
Jam delapan malam. Akhirnya Tiara baru keluar dari kantor bersama Gio. Suasana disana sepi, hanya ada security yang sesekali mengecek keadaan.
Tiara mendekat ke arah Gio, tangannya hampir menempel, bahkan dengan lancangnya tangan gadis itu memegang ujung lengan jas Gio. Tiara tidak berani menoleh ke kanan atau ke kiri. Dia hanya menunduk melihat ke arah kakinya.
"kamu itu kenapa?" tanya Gio yang merasakan tarikan di lengan jasnya. Menatap Tiara yang berjalan dengan menunduk.
Di tanya seperti itu, Tiara lantas mengangkat wajahnya, dan meringis malu.
"Hehe... Takut Pak. Gelap. Sepi!" ucap Tiara. Gio menggelengkan kepalanya, dia menepis tangan Tiara dari sana.
Tiara mempercepat langkahnya. Takut jika di tinggal.
Sampai mereka di luar perkantoran. Gio berjalan ke arah basemen, sedangkan Tiara berjalan ke luar. Dia akan menunggu bis atau angkutan umum untuk pulang.
Tiara menunggu seraya duduk sendirian di halte. Keadaan disana sepi, takut, tapi mau bagaimana lagi?
Tin. Tin.
Suara klakson membuat Tiara mendongak dari hpnya.
"Ayo saya antar pulang!" Ucap Gio dari dalam mobil. Dengan segera Tiara bangun dan masuk ke dalam mobil Gio.
"Trimakasih, Pak."
Gio melajukan mobilnya. Namun tak jauh dari sana dia menepikan mobilnya di tempat yang sepi.
Gio memutar tubuhnya menatap Tiara. Tiara yang bingung merasa takut karena bosnya menatapnya seperti itu.
Perlahan Gio mendekat, Tiara bersiap untuk membuka pintu, tapi tak bisa. Terkunci!
Gio semakin mendekat membuat Tiara semakin ketakutan. Apa yang akan bosnya lakukan? Ini tidak benar! Dia memang hanya seorang asisten, tapi dia tidak bisa di perlakukan seperti ini!
Plak!
"Apa yang Bapak lakuin?" jerit Tiara, seraya melayangkan telapak tangannya pada pipi Gio. Gio terkejut dengan rasa panas di pipinya, dia sontak berhenti dan megusap pipinya yang sakit.
"Kamu ini kenapa? Saya cuma mau pasangkan sabuk pengaman. Kamu lupa kalau naik mobil itu harus selalu pakai sabuk pengaman?!" tanya Gio kesal. Tamparan gadis ini lumayan juga! Perih. Panas.
Tiara terdiam. Oh!
"Ya maaf. Lagian bapak juga main maju aja. Kan bisa Pak cukup bilang atau tunjuk dari sana gak usah deketin juga, kali!" ucap Tiara kesal. Dia merasa bersalah, tapi kesal juga karena Gio sudah membuatnya takut.
Gio mendelik kesal, ia kembali ke posisinya semula di belakang kemudi.
Benar juga sih! Kenapa juga ia harus mendekat pada gadis itu?! Ah, sial! Pipinya jadi korban!
Tiara memasang sabuk pengamannya. Dia merasa canggung karena insiden tak sengaja itu. Lagian kenapa juga harus mendekat sih, kan jadi takut!
Semoga saja Gio tidak memecatnya besok pagi. Ah Tidak. Bahkan dia bisa memecatnya malam ini juga!
Gio menurunkan Tiara tepat di depan rumah gadis itu. Sebuah rumah sederhana, yang terlihat usang dengan pagar berlubang di beberapa bagian.
"Trimakasih, Pak. Sudah antarkan saya pulang," ucap Tiara lalu turun dari mobilnya.
"Hemm!" jawab Gio.
"Pak!" Tiara memasukkan kepalanya ke dalam jendela mobil.
"Soal yang tadi, saya minta maaf, saya gak sengaja."
"Hemm." jawab Gio malas.
"Bapak gak akan pecat saya kan?" tanya Tiara lagi. Takut sebenarnya.
"Tidak! Tapi persiapan tangan kamu untuk menerima hukumannya besok. Minggir!" ucap Gio lalu menaikkan kaca jendela mobilnya.
Tiara terpaksa menyingkir, dan membiarkan mobil itu pergi dari hadapannya.
Glek. Susah payah menelan ludahnya.
Hukuman apa lagi? Seribu? Dua ribu nama? Atau membersihkan jendela dari luar?
...***...
Gio kembali ke rumah. Anye masih berada di ruang tamu, memainkan hpnya.
"Gio, sudah pulang, Nak?" sapa Anye. Gio mendekat dan mencium tangan mamanya.
"Sudah, Ma. Axel mana?" taya Gio.
"Di taman belakang sama Renata."
"Oh. Gio ke kamar dulu ya."
"Makan dulu sebelum tidur!" titah Anye.
"Nanti saja lah. Belum lapar!" ucap Gio lalu pergi ke arah tangga. Anye menggelengkan kepalanya.
Anak itu kebiasaan! Susah di suruh makan!
Gio membaringkan dirinya di atas kasur, dia akan berehat dulu sebelum mandi.
Mengelus pipinya yang sakit. Keterlaluan! Niat ingin memasangkan seatbelt malah kena tampar!
Gio tersenyum, entah membayangkan apa. Tapi perasaannya hari ini benar-benar aneh. Kesal, suka, senang, marah. Nano-Nano. Lagi-lagi iklan 😅
...***...
Tiara kembali bekerja pada keesokkan harinya. Tangannya sudah merasa enakan, setelah semalam dia berkeluh kesah pada sang ibu tentang pekerjaannya. Dia hanya tak bilang jika dia di hukum menulis sebanyak seribu nama bosnya. Malu kan kalau sampai ibunya tahu dia di hukum di hari pertama!
Ibunya hanya tersenyum menenangkan dirinya sambil memijat dan memberi koyo di punggung tangan putrinya.
Tiara berjalan masuk ke dalam perusahaan. Dia naik ke dalam lift bersamaan dengan beberapa karyawan lainnya.
Desas desus terdengar mereka membicarakan CEO tampan mereka.
"Aku dengar Pak Axel sudah gak single lagi." Ucap salah seorang di antara mereka.
"Gak tahu juga. Tapi kemarin aku lihat Pak Axel menjemput seorang gadis muda. Pelayan kafe!" berbisik di akhir kalimat.
"Waaah masa sih selera Pak Axel seperti itu?"
"Iya serius! Aku lihat gadis itu pakai seragam kafe di jemput sama pak Axel. Di kasih bunga yang besar lagi!"
"Gak nyangka ternyata selera bos kita cuma pelayan!"
"Heh jangan salah, pelayan juga cantik banget!"
"Iya tapi kan ... pelayan gitu! Kenapa juga gak lirik kita yang wanita karier. Apa nanti gak mempengaruhi nama besar Aditama?"
"Gak tahu juga sih. Tapi aku salut banget sama Pak Axel. Artinya kan dia gak pilih-pilih wanita dari kasta mana! Pasti Pak Axel jatuh cinta banget tuh sama wanita itu!"
"Beruntung banget ya dia."
"Halaaah paling juga pake magic."
"Masih percaya aja sama yang begituan?"
"Percaya lah, magic tuh banyak banget, tinggal cari di pelosok desa, dapat!"
Dan banyak lagi gosip yang Tiara dengar hingga ia sampai di lantainya.
Tiara penasaran, setampan apa sih CEO nya itu sampai dia jadi perbincangan di kalangan karyawan? Dia belum pernah bertemu dengan CEO nya itu kemarin.
(Sudah Tiara, yang kamu bentak dan pelototi kemarin!)
Tiara melangkahkan kakinya ke runagannya. Dia bertemu dengan pria yang kemarin menatapnya itu. Merasa sebal karena lagi-lagi pria itu menatapnya lagi seperti kemarin. Risih. Ya meskipun ia akui ketampanannya sebelas dua belas. dengan pria beku itu.
"Mau ketemu Pak Gio?" tanya Tiara pada pria itu yang ternyata adalah Axel.
"Iya."
"Oh!" jawab Tiara lalu membuka pintu ruangannya.
"Pak Gionya belum datang, nanti saja setengah jam lagi masnya kesini." ucap Tiara sambil menyimpan tasnya di atas meja.
"Atau masnya ada pesan apa? Biar titip ke saya, nanti saya sampaikan."
"Iya. Tolong bilang ama Pak Gio. Berkas yang kemarin di kerjakan tolong berikan kepada Pak Axel. Cuma itu saja." ucap Axel.
"Oh, iya deh. Nanti saya sampaikan. Kalau begitu mas nya boleh kembali lagi ke tempat, saya mau bereskan ruangan ini dulu!" ucap Tiara.
Axel hanya mengangguk, dan keluar dari ruangan itu. Dia merasa lucu, baru kali ini ada yang memperlakukannya dingin seperti ini. Pantas saja Gio suka dengan tipe wanita pemarah ini. Kalau marah wajah cantiknya jadi unik!
Tiara membersihkan kantornya. Tugas asisten yang harus ia lakukan. Kadang ia bingung, Bukankah ini tugas OB? Ah ... sudahlah!
Gio masuk ke dalam ruangan, dia melihat Tiara yang sedang menaiki kursi membersihkan rak buku yang paling atas. Debu-debu halus beterbangan disana menyesakkan pernafasan Tiara hingga gadis itu terbatuk.
"Akh!" memekik kaget saat dia salah menginjak pada tepian kursi. Alhasil badannya melayang jatuh. Tiara mencoba berpegangan pada sesuatu, Buku. Tapi buku-buku itu ikut terbawa jatuh dan berserakan di lantai.
Tiara menutup kedua matanya, tapi tangan besar Gio menangkapnya tepat sebelum gadis itu mencium lantai.
Tiara mengalihkan pandangannya, menatap manik mata coklat gelap milik Gio. Begitu juga sebaliknya. Gio menatap Tiara tajam. Manik coklat terangnya menghipnotis Gio. Keduanya terdiam terpaku.
Deg. Deg. Deg.
Bunyi jantung siapakah itu?
Keduanya!
Nafas Tiara sesak karena menghirup nafas Gio yang segar berbau mint, sepertinya pria ini memakai pasta gigi dengan ukuran banyak hingga wanginya awet sampai sekarang.
Sedangkan Gio merasa otaknya tidak beres karena ia ingin menarik Tiara lebih mendekat padanya.
"Pak Gio?" akhirnya Tiara membuka suaranya saat Gio semakin mendekat ke dirinya.
Sadar jika ada yang salah pada dirinya, Gio melepaskan pelukannya pada Tiara.
Bruk.
"Akh!" Tiara memekik saat pantatnya menyentuh lantai. Sakit. Linu. Pak Gio keterlaluan!
"Sakit!" ucap Tiara dengan nada manja. Dia lantas bangkit dan mengelus pantaynya yang sangat linu.
"Pak Gio kenapa melepaskan saya?" tanya Tiara protes.
"Terus? Saya harus terus gendong kamu begitu?" tanya Gio. Dia mengulurkan tangannya membantu Tiara untuk bangun.
"Ya enggak! Tapi kan Bapak bisa turunkan saya yang bener. Bukannya malah melepas tangan bapak dan bikin saya jatuh. Kan sakit, Pak!"
"Salah sendiri, kenapa tidak hati-hati! Siapa yang suruh kamu bersihkan rak paling atas!"
"Kan bapak yang bilang kemarin. Bersihkan semuanya sampai bersih, dan rak buku juga. Gak ingat?!" Cerca Tiara. Gio terdiam mencoba mengingat.
Besok berangkat pagi, bersihkan ruangan terlebih dahulu, saya tidak suka barang saya sembarangan di sentuh orang lain. Menyapu, mengepel, bereskan meja, lap jendela, bersihkan kamar mandi, rak buku,....
Gio meringis tersenyum saat mengingat banyak lagi yang ia katakan sebelum pulang kemarin.
"Lupa?!" sindir Tiara.
"Ingat! Tapi cukup di bagian bawah saja, kalau bagian yang kamu gak bisa jangan di paksakan nanti kalau seperti tadi terjatuh, dan kepala kamu terpentok meja bagaimana? Siapa yang akan repot? Iya kalau cuma kamu di perban sedikit, kalau kamu sampai lupa ingatan, bagaimana?" cerocosnya.
Tiara memutar bola mata malas. Kenapa bosnya ini sangat lebay!
.
.
.
Cieee babang Gio yang mulai perhatian...