
Hari ini aku mengunjungi perusahaan milik Alex. Beberapa orang yang aku utus tidak bisa membuat dia memberikan saham itu meski dengan penawaran harga tiga kali lipat. Dia malah berkata ingin langsung bertemu denganku untuk makan malam sambil membahas masalah ini. Ya ampun. Masih lebih baik kalau dia secara pribadi mengajakku lewat telfon. Dia berkata seperti itu pada orang yang aku utus. Sudah lah, lagi pula itu hanya acara makan malam.
Samuel sangat menjengkelkan. Dia bilang akan segera datang tapi ini sudah lebih dari satu bulan belum datang juga.
"Kenapa cemberut begitu?" Tanya Alex sambil membuka pintu mobilnya untukku. Aku menarik kedua sudut bibirku, memberikan senyuman malas padanya, dia hanya tertawa kecil melihatku.
"Gak ada yang lucu!" ketusku. Dia menghentikan tawanya.
"Ternyata aku bisa melihat sisi lain nona Laura!" ucapnya lalu menutup pintu mobil saat aku sudah masuk ke dalam. Alex setengah berlari memutar mobil dan kemudian masuk ke belakang kemudi.
"Sudah siap?" tanyanya sambil menyalakan mobilnya.
"Tidak perlu tanya!" dia lagi-lagi tertawa. Aku memang seatbelt do tubuhku.
"Nona Laura ini sangat galak, aku jadi takut!" ucap Alex pura-pura dengan wajah takut. Aku memutar bola mata malas. "Tapi aku senang, nona Laura tidak bersikap seperti wanita lain yang suka mencari perhatian. Itu sebabnya aku suka dengan nona."
"Jangan samakan aku dengan wanita lain! Aku memang begini, galak. Masalah?!" dia tertawa lagi.
"Oh, tentu tidak! Wanita galak malah membuatku bersemangat!" ucapnya lagi sesekali melirik ke arahku. Hehh, apa maksudnya? Dia sedang modus kah? Malas sekali. Kalau bukan karena masalah kantor aku gak mau pergi dengan dia!
Tak berapa lama kami sudah sampai di tempat yang di tuju. Satu orang pelayan berjalan di depan kami menunjukkan tempat yang sudah Alex pesan.
Sampai meja kami, Alex menarik kursi untukku. Perlakuannya sangat manis.
"Trimakasih!" ucapku.
"Sama-sama. Aku tidak tahu makanan apa yang nona suka, jadi tidak apa-apa kan kalau kita makan ini seadanya?" tanya Alex merendah. Seorang pelayan menyimpan piring di atas meja. Steak tenderloin dengan saus krim pada hitam.
"Tidak apa-apa kan?" tanya Alex lagi. Sebenarnya aku bosan dengan makanan itu, aku ingin yang lain, terutama aku ingin batagor, hehe...tapi ya sudah lah. Hargai orang yang sudah mengajakku.
"Iya tidak apa-apa. Ini cukup istimewa. Tapi kenapa harus terlihat romantis? Apa pak Alex yang terhormat sedang mengajakku kencan?" tanyaku, sambil memainkan garpu di tanganku. Ya aku fikir tadinya makan malam biasa, tapi ternyata suasananya disini sangat romantis. Tidak ada pengunjung lain di lantai dua ini, apa mungkin dia sudah memesan lantai ini hanya untuk kami? Ruangan yang redup, dan di tengah meja ini juga terdapat lilin yang menyala.
Alex tertawa mendengar ucapanku sambil menggaruk belakang lehernya. "Ya kalau nona menganggap ini sebagai kencan boleh saja!" dia tertawa kecil.
"Maaf pak Alex..."
"Panggil aku kak, seperti di malam itu. Rasanya aku terdengar tua dengan panggilan 'pak'!" protesnya lalu dia mulai memotong steak itu kecil-kecil dengan cepat lalu menyodorkan piringnya padaku.
"Ini aku potongkan buat kamu." Ish sok romantis! Dia sedang modus mungkin ya? Aku mengambil piringnya dan menukar milikku yang masih utuh.
"Oke! Kak Alex, tidak perlu seperi ini, aku bisa memotongnya sendiri."
"Tidak apa-apa, aku yang mau kok!" dia tersenyum. Sungguh manis, bisa saja kalau orang lain yang melihat pasti akan meleleh. Lesung pipinya membuat dia terlihat manis seperti penyanyi Afghan itu.
"Trimakasih! Sebelumnya aku minta maaf. Langsung to the point saja. Aku gak suka basa-basi!" ucapku. "Mengenai saham milik kak Alex yang ada di Aditama corp., boleh buat aku? Aku akan menawarkan harga yang pantas kalau kak Alex mau menjualnya padaku!" dia tak bereaksi, hanya diam menatapku dengan tajam. Aku menunggu jawaban. Dia menghela nafas panjang dan berat.
"Tadinya aku fikir kita hanya akan makan malam." dia tersenyum sambil memiringkan kepalanya, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Aku cuma gregetan sama kak Alex, beberapa orangku sudah aku kirim untuk urusan itu, tapi kak Alex keukeuh mengundang aku buat makan malam. Bukannya untuk membahas ini?" tanyaku lagi. Dia mengangkat kedua bahunya. Aku tertawa sambil mendecih tak suka. Biarkan saja kalau dia menganggap aku tidak sopan.
"Kenapa nona ingin saham itu? Itu hanyalah saham yang tidak bernilai karena Aditama corp. sudah diambang kebangkrutan. Dan banyak yang membatalkan kerjasama dengan mereka. Aku kira perusahaan itu tidak akan bertahan sampai dua tahun lagi." Aku menelan makanan yang sudah aku kunyah, lalu mengambil minum air putih di gelasku.
"Memangnya kenapa kalau mereka hampir bangkrut? Dua tahun aku kira akan cukup untuk kembali membangkitkan perusahaan itu. Ayolah kak Alex. Aku inginkan saham itu. Berapapun harga yang kak Alex mau akan aku beli. Ya?" aku berusaha membujuk pria ini.
"Apa motif kamu?" dia memakan steak itu dengan tenang, pandangannya tertuju pada piring miliknya. Aku terdiam. Dia bertanya motif, apa dia tahu maksud tujuanku?
"Aku tahu kamu punya saham yang cukup banyak disana. Kalau kamu ingin membuatnya cepat bangkrut bisa saja kan dengan menarik saham dari mereka? Apa motif kamu ingin saham milikku? Ingin mengakuisisi?" tanya dia lagi.
Aku tertawa kecil dia sudah membaca jalan pikiranku ternyata.
"Ketahuan deh!" aku berujar sambil tersenyum. Dia tertawa sambil melihatku.
"Apa kamu punya dendam dengan pemilik perusahaan itu?" tanya Alex lagi.
"Umm... sebenarnya aku lebih ingin balas dendam pada ibunya." ujarku. Ya targetku sedari dulu memanglah pada ibunya, bukan pada Devan.
"Maksudnya tante Mauren?" aku mengangguk. "Sepertinya kamu cukup kenal dengan keluarga mereka.
"Lumayan!" ucapku, satu potong steak kembali masuk ke dalam mulutku.
"Menarik. Apa hubunganmu dengan mereka?"
"Itu rahasia! Kamu juga kenal dengan mereka?" tanyaku.
"Ya kenal, karena memang kami punya kerjasama dan aku juga menanam saham disana. Dulu sih lumayan tapi sekarang..." dia terdiam, lalu tertawa dengan nada mengejek.
"Bisakah kita tidak bahas ini?" ucapnya raut wajahnya berubah kecut.
"Kenapa?" tanyaku. "Apa karena kamu juga punya dendam pada pemilik Aditama corp.? Pada siapa? Om Stevan? Tante Mauren? Atau Devan?" dia terdiam. "Aku tahu kamu juga ikut andil mempermainkan perusahaan itu sampai Devan sekarang kelabakan dengan usahanya. Dia sedang mengalami masa-masa sulit empat tahun ini, dan kak Alex ikut bermain di dalamnya. Tepatnya menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkan dia tanpa orang lain akan menyalahkan kak Alex lebih banyak lagi!" Alex terkesiap mendengar ucapanku. "Benar kan?" aku mengambil minum ku dan menenggaknya.
Dia tertawa dengan keras, tawa yang cukup menakutkan bagiku. "Ternyata ada yang tahu ya!" dia memelankan suara tawanya. "Tidak aku sangka, nona Laura ternyata tahu apa yang sudah aku perbuat. Hebat!" pujinya sambil mengangkat gelas yang berisi minuman anggur di depannya. "Aku penasaran, sebenarnya apa yang membuat wanita secantik dan seanggun ini mempunyai dendam dengan ratu dari keluarga Aditama!" dia menenggak minumannya lalu menyimpannya kembali.
"Rahasia!" ucapku sambil menempelkan telunjuk di depan bibirku. Dia tertawa lagi smbil menggelengkan kepalanya.
"Sungguh misterius, aku semakin penasaran. Bisakah kita kenal lebih jauh lagi nona? Aku sungguh tertarik pada anda!"
"Kita mengenal hanya sebatas rekan bisnis, tidak ada yang lain!" ucapku. Dia menganggukan kepalanya.
"Sayang sekali. Padahal aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi. Siapa tahu kamu adalah bidadari yang sudah Tuhan utus buat aku!"
"Sayangnya bidadari ini sudah milik orang lain!" ucapku. Dia terkejut menatapku.
"Iya!" aku mengangguk lalu mengambil serbet untuk mengelap mulutku.
"Tidak mungkin!" ucapnya. "Tidak ada cincin di jari manismu."
"Memangnya apa artinya cincin? Itu cuma sebuah simbol!" Dia terdiam. Raut wajahnya berubah suram bercampur sedih.
"Aku tidak pernah dengar kalau kamu sudah menikah!" ucapnya lagi.
"Memangnya apa aku harus memasang berita kalau aku punya suami?"
Dia terdiam, memijit keningnya dengan ibu jari dan telunjuknya.
"Maaf, karena aku sudah buat kamu patah hati, kak Alex. Tapi aku juga tidak mau membuat kamu suka dengan ku lebih jauh lagi." dia masih terdiam.
"Oke! Karena makanan ku sudah habis dan tidak ada kesepakatan di antara kita, sepertinya aku harus pamit, aku akan pulang sendiri!" Aku bangkit dari kursiku. "Trimakasih makanannya."
"Eh tunggu. Aku antar pulang." ucapnya, dia ikut berdiri.
"Tidak usah kak Alex, aku gak mau..."
"Aku yang bawa kamu kesini, jadi aku akan antar kamu kembali ke hotel." aku mengangguk mengiyakan.
Kami berjalan menuju basemen dimana mobil mewahnya terparkir. Lagi-lagi dia membukakan pintu mobil untukku. Lalu berputar dan masuk ke pintu yang lain, duduk di belakang kemudi. Mobil berjalan dengan perlahan.
"Aku tidak menyangka kalau kamu sudah menikah. Kamu terlihat masih sangat muda, sukses dan juga berbakat, aku fikir kamu masih lajang. Tolong maafkan aku yang sudah salah mengira!" ujarnya sambil sesekali melirik ke arahku.
"Ya aku fikir karena aku menikah dengan dia makanya aku bisa sesukses sekarang!"
"Sayang ya, kenapa kita harus bertemu sekarang, tidak dari dulu sebelum kamu menikah dengan suami kamu." Aku tertawa mendengar dia berbicara dengan nada setengah merajuk. "Aku yakin kalau kita bertemu sebelum itu, aku akan bisa dapatkan hati kamu, mungkin saat ini kita sudah mempunyai anak." dia tertawa, aku pun sama.
"Ya mungkin saja!" ucapku. "Tapi kak Alex terlalu kepedean."
"Memangnya kenapa tidak pede? Aku yakin kok! Kalau kamu tidak mau dan tidak cinta sama aku, aku akan paksa kamu supaya mau dan cinta sama aku, bagaimanapun caranya!" Ya ampun, aku ketemu cowok posesif lagi sepertinya!
"Aku benar-benar kagum dengan mu, Laura!" ini pertama kalinya dia menyebut namaku tanpa embel-embel nona. "Pertama kalinya bertemu sama kamu di acara lelang amal itu, aku rasa aku sudah jatuh cinta sama kamu, meski kamu berusaha menutupi identitas kamu. Ada sesuatu yang beda dari kamu. Aku gak tahu apa, tapi kamu sudah buat aku sangat kagum sama kamu!"
"Ya aku tahu, aku ini mengagumkan! Banyak yang bilang seperti itu."
"Ya tidak heran juga sih, kecantikan kamu membuat kaum lelaki ingin selalu mengagumi kamu."
"Berhenti gombal, kak Alex. Kadang aku malah merasa ini anugerah tapi juga bencana."
"Ya aku bisa tebak, pasti banyak yang tidak mau menyerah, termasuk aku." Aku mengangguk, kami sama-sama tertawa.
Jalanan termasuk lancar malam ini, tidak terlalu padat, namun malam semakin gelap di atas sana. Cahaya bulan tertutupi awan hitam yang sudah mulai merata di langit malam.
Mobil berhenti di depan hotel. Dia membuka seatbeltnya.
"Aku keluar sendiri saja, tidak usah di buka-kan." ucapku sambil membuka seat belt ku. Dia tersenyum sambil mengangguk.
"Laura."
"Iya."
"Besok datang ke kantor ku, oke? Jam makan siang!" Aku tertegun. Apa ini artinya dia akan setuju?
"Oke!" ucapku sambil mengangguk mengiyakan. Dia tersenyum. "Trimakasih makan malamnya." Aku membuka pintu dan keluar dari sana. Dia melambaikan tangannya sabelum kembali menginjak gas mobilnya.
Aku berjalan ke dalam hotel, beberapa pegawai mengangguk hormat padaku. Satu di antaranya mendahuluiliku menekan tombol lift untukku.
Badanku lelah sekali, rasanya juga lengket. Nanti aku akan mandi dengan air hangat plus aromatherapi untuk menenangkan sarafku.
Sampai di kamarku, aku membuka pintu, ruangan gelap, padahal tadi sewaktu aku berangkat untuk makan malam lampu sudah aku nyalakan. Apa lampunya rusak?
Aku berjalan dengan hati-hati ke arah dimana terdapat saklar lampu, menekannya hingga keadaan di dalam ruangan ku terang benderang. Silau, aku menghalangi cahaya lampu yang membuat mataku sakit.
"Kejutaaann!!" suara seseorang mengagetkanku dari belakang. Aku membalikan tubuhku dan melihat Samuel berdiri disana.
"Sam!" jeritku lalu mendekat, dia tersenyum dengan sangat manisnya, merentangkan tangannya selebar yang ia bisa. Aku mengulurkan tanganku ke arahnya.
"Aww..." dia terpekik saat aku menjepit kulit perutnya dengan jari tanganku. Gemas!
"Sakit. Bar-bar! Pangeran dateng malah maen cubit! Terlalu!" cicitnya sambil megusap perut kotaknya.
"Rasain! Aku tunggu kamu udah lama Sam, kenapa baru datang?!" aku berteriak hingga dia menutup telinganya.
"Sibuk! Proyek danau buatan agak macet!" ucapnya.
"Kok bisa?" tanyaku menatap tajam ke arahnya.
"Gak mau gitu ajak aku duduk dulu? Capek nih." ucapnya lalu dia berjalan ke arah sofa.
"Aku ambilin minum dulu!" aku berjalan ke arah kulkas dan mengambil minuman kaleng dari dalam sana, dan kembali ke arah Sam menyerahkan minuman itu padanya. Samuel segera membukanya dan minum dengan rakusnya.
"Kenapa proyek bisa macet?" aku duduk di sampingnya.
"Biasalah, ada seseorang yang ingin membuat masalah, tapi aku sudah membereskan orang itu." dia tertawa dengan nada jahat. Ya, 'membereskan'! Pastinya tidak akan ada yang selamat.