DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 104



Selesai makan malam, Daniel sudah kembali ke kamarnya, tinggal aku, ayah, dan Sam di meja makan. Pasti akan ada sesuatu yang akan ayah sampaikan lagi.


Meja makan telah di kosongkan, hanya meninggalkan beberapa gelas minuman di depan kami masing-masing.


Ayah menautkan jari jemarinya di depan wajahnya, kedua sikutnya bertumpu di atas meja. Ini akan jadi pembahasan yang penting dan serius, biasanya sih begitu kalau sikap ayah seperti itu. Suasana menjadi sedikit tegang.


"Anye. Sam!" panggil ayah pada kami berdua. Kami menoleh menatap ayah tanpa berkata. Aura tegang dan dingin terasa di antara kami.


"Ayah tidak ingin banyak basa-basi. Kalian sudah saling mengenal sejak lama, dan Daniel juga butuh sosok seorang ayah. Tidak kah kalian berfikir kalau kalian menikah saja?" tanya ayah.


Haahhh, pertanyaan ini lagi!


"Ayah, aku..."


"Ayah kira kamu sudah cukup untuk memikirkan dia!" Ayah memotong pembicaraanku. "Ayah hanya memikirkan Daniel. Bisakah kalian berdua juga memikirkan perasaan anak itu? Meskipun Daniel terlihat cuek, tapi dia rindu dengan sosok seorang ayah!" Apa yang aku takutkan selama ini, ayah lagi-lagi bersikeras meminta kami menikah.


"Ayah, tahukan kalau aku..."


"Baik, ayah. Izinkan aku untuk meyakinkan Anye. Tapi kalau Anye tetap bersikeras tidak mau padaku, ayah tidak bisa memaksakan kehendak ayah lagi pada kami!" lagi-lagi ucapanku terpotong. Biasanya Sam hanya diam saja. Tapi kali ini kenapa Sam angkat bicara?!


"Bagus. Anye, dengarkan. Lupakan dia, dan tatalah masa depan dengan Samuel. Cukup selama ini kamu memikirkan dia. Fikirkan lagi kebahagiaan Daniel, ayah yakin Sam akan menjadi ayah yang baik. Pembicaraan selesai, ayah kembali ke kamar!" ayah bangkit dan mulai melangkah meninggalkan kami.


Aku tahu itu, sikap ayah meninggalkan kami begitu saja karena ayah tidak mau aku debat lagi, yang berarti kali ini aku harus patuh! Ah bisakah aku dan Sam...


"Sam. Aku tahu kamu juga gak mau. Kenapa kamu setuju?" tanyaku saat yakin ayah sudah masuk ke kamar. Aku menatap Sam yang duduk di seberangku. Sam mengambil gelasnya dan minum satu tegukan.


"Aku hanya kasihan sama kamu dan ayah. Kalian berdebat hanya karena masalah ini. Dan apa salahnya turuti kata ayah sedikit saja. Toh tadi ayah juga sudah setuju. Kalau kamu tidak mau tidak akan memaksa lagi." aku terdiam. Sam bangkit lalu pamit untuk kali ke kamarnya.


Aku hanya sendiri. Tak jauh dari meja makan berdiri butler yang menungguku selseai. Dia mendekat saat aku melambaikan tanganku lalu duduk di kursi di sebelahku.


"Menurut pak Didi apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus menikah dengan Sam?" tanyaku meminta saran pada mantan penjaga sekolahku dulu.


"Bagaimana dengan hati nona. Apakah nona mau?" aku terdiam. Jawaban di dalam hatiku adalah TIDAK!


"Kalau nona tidak mau, cukup jelaskan pada tuan besar! Saya yakin sebagai seorang ayah, tuan besar tidak ingin putrinya sedih. Dia pasti mendengarkan! Istirahat nona, sudah malam!" titah nya padaku.


Aku mengangguk. Lalu bangkit. "Pak Didi, tolong juga bicara dengan ayah supaya ayah tidak memaksaku lagi." Aku pergi dengan langkah ku yang terasa berat.


Hidupku. Kenapa jadi begini? Salahku karena di depan ayah aku selalu mengutuk Devan, padahal aku hanya...kangen.


"Devan sialan!!" aku mengumpat dengan membanting pintu kamarku.


Lima tahun dan aku tidak bisa lupakan kamu. Aku menyedihkan!


Aku tidak bisa tidur. Kata-kata ayah terus terngiang di telingaku. Ini tidak bisa di biarkan!


Aku bangkit berdiri dan keluar dari kamar. Berjalan ke arah kamar Sam dengan cepat. Pintunya aku ketuk. Terdengar suara dari dalam yang mempersilahkan aku masuk.


Suasana remang terlihat saat aku membuka pintu. Sam sedang berdiri. di depan jendelanya sambil memegangi minuman kaleng.


"Sam."


"Soal yang itu...tadi..."


"Kenapa? Kamu masih tidak setuju?" Tanya Sam cepat.


"Kamu tahu jawabannya!" aku terdiam, rasa canggung seketika menghampiri kami berdua.


"Kamu masih belum bisa lupakan dia kan?" tanya Sam padaku.


"Kamu juga kan?" tanyaku balik. Sam tersenyum.


"Ya, aku belum bisa lupakan Rosseline." Sam menyebut nama gadis yang pernah ada di dalam hatinya. Rosseline adalah gadis baik yang aku kenal, cantik, tinggi, rambut berwarna coklat, dengan iris mata berwarna hijau. Jika saja Rosseline bisa sembuh dari sakitnya, aku yakin dia dan Samuel pasti sekarang sudah punya bayi yang lucu.


"Sam. Aku masih mengharapkan Devan. Maaf." cicitku.


"Lalu kenapa tidak datang saja lagi sama dia?" Tanya Sam.


"Kamu ingatkan waktu itu aku pernah bilang, dia sedang makan siang dengan seorang gadis?" Sam mengangguk.


Itu kejadian yang sudah sangat lama, kalau tidak salah mendekati ulang tahun pertama Daniel. Tadinya aku mau menunjukkan diriku pada Devan, tapi rasanya aku marah, hatiku sakit saat melihat dia duduk dengan orang lain. "Setelah kejadian itu aku jadi marah dan gak mau ketemu dia."


"Salah kamu sendiri. Kamu tidak tahu bagaimana hubungan di antara mereka. Main pergi saja." ejek Sam. Ya memang aku pergi karena aku merasa sakit hati. Devan bisa makan siang dengan seorang gadis.


"Heh ingat. Kamu juga sering makan siang dengan pria lain, bahkan makan malam romantis dengan Robert."


Aku mendecih tidak suka. Sam mengingatkan aku dengan pria bule berkulit pucat dengan rambut agak merah itu.


"Itu kan untuk urusan bisnis." Aku berkilah.


"Kamu mikirnya begitu. Lalu mereka? Mereka itu sedang mengejar kamu. Daripada dengan Devan aku lebih suka kamu dengan salah satu dari mereka. Jika kamu menikah dengan Robert atau Jimmy setidaknya perusahaan semakin kuat dan akan meningkat di urutan pertama di kancah Eropa." tutur Sam.


"Itu seperti aku menjual hidupku demi uang!" cicitku.


"Lalu kalau dengan aku bagaimana?" tanya Sam dia mendekat. Bau alkohol dari mulutnya tercium dengan jelas.


"Mana mungkin, perasaanku sama kamu masih sama. Kamu adalah kakakku!" aku mendorong dada Sam.


"Apakah jantung mu tidak pernah berdetak cepat kalau kita dekat seperti ini?" Sepertinya Sam mulai mabuk. Dia meraihku hingga kami saling menempel. Tangannya merengkuh pinggangku erat. Aku berontak. Sam mabuk.


"Sam tolong lepaskan!" aku takut, Samuel tidak pernah berlaku seperti ini sebelumnya.


Sam tertawa lalu melepaskan aku.


"Aku memang hanya kakak kamu, nyatanya aku juga gak bisa punya perasaan lain selain itu. Mari kita bicara dengan ayah pelan-pelan!" Aku mengangguk.


"Pergilah ke kamar. Aku mau lanjut minum." Sam mengusirku. Aku meraih kaleng di tangannya dan membuangnya ke tempat sampah.


"Jangan minum lagi. Kamu menakutkan kalau sedang mabuk!" Sam tertawa lagi, dia mengangguk.