
Tiara merasa bosan hanya diam di rumah, hari ini dia memutuskan untuk ikut dengan Gio ke perusahaannya. Keduanya kini berjalan berdampingan. Berapa orang menundukkan kepala dengan hormat pada pria ini. Bisik-bisik terdengar mempertanyakan siapa gerangan wanita cantik yang kini berdampingan dengan bos besar nya itu. Heru tetap setia di belakang keduanya untuk menemani dan juga mengawal mereka.
Ketiganya masuk ke dalam ruangan Gio, kini Tiara telah duduk di depan Gio sedangkan Heru berdiri di samping pria itu memperlihatkan agenda yang harus mereka lakukan hari ini. Gio mengusap wajahhnya dengan kasar, dia lupa jika hari ini ada rapat yang akan di lakukan sebelum jam makan siang nanti.
"Aku gak apa-apa, kalian pergi saja, biar aku akan duduk manis disini." Tiara tesenyum. Menunggu disini masih lebih baik daripada di rumah. Disini dia bisa membaca banyak buku atau bisa berkeliling untuk melihat-lihat suasana disini.
"Ya sudah kalau begitu, kalau kau bosan minta saja sopir untuk menjemputmu ya. Kau juga bisa pergi kemanapun yang kau mau asal kau harus ingat untuk pulang ke sini." Gio menunjuk dadanya sendiri, membuat Tiara bersemu merah di wajahnya. Demi apa pria itu kini bisa melakukan hal konyol semacam itu?
Tiara melirik Heru yang masih berdiri di sana. Heru masih dengan wajah datar dan juga tanpa ekspresi. Entah pria itu mungkin di dalam hatinya tertawa atau pun malah jijik denggan sifat bosnya itu yang bagai anak ABG labil.
Menjelang makan siang, Gio dan Heru sudah berangkat untuk ke acara pertemuan yang di adakan di perusahaan lain. Tinggal lah Tiara yang kini duduk sediri di ruangan Gio. Kakinya bergeak hingga kursi bergoyang ke kanan dan ke kiri. Tiara menyandarkan dirinya sambil membaca sebuah buku tentang bisnis. Buku tebal itu lama-lama membuat Tiara bosan juga.
Perlahann Tiara keluar dari dalam ruangan itu dan melihat-lihat gedung milik suaminya. Tidak sebesar milik Axel memang di ibu kota, tapi lumayan jika memang perusahaan ini bisa berkembang seperti yang Gio katakan.
Gedung ini tidak memiliki banyak lantai, membuat Tiara dengan sekejap saja sudah melihat hampir semua ruangan yang ada di sini.
Bertepatan dengan Tiara yang keluar dari lift, jam makan siang membuat beberapa karyawan keluar dari divisinya masing-masing dan menuju ke kantin kantor maupun ke luar area kantor. Tempat yang sepi itu kini mulai ramai dalam sekejap, beberapa orang berlalu laang melewati Tiara yang kini bingung hendak kemana.
Perut Tiara terasa lapar, dia bertanya pada salah seorang karyawan dimana letak kantin. Tiara segera menuju ke arah kantin itu seorang diri.
Beberapa karyawan menatap Tiara dengan bingung. Tidak pernah melihat wanita ini disini. Beberapa pria juga tersenyum dan mencoba menarik perhatian Tiara dengan bersiul atau mengganggunya. Tiara tidak menggubris orang-orang itu, dia melanjutkan langkahnya menuju ke arah penjaga kantin untuk memesan makanan.
Seorang pria datang mendekat ke arah Tiara duduk, tanpa permisi dan juga tanpa meminta izinn, pria itu kini duduk di depan Tiara. Tiara masih diam, tidak ada urusanya dengan pria ini. Tiara melanjutkan makannya dengan tenang.
"Aku lihat kau sendiri. Anak baru?" tanya pria itu dengan alis yang naik turun dengan cepat. Tiara tahu pasti jika pria ini kurang kerjaan dengan duduk di depannya.
"Hei aku tanya kok diam saja, sih. Jangan sombong dong, anak baru." Dia mulai mengganggu, tangannya mencolek dagu Tiara dengan kurang ajarnya. Tiara menepis tangan pria itu dan memberi tatapan kesal padanya,.
"Tolong ya. Jangan ganggu aku. Silahkan Bapak kembali ke tempat Bapak sendiri dan nikmati jam makan siang yang singkat ini." pinta Tiara.
"Waaah, ternyaa kau ini galak juga ya. Aku kan cuma tanya dan kau tidak menjawab bukannya tidak sopan jika ada yang bertanya kau tidak menjawabnya?" Pria itu menyimpan sikutnya di meja dan menopang dagunya di telapak tangan.
"Lagipula aku ini masih muda, apa aku terlihat tua di matamu?" tanya pria itu lagi kini memegang tangan Tiara dengan kurang ajarnya. Tiara mengepalkan tangannya, dia menariknya tapi pria itu memegang tangan Tara dengan erat hingga dia tidak bisa melepaskan diri darinya.
"Saya sedang makan saiang, dan ingin dengan tenang menikmati makan saiang. Tidak bisakah Bapak biarkan saya makan sendirian?" tanya Tiara pada pria itu, Tiara mulai geram.
"Kenapa harus sendirian, kalau kau bisa menikmati makan siang bersama denganku. Ayolah jangan menolak. Banyak yang mau makan siang denganku, dan aku dengan senang hati memberikan waktu makan siangku dengan mu hari ini." Tiara menatap wajah pria itu. Tidak tampan sama sekali bahkan Romi saja masih sepuluh kali lebih baik dari pada pria ini.
Alis tebal pria itu naik turun dengan cepat dengan senyum lebar yang malah terlihat konyol. Dia menoleh ke arah teman-temannya yang berada tak jauh dari mereka. Mungkin sedang menunjukkan kepada temannya bahwa dirinya sedang pamer kemampuan untuk merayu seseorang.
"Oh bagus kalau begitu, tapi maaf sekali hari ini aku sedang tidak mood untuk makan siang dengan siapapun apalagi dengan pria seperti anda. Kalau anda ingin tahu saya sudah menikah, dan Anda tahu siapa suami saya? Bos Anda! Jadi, tolong Anda menjauh dari saya." desis Tiara masih dengan pelan.
Pria itu kini tertawa semakin terlihat aneh baginya. Beberapa temannya yang disana pun ikut tertawa, entah mereka dengar atau mengerti dengan apa yang mereka bicarakan atau tidak.
"Bos? Kau ini bermimpi ya? Maksudmu siapa? Bos Gio? Bos ku itu tidak mungkin punya istri seperti ini, dia tidak akan mungkin makan di kantin dan memakan makanan seperti ini. Lagi pula aku tidak pernah mendengar bos telah menikah dengan siapapun. Asal kau tahu, aku cukup dekat dengan bos dari pada yang lainnya, kalau kau mau naik jabatan, kau bisa meminta bantuanku untuk bicara dengan bos Gio. Gampang sekali, asal ...." Lagi-lagi alis tebal pria itu naik turun dengan cepat membuat Tiara mual melihatnya.
"Terserah apa katamu, tapi aku sudah menikah. Menjauh lah dariku."
"Tidak maslah bagiku. Mau sudah menikah atau tidak juga tidak apa-apa. Bahkan, jika sudah menikah. Bukankah aku tidak perlu mengajarimu lagi?" tanya pria itu, kini menjilat sudut bibirnya dan mengusap punggung tangan Tiara dengan lembut dan menjurus.
Tiara sudah tidak tahan lagi. Bukan kah pria ini baru saja melecehkannya dengan kata-kata?
Pria itu menatap Tiara dengan tatapan lembut. Bibirnya masih tersenyum, ibu jarinya masih mengelus punggung tangan Tiara. Tiara balik tersenyum, senyum manis yang ia punya ia berikan untuk pria itu.
"Dasar Anda nakal sekali!" mendengar ucapan Tiara membuat pria kurus itu semakin melebarkan lengkungan di bibirnya.
"Anda mau makan siang denganku dimana? Disini atau bersama dengan teman Anda?" tanya Tira dengan lembut. Semakin lebar lah senyum itu mendengar pertanyaan Tiara.
Tiara bangkit dan mengambil mangkuk soto yang belum ia habis kan isinya dengan cepat ia menumpahkan semua isinya di atas kepala pria itu hingga isi di dalam mangkok itu habis semua.
Pria kurus itu sangat terkejut dengan apa yang terjadi kepadanya. Seorang wanita baru saja menumpahkan makanan berkuah padanya hingga kini rambut dan juga bajunya bsah dan bau dengan kuah soto andalan kantor itu.
Semua kejadian itu tak luput dari perhatian orang-orang yang ada disana, kedua orang itu jadi tontonan. Suasana hening seketika, tapi sedetik kemudian terdengar gelak tawa dari beberapa orang yang ada disana, terutama dari teman-temannya dan juga bisik-bisik yag terdengar semakin kencang di telinga Tiara. Beberapa dari orang yang ada di sana juga mengabadikan peristiwa langka itu dengan kameranya. Akan menjadi momen yang menarik mengundang banyak like di media sosial.
"Aku lupa. Tidak baik jika Anda makan dan tidak minum sesudahnya!" Tiara kembali menyimpan gelas yang telah kosong di atas meja. Semua mata melihat kejadian itu, mulut mereka menganga. Tidak menyangka dengan apa yang wanita ini perbuat kepada pria yang dikenal playboy oleh mereka. Nyatanya ketampanan pria itu tidak bisa membuat seorang Tiara takluk padanya, padahal cukup banyak karyawati disini yang mendekati pria itu
Tiara pergi meninggalkan pria itu yang kini hanya diam menatapnya. Tidak menyangka jika wanita itu sangat berani memperlakukannya seperti itu. Tidak pernah d dalam hidupnya dia di permalukan di hadapan banyak orang seperti ini, apalagi di siram kuah soto yang kini meninggalkan aroma dan juga noda pekat di baju kerjanya.
"Dasar wanita sialan!" pekiknya. Suara tawa kini tambah keras berderai dari mulut teman-temannya. Beberapa diantaranya melakukan tos, puas melihat pria itu kini menjadi bahan ejekan orang lain. Si playboy kini kena getahnya juga. Tidak semua wanita mau dengan rayuan murahan seperi itu.
Tiara terus melangkahkan kakinya, dia tidak perdulikan dengan bisik-bisik yang terdengar dari mulut orang lain yang menyanjung atau bahkan mencemooh dirinya karena memperlakukan pria itu dengan tidak baik.
Masa bodoh! Pria itu yang memulai.
"Eh itu yang bersama dengan Bos Gio tadi pagi, kan?"
"Dia siapa?"
"Wanita sewaan?"
"Murahan sekali, harusnya dia tahu waktu. Menggoda kok di jam kerja!"
Panas telinganya, tapi Tiara tidak mau meladeni ucapan para wanita itu, biarkan saja mereka berkata sesuka hati mereka. Mau di buktikan juga Tiara tidak membawa apapun yang bisa ia jadikan bukti jika dia adalah istri dari bos mereka, bukan wanita malam atau wanita sewaan yag mereka sangka.
Ternyata banyak sekali wanita disini yang menyukai suaminya. Tiara jarus berbuat apa? Ketampanan suaminya itu emang tidak ada tandingannya.
Dengan langkah cepat Tiara naik ke lantai dimana ruangan Gio berada. Perutnya masih lapar, tapi napsu akannya sudah tidak ada lagi gara-gara kelakuan pria urakan itu. Awas saja dia. Jika Tiara melapor pada Gio, habis dia!
Tiara menunggu Gio kembali, pertemuan itu sangat lama sekali hingga kini sudah jam dua siang, tapi Gio belum juga kembali ke kantor.
Bosan dan juga emosi, Tiara hanya bisa memainkan hpnya. Dia merasa kesal dan juga merindukan sosok suaminya itu. Ingin sekali memeluknya dan sekedar mencari rasa nyaman di pelukan pria itu.
Tiara menyandarkan dirinya pada kurs,, dia memainkan hpnya, sebuah game memasak masih menyita perhatiannya sedari dulu hingga sekarang, hingga Tiara tak sadar di tengah menunggu kepulangan suaminya dia tertidur di sofa.
Gio kembali ke kantor. Dia tidak mendapati pesan atau panggilan apapun dari istrinya, dia kira Tiara sudah pulang, tapi ternyata saat pria itu kembali ke ruangannya, dia mendapati Tiara yang tertidur di sofa panjang. Sepertinya kurang nyaman.
Gio mendekat ke arah Tiara dan mengguncang bahu Tiara dengan pelan, tapi istrinya itu tidak bangun sama sekali. Di usapnya pipi Tiara dengan lembut, tetap saja Tiara tertidur, hanya menggeliat pelan dan kemudian kembali tidur.
Dengan perlahan dan hati-hati, Gio mengangkat Tiara dan menggendongnya, membawa Tiara ke arah ruangan istirahat yang ada di dalam ruangan itu. Dengan sigap Heru membukakan pintu untuk Gio dan Tiara masuk ke dalam sana.
Heru menutup pintunya dengan pelan, sementara Gio melangkah membawa Tiara untuk dia baringkannya di atas ranjang.
Gio tersenyum melihat wajah istrinya yang terlihat lelah, sedikit kurus dari semenjak dia membawanya kesini. Mungkin saja Tiara banyak memikirkan tetang keadaan ibu dan juga belum terbiasa jauh dengan ibu.
"Maafkan aku, Ra. Aku belum tahu apa yag harus aku lakukan untuk kita bisa tinggal bersama." gumam Gio dengan pelan. Dia mendekat ke arah Tiara dan mengecup kening Tiara dengan lembut.
Suara ketukan di pintu terdengar beberapa kali. Gio segera bangkit dan membuka pintu itu. Dia tahu Heru tidak akan sembarangan mengganggunya jika saja tidak ada hal yang penting.
"Ada apa?" tanya Gio setelah menutup pintu kamarnya dengan perlahan, dia tidak mau membuat Tiara terbangun.
Heru tidak banyak bicara, dia memberikan macbook miliknya pada Gio. Kening Gio mengernyit melihat apa yang ada di layar itu, video yang memperlihatkan sebuah tempat makan, salah satunya istrinya ada disana.
Gegas Gio menekan layar itu dan tak lama setelahnya terdegar gemeretak giginya dan juga kepalan tangannya hingga buku-bukunya memutih.
Dari awal sampai akhir Gio meliat gambaran yag ada disana, tak luput semua Gio lihat dari sana. Dia sangat tahu, bukan Tiara yang salah disini, tapi pria yang datang untuk mengganggunya. Kurang ajar sekali pria itu!
"Bawa dia kemari!" titah Gio pada Heru. Segera pria itu melakukan apa yang Gio perintahkan.
Heru menunduk dan lalu pergi dari ruangan itu. Bukan Heru tidak bisa mengatur dan membereskan orang itu sendirian, tapi dia hanya tidak ingin menutupi semua hal lagi dari Gio, apa lagi ini berkaitan dengan istrinya. Cukup dia menyembunyikan masa lalunya saja dega Naura, tapi jangan dengan Tiara.
Gio kembali ke dalam ruangan dimana Tiara masih tertidur dengan pulas. Dia mendekati istrinya dan merasa menyesal dengan apa yang terjadi pada Tiara. Harusnya dia tidak benar-benar meninggalkan istrinya itu hanya sendirian. Bisa saja hal yang tidak terduga terjadi seperti tadi.
"Maaf, Ra. Aku belum bisa melindungi mu dengan baik." sesal Gio mengelus kepala Tiara dengan lembut.