.


Tatapan mereka saling beradu, saling mengunci, penuh rasa cinta dan juga rasa bahagia di dalam hati masing-masing.


Gio suka dengan segala apa yang ada di dalam diri Tiara, meski dia tak secantik wanitanya yang dulu. Namun, Tiara adalah sebuah berlian yang akan bersinar jika pria jeli melihatnya. Wanita ini sangat cantik jika di lihat dengan seksama.


Suasana di dalam ruangan itu sepi, dengan keadaan mereka yang saling menempel di dinding membuat keduanya terlihat sangat intim. Tiara ingin melepaskan diri dari Gio, nafasnya sudah terasa sesak. Dia tak bisa bernafas dengan benar. Ingin rasanya keluar dari dalam ruangan itu dan menghirup udara banyak-banyak. Namun, dirinya tak bisa melakukan itu. Gio tak bisa membuatnya bergerak atau berpaling meski sejenak. Dia tak bsa menggerakkan tangan atau kakinya untuk membuat pria ini menjauh, Tiara sudah terhipnotis dengan tatapan pria ini.


"I love you, Tiara!" ucap Gio sekali lagi mengatakan cinta pada Tiara. Tak ada kebohongan di dalam mata pria itu. Gio bersungguh--sungguh dengan ucapannya.


Perlahan Gio menurunkan tangannya, masih dengan menahan pergelangan tangan Tiara hingga sejajar dengan bahu gadis itu. Menekannya ke dinding bersamaan dengan semakin mendekatnya dia pada kekasihnya.


Jika mungkin cinta mempunyai warna mungkin sekarang warna di sekitaran mereka akan terlihat. Entah itu merah atau pink seperti yang banyak di gambarkan orang lain. Gio dan Tiara tak peduli dengan warana apakah itu, tapi mereka sekarang sedang menikmati warna mereka sendiri.


Suara decapan dari mulut mereka yang beradu terdengar sangat jelas di ruangan yang tenang itu. Keduanya saling menutup mata, saling menjerat dan menyesap lidah lawan, dan memperdalam ciuman mereka yang memabukkan. Gio semakin menekan Tiara ke dinding, mencengkeram erat tangan Tiara pada dinding yang dingin itu. Menikmati apa yang dia lakukan dan dia dapatkan dari Tiara.


"Emhhh...." tak sadar Tiara melenguh, nafasnya sudah habis di rebut oleh kekasihnya.


Gio menarik dirinya, memberi kesempatan Tiara untuk mengambil banyak oksigen sebelum dia rebut lagi setelah ini.


"Lepaskan aku. Ayo kita kerja lagi." Tiara berucap, Gio selalu sebal jika Tiara sudah mengingatkan seperti itu.


"Kenapa kau selalu mengingatkan kerja dan kerja?" tanya Gio sebal.


"Karena kita memang seharusnya kerja, kan?"


"Tapi aku masih ingin menciummu, bagaimana?" Gio dengan puppy eyesnya. Membuat Tiara geli melihat raut wajah yang menggelikan itu. Pria ini, pria beku, pria datar, dan juga menyebalkan. Kenapa sekarang jadi seperti ini? Masih Gio kah dia? Aahh... dia tak tahan!


"Sekali lagi dan kita kembali bekerja oke." Tiara menggerakkan kepalanya.


"Boleh?" tanya Gio dengan tersenyum. Tiara mengangguk malu. Daripada Gio tak membiarkannya bekerja, dan pekerjaannya semakin menumpuk seperti dua hari yang lalu. Kalau saja tak ada OB yang mengetuk pintu, bibirnya pasti akan semakin bengkak karena ulah pria itu.


"Kenapa kau tidak romantis sekali? Kalau mau cium, ya cium saja, kenapa harus bertanya?" tanya Tiara.


"kau ini aneh, tadi kau bilang jangan mencuri ciuman mu, kan? Dan sekarang aku meminta izin, kau bilang aku tak bisa romantis? Kenapa wanita itu aneh, tadi dia beiang begitu, sekarang dia bilang be..."


"Sudah cepat lakukan sekarang, atau kalau kau masih mau bicara lebih baik lepaskan saja aku!" Tiara mulai kesal!


Ampun ini pasangan aneh yang pernah author buat.


"Iya aku akan lakukan sekarang!"


"Ah lama!" Tiara berdecak kesal. Tiara menarik tangannya dari cengkeraman tangan Gio dan menarik rahang pria itu dengan kedua tangan, membuat Gio terkejut. Tiara telah melesakkan lidahnya ke dalam mulut Gio dan menggerakkannya mencari lidah Gio untuk disesap.


Sudut bibir Gio tertarik sedikit, dia telah sukses membuat wanuta ini berani dan juga mahir berciuman sekarang!


Kembali terdengar suara decapan dan juga lenguhan di antara keduanya. Gio mengungkung Tiara ke dinding sedangkan kedua tangan Tiara menahan dada Gio agar tak menghimpit dirinya di antara tembok dan tubuh pria itu seperti roti lapis.


Kedua orang itu sampai lupa segalanya. Lupa dengan dimana mereka berada. Lupa dengan waktu yang ada di bumi. Lupa dengan segala hal. Sampai mereka tak sadar jika ada dua orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu dan menatap mereka dengan mulut yang terbuka lebar.


Gio danTiara saling mel*mat dengan nikmatnya, bertukar saliva, dan saling mencecap rasa. Mengekspresikan rasa sayang yang ada di dalam hati mereka saat ini.


"Akhem!" Suara deheman membuat Gio dan Tiara tersadar. Tiara mendorong dada Gio cukup keras karena terkejut, hampir saja Gio terjengkang jika saja tak menahan dirinya dengan kakinya. Mata Tiara membulat saat melihat siapa yang ada di hadapannya. Dua orang yang berpengaruh di perusahaan ini tengah berdiri dan pastinya mereka tadi melihat dirinya dan Gio sedang melakukan....


AAAAKHHHH...!!! Ingin berteriak.


Tiara ingin terjun saja dari lantai ini. Tak apa jika dirinya akan mati. Dia tak tahan menahan malu pada dua orang ini!


Segera Tiara menundukkan kepalanya. Tak berani menatap, bahkan tak berani menggerakkan tangannya hanya untuk sekedar mengusap sudut bibirnya yang basah.


"Apa yang sedang kalian perbuat di kantor putraku. Putra kesayangan?"