DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 175



Malam selanjutnya keluarga dan para sahabat merayakan pernikahan kami di restoran hotel yang di kosongkan dari pengunjung. Khusus untuk malam ini biaya hotel di gratiskan. Hitung-hitung sebagai wujud rasa syukur kami karena telah melewati masa-masa sulit, dan akhirnya kami bisa bersama dalam kebahagiaan.


Kami makan bersama membentuk lingkaran besar. Semua terlihat sangat bahagia. Hanya satu yang terlihat murung disini, Sofia! Dia bilang sudah move on dari Ariel, nyatanya saat berita pernikahan Ariel-Luna sampai di telinganya, dia murung!


Aku, Nayara, dan Nanda berusaha menghiburnya. Dia hanya tersenyum kecut. Bertahun-tahun menjalani hubungan dengan seorang pria yang sudah sangat di percaya lalu dia berkhianat. Oh... aku tahu rasanya patah hati!


"Sudahlah, Sof! Jangan sedih terus, namanya juga bukan jodoh!" Nanda menepuk pundak Sofia.


"Siapa yang sedih? Aku enggak kok!" elaknya, padahal jelas tergambar di raut wajahnya kalau dia memang sedang berduka.


"Ya sudah, nikmati semua yang ada disini. Jangan selalu ingat dengan dia! Tenggelamkan saja dia di laut!" ucapku. Sofia hanya mengangguk, tersenyum penuh luka.


"Iya benar. Aku harus move on!" Sofia merentangkan kedua tangannya.


"Aku butuh ke kamar mandi!" sambungnya lalu bangkit berdiri.


"Kamu gak akan nangis, kan?" tanyaku.


"Enggak lah! Buat apa nangisin cowok brengsek kayak dia?!" ucapnya dengan senyuman, lalu benar-benar pergi dari hadapan kami.


Ku panggil Hanson yang berdiri tak jauh dari kami.


"Bisa kau ikuti dia? Tolong jaga dia, dia orangnya nekat. Aku takut dia akan kabur ke laut dan menenggelamkan diri disana!" bisikku padanya.


"Baik, maam!" lalu Hanson pun pergi mengikuti Sofia.


"Hehh Sofia bukan orang yang nekat!" Nanda berceletuk menatapku, begitu juga dengan Nayara.


"Sssttt." ku tempelkan jari telunjuk di depan bibirku. "Kalau mereka bersama, setuju apa tidak?!" tanyaku meminta persetujuan.


"Setuju saja sih!" Nanda.


"Siiippp!" Nayara memberikan dua jempolnya.


"Apanya yang setuju?" Edgar tiba-tiba datang di belakang kami, dia bersama dengan Alex.


"Ah, tidak ada! Tidak ada!" ucapku.


"Sofia mana?" tanyanya. Dia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dia berjalan ke arah toilet, aku menarik tangannya.


"Eh, Bang Ed. Mau kemana?"


"Mau cari Sofia!"


"Sudah disini saja! Aku mau bahas sesuatu sama bang Ed!" ucapku mencari alasan.


"Soal... ummm... renovasi rumah! Ya renovasi rumah!" Devan melotot padaku. Pasalnya memang aku tidak ada rencana merenovasi rumah atau apapun!


"Renovasi rumah?" Aku mengangguk. Aku tidak mau Sofia terus larut dalam kesedihan, semoga saja Hanson bisa membuat dia -paling tidak- jangan sampai Sofia mengeluarkan air matanya untuk buaya darat itu!


Terpaksa aku menggunakan Hanson karena aku ingat bagaimana tatapan Sofia padanya saat dia ke Prancis waktu aku melahirkan Axel dulu!


Malam semakin larut. Kami semua sudah kembali ke kamar masing-masing. Daniel bersama ayah, sedangkan Axel bersama Kak Mel. Anak itu selalu ingin bersama Tiana! Ah... Apakah aku harus punya anak perempuan supaya bisa menarik perhatian Axel lagi? Kalau ada Tiana, dia tidak mau denganku atau dengan Devan!


Grep!!


Tangan besar itu hinggap di dadaku dan bermain-main disana! Kebiasaan!


Ku tepis tangannya, dia hanya terkekeh.


"Yang. Maksud kamu dengan renovasi, apa kamu bosan dengan keadaan rumah kita?" tanya Devan.


"Umm... Itu... cuma alasan!" aku berkata jujur saja!


"Aku ingin mendekatkan Sofia sama Hanson! Bagaimana?" tanyaku meminta pendapat.


"Memang Sofia suka Hanson?"


"Dari tatapannya dulu sih sepertinya ada rasa suka!"


"Lalu bagaimana dengan Hanson? Apa dia suka Sofia?" tanya Devan.


Benar! Kenapa aku egois tidak memikirkan perasaan yang lain?


"Tidak tahu!" jawabku cuek. "Ya kan siapa tahu saja kalau dua jomblo bertemu mereka akan saling suka!" ucapku.


"Kenapa tidak dengan Samuel?"


"Aku pernah berusaha jodohkan mereka, tapi sepertinya mereka tidak akan cocok, mereka seperti Tom n Jerry!" bisikku.


"Dan kita akan jadi seperti Romeo dan Juliet!" bisiknya sensual di telingaku. Devan mengangkatku dan membaringkan ku di atas tempat tidur.


Aku menatap matanya lekat-lekat.


"Aku mau punya anak perempuan?" ucapku. Dia terdiam. Keningnya mengernyit, berlipat-lipat. Mungkin dia berfikir 'tumben'!


"Aku mau punya anak perempuan!" ku ulang lagi perkataanku, lalu mulai membuka kancing bajunya satu persatu. Senyumnya sedikit demi sedikit mengembang, lalu dia pun mulai membuka kancing bajuku.