
Serius Eiffel sebesar ini?!
Kami baru saja sampai disini beberapa menit yang lalu, menatap salah satu ikon terkenal dunia. Menara Eiffel!
Mataku panas, bukan karena terharu, tapi karena aku terkagum hingga rasanya mata ini sulit untuk berkedip. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Lagi-lagi aku membisu, rasanya seperti berada di dalam dunia mimpi.
"Sudah senang?" tanya ayah. Ayah berhasil menyeretku kembali ke dunia nyata. Aku hanya mengangguk.
Udara sore semakin dingin, beruntung tadi Sam mengingatkan aku untuk memakai baju tebal, dan sepatu boot.
"Ini indah ayah." Ayah tersenyum senang. "Tapi akan lebih indah lagi kalau ada salju!" tuturku. Ayah mengangguk setuju.
Kami berjalan di bawah kawasan Eiffel yang tinggi menjulang. Dengan pemandangan langit sore yang indah. Aku menggamit lengan ayah. Sekilas kami seperti sedang berkencan, hihi. Lucu.
Beberapa orang menatap kami, mungkin mereka juga mengira aku adalah pasangan ayah, menatap kami lalu tertuju pada perutku. Ya ampun aku jadi berfikiran seperti aku ini sugar baby nya ayah. Ih fikiranku, ngaco!
Beberapa orang mengikuti kami dari belakang. Biasalah, orang-orang nya ayah. Aku sudah hampir terbiasa dengan keberadaan mereka, sewaktu dengan Devan juga aku di kawal dua orang, tapi bedanya disini aku mendapat sepuluh orang. Berlebihan memang!
Sudah lah lupakan mereka.
Kami terus berjalan, menikmati udara sore yang semakin dingin. Angin berhembus cukup kencang, dingin. Seperti aku sedang membuka kulkas tapi ini sangat dingin dari itu.
"Ih ayah!" sebal aku merengut. Ayah mengacak rambutku hingga berantakan.
"Kamu lucu. Ayah jadi ingat saat ayah pertama kali bicara dengan bahasa Prancis. Ayah kira sama seperti kamu." Lalu ayah bercerita saat pertama kalinya ayah belajar, ya ceritanya hampir sama sepertiku. Ayah butuh setidaknya hampir empat bulan untuk bisa mengerti meski masih canggung untuk berkata dalam bahasa mereka. Aku? Kapan aku akan bisa?
Coq Au Vin. Makanan ini terasa agak aneh di lidahku, porsinya juga sedikit aku mana kenyang. Ayah bilang ini adalah hidangan ayam jantan yang di masak dengan wine.
"Bukannya wine itu sejenis anggur ya?" tanyaku pada ayah.
"Yup, benar." ucap ayah, lalu ayah memakan makanan di piringnya sendiri, namanya... sebentar, aku chek dulu di buku menu. Langue de boeuf. Ih ampun deh susah nya melafalkannya.
"Mau coba yang ini? Ayah menyodorkan satu potong di garpunya padaku.
"Makanan apa itu?" tanyaku pada ayah, tidak lantas begitu saja aku membuka mulutku.
"Lidah sapi, tapi ini enak." ucap ayah.
"Ih enggak ah. Geli." aku bergidik geli, menjauhkan diriku ke belakang. Bulu tanganku meremang. Bagaimana rasanya itu? Penasaran tapi aku tetap tidak mau memakannya. Ayah hanya tertawa lalu menarik garpunya dan memakannya dengan santai. Iuhhh....!!!!
Setelah selesai makan malam, dan dengan beberapa hidangan penutup yang manis, kami pulang ke rumah ayah. Malam semakin larut, udara semakin dingin, tapi aku puas. Setelah masa-masa sulit ku beberapa bulan ini apalagi beberapa hari yang lalu, huft aku harap tidak akan ada lagi kehidupan sulit seperti itu!