
Selama dalam perjalanan pulang Gio tidak berbicara sama sekali. Tiara hanya menatap pria itu sekilas lalu mengalihkannya ke arah lain. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Gio dan juga Heru tadi, apa masalah mereka hingga kedua orang itu berkelahi.. Tidak, bukan berkelahi, hanya saja Gio yang memukuli pria itu, dan Heru hanya diam bak karung sak yang rela ditinju tanpa mau melawan.
Perjalanan udara yang singkat itu mendadak terasa lama bagi Tiara, dirinya sangat ketakutan saat pesawat lepas landas tadi, biasanya Gio akan memegang tangannya tapi tadi dia tidak melakukan apapun. Pandangan mata pria itu kosong menatap ke depan, tidak teralihkan kepada yang lain. Keheningan yang tercipta diantara mereka membuat Tiara bosan dan hanya berdialog dengan hatinya sendiri.
Apa yang telah terjadi?
Ada apa dengan mereka?
Apa yang Naura katakan pada Gio?
Kenapa Gio memukuli Heru?
Apa ini ada hubungannya Naura dengan mereka?
Tiara tersadar saat tangan Gio mengambil tangannya dan mengusapnya dengan perlahan.
"Jangan pikirkan apapun, Ra. Aku minta maaf." Suara Gio terdengar bergetar. Tiara bisa rasakan itu, jika biasanya pria itu kuat, tapi kali ini dia terlihat sangat rapuh.
"Aku janji tidak akan berbuat seperti tadi di depan mu." Gio merendahkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Tiara. Mencari kenyamanan untuk hatinya yang gundah dan tidak karuan. "Aku marah, Ra." Gio berhenti berkata, dia menghela nafas dan mengeluarkannya dengan kasar.
Gio terdiam beberapa saat lamanya, Tiara mengusap kepala Gio dengan lembut, satu tangan yang lain menggenggam tangan Gio dengan erat. Tiara tidak ingin bertanya, biarlah Gio belajar untuk mengeluarkan rasa di dalam hatinya.
"Heru selama ini telah berbohong padaku. Dia telah melakukan hal yang selama ini aku bahkan tidak tahu. Dia mengalah untuk aku. Yang disukai Naura adalah dia, bukan aku. Wanita itu memang jahat, dia menerima aku dan juga meningggalkan aku hanya karena ingin membuat Heru sakit hati. Tapi apakah dia tidak tahu kalau dia telah menghancurkan perasaan seseorang?"
Pesawat sudah bersiap landing di bandara. Gio telah tertidur hampir sepuluh menit yang lalu, sedangkan Tiara sibuk dengan kata hatinya yang bertanya mengapa dan mengapa, tapi dia mencoba untuk mengerti, semua orang pasti punya masa lalu, entah itu menyenangkan atau menyakitkan. Tiara hanya perlu menjalankan perannya sebagai istri dengan baik.
"G, hei bangun." Tiara menepuk pipi Gio saat pesawat telah benar-benar berhenti. Beberapa orang sudah mulai berdiri dan mengambil tas milik mereka lalu berjalan ke arah pintu pesawat. Gio menggeliat dan membuka matanya melihat ke sekeliling, banyak orang yang telah meninggalkan kursinya.
"Kita sudah sampai, ayo turun." ajak Tiara lalu bangkit dan menarik tangan Gio.
"Ara, maafkan aku." Gio menarik tangan Tiara hingga istrinya itu berhenti melanjutkan langkahnya.
Tiara berbaik, lalu tersenyum ke arah Gio. Dia membungkukkan tubuhnya menumpukan kedua telapak tangannya pada sandaran kursi milik Gio.
"Mau janji tidak?" tanya Tiara dengan meyodorkan jari kelingkignya, "Kita lakukan permainan mimpi sekali lagi."
Gio hanya terdiam menatap jari kelingking Tiara yang ada di depan wajahnya.
"Semua hal buruk yang terjadi selama kita di Bali, anggap saja itu hanya mimpi buruk yang harus kau buang dan jangan kau ingat lagi. Meskipun di suatu hari nanti kau bertemu dengannya, anggap saja kau tidak pernah melihat dia sebelumnya." Tiara mencoba bersikap kuat dengan mengucapkan hal itu.
"Seperti permainan kita dulu." pinta Tiara. Gio masih terdiam tidak menyambut tangannya membuat Tiara merasa sedih. *Apakah Gio masih ada rasa dengan wanita itu? Nyatanya masa lalu tidak mudah untuk dilupakan. *
"Aku akan berusaha. Tapi tolong bantu aku, ya. Istriku." Akhirnya Gio menyambut tangan Tiara membuat Tiara tersenyum senang. Gio menarik tangan Tiara dan memeluknya erat. "terima kasih."