
Mobil sudah sampai di suatu bangunan. Beberapa kendaraan terparkir rapi di luar.
Di dalam ada sekitar sepuluh sampai lima belas orang dengan aktifitas masing-masing.
Edgar menarik tanganku ke sebuah loker. Dia mengambil semua keperluannya dari mulai pelindung sikut dan lutut, dan skate board berwarna hijau kesukaannya. Beberapa orang menyapa kami, mereka juga bersikap hormat padaku selaku kekasih dari pemilik tempat ini, Edgar.
Ya, Edgar dulu memperkenalkan aku sebagai pacarnya, dia bilang supaya tidak ada yang mengganggu, dan aku fikir itu hanyalah modus! Tapi tak apa dia bilang demi keamanan aku kan.
Aku hanya duduk diam memperhatikan Edgar yang sedang bermain skate board. Dia sangat lincah bergerak kesana kemari melewati rintangan di depannya. Sesekali melambaikan tangannya ke arahku. Kami terlihat seperti sepasang kekasih bukan?
Aku membuka hpku, banyak notif entah dari grup riweuh atau yang lainnya. Melihat status whatsapp yang entah kenapa membuat aku sangat penasaran. Kak Melati sedang menyuapi Devan makan kue! Apa Devan di rumah?
Edgar datang dengan badan penuh peluh, dia menyambar air mineral yang tadi di bawanya dari mobil. Duduk di sebelahku dan meminum air di botol dengan rakus.
"Kenapa Nye?"
"Gak pa-pa." ucapku menyembunyikan rasa panas di dalam hatiku.
"Ah, aku juga mau main!" Aku menyimpan hpku ke dalam tas dan menyambar skate board milik Edgar dan segera menjauh dengan menaikinya. Edgar berteriak supaya aku juga memakai pelindung tapi tidak aku hiarukan.
Bergaul dengan Edgar membuat aku sedikit bisa menguasai papan kecil ini. Awalnya Edgar tidak setuju saat aku mencobanya, dia bilang takut aku jatuh dan terluka. Salahnya sendiri membawaku ke tempat seperti ini.
Beberapa orang terdiam melihat permainanku, aku hanya meluncur dengan tenang, menyeimbangkan badanku di atas papan beroda kecil ini. Trik Ollie dan Nollie sudah aku kuasai sejak lama. Aku melajukan skate board dengan kencang, kali ini aku melakukan kickturn, seperti biasa. Mulus. Hanya memutar papan dari belakang ke depan seperti itu saja mudah bagiku. Beberapa halang rintang juga tidak menjadi masalah buatku.
Beberapa orang menatap aneh diriku, ya bagaimana tidak? Aku yang hanya memakai dress disini, tentunya aku juga pake short pants sebatas paha berwarna hitam, kebiasaan sejak lama. Aku tidak mau rok ku tersibak dan memberi tontonan gratis pada para lelaki saat aku memakai rok.
Edgar hanya terdiam di tempatnya, melihat aku dengan raut wajah khawatir. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin mengenyahkan fikiranku dari Devan yang mungkin sedang bermesraan dengan kak Mel. Apa mereka juga mungkin sedang melakukan... peluk? cium?
"Aaakhh!!" aku terjatuh, papan skateboard menggelinding ke depan hingga menabrak papan milik orang lain. Lenganku sakit, aku jatuh terjengkang ke belakang. Perih rasanya tanganku. Bokong ku juga linu.
Edgar dan beberapa orang berlari ke arahku, membantu aku berdiri.
"Udah aku bilang kan, jangan main skate board. Gak pake pelindung lagi!" Edgar mendumel sambil membubuhkan alkohol di lenganku. Kami sedang duduk di sebuah bangku, dan Edgar sedang mengobatiku. Wajahnya terlihat khawatir. Sesekali meniupi lenganku saat aku meringis merasakan perih.
"Hehe, aku lengah tadi, bang!" aku hanya menyengir ria. Edgar mengernyit bingung.
"Tumben biasanya 'gue elo', sekarang 'abang'?" sindirnya.
"Lagi eling berarti gue?" Edgar memutar bola mata malas mendengarku.
"Udah!" ucapnya sambil menutup luka ku dengan plester.
"Masih sakit gak?" tanya Edgar.
"Udah enggak." ucapku. Tapi hati ini lebih sakit, bang! monologku dalam hati.
"Pulang yuk!" ajaknya.
"Kok pulang, sebentar lagi deh bang!" rengekku.
"Gak! Gue gak mau wajah mulus elu jadi coreng gara-gara nyium lantai!"
Dan sebelum aku benar-benar membangkang Ed sudah menarikku keluar dari sana, papan skate board dan perlengkapan safety-nya sudah di simpan oleh salah satu sahabat Ed ke dalam loker.
Kami masuk ke dalam mobil, Ed segera melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Bang. Ajarin nyetir dong!" bujukku untuk yang kesekian kali.
"Gak mau! Eh, Nye. Bang Ed tuh tau ya karakter kamu, bang Ed gak mau kamu nyungsep gara-gara ngebut di jalan! Lagian masih kecil juga pengen bisa nyetir. Punya mobil aja enggak!"
"Ih bang! Gue bentar lagi juga punya KTP loh bang, gue..."
"Iya, tapi kan percuma gak punya mobil juga mau nyetir pake apa?"
"Gue kan bisa minta papa beliin mobil! Ya bang, please!" Tapi dasar Edgar rese! Dia tetap tidak mau!
Edgar mengusap pelan rambut ku dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan masih memegang setir.
"Sabar ya, nanti kalau udah umur dua puluh, abang ajarin."
"Ih keburu bisa sendiri umur segitu mah!" ketusku, sebal sembari memajukan bibirku.
"Jangan manyun gitu neng. Bikin abang pengen sosor tuh mulut! Hahaha!" suara tawa Edgar terdengar menggelegar.
"Dasar mesum!" cecarku. Edgar hanya tertawa melihat ku kesal. Emang ya abangnya si Sofia ini, paling seneng buat aku kesal!