DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel, part 32



Hampir satu jam Axel duduk disana hingga dia tak sadar gerimis kecil telah membuat basah jasnya.


Axel bangkit berdiri, dia berjalan melewati tanah yang becek. Orang-orang berlarian sambil menutupi kepalanya mencari tempat berteduh, sedangkan pria itu berjalan dengan biasa ke dalam rumah sakit. Sebelum kembali ke kantor, ia ingin mengintip keadaan Renata terlebih dahulu.


Anye baru saja keluar dari ruangan, tepat saat Axel akan sampai di depan ruangan Renata.


"Bagaimana keadaan Ren-Ren, Ma?" tanya Axel pada sang mama.


"Renata baik-baik saja. Dia sedang tidur setelah di beri obat tadi. Untuk sementara kamu jangan ketemu dulu sama Renata, ya. Dokter bilang tidak baik kalau Renata sampai di paksa. Dia masih terpukul dengan kejadian itu!" ucap mama.


"Aku tahu. Tadi aku sempat bertemu dengan dokter." ucap Axel.


"Mama mau kemana?" tanya Axel.


"Mama mau ke kantin. Lapar!" tutur Anye. Karena sibuk mengurus Renata dia jadi lupa untuk makan siang.


"Maafkan Axel ya, Ma. Sudah merepotkan mama." ucap Axel.


"Tidak apa-apa. Sudah sana, kalau kamu mau ketemu Renata. Mumpung dia sedang tidur. Ingat jangan melakukan hal yang aneh-aneh. Jangan sampai Renata terbangun dan membuat dia semakin tidak ingin melihat kamu!" ucap Anye sambil menunjuk hidung Axel.


Axel tersenyum senang karena akhirnya dia bisa menemui Renata.


Anye hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Axel yang kegirangan. Dia lalu pergi ke arah kantin karena perutnya sudah meronta minta diisi.


Axel menatap punggung Renata yang tidur membelakanginya. Dia mendekat, duduk di belakang Renata dan mengusap kepala gadisnya dengan sayang.


"Re, kenapa kamu gak mau ketemu sama aku? Apa aku sangat menyebalkan sampai kamu gak mau ketemu aku lagi? Maaf ya. Gara-gara aku gak dengerin kamu, kamu jadi kesusahan seperti kemarin. Kamu jadi celaka karena aku. Kalau saja aku gak kerja dan tinggal sama kamu di rumah, pastilah kamu gal haris pergi. Aku gak bisa melindungi kamu dari ancaman dia. Semua itu aku yang salah, Re. Harusnya aku dengerin kamu. Maaf ya." sesal Axel.


"Re, apapun yang terjadi sama kamu. Aku ingin selalu ada di samping kamu. Aku ingin selalu melindungi kamu. Bisa gak kamu jangan menghindar dari aku?" tanya Axel, namun tentu saja yang di tanya tak menjawab.


Axel membungkuk dan mencium kening Renata lamat.


"Aku cinta kamu, Re. Tolong setelah ini, jangan pernah hindarin aku ya!" pinta Axel berbisik di dekat telinga Renata. Axel bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan kamar rawat Renata.


Renata mengeratkan selimutnya, dia membuka matanya yang mulai terasa perih. Satu bulir air mata mengalir membasahi bantalnya.


"Maafkan aku, Xel. Maaf. Harusnya aku lebih percaya sama kamu." lirih Renata. Dia menyesal mengapa dulu tidak mendengarkan Axel untuk tetap tinggal di rumah.


Ancaman Noah terasa sangat menakutkan baginya. Dia sudah kehilangan kakaknya. Dan kenapa juga Noah harus mengancam dengan keselamatan Axel?! Bukan hanya Axel saja yang akan celaka, tapi mungkin jantung kakaknya juga bisa saja tidak akan selamat. Renata tidak ingin terjadi apa-apa dengan Axel dan jantung kakaknya.


"Maaf. Maafkan aku, Xel. Maaf!" tubuh Renata bergetar. Dia menarik selimutnya hingga ke atas kepala. Menangis, hanya ini yang bisa ia lakukan sekarang.


Rasanya tadi ia ingin sekali berbalik dan memeluk Axel. Ia rindu sekali dengan pemuda itu. Tapi hatinya sangat merasa bersalah, sampai urung ia lakukan.


Tak jauh dari sana Anye yang baru saja masuk ke dalam ruangan melihat Renata menangis, dia memilih kembali ke luar dari ruangan itu. Tak baik baginya mengganggu Renata. Biarkan saja gadis itu menangis sepuasnya. Melihat dari sifat Renata yang kuat dan tegar, dia pasti tidak ingin tangis kesedihannya di ketahui orang lain.


...***...


Hari ini Renata di izinkan pulang oleh dokter. Keadaanya sudah sangat membaik, tangannya juga sudah bisa ia gerakan meski tidak sebebas dulu. Dia perlu beberapa kali lagi bertemu dengan dokter untuk terapi, dan sisanya dia harus sering latihan menggerakkan tangannya di rumah dengan melakukan olahraga ringan.


Dokter memberikan Renata bola plastik sebesar bola kasti untuk melatih otot-otot jarinya. Renata hanya harus melakukan gerakan berputar pada bola itu dengan jari-jari tangan kirinya.


"Latihan yang sering ya. Tapi juga jangan memaksakan diri. Kalau tangan sudah mulai terasa sakit istirahatkan sebentar. Latih tangan saat pagi hari itu lebih bagus. Karena semalaman otot kita sudah beristirahat, otot pasti akan terasa kaku itu tidak apa-apa. Pijit saja perlahan tangannya seperti ini." dokter memberikan pesan pada Renata dan juga Axel. Dia juga memberikan contoh bagaimana cara memijit pelan telapak tangan Renata kepada Axel. Axel mengangguk mengerti.


"Trimakasih, dokter." ucap Renata.


"Sama-sama. Kalau ada masalah atau rasa sakit yang teramat sangat, kembali kesini biar nanti saya kasih obat," ucap dokter. Renata dan Axel mengangguk bersamaan.


Akhirnya setelah beberapa hari di rumah sakit Renata bisa pulang juga. Dia merasa senang luar biasa karena bisa menghirup udara bebas. Bau aroma obat-obatan hampir membuatnya lupa dengan aroma segar di luaran sini.


"Kamu tunggu sebentar ya. Aku akan ambil mobil," ucap Axel, dia mengisyaratkan tangannya supaya Renata tidak pergi lagi. Renata mengangguk. Axel meninggalkan Renata. Namun, sesekali dia menoleh memastikan gadis itu tetap di tempatnya.


Axel telah datang dengan mobil hitam mewahnya, dia keluar dari dalam sana dan membuka bagasi, memasukkan semua barang milik Renata lalu membukakan pintu untuknya.


Renata terdiam saat Axel memasangkan seatbelt padanya. Rambut Axel menusuk hidungnya hingga dia bisa mencium aroma mint dari sana. Tiba-tiba dada Renata berdebar. Sudah lama sekali tak ada orang yang bersikap manis padanya seperti ini. Renata memalingkan wajahnya ke arah lain.


Axel tersenyum melihat dada Renata yang naik turun dengan cepat. Bukan karena dia mesum. Tidak! Renata memakai baju dengan kerah leher tinggi, sama sekali dia tak melihat kulit Renata. Axel hanya senang melihat Renata yang sepertinya sulit bernafas karena perlakuannya.


Axel kembali ke belakang kemudi, dia memasangkan seatbelt pada dirinya sendiri.


"Siap pulang?" tanya Axel. Renata hanya mengangguk. Axel segera menjalankan mobilnya ke luar dari pelataran rumah sakit.


"Maaf ya. Papa sedang ada pekerjaan di luar kota, jadi mama tidak bisa menjemput kamu karena harus menggantikan papa meeting di kantor." ucap Axel mencoba membuka pembicaraan. Renata mengangguk faham.


"Tidak apa-apa. Maaf karena aku sudah merepotkan kalian selama ini." ucap Renata sendu. Axel tersenyum namun tak mengalihkan pandangan dari jalanan di depan sana.


"Bagaimana perasaan kamu sekarang? Sudah baikan?" tanya Axel lagi. Renata terdiam.


Jika ditanya tentang perasaan. Tentu dirinya sangat tidak baik, tapi dia harus terlihat baik-baik saja bukan di depan pria ini. Dia tak mau Axel mengkhawatirkan dirinya.


Perjalanan terasa sangat panjang di selimuti keheningan. Tak ada satupun dari mereka yang berbicara.


Sebenarnya Renata masih ingin menghindari Axel. Dia masih merasa enggan untuk bertemu dengan pemuda ini. Ada rasa bersalah yang teramat sangat di dalam dirinya.


"Xel, aku mau pulang ke kost-an." ucapan Renta membuat Axel seketika menoleh.


"Tidak boleh!" ucap Axel tegas.


"Kenapa tidak boleh?" tanya Renata bingung. Dia menatap Axel yang sama menatapnya. Axel menghentikan mobilnya di tepi jalan yang sepi.


"Aku gak setuju kamu kembali ke kost-an. Siapa yang akan mengurus kamu disana?" tanya Axel.


"Aku bisa mengurus diri aku sendiri!" ucap Renata mantap.


"Gak. Aku gak akan izinin kamu untuk kembali ke kost-an."


"Tapi Xel, lebih baik aku pulang ke kost-an. Sudah lama aku gak pulang Xel. Lagipula tidak baik kalau aku tinggal di rumah kamu. Apa kata orang nanti?" ucap Renata sendu.


Axel hanya menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu ayo kita menikah. Supaya kamu gak perlu khawatir dengan pandangan orang!" perkataan Axel membuat Renata membolakan matanya. Renata menatap jauh ke kedalaman mata Axel. Ada kesungguhan di dalam sana. Sedetik kemudian Renata memalingkan wajahnya menghindari tatapan itu.


Dada Renata sesak. Pernikahan. Ah ... Pernikahan macam apa. Sangat tidak adil untuk Axel dengan dirinya yang sudah tidak utuh.


Renata diam-diam mengusap sudut matanya yang basah, tapi hal itu tak luput dari pandangan Axel.


Renata terdiam menahan isakannya.


Hampir satu jam mereka telah sampai di kediaman Aditama. Anye menyambut kedatangan mereka di depan pintu. Dia segera menghambur memeluk Renata.


Dua orang maid mendekat dan membantu membawakan tas Renata dari dalam mobil untuk di bawa ke kamar yang sudah di siapkan untuk calon istri tuan mudanya.


"Bagaimana keadaan kamu, Re? Tangan kamu sudah baikan?" tanya Anye. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah.


"Sudah. Sudah baikan, Bu!" jawab Renata.


"Panggil saya mama. Jangan ibu. Panggilan ibu terkesan terlalu tua!" protes Anye seraya tertawa kecil hingga menularkannya pada Renata.


"I-Iya, Mama." Renata terbaik saat memanggil Anye dengan sebutan mama.


Anye membawa Renata untuk duduk di ruang keluarga. Kepala pelayan membawakan minuman dan juga cemilan untuk tiga orang tersebut.


"Maafkan mama, ya. Mama baru saja pulang dari kantor, tidak bisa jemput kamu dari rumah sakit." sesal mama, dia menatap putranya yang kemudian mengalihkan pandangannya.


'Hahh... Aku berdosa sudah berbohong pada gadis polos ini. Ini gara-gara dia. Kenapa tidak jujur saja kalau ingin menjemput Renata, dan harus suruh aku berbohong!' batin Anye kesal.


"Tidak apa-apa, Ma. Maafkan Renata yang sudah merepotkan Mama."


"Mama justru senang mengurus kamu. Akhirnya mama punya anak perempuan, karena anak laki-laki mama semuanya tidak ada yang peduli sama mama." cibir Anye mengerucutkan bibirnya pada Axel. Sedangkan yang di cibir merasa tak terima.


"Aku kan sibuk mengurus perusahaan, Ma." ucap Axel tak terima.


"Kalau sibuk dengan perusahaan, ya sudah. Sana kembali ke kantor. Kenapa juga masih ada disini?" usir Anye. Axel melongo, selama hampir dua puluh empat tahun hidupnya baru kali ini dia diusir oleh sang mama.


"Tapi aku masih ingin ...."


"Sudah sana pergi, pasti pekerjaan kamu menumpuk disana. Jangan khawatir, Renata akan mama jaga dengan baik. Lagipula Renata harus beristirahat setelah perjalanan jauh tadi." ucap Anye, dia menatap tajam pada sang putra.


Renata merasa jadi tidak enak hati. Mama terlalu berlebihan.


"Ma, tidak perlu seperti itu. Lagian aku juga sudah cukup istirahatnya di rumah sakit." ucap Renata.


"Cukup dari mana. Kamu itu harus banyak istirahat. Jangan terlalu lelah."


"Aku tidak lelah sama sekali, Ma."


"Mama benar, Re. Kamu harus banyak istirahat. Jangan sampai kamu lelah ya. Aku juga akan kembali ke kantor." Axel mengalah, akhirnya dengan terpaksa dia beranjak pergi dari sana meskipun enggan. Axel pergi ke kantor sedangkan Anye membawa Renata ke kamar tamu untuk beristirahat.


"Kalau ada apa-apa, kamu bisa panggil asisten, atau cari mama. Mama akan ada di belakang." ucap mama. Renata mengangguk. "Kamu istirahat dulu. Jangan banyak fikiran." ucap Anye lagi.


"Iya, Ma. Trimakasih." Anye mengelus pipi Renata dengan sayang. Dia lalu meninggalkan Renata.


Renata berbaring di atas kasur, dia menatap langit-langit kamarnya.


Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apakah dia harus menerima lamaran Axel tadi? Axel sangat mencintai dirinya, tapi Renata tahu akan keadaan dirinya yang sudah tak utuh.


Memikirkan hal itu tiba-tiba saja matanya memanas.